RSS Feed

Posts Tagged ‘kisah’

  1. Saya dalam NET TV Live Talkshow (Indonesia Morning Show)

    April 10, 2014 by murtiyarini

    Surprise ketika Senin siang, 7 April 2014, saya mendapatkan telepon dari Mira Sahid, Founder Kumpulan Emak Blogger. Intinya saya diminta hadir esok hari dalam acara live Indonesian Morning Show, sebuah acara talkshow di NET TV.  Wow, mendadak sekali.

    Tanpa bersiapan berarti, Selasa (8 April 2014) saya berangkat subuh-subuh ke NET TV di kawasan Lingkar Mega Kuningan Jakarta.  Semula saya kira hanya akan menjadi “penggembira” menemani Mira Sahid.  Ternyata, dari KEB hanya ada bertiga, Mira Sahid, Indah Juli dan saya selaku Srikandi Blogger. Waduh, serius nih ? Saya tampil dong…???

    Bismillah, setelah briefing sesaat dengan kru NET TV, mas Cahyo, kemudian kami di- touch up rias wajah sedikit biar secantik dan sekeren presenternya, dan kami diminta menuju studio. Saat itu acara Indonesia Morning Show tengah berlangsung. Acara ini mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Sesi talkshow ada di pertengahan acara. Sekitar pukul 08.00

    Mau tau rasanya? grogiiiiii.

    Saya pikir saya sendiri yang grogi karena memang minim pengalaman berbicara di depan umum. Mak Mira Sahid dan Indah Juli saya yakin sudah lebih pengalaman. Ternyata, mereka berdua mengaku juga deg-degan. Baru kali ini menghadapi kamera dan live. Sekali lagi, live !

    Tibalah giliran kami. Kru NET TV menghitung mundur,  10, 9, 8 , …..1 !

    IMG-20140410-WA000

    Adrian Maulana dan Shahnaz menyapa kami. Lalu mengobrol seperti biasa. Tanya jawab spontan seputar blog, KEB dan Srikandi Blogger.  Saya pun pasrah, menyerahkan diri untuk berani. Meniatkan tampil apa adanya saya. Toh saya bukan artis, hehehe…

    Dan Alhamdulillah, semua berjalan lancara. Obrolan hanya berlangsung selama 14 menit.

    Di luar studio kami disambut kembali dengan mas Cahyo “Wah, bagus bu, nggak kelihatan groginya seperti waktu briefing tadi. Semua mengalir lancar dan obrolan seru. Menarik sekali. Terimakasih untuk tampilan yang menarik tadi” demikian kata mas Cahyo pada kami.

    Hggh…legaaa sekali. Serasa ringan kaki ini melangkah.  Saya pulang sambil senyum-senyum sendiri.

    Sesaat saya buka facebook, twitter dan bbm, ramai ucapan selamat dan konfirmasi dari para sahabat dan keluarga.

    Sampai sehari sesudahnya saya tidak berani melihat rekam ulang tayangan tersebut di Youtube. Sekarang sudah punya keberanian. Terlihat saya sedikit grogi, tapi not bad, lah..hahaha..harap maklum, bukan artis.

    Untuk tahu siaran ulangnya silakan search You Tube : IMS Kumpulan Emak Blogger.

    Terimakasih KEB dan NET TV atas pengalaman seru luar biasa ini.

    IMG-20140410-WA001

     Foto dari Mira Sahid

     


  2. Usia Enam (Cerita Anda di Majalah Parenting)

    July 1, 2012 by murtiyarini

    Angka enam dalam usia seseorang tidak sepopuler angka tiga belas tanda memasuki usia remaja atau angka tujuh belas tanda memasuki usia dewasa, serta tak mudah diingat seperti sepuluh, dua puluh lima dan lima puluh yang menjadi penanda pada ulang tahun pernikahan. Pada anak – anak, tonggak usia yang populer adalah satu, tiga, lima atau tujuh tahun, dan bukan enam tahun. Siapa menyangka ketika kemudian angka enam menjadi istimewa bagi saya dan Cinta. Pada angka enam di usia Cinta terjadi banyak hal dan peristiwa yang menuliskan titik-titik sejarah perjalanan hidupnya. Saya beberapa kali terkaget karena banyak tonggak tumbuh kembang yang semula saya kira akan terjadi beberapa tahun lagi justru terjadi tahun ini. Bagaimanapun kami harus siap, dan senangnya…ternyata momen-momen berharga itu begitu menyenangkan meskipun awalnya cukup sulit.

