RSS Feed

Posts Tagged ‘parenting’

  1. Give Away : Sekolah Impian

    August 31, 2014 by murtiyarini

    tmp_frame_1409443087930_nw_wm Sobat blogger, kembali saya mengadakan give away dalam rangka Dies natalis IPB ke 51 sekaligus peluncuran buku “Mommylicious” yang diterbitkan oleh Bhuana Ilu Populer (Kelompok Gramedia). Buku tersebut saya tulis berdua dengan Rina Susanti. Dalam buku Mommylicious, subjudul “Bintang Makan Siang” saya mencertiakan tentang sekolah anak saya, serta membandingkan bagaimana pendidikan tempo dulu dan sekarang. Jauh berbeda. Saya juga pernah menulis tentang Sustainable Green Campus, berharap lebih banyak sekolah yang menerapkan gerakan “hijau”. Tulisan di link ini: http://murtiyarini.staff.ipb.ac.id/2014/06/11/sustainable-green-campus/ Melalui lomba ini saya ingin menggali lebih banyak wawasan tentang sekolah atau kampus (SD hingga Perguruan Tinggi) di mana sobat blogger pernah bersekolah. Nah, cerita tentang sekolah impian tentunya diharapkan mengulas manfaatnya untuk generasi mendatang, adik-adik atau anak-anak kita. Tema Give Away kali ini adalah tentang “Sekolah Impian” Temanya menarik dan gampang, kan? Caranya :

    1. Ceritakan tentang kelebihan sekolahmu (boleh jenjang apa saja) dengan sudut pandang bebas. Bisa dari programnya, bangunannya, gurunya dll. Dan/atau, ungkapkan juga sekolah impianmu seperti apa sebagai bentuk masukan yang membangun untuk sekolah-sekolah di Indonesia.
    2. Lomba berlangsung mulai 1 September -25 September 2014.  Pengumuman Pemenang 30 Oktober 2014.
    3. Panjang tulisan kurang lebih 500 -1000 kata. Tulisan diposting di blog pribadi atau note facebook (setting : public). Tulisan yang diikutkan boleh baru atau repost dari tulisan lama dengan penanggalan baru. Tulisan adalah karya asli peserta. Satu peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 tulisan.
    4. Pada akhir tulisan cantumkan tulisan “Give Away Sekolah Impian” yang dihubungkan pada postingan ini.
    5. Peserta tidak harus memiliki buku Mommylicious. Peserta hanya wajib memasang youtube  Mommylicious #ParentingBook pada akhir postingan. Copy HTML berikut : <iframe width=”480″ height=”360″ src=”//www.youtube.com/embed/qmcZpviA_wM” frameborder=”0″ allowfullscreen></iframe>
    1. Daftarkan link dan nama di kolom komentar (komentar akan dimoderasi jadi harap bersabar.
    2. Juga kirim biodata, kontak dan url melalui email murtiyarini@ipb.ac.id dengan subyek : Sekolah Impian_Nama Blogger

    Ketentuan lain :

    1. Peserta Laki-laki dan Perempuan, WNI di seluruh dunia, dengan alamat pengiriman hadiah di Indonesia.
    2. Nama peserta akan diupdate dibagian bawah info GA ini. Beritahu saya jika nama anda belum terdaftar dalam 3×24 jam.
    3. Pemenang pilihan juri dinilai berdasarkan: Keunikan ide, Kesesuaian tema, Eksplorasi, Kenyamanan cerita dan tata penulisan. Juri adalah saya pribadi.

    Hadiahnya adalah…. 2014-08-28 21.56.42_wm 2014-08-28 21.55.35_wm 2014-08-28 21.57.17_wm 2014-08-28 21.57.48_wm 2014-08-28 21.58.23_wm

    20140920_184016_wm

    14 seri buku anak karya Roald Dahl

    Hadiah seri buku Roald Dahl di atas adalah donasi dari Haya Aliya Zaki (www.hayaaliyazaki.com) 2014-08-28 21.59.08_wm 1 juara favorit dinilai berdasar komentar terbanyak (masih berkesempatan memenangkan pilihan juri). Komentar terbanyak dihitung dari pengunjung blog (komentar pemilik blog tidak dihitung). Dihitung pada tanggal 25 Oktober 2014 2014-08-28 21.59.34_wm 5 pengirim pertama mendapatkan komik Agen Polisi 212 (masih berkesempatan memenangkan pilihan juri). Dilihat berdasarkan waktu pendaftaran di kolom komentar.   Hadiah masih bisa bertambah apabila ada sponsor/donatur. Untuk sponsorship dan donasi bisa kirim email ke murtiyarini@yahoo.com Ditunggu cerita sekolah impian kamu ^_^   Daftar Peserta, urutan berdasar waktu pendaftaran :