    Tahun lalu, kelahiran sang adik terjadi saat Cinta berusia 5 tahun, adalah jarak yang ideal menurut saya. Cinta terlihat cukup dewasa untuk memahami kehadiran sang adik dengan segala konsekuensinya. Cinta tidak merasa cemburu, bahkan sangat perhatian dan protektif pada adiknya. Hmmm..kakak yang baik, begitu saya selalu menyebutnya.
    Namun kesibukan saya dengan bayi baru agaknya menyita perhatian cukup banyak, sehingga saya melewatkan momen dimana Cinta mulai meninggalkan usia balitanya. Yang ada sekarang saya begitu terkagum-kagum dengan kemandirian Cinta. Dia sudah bisa mandi, memakai baju, makan, atau menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri. Dan wow….saya tidak tau kapan itu mulai terjadi, Cinta sudah bisa membersihkan diri saat pipis dan buang air besar. Sifatnya yang lembut begitu telaten menjaga adik dan mengajaknya bermain, terutama saat saya perlu ke kamar mandi. Dan ketika saya tidur kelelahan, dengan sabar Cinta menunggu saya bangun sebelum minta dibuatkan susu atau makan malam. Jadi, walaupun saya melewatkan momen “selamat tinggal usia balita”, saya mendapatkan gantinya dengan menyaksikan titik tonggak kemandirian Cinta pada usia 6 tahun.

    Tahun ini juga menjadi tahun perpisahan Cinta dengan daycare, tempat dia dititipkan sejak usianya masih 3 bulan. Sesuai peraturan daycare bahwa anak yang dititipkan maksimal berusia 6 tahun. Perpisahan juga terjadi antara Cinta dengan taman kanak-kanaknya (kebetulan satu lingkungan dengan daycare) dan tahun ajaran mendatang sudah saatnya masuk SD. Saya sudah menduga Cinta akan mengalami perasaan sedih atas perpisahannya tersebut. Dan yang paling memberatkan adalah perpisahan dengan Bu Ita, gurunya sejak bayi. Bu Ita sudah menjadi mama kedua bagi Cinta.

    Pada acara perpisahan, Cinta dan teman-teman kelasnya tampil ke panggung untuk penerimaan ijazah. Tak terbendung air mata Cinta tumpah saat guru kelas menyalaminya. Cinta merangkul erat seakan tak mau lepas. Hadirin terbawa suasana haru. Si bibi dan si mbak, para asisten daycare tersebut ikut berkaca-kaca. Saya yang semula mondar-mandir memotret akhirnya juga ikut menangis. Sementara itu, teman-temannya hanya tercenung memandang. Oh, sayangku…kamu begitu perasa bagai orang dewasa. Kamu baru berusia 6 tahun dan sudah sangat mengerti arti perpisahan ini.

    Dibalik panggung tangisnya masih berlanjut, dan sayapun menyusul membesarkan hatinya. Saya memahami Cinta begitu sensitif perasaannya. Cinta mengerti bahwa setelah acara pentas seni pelepasan TK B, maka dia tidak akan belajar lagi dengan bu guru dan teman-teman. Dia akan sangat terpukul dengan perpisahan ini. Meski begitu, saya berusaha tenang, serta menyampaikan bahwa perpisahan ini bukan berarti tidak akan ketemu lagi, hanya saja Cinta harus pindah sekolah. Sewaktu-waktu mau menemui guru – gurunya tentu saja diperbolehkan.

    Sebenarnya, beberapa bulan sebelum perpisahan yang mengharukan itu, Cinta sangat senang mengetahui dirinya akan segera menjadi anak SD. Satu jenjang untuk menjadi “orang besar” akan segera sampai padanya. Cinta terlibat dalam proses pemilihan sekolah. Saya membawanya berkeliling ke lingkungan calon-calon sekolah. Pemilihan lingkungan yang aman dan nyaman menjadi penentu utama. Berbagai pertimbangan saya sampaikan kepada Cinta hingga akhirnya kami berhasil memilih salah satu sekolah yang sesuai. Selanjutnya Cinta juga saya libatkan secara aktif dalam persiapan observasi (tes masuk) sekolah, persiapan perlengkapan sekolah, dan persiapan mental terutama mengenai peraturan-peraturan Sekolah Dasar yang berbeda dengan Taman Kanak-Kanak.
    Memang tren saat ini mulai bergeser, usia masuk SD tak lagi 7 tahun, banyak anak usia 6 tahun yang telah siap masuk SD. Dan Cinta bangga sekali akan menjadi anak SD. Baginya itu pencapaian yang hebat. Juga bagi saya tentunya…tak terasa, saya sudah mempunyai putri usia sekolah. Saya sadari, dalam tahun-tahun ke depan akan ada romantika baru dalam mendampingi Cinta, si anak sekolah.
    Jadi, usia enam bagi Cinta berarti menjadi kakak yang baik, menjadi anak mandiri, berpisah dengan daycare, dan menjadi anak sekolah. Saya pasti akan merindukan masa-masa mengandung, menyusui, dan mengurus balita. But the show must go on, hidup terus berlanjut. Setiap jenjang usia anak-anak saya akan menjadi periode-periode indah dalam hidup saya.

    Angka-angka hanyalah penanda usia. Angka enam memang istimewa bagi saya dan Cinta, mungkin angka lain yang menjadi istimewa bagi anda. Berapapun angkanya, keistimewaannya tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya ingin menjadikan setiap tahun memiliki kesan. Kesan indah kalau bisa, dan di atas itu, ada pengalaman yang akan menjadi pelajaran untuk anak-anak saya kelak. Tentang bagaimana mensyukuri tahun demi tahun, dan menggunakan waktu dengan berharga.

    “Semoga mama bisa menyaksikan sebanyak mungkin momen bersejarah dalam hidupmu, Cintaku.., semoga kamu mampu membuat pilihan-pilihan tepat dalam hidupmu”


  3. BUKU BARU : DIARY BUNDA KETIKA BUAH HATI SAKIT

    February 3, 2012 by murtiyarini

    Judul buku : Diary Bunda : Ketika Buah Hati Sakit

    Penulis : Kumpulan Ibu-ibu smart

    Harga : Rp. 48.000,-

    Penerbit : Indie Publishing

    Tebal : 378 halaman

    Mendapati buah hatinya sakit adalah pengalaman paling menegangkan setiap Bunda. Demam, muntah, pusing,  pilek, batuk,  gatal, terluka… Andaikan  bisa bernegosiasi dengan Tuhan, ingin rasanya memindahkan rasa sakit  Ananda ke tubuh Bunda.

    Buku ini memuat pengalaman-pengalaman Bunda  ketika buah hati sakit. Pantas dibaca  para Bunda dan  Ayah.  Pembaca akan terbawa pada situasi menegangkan yang dialami Bunda-bunda, dan ikut mengambil hikmah serta solusi-solusi ketika sakit datang.

    Berikut testimoni yang sudah membaca :

    “Melihat buah hati sehat  adalah harapan setiap orangtua. Bagaimana ketika buah hati sakit ? Mengharukan, sebagai ibu kita disadarkan untuk memahami informasi seputar kesehatan ” (Haya ALiya Zaki, Farmasis)

    “Membaca buku ini seperti diajak untuk menjadi bagian dalam  pengalaman luar biasa. Inspiratif, Reflektif, Menggugah !” Buku yang dahsyat !!  (Deri Rizki Anggraini, Konsultan Gizi)

    “Orangtua membutuhkan empati saat buah hati sakit dan mengambil hikmah dari pengalaman orang lain yang bisa menguatkan dalam menghadapi cobaan dan mengambil keputusan” (Ary Nilandari, Penulis)

    Teman-teman yang ingin memiliki buku ini, bisa kontak saya di murtiyarini@yahoo.com 

    CETAK TERBATAS

     


  4. Cinta Kedua

    December 13, 2011 by murtiyarini

    .

    Majalah Parents Desember 2011

    Sepenggal kisah tentang kekuatiran untuk jatuh cinta lagi.

    Artikel ini dimuat di majalah Parents edisi Desember 2011.  Bisa dikatakan saya beruntung. Majalah ini adalah lisensi Parents USA yang cukup ketat dalam menerima tulisan dari penulis lepas.  Setelah berlangganan sekitar satu tahun, saya memahami gaya selingkung majalah Parents serta topik-topik apa yang diperlukan oleh pembaca.  Dengan kenekatan, saya mencoba mengirim ke redaksi.  Sangat membanggakan akhirnya nama saya terpampang sebagai penulis disini.