    1. Nia Fajriyani Sofyan (2 tulisan)
    2. Rita Asmaraningsih
    3. Rosiana Febriyanti
    4. Arga Litha
    5. Istiqomah Ps (2 tulisan)
    6. Riska Ika
    7. Muhammad Lutfi Hakim
    8. Ika Candra
    9. Inda Savitri
    10. Liswanti Pertiwi
    11. Ina Tanaya (2 tulisan)
    12. Ardieba sefrienda
    13. Nur Gusti Azizah
    14. Moocen Susan
    15. Farhah Farida (via facebook)
    16. Zaitun Hakimiah
    17. Gustian Rip’i
    18. Noni Rosliyani
    19. Ririn Sjafriani
    20. Kania Ningsih
    21. Dwi Puspita Nurmalinda
    22. Nurul Rahmawati
    23. Fransiska
    24. Rodame MN
    25. Aldi Rahman (3 tulisan)
    26. Sri Wahyuni
    27. Suharyani
    28. Aldo Rahmat
    29. Mugniar
    30. Victy Arti
    31. Hastira Soekardi
    32. Rauhiyatul jannah
    33. Diah Kusumastuti
    34. Riska Setiani
    35. Mutia Elisa Karamoy
    36. Reni Judhanto (2 tulisan)
    37. Astri Damayanti
    38. Evrina Budiastuti
    39. Henny Puspitarini
    40. Sofia Zhanzabila
    41. Nurul Jamil
    42. Lutfi Retno
    43. Luckty Gian S.
    44. Mutiah Ohorella
    45. Fenny Ferawati
    46. Ina Rakhmawati
    47. Anisa Fatwa Sari
    48. Susanti Dewi
    49. Didit Puji Hariyanto
    50. Aira Kimberly
    51. Ade Anita
    52. Hilda Ayu S.
    53. Esthi Wika
    54. Ika Koentjoro
    55. Aida Al Fath
    56. Widyanti Yuliandari
    57. Arlina Dwi Nur Isma
    58. Dyah Dwi Arti
    59. Sheike
    60. Lucerahma
    61. Anni Nurlina Sari

     


  2. Usia Enam (Cerita Anda di Majalah Parenting)

    July 1, 2012 by murtiyarini

    Angka enam dalam usia seseorang tidak sepopuler angka tiga belas tanda memasuki usia remaja atau angka tujuh belas tanda memasuki usia dewasa, serta tak mudah diingat seperti sepuluh, dua puluh lima dan lima puluh yang menjadi penanda pada ulang tahun pernikahan. Pada anak – anak, tonggak usia yang populer adalah satu, tiga, lima atau tujuh tahun, dan bukan enam tahun. Siapa menyangka ketika kemudian angka enam menjadi istimewa bagi saya dan Cinta. Pada angka enam di usia Cinta terjadi banyak hal dan peristiwa yang menuliskan titik-titik sejarah perjalanan hidupnya. Saya beberapa kali terkaget karena banyak tonggak tumbuh kembang yang semula saya kira akan terjadi beberapa tahun lagi justru terjadi tahun ini. Bagaimanapun kami harus siap, dan senangnya…ternyata momen-momen berharga itu begitu menyenangkan meskipun awalnya cukup sulit.

    Tahun lalu, kelahiran sang adik terjadi saat Cinta berusia 5 tahun, adalah jarak yang ideal menurut saya. Cinta terlihat cukup dewasa untuk memahami kehadiran sang adik dengan segala konsekuensinya. Cinta tidak merasa cemburu, bahkan sangat perhatian dan protektif pada adiknya. Hmmm..kakak yang baik, begitu saya selalu menyebutnya.
    Namun kesibukan saya dengan bayi baru agaknya menyita perhatian cukup banyak, sehingga saya melewatkan momen dimana Cinta mulai meninggalkan usia balitanya. Yang ada sekarang saya begitu terkagum-kagum dengan kemandirian Cinta. Dia sudah bisa mandi, memakai baju, makan, atau menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri. Dan wow….saya tidak tau kapan itu mulai terjadi, Cinta sudah bisa membersihkan diri saat pipis dan buang air besar. Sifatnya yang lembut begitu telaten menjaga adik dan mengajaknya bermain, terutama saat saya perlu ke kamar mandi. Dan ketika saya tidur kelelahan, dengan sabar Cinta menunggu saya bangun sebelum minta dibuatkan susu atau makan malam. Jadi, walaupun saya melewatkan momen “selamat tinggal usia balita”, saya mendapatkan gantinya dengan menyaksikan titik tonggak kemandirian Cinta pada usia 6 tahun.