    Saya bercerita tentang kegalauan saya sebelum memutuskan untuk hamil lagi. Banyak pertimbangan, misalnya apakah Cinta akan menerima adiknya, apakah saya bisa berbagi kasih, apakah keceriaan kami bertiga (saya, Cinta dan suami) akan tetap ada.  Dengan bumbu berupa pengalaman cerita-cerita teman-teman yang telah beranak lebih dari satu, tulisan ini akhirnya selesai saya buat.  Ini merupakan tulisan favorit saya, karena terasa sekali perjuangan untuk menulisnya, juga idenya yang sangat mengena di hati dan berbeda dari tulisan-tulisan lain.

    Berulang kali saya membaca tulisan ini, belum bosan, karena syarat cerita perjalanan batin saya menjadi ibu.  Dan saat tulisan ini telah dimuat, saya sudah mempunyai dua anak, yang kecil berusia 1 tahun.

     

    Ini tentang kekuatiran untuk jatuh cinta lagi..

    Saya merasa seperti berada dalam mesin waktu dan tiba-tiba terlempar beberapa tahun ke depan ketika menyadari putri pertama saya, Cinta, sudah berusia 4 tahun. Begitu larutnya dalam kebahagiaan (dan kelelahan) mengasuh anak, hingga saya lupa sudah saatnya memberi Cinta hadiah terpenting dalam hidupnya, yaitu seorang adik. Saya baru tersadar ketika seorang teman yang anaknya baru berusia 2 tahun mengabarkan berita kehamilan keduanya.
    ” Hayoo..kamu kapan nyusul? Cinta sudah besar lho..” Kata teman saya memanas-manasi, dan kenyataannya saya memang mulai merasa gerah karena pertanyaan serupa telah saya terima berulang kali baik dari teman dan keluarga.

    Saat itu saya mengira Cinta belum siap untuk mempunyai adik. Yang terbayang adalah setiap hari akan ada rengekan si sulung mencari perhatian ketika perhatian hampir semua orang terpusat pada si bayi. Karena itu saya kaget kita suatu hari Cinta menanyakan kapan dia mempunyai seorang adik bayi yang lucu. Terusterang, saya tidak yakin dia akan benar-benar rela dengan kehadiran anggota baru di rumah yang berpotensi menyita perhatian ayah-mama nya. Tapi ketika Cinta memohon berulang-ulang, saya merasa inilah saatnya untuk bersiap-siap hamil lagi.

    Masalah utamanya ternyata bukan ada pada putri saya, melainkan pada perasaan saya sendiri. Meskipun telah mempunyai pengalaman hamil dan menguasai teori-teori pengasuhan bayi paling baru, saya toh masih merasa enggan untuk hamil lagi.

    Tampaknya saya begitu menikmati perasaan sayang pada si sulung. Setelah kehadiran bayi baru, apakah kelak kita akan tetap menyayangi anak pertama sebesar saat ini ? Apakah momen-momen indah kami bertiga (saya, suami dan Cinta) akan tetap ada? Saya takut Cinta yang sekarang adalah anak yang manis akan berubah sikap karena haus perhatian. Bisakah kami bersikap adil ? Ketakutan-ketakutan saya tersebut membuat saya merasa belum siap untuk ”jatuh cinta” lagi, apalagi berbagi cinta.

    BERJALAN ALAMI
    Kapankah saya siap menanti kehadiran cinta kedua? Saya bertanya kepada beberapa sahabat yang sudah mempunyai anak lebih dari satu. Mereka berbagi tentang bagaimana cara mereka mengelola perasaan.

    Dan hasilnya, hampir semua dari mereka mengatakan hal tersebut akan berjalan secara alamiah.
    ”Secara naluri, rasa sayang itu tak akan berkurang kepada sang kakak, malah sang kakak akan mendapatkan kasih sayang baru dari sang adik” demikian nasehat seorang sahabat saya.

    Awalnya mereka juga khawatir kehilangan momen-momen kasih sayang dengan si sulung. Mereka baru percaya setelah benar-benar mengalaminya, bahwa cinta mereka tidak terbagi antara anak pertama dan berikutnya. Setiap anak membuat orangtua jatuh cinta dengan keistimewaan masing-masing

    Rekan saya yang lain sempat merasa ragu bagaimana membagi cinta pada kedua putrinya. Pada saat itu, ia merasa belum ingin menduakan cinta yg menurutnya masih menjadi milik anak pertama. Ketika anak kedua terlahir, perasaannya secara alamiah mencintai kedua buah hatinya dalam porsi yang sama. Tapi dalam urusan menikmati rasa kasih sayang, dia berterus terang merasa lebih berat pada si kecil, dengan alasan sederhana, karena terlihat lebih lucu dibanding sang Kakak.

    Berbagi perhatian bukan berarti berkurangnya kasih sayang. Berapapun jumlah anak dalam sebuah keluarga, bukan berarti kasih sayang orangtua dibagi-bagi, melainkan semuanya mendapatkan satu cinta yang utuh 100%. Memang, tidak mudah memahami perbedaan antara berbagi perhatian dan berkurangnya kasih sayang. Tidak heran, jika banyak orangtua yang baru memahami setelah menjalaninya, dan mereka merasakan sensasi kebahagiaan yang bertambah.

    KESIAPAN ORANG TUA
    Kesiapan orangtua untuk memulai kehamilan kedua melibatkan kesiapan fisik dan mental. Mengatur jarak kelahiran sangat menentukan kesiapan tersebut. Jeda waktu ini bersifat relatif bagi setiap orang. Sebagian orangtua mungkin merasa jarak ideal antara anak pertama dan kedua 3-4 tahun. Pada jarak ini selain anak pertama sudah cukup besar untuk mengerti dan bisa bersikap mandiri, sudah cukup pula waktu untuk menyusun kekuatan untuk hamil lagi. Tapi jika usia sang ibu sudah mendekati 35 tahun, mungkin akan memilih “kejar tayang” meskipun anak pertama baru berusia 1-2 tahun.

    Untuk menambah kesiapan, saya membuat rencana jadwal bagaimana meluangkan waktu untuk kakak dan adik serta kegiatan apa saja yang dapat dinikmati bersama. Meskipun tidak harus persis sama durasinya, paling tidak keduanya mendapatkan cukup perhatian yang membuatnya merasa disayang. Jadwal terencana ini juga membuatnya lebih tenang dan menghindarkan dari rasa bersalah berkepanjangan.

    Adanya pihak pendukung baik itu orangtua, mertua, asisten ataupun baby sitter akan menambah kesiapan orangtua. Suami adalah partner yang paling dapat diandalkan. Saya membuat komitmen dengannya, ketika perhatiannya saya sedang tertuju pada si kecil, suami wajib mengambil alih tugas menemani sang kakak.

    KESIAPAN SI KAKAK
    Saya diingatkan untuk tidak kaget jika si kakak yang semula mandiri akan kembali bersikap kekanak-kanakan ketika dilihatnya si adik mendapat perhatian yang begitu banyak. Kesiapan sang kakak juga menjadi pertimbangan kapan orangtua akan menghadiahi seorang adik padanya. Saya melibatkan si kakak dalam proses kehamilan, seperti mengajaknya ke dokter kandungan, memintanya mengambilkan vitamin kehamilan atau mengajaknya merasakan tendangan dari dalam perut akan membuatnya mengenal sang adik lebih awal. Saya katakan satu manfaat yang menyenangkan dari kehadiran adiknya, yaitu sebagai teman bermain yang seru.

    Saya menjaga agar lingkungan keluarga kompak menjaga perasaan sang kakak. Jangan ada yang meledek atau menakut-nakuti si sulung akan kehilangan perhatian. Lebih baik mereka meyakinkan si sulung bahwa dia akan lebih berbahagia dengan kehadiran adiknya.

    Kadang kala, kecemburuan si sulung sebenarnya hanya ketakutan orangtua yang belum tentu terbukti. Nyatanya, ketika si adik lahir, si sulung justru merasa senang dan bisa mengungkapkan rasa sayangnya. Memang diperlukan dukungan dari suami dan keluarga untuk menciptakan suasana yang kondusif agar si sulung merasa nyaman dan tidak merasa berkurang perhatian orangtuanya.

    BELAJAR BERLAKU ADIL
    Tidak ada orangtua yang dengan sengaja lebih sayang pada satu anak daripada lainnya. Akan tetapi, kadangkala lebih mudah bekerja sama dengan salah satu anak saja karena berbagai alasan, misal karena sifat yang lebih mirip, hobi yang sama atau lebih mengerti anda.