    Tahun ini juga menjadi tahun perpisahan Cinta dengan daycare, tempat dia dititipkan sejak usianya masih 3 bulan. Sesuai peraturan daycare bahwa anak yang dititipkan maksimal berusia 6 tahun. Perpisahan juga terjadi antara Cinta dengan taman kanak-kanaknya (kebetulan satu lingkungan dengan daycare) dan tahun ajaran mendatang sudah saatnya masuk SD. Saya sudah menduga Cinta akan mengalami perasaan sedih atas perpisahannya tersebut. Dan yang paling memberatkan adalah perpisahan dengan Bu Ita, gurunya sejak bayi. Bu Ita sudah menjadi mama kedua bagi Cinta.

    Pada acara perpisahan, Cinta dan teman-teman kelasnya tampil ke panggung untuk penerimaan ijazah. Tak terbendung air mata Cinta tumpah saat guru kelas menyalaminya. Cinta merangkul erat seakan tak mau lepas. Hadirin terbawa suasana haru. Si bibi dan si mbak, para asisten daycare tersebut ikut berkaca-kaca. Saya yang semula mondar-mandir memotret akhirnya juga ikut menangis. Sementara itu, teman-temannya hanya tercenung memandang. Oh, sayangku…kamu begitu perasa bagai orang dewasa. Kamu baru berusia 6 tahun dan sudah sangat mengerti arti perpisahan ini.

    Dibalik panggung tangisnya masih berlanjut, dan sayapun menyusul membesarkan hatinya. Saya memahami Cinta begitu sensitif perasaannya. Cinta mengerti bahwa setelah acara pentas seni pelepasan TK B, maka dia tidak akan belajar lagi dengan bu guru dan teman-teman. Dia akan sangat terpukul dengan perpisahan ini. Meski begitu, saya berusaha tenang, serta menyampaikan bahwa perpisahan ini bukan berarti tidak akan ketemu lagi, hanya saja Cinta harus pindah sekolah. Sewaktu-waktu mau menemui guru – gurunya tentu saja diperbolehkan.

    Sebenarnya, beberapa bulan sebelum perpisahan yang mengharukan itu, Cinta sangat senang mengetahui dirinya akan segera menjadi anak SD. Satu jenjang untuk menjadi “orang besar” akan segera sampai padanya. Cinta terlibat dalam proses pemilihan sekolah. Saya membawanya berkeliling ke lingkungan calon-calon sekolah. Pemilihan lingkungan yang aman dan nyaman menjadi penentu utama. Berbagai pertimbangan saya sampaikan kepada Cinta hingga akhirnya kami berhasil memilih salah satu sekolah yang sesuai. Selanjutnya Cinta juga saya libatkan secara aktif dalam persiapan observasi (tes masuk) sekolah, persiapan perlengkapan sekolah, dan persiapan mental terutama mengenai peraturan-peraturan Sekolah Dasar yang berbeda dengan Taman Kanak-Kanak.
    Memang tren saat ini mulai bergeser, usia masuk SD tak lagi 7 tahun, banyak anak usia 6 tahun yang telah siap masuk SD. Dan Cinta bangga sekali akan menjadi anak SD. Baginya itu pencapaian yang hebat. Juga bagi saya tentunya…tak terasa, saya sudah mempunyai putri usia sekolah. Saya sadari, dalam tahun-tahun ke depan akan ada romantika baru dalam mendampingi Cinta, si anak sekolah.
    Jadi, usia enam bagi Cinta berarti menjadi kakak yang baik, menjadi anak mandiri, berpisah dengan daycare, dan menjadi anak sekolah. Saya pasti akan merindukan masa-masa mengandung, menyusui, dan mengurus balita. But the show must go on, hidup terus berlanjut. Setiap jenjang usia anak-anak saya akan menjadi periode-periode indah dalam hidup saya.