    Perbedaan kebutuhan setiap anak menjadikan anda sulit menentukan porsi perhatian dan kasih sayang yang adil. Saat si adik lahir, dia akan menyita lebih banyak perhatian saya. Dilain sisi, sikap cemburu si kakak , akan menyadarkan saya bahwa masih ada seorang anak lagi yang juga masih butuh perhatian.

    Bagi anak, keadilan bisa diartikan dalam bentuk perhatian dan pemberian benda-benda yg mereka inginkan. Anak mungkin akan protes jika mainan milik adiknya berbeda dengan miliknya. Dalam usaha berlaku adil, saya tidak harus membelikan dua mainan sama persis. Saya ajarkan terutama untuk si kakak bagaimana harus berbagi dan saling meminjam. Seiring bertambahnya usia, pemahaman konsep keadilan disampaikan pada anak agar anak mengerti bahwa pemenuhan kebutuhan setiap orang berbeda-beda.

    Bukan hal mudah untuk bersikap benar-benar adil seperti yang direncanakan sebelumnya. Sepertinya, tidak ada orangtua yang benar-benar sukses menghindarkan kecemburuan adik-kakak. Protes dari salah satu anak atau keduanya adalah hal yang umum terjadi. Dengan berulang-ulang mentjelaskan bahwa perasaan mama-papa pada mereka adalah sama, lama-kelamaan mereka akan mengerti. Bahkan, tak hanya kasih sayang dari kedua orang tua yang mereka dapatkan, melainkan juga kasih sayang dari saudaranya.

    Hadiah terbaik
    Saya akhirnya berhasil meyakinkan diri bahwa saya akan memiliki kasih sayang yang utuh untuk anak-anak saya. Tak ada untungnya terus mempertajam ketakutan yang belum tentu terjadi, lebih baik saya bersikap rileks membiarkan perasaan berjalan secara alami. Saya akan menikmati keistimewaan masing-masing anak dan merasakan kekaguman yang berbeda pada mereka.

    Lagipula, kehadiran seorang adik adalah hadiah terbaik untuk sang kakak. Kelak mereka akan merasakan indahnya memiliki saudara, yaitu sebagai sahabat yang setia.

    Ditulis untuk Majalah Parents Indonesia

     


  5. Belajar Itu Indah (Juara 1 Writting Competition Parentsguide – Gain Advance)

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Anak kecil punya daya ingat kuat, cara pandang seperti kamera, yaitu merekam dengan detil apa yang dilihatnya, serta mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat orangtua garuk-garuk kepala untuk menjawabnya.

    Itulah ciri-ciri anak cerdas.  Momen pencapaian tumbuh kembang yang sayang untuk dilewatkan.  Untung saya merekam dan menulisnya dengan baik pertanyaan-pertanyaan Cinta.  Alhamdulillah, tulisan tersebut memenangkan juara I lomba menulis yang diadakan PT Abbot Nutrition dengan Majalah Parentsguide. Selain dapat hadiah uang tunai, paket susu, saya juga diundang dalam seminar menarik di Jakarta tentang bagaimana mencatat tumbuh kembang anak.

    Belajar itu Indah

    Kaget, tercengang, diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum adalah hal yang biasa saya alami setiap hari. Bagaimana tidak, setiap hari ada saja kejutan-kejutan cerdas yang terlontar dari mulut Cinta Ing Larasati, putriku yang kini berusia 5 th. Saat-saat belajar dan bereksplorasi menjadi momen indah bagi kami.

    “Mama, nanti kalau sudah besar Cinta ingin punya anting kupu-kupu seperti punya teman mama” celetuk Cinta suatu sore
    “Teman mama yang mana?” tanya saya bingung
    “Ituuu..yang pakai baju warna pink bunga-bunga, dan celana coklat, trus bawa tas coklat juga, dan bawa buku besar. Bukunya nggak dimasukkan tas” Cinta berusaha menjelaskan
    “Yang ketemu di Halte bis Pakuan sore-sore, yang badannya agak gemuk. Mama sih nggak mengenalkan namanya, jadi Cinta juga nggak tahu” dia mulai tak sabar melihat saya tak segera mengingat.
    “Ooohh…tante Heny?? Ya ampun Cinta…itu kan sudah 2 bulan yang lalu. Kok kamu masih ingat sama baju dan antingnya sih..?“ saya terheran-heran mengagumi ingatan Cinta yang detil. Kami pun lalu membahas masalah anting kupu-kupu yang tadi diceritakan Cinta.

    Awalnya saya tidak percaya dengan keistimewaan Cinta ini. Saya sering mengujinya dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. Misalnya apa warna sepatu yang tadi pagi dipakai Nisya, salah satu temannya atau apa warna baju yang dikenakan ayah kemarin. Hampir semua pertanyaan dadakan itu dijawabnya dengan tepat. Cinta memang mempunyai ingatan yang sangat kuat yang berhubungan dengan kemampuan visual yang detil dan tajam. Cinta sangat mengingat apa saja yang pernah dilihatnya, atau informasi apa saja yang pernah didengarnya. Kecerdasan Cinta juga terlihat dari ketertarikannya pada hal-hal yang bersifat sains. Cinta mampu mengenali, mengkategori, menganalisis dan memahami pengetahuan terutama mengenai lingkungan alam. Dia begitu peka terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar seperti flora, fauna, angin, matahari, bintang, bulan, air, awan, sawah, sungai dan tubuh manusia.
    Pernah suatu ketika, sepulang dari daycare, Cinta menceritakan penemuannya hari itu,
    “Ma, ternyata…tonggeret itu bentuknya seperti jangkrik”
    Cinta memang beberapa kali mendengar suara tonggeret ketika saya ajak ke sebuah hutan percobaan. Tapi dia belum pernah melihat bentuknya.
    “Kok Cinta mengira begitu?” tanya saya.
    “Iya, soalnya tadi Cinta lihat jangkrik sama teman-teman. Terus bunyinya seperti tonggeret. Pasti bentuknya juga sama. “ jelasnya.
    “Hmm..mungkin bentuknya sama tapi mungkin juga berbeda. Nanti mama cari tau di internet tentang bentuk tonggeret ya” janji saya.
    Memang tonggeret dan jangkrik sama-sama jenis serangga. Tapi bentuknya sedikit berbeda. Tetapi saya bangga dengan kemampuan analisa Cinta membandingkan benda dari adanya petunjuk yang sama.

    Saya selalu berusaha memancing rasa ingin tahu Cinta. Jika dia bertanya tentang sesuatu, saya tidak langsung menjawabannya. Saya mencoba melontarkan pertanyaan-pertanyaan bantuan yang mengasah kemampuannya menganalisis hubungan sebab akibat hingga akhirnya dia menemukan jawaban dari penalarannya sendiri. Saya juga selalu berusaha memberikan informasi yang jujur agar konsep penalaran Cinta terstimulasi dan terhubung dengan baik.
    Sepertinya otak Cinta tak pernah berhenti bereksplorasi. Saya pun sering dihujani pertanyaan-pertanyaan “ajaib”nya.
    “Mama, kenapa awan di langit sering berubah-ubah bentuknya?”
    “Bagaimana adik bisa masuk ke perut mama? Nanti keluarnya bagaimana?”
    “Mengapa kepiting jalannya miring? Apa nggak pusing ? ”
    “Susu kalau dicampur teh jadi apa? ”

    Saya dan suami sering berandai-andai, sepertinya Cinta cocok menjadi ilmuwan karena kemampuannya itu. Tapi ketika Cinta ditanya tentang cita-citanya, dengan mantap dia menjawab :
    “Cinta ingin menjadi juru masak!” katanya dengan bangga. Kami tidak kecewa. Justru kami sangat menghargai dan mendukung cita-citanya, Yang kami lakukan saat ini adalah mengembangkan dan mengarahkan kecerdasannya dengan memberinya stimulasi, nutrisi dan mengkondisikan lingkungan yang baik bagi Cinta. Yang paling utama, adalah memupuk semangat belajar nya sepanjang masa, karena belajar itu indah.

     


  6. Selamat Lebaran

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Sejak dunia seluler lahir, sejak itu pula tradisi kirim-kirim kartu lebaran telah tergantikan oleh sms. Kemudian disusul dengan pesan-pesan di facebook, email atau tweeter. Cepat, murah dan leluasa berkreasi kata-kata. Bahkan jauh hari sebelum lebaran tiba, tepatnya sehari sebelum puasa Ramadhan, alarm blackberry saya terdengar hampir setiap saat. Puluhan pesan berisi ucapan selamat berpuasa saya terima. Kalau boleh jujur, bosen juga membacanya karena isinya senada. Tapi masa’ iya sih..niat baik diabaikan begitu saja. Setidaknya saya cukup tahu siapa pengirimnya, untuk dibalas nanti kalau niat sudah ada. He..he..