    Angka-angka hanyalah penanda usia. Angka enam memang istimewa bagi saya dan Cinta, mungkin angka lain yang menjadi istimewa bagi anda. Berapapun angkanya, keistimewaannya tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya ingin menjadikan setiap tahun memiliki kesan. Kesan indah kalau bisa, dan di atas itu, ada pengalaman yang akan menjadi pelajaran untuk anak-anak saya kelak. Tentang bagaimana mensyukuri tahun demi tahun, dan menggunakan waktu dengan berharga.

    “Semoga mama bisa menyaksikan sebanyak mungkin momen bersejarah dalam hidupmu, Cintaku.., semoga kamu mampu membuat pilihan-pilihan tepat dalam hidupmu”


  3. Keikhlasan Ibu

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Parenting edisi Hari Ibu, Desember 2010

    Sampai saat ini, satu tahun berlalu dari saya tulis, air mata masih menetes setiap kali membaca tulisan ini.

    Saya pernah menjadi seorang anak. Dan kini menjadi seorang ibu. Saya bisa memahami perasaan anak, sekaligus perasaan ibu.  Ketika saya menjadi anak, saya sangat mengagumi ibu, sangat berterimakasih atas perjuangannya dan ingin memberikan balasan budi baiknya. Di sisin lain, sebagai seorang ibu, saya selalu bertanya apakah anak saya bahagia dengan pola asuh yang kami terapkan selama ini ? Apakah saya tidak memaksakan kehendak, walaupun demi kebaikannya juga. Saya merasa, sebagai ibu tidak berkorban apa-apa, karena semua saya lakukan dengan bahagia.

    Keikhlasan ibu

    Pagi itu, kunyalakan TV untuk melihat berita. Rutinitas pagi yang kulakukan sambil sarapan bersama Cinta, putriku yang berumur 4 tahun. Sebelumnya Cinta telah puas menonton kartun pagi kesukaannya, jadi tidak terjadi perebutan chanel TV.

    Sesaat kemudian kuraih remote mengganti chanel karena sedang break untuk iklan. Sekilas tadi terlihat iklan sebuah produk minyak yang mengklaim sebening kasih ibu. Hmm..berlebihan nggak sih? Tapi namanya juga iklan. Tak apalah jika sedikit berlebihan. Memang pantas kalau sosok ibu melambangkan segala kebaikan, dari beningnya minyak goreng sampai murninya susu sapi kemasan. Bahkan salah satu partai politik dengan musik latar berupa lagu tentang kasih seorang ibu.

    Di chanel berikutnya, ada infotaiment, seorang artis sedang menceritakan dengan mata berbinar bagaimana masa kecilnya yang indah dilalui bersama sang mama. Meskipun seorang single parent, tetapi sang mama dapat membesarkan anak-anaknya hingga menjadi artis.

    Baru kusadari, hari itu adalah tanggal 22 Desember 2009. Aku hanya mengingat hari ini hari senin, harus mengantar putriku Cinta lebih pagi ke daycare nya, sekaligus agar saya bisa sampai tepat waktu di kantor. Hari senin biasanya jalanan lebih macet dari biasa. Dalam perjalanan, masih sedikit menyesali kenapa aku melupakan hari ini. Mestinya aku bangun dan siap lebih pagi agar tak buru-buru dan melupakan satu ritual tahunan yang menurutku penting. Aku lupa belum menelepon Ibuku.

    Biasanya aku berusaha menjadi orang pertama yang menelepon di pagi hari, memulai obrolan dengan menanyakan kabar atau masakan apa hari ini di rumah Ibu, baru kemudian kuucapkan selamat hari ibu pada akhir pembicaraan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu akan mengucapkan terimakasih kembali atas ucapan selamatku itu. Padahal aku menelepon justru untuk mengucapkan terimakasih pada beliau. Tapi itulah Ibu, tak pernah lupa berterimakasih padaku sekecil apapun pemberianku, sementara apa yang telah beliau berikan padaku selama ini sangat banyak, begitu berharga dan tak berbalas.

    Segera kucatat dalam agenda ponselku, bahwa aku akan menelpon Ibu nanti malam. Terlambat tak apalah, daripada tidak sama sekali dan menyesal.

    Putriku sendiri belum mengerti betul yang dimaksud hari ibu. Tepatnya tanggal berapa juga belum tahu. Dia hanya tau ketika aku mengantarnya ke daycare tadi pagi, gurunya meminta Cinta mengucapkan selamat hari ibu padaku. “Cinta maunya mengucapkan selamat hari mama” protesnya pada sang guru karena memang dia memanggilku Mama. Kami pun tertawa mendengarnya.

    Mungkin Cinta heran mengapa hari ini menjadi istimewa? Hampir setiap hari Cinta mempersembahkan karyanya untukku. Setiap hari juga Cinta memeluk dan menciumku, setiap kesempatan kami bersama. Setiap hari juga Cinta menyanyi lagu “I Love You” yang menjadi themesong film Barney kesukaannya. Lantas kenapa juga hari ini begitu istimewa? Bagi Cinta, hari mama adalah setiap hari bisa bersama mama.

    Pagi itu juga, puluhan ucapan Hari Ibu datang dari teman-temanku melalui email, facebook maupun twitter. “Selamat hari Ibu, jeng..semoga semakin pinter merawat anak dan suami”…”Dimasakin apa hari ini sama suami? Selamat hari ibu ya..”…dan kalimat-kalimat serupa. Sebuah ucapan yang aku sendiri belum mengucapkannya pada ibuku hari ini. Ya, hari ini memang sosok ibu begitu diistimewakan.

    Hari ini juga, berbagai media cetak yang terbit hari itu membahas betapa seorang wanita mengorbankan waktu dan tenaganya dalam melakukan multiperan sebagai ibu-istri dan wanita karier. Disebutkan juga cerita beberapa artis yang bisa mengorbankan kariernya demi membesarkan anak mereka. Mendadak aku teringat salah satu pesan di wall facebook untukku hari ini dari l sahabatku yang kebetulan masih lajang “Terimakasih ya Rien.. kamu dan mama-mama lainnya adalah pahlawan pembangunan bangsa karena pengorbanannya sangat besar dalam mendidik anak-anak bangsa. Ingin sekali aku segera merasakan kebanggaan menjadi mama”

    Tapi…kok mendadak aku merasa ada yang aneh dengan kalimat –kalimat tadi. Rasanya ucapan yang kuterima kok berlebihan dari apa yang telah kulakukan. Masa sih aku sudah sedemikian berjasa dan berkorban? Sudah sebanyak itukah yang kulakukan? Satu kata yang terasa janggal adalah “berkorban” Telah berkorban apakah aku?

     

    Sambil merenungi, mencoba memahami kebenaran kalimat itu. tidak Tahukah mereka apa yang sesungguhnya kurasakan selama 4 tahun menjadi mama. Bahwa waktu yang kuhabiskan dengan anakku karena memang aku menginginkan kebersamaan itu. Bahwa tenaga yang kukeluarkan untuk bermain dengannya karena aku menyukainya. Bahwa tarikan tangannya minta dibuatkan susu malam hari saat terlelap telah membuatku terasa berharga dan dibutuhkan. Dan mengajaknya tertawa dalah niatku untuk menghilangkan semula lelah dalam hari itu. Segala pikiran yang kucurahkan untuk mendidik anakku adalah berawal dari harapanku agar kelak mereka menjadi pribadi yang bisa menjalankan kehidupan sebaik-baiknya.

    Tahukah mereka? Bahwa didalam perjalananku menjadi mama sebenarnya terdapat ketidaknyamanan yang dirasakan putriku, ketidaksabaranku menghadapi pertanyaannya yang cerdas, memaksakan kehendak untuk mengikuti pilihan-pilihanku, membebaninya dengan harapan dan cita-cita tinggi, memamerkan kemampuan anak sementara anakku malu dan tidak menyukainya…dan hampir disetiap apa yang kulakukan untuk anakku adalah cerminan keinginanku agar kelak menjadi pribadi unggul.

    Ohh Tuhan..apakah keinginan-keinginanku itu dapat membuatnya bahagia? Bukan kali pertama aku hatiku berkecamuk, berada antara niat baik dan rasa bersalah. Bila kelak Cinta mengerti, aku ingin meminta maaf untuk itu.. Mama akan mencari jalan terbaik Nak, agar dalam proses mendidik dan membesarkanmu tidak terlalu banyak menyakiti perasaanmu.

    Dan pantaskah aku disebut berkorban sementara aku tidak merasa lelah, atau rugi ? Aku memang memperjuangkan kebaikan putriku, tapi aku tidak merasa ada bagian diriku yang kukorbankan, karena aku bahagia dan ikhlas menjadi mama.

    Ini adalah perasaan pribadiku, setelah merasa jengah menerima begitu banyaknya kalimat bermakna agung itu. Tapi disudut hati yang lain, tak dapat kubendung keinginanku untuk segera mengucapakan terimakasih pada ibu.

     

    Akhirnya, menjelang makan siang kuangkat HP dan menelepon Ibu. Rupanya ibu juga lupa kalau hari itu adalah hari istimewanya, jika saja kakakku tidak mengunjunginya tadi pagi. Setelah sekitar 10 menit berbicara, kuucapkan apa yang ingin kusampaikan dari pagi tadi “Ibu, terimakasih atas perjuangan ibu…selamat hari ibu” Cuma itu yang bisa kukatakan. Hilang rangkaian kalimat panjang yang telah kurencanakan karena menahan haru di dada.

     

    Dan dengan nada bergetar dan lirih, kudengar ibu mengatakan “Terimakasih, Nduk“ Oh..ibuu…kuusap setetes air diujung mataku

    Tak sabar kumenunggu sore hari saat untuk menjemput Cinta. Aku ingin segera mengatakan padanya “Terimakasih sayang, atas kehadiranmu untukku” sambil memeluknya erat.

     


  4. Menjadi Mama Penulis

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Menulis menjadi passion saya sejak mempunyai anak tahun 2005.  Dari menulis akhirnya berkembang komunitas saya. Dan inilah wujud apresiasi saya pada sesama Mama-mama penulis, dimuat di Parenting April 2010.

    Menjadi Mama Penulis

    Beberapa teman bertanya kepada saya, “Bagaimana sih caranya bisa menulis yang bagus dan mengalir ?”, “Sejak kapan suka menulis?”, “Belajar menulis dari siapa? Ajari aku dong..” dan pertanyaan-pertanyaan serupa setelah mereka membaca beberapa tulisan saya di note facebook dan blog pribadi.
    Momentum itu terjadi ketika saya hamil. Saya mendapati perasaan bahagia yang berbeda dari sebelumnya. Bahagia yang bertambah setiap harinya. Dan terus bertambah hingga saat ini.
    Bukan sempurna, perjalanan saya sebagai mama pernah mengalami pasang surut . Namun bahagia adalah sebuah kata yang mewakili perasaan saya secara keseluruhan. Saya merasa lebih kreatif. Kertas warna-warni bercampur dengan coretan bertuliskan Asa dan Cinta menghiasi sudut-sudut di rumah kami. Distyrofoam di dapur tak hanya tertempel resep masakan dan daftar menu, terdapat beberapa foto senyum anak-anak saya, plus hiasan di pinggirnya. Di meja komputer yang berlapis kaca, tertempel lagi foto mereka. Setiap saya membuka pintu lemari, ada senyum anak-anak di baliknya. Wajah mereka juga dapat saya pandang setiap kali bercermin, ada foto mereka di sana. Agak berlebihankah? Hehehe..boleh dong.
    Petualangan baru menjadi mama membuat saya gemar menulis (padahal dulu tidak). Saya menulis tidak lama dari setiap kejadian berlangsung. Tak heran, di agenda harian, netbook, blog pribadi, facebook,HP atau kertas memo banyak penggalan-penggalan cerita saya. Dari tulisan yang hanya berisi beberapa kata, “Hari ini dapat surprise dari Cinta” atau “Kenapa Asa paling suka lihat wajah kakak? “ sampai tulisan yang berlembar-lembar yang saya tulis selama berhari-hari . Begitu banyaknya tulisan itu, sebagian besar bercerita tentang dua orang teristimewa, yaitu Cinta dan Asa, anak-anak saya.
    Bosan? Tentu saja tidak. Kian hari, ide terus mengalir tiada habisnya. Setiap hari berganti artinya akan ada hal baru yang terjadi (setidaknya hal yang baru saya ketahui). Setiap milestone pertumbuhan membawa satu episode cerita. Setiap anak adalah unik. Saya membuktikan bahwa antara kakak-adik tidak selalu sama tahapan dan periode perkembangannya, sifat mereka pun berbeda. Kelucuan, kenakalan, gaya ingin tahu, pertemanan, persaudaraan, ide bermain dan banyak lagi yang bisa diceritakan.
    Dari sekedar jurnal pribadi, saya mulai tertarik mengirimkan cerita-cerita singkat di majalah.Beberapa kali dimuat dan saya senang sekali. Apalagi cerita itu tentang buah hati saya. Kadang kala ada fotonya pula. Dari sini muncul ide untuk mendokumentasikan tumbuh kembang anak dengan cara yang lebih menarik, yaitu mengirimkan cerita – cerita pendek tentang mereka ke media. Majalah tersebut saya simpan untuk arsip dan akan saya tunjukkan pada anak-anak kelak mereka sudah dewasa. Anak saya yang besar bahkan sudah mengerti akan hal ini dan itu membuatnya lebih percaya diri.
    Dunia saya pun meluas. Saya mulai mengikuti jejaring sosial, milis dan grup sesama orangtua. Yang menarik, diluar sana ternyata banyak yang seperti saya, mereka adalah mama-mama yang suka menulis. Mama-mama penulis, tidak selalu berarti penulis buku atau artikel di media. Mama-mama penulis, sahabat-sahabat online saya, adalah mereka yang suka menuangkan cerita tentang anak-anaknya dan berbagi pengalaman di blog atau note. Membaca tulisan mereka bagaikan membaca majalah digital yang praktis, cukup dari layar blackberry saya.
    Saya berkenalan dengan mereka. Menyenangkan sekali pertemanan kami. Kami saling bertukar blogdan notes. Ada yang memang sudah menulis sejak lama, ada juga yang mendadak menulis setelah mempunyai anak. Senioritas tersebut tidak berlaku di sini. Tulisan – tulisan mereka menarik untuk dibaca.Saling berbagi pengalaman membuat perbincangan kami terasa nyambung. Membaca pengalaman-pengalaman mereka menjadikan penguat di saat saya menghadapi masalah yang sama. Saat anak demam atau sakit, curhat sesama mama adalah pilihan pertama sebelum ke dokter. Saat saya membutuhkan referensi barang keperluan si adik, atau informasi sekolah untuk si kakak, saya berkunjung ke blog mereka. Dan saya pun mendapatkan informasi dan opini yang lebih banyak, serta menawarkan berbagai solusi yang mungkin sesuai untuk saya.
    Saya menyadari betul bahwa setiap orangtua dan anak itu unik. Interaksi keduanya juga menghadirkan situasi yang unik. Karena itu, saya menjaga betul “tata krama” dalam pertemanan ini, yaitu tidak saling menyalahkan, juga tidak merasa paling hebat dan paling benar.
    Kami juga bisa bertukar ide, seperti ide menu bekal sekolah, cara menyembunyikan sayur dalam makanan anak, atau ide bermain seru di rumah. Dari situ juga muncul ide-ide saya yang baru, cerita-cerita seru dan tentunya inspirasi baru untuk menulis lagi.
    Menulis adalah potensi yang pada sebagian mama mungkin baru disadari seiring dengan hadirnya sang buah hati. Ya, bisa dibilang hampir semua mama bisa menulis. Disadari atau tidak, menuangkan pikiran dan menulisnya ke dalam sebuah catatan pribadi akan sangat bermanfaat. Dari rasa kaget dan senang mengetahui kehamilan, memerangi rasa bosan selama hamil, semangat mempersiapkan kelahiran buah hati dan menyaksikan perkembangan buah hati yang menakjubkan dalah cerita hebat yang kelak dapat dibagi dengan si anak. Anak akan dengan bangga membaca pengalaman luarbiasa yang mereka alami sejak dalam kandungan. Anak juga akan merasa sangat dicintai oleh mamanya.
    Profesi menulis saat ini bukan suatu hal asing. Menulis adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan dan prestise. Dari hobi, menulis bisa mendatangkan penghasilan tambahan. Tulisan bisa dikirim ke media atau diikutkan dalam lomba. Yang paling disukai para Mama dari profesi penulis adalah pemilihan waktu yang fleksible dan bisa dikerjakan dari manapun, termasuk dari rumah atau sambil mengantar anak sekolah.
    Sebenarnya saya tidak terlalu paham teknik penulisan. Namun saya terus belajar dan mengasah kepekaan pada kejadian-kejadian di sekitar. Semakin terasah, semakin sering menulis, maka semakin percaya diri meningkat. Dan dari menulis saya menemukan cara eksis dan gaul ala mama yang menyenangkan.
    Kembali ke pertanyaan teman-teman di atas, biasanya saya akan menjawab “Kamu juga bisa kok, semua mama pasti bisa menulis. Mulailah dari diary dan menulislah dengan santai. Coba saja..”
    (Didedikasikan untuk para Mama, sahabat online saya, dimuat di Parenting edisi April 2011)

     

     


  5. Aman di Mal (Majalah Parenting , edisi April 2009)

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Mal bukan taman bermain !!! waspadai titik-titik yang rawan kecelakaan ini, terutama pada anak-anak

    Eskalator
    Jangan gunakan sepatu bertali atau celana panjang yang bagian bawahnya bertali, karena bisa menyangkut di eskalator dan menyeret kaki kedalamnya. Tuntun anak , kalau perlu gendong agar anak tidak terlambat turun dan tergelincir atau terjepit di celah anak tangga.

    Lift
    Lakukan keluar masuk lift dengan cepat.  Waspadai pintu otomatis. Pastikan anak masuk dan keluar lebih dahulu, baru anda.  Postur anak yang kecil sering tidak terbaca sensor pintu, dan pintu otomatis bergerak menutup.

    Troly
    Anak-anak suka bermain dengan troly. Awasi agar saat bermain troly tidak terdorong ke tumpukan barang atau menabrak orang lain.

    Tangga beroda
    Petugas swalayan menata tumpukan barang dengan tangga beroda.  Jangan sampai lengah anak anda bermain atau mendorong tangga tersebut, apalagi jika diatasnya banyak terdapat tumpukan kardus.

    Kabel bersliweran
    Di bagian elektronik, banyak terlihat kabel bersliweran.  Pastikan anak mengerti bahwa kabel berbahaya jika dipegang tidak dengan benar.  Kabel juga dapat menyebabkan anak-anak tersandung.

    Tumpukan barang yang tinggi
    Anak suka memindahkan botol-botol sampo atau kardus-kardus dari rak satu ke lainya, tapi mereka belum paham kalau satu benda diambil dapat menghilangkan keseimbangan tumpukan benda diatasnya.  Waspadai juga ketika anda berada di lorong barang pecah belah dan pisau.  Jangan ijinkan anak memegangnya.

    Pengharum ruangan dan pembasmi serangga
    Tidak disarankan mencium sangat dekat dan menghirup lekat-lekat untuk mengetahui aroma parfum pengharum ruangan atau pembasmi serangga.  Bagaimanapun, zat-zat tersebut berbahaya untuk paru-paru.

    Rak Pajangan / Gantungan yang runcing & menonjol
    Kacamata, aksesoris maupun perlengkapan pertukangan biasanya dipajang di gantungan dengan tangkai runcing, menonjol dan panjang dan bisa berputar. Jaga agar anak tidak terjatuh ke depan dan mengenai benda runcing tersebut.

    Lantai licin
    Ajak anak menjauhi lokasi lantai licin yang biasanya diberi tanda oleh petugas agar terhindar dari risiko terpeleset.  Menginjak lantai yang masih basah juga membuat lantai akan lebih kotor lagi, kasihan kan petugasnya…

    Kipas angin dan AC besar
    Beri pengertian agar anak tidak memasukkan jari-jari mungilnya ke dalam lingkaran kipas angin sementara baling-balingnya sedang berputar kencang.

    Dinding kaca
    Jika anda sekeluarga makan di foodcourt yang memiliki sisi kaca untuk memandang situasi diluar yang indah, jangan lupa untuk memperingatkan anak agar tidak bersandar di kaca.   Kaca dapat pecah akibat beban berat badan, dan lebih berisiko jika berada pada ketinggian.

    Agar jalan-jalan tak merepotkan:
    -Bawa perlengkapan minimal yang paling dibutuhkan, jangan terlalu banyak karena dapat merepotkan anda sendiri.
    -Kenakan anak anda baju yang nyaman

    -Meskipun pembeli adalah raja, namun ajarkan bersikap sopan. Jjangan biarkan anak menyerak, merobek, menjatuhkan atau melempar barang.
    – Pilih waktu yang tidak terlalu ramai  jika anak anda ingin bermain di arena kidsport,karena dikuatirkan sulit untuk mengontrolnya.
    -Ajarkan anak anda menghapal nama nya dan nama anda. Ini penting  apabila anak terlepas dari sisi anda.

    Dimuat di Majalah Parenting Mei 2009

    artikel komplit ada disini http://www.asacinta.blogspot.com/2009/05/aman-di-mal.html