    Saya sempat tidak percaya membuka sms seorang teman yang rada gokil dan tak pernah serius ” Ketika senja sya’ban berlalu, fajar ramadhan menjelang, kami mohon dibukakan pintu maaf, atas lisan pernah menoreh luka, janji yang terabai, hati yang berprasangka, dan sikap yang menyakitkan. Selamat menunaikan ibadah puasa. ” Bener nggak ya sms itu dari dia? Maksud saya bener nggak hasil karangannya? Jika betul, berarti budaya mengarang pesan Ramadhan ini telah bermanfaat untuk mengubah sikap seseorang menjadi sedikit serius.

    Beradu kalimat indah tanpa disadari menjadi ajang perlombaan. Ada yang orisinil tapi tak jarang ada pesan yang sama isinya. Hanya sebagian kata-katanya saja diganti. Bisa ditebak, pasti dari sumber yang sama, buku kumpulan sms, atau menforward pesan yang diterimanya.
    Namun hak merangkai kata adalah milik siapa saja. Itulah manfaat kedua dari trend kirim SMS ini, semua orang jadi pandai merangkai kata. Isi SMS pun bisa mencerminkan pengirimnya.
    “Mari kita sambut Ramadhan dengan : setting niat, upgrade iman, download kesabaran, delete dosa, dan hunting pahala. ” Begitu isi SMS Santi, temanku yang kerja di bagian IT.

    Lain lagi dengan sms dari Budi, seorang teman yang setiap hari menempuh perjalanan jauh keliling kota sebagai salesman. Status FB nya menunjukkan pemakaian BBM yang tinggi menjadi pikirannya : ”Marhaban ya ramadhan, semoga bulan ini penuh BBM (Bulan barokah & Maghfiroh). Mari kita Premium (Prei makan minum), Solar (sholat lebih rajin) dan Minyak tanah (meningkatkan iman banyak tahan nafsu dan amarah) serta Pertamax (perangi tabiat maksiat)”

    Saya sendiri agak enggan ikut dalam trend saling kirim ucapan ini. Tapi berhubung kata Pak Ustad sebelum puasa afdolnya maaf-maafan, maka dengan alasan itu pesan di wall FB atau sms kubalas dengan 2 kata yang sama yaitu ”sama-sama.”

    Saling kirim ucapan semakin marak ketika memasuki minggu terakhir ramadhan alias menjelang lebaran. Tak henti-henti BB ku berbunyi. Biarpun sudah bisa menduga isinya, tapi siapa tahu ada pesan penting masuk. So, mau nggak mau harus dilihat satu-satu. Sabar.. sabar… sedang puasa, nasehat saya pada diri sendiri. Masih untung HP jaman sekarang dilengkapi memory tinggi, bayangkan beberapa tahun lalu saat HP masih berkapasitas 20 sms, setiap kali memory penuh harus rajin menghapus sms dalam inbox.

    Sering saya tertawa sendiri membaca pesan yang kuterima, ”Anak kodok makan ketupat, setelah kenyang pergi melompat. Krim kartu sudah nggak sempat, pake SMS pun no what-what. Mohon maaf lahir dan batin. Tetap semangat dan dahsyat.”

    Kadang saya perlu mengerutkan kening memahami SMS dari seorang Bulik atau Tante di Semarang yang memang Jawa banget : ”Dahar ketupat kaliyan santen, Sedaya kalepatan nyuwun pangapunten.”

    Saya sendiri tidak mau mau kalah dalam persaingan kata-kata indah apalagi dibilang klise. Maka dengan mengerahkan segala kemampuan, berhasil saya ciptakan beberapa kalimat indah. Tidak terlalu panjang, yang penting orisinal buatan sendiri. Dengan mempunyai stok sms, begitu menerima sms dari seseorang, dalam hitungan detik saya sudah membalasnya. Semoga saja si penerima tidak heran bagaimana jari saya bisa mengetik sms secepat itu.

    Niat hati ingin mengirim pesan yang unik untuk setiap orang berbeda. Sayangnya, ide saya tak sebanyak jumlah teman-teman, terpaksa beberapa teman menerima pesan dengan kalimat sama. Untuk menyiasatinya, jangan sampai teman yang berdekatan atau saling kenal mendapat kalimat yang sama.

    Dan malam takbiran tiba. Saya mulai melayangkan pesan lebaran pada semua teman di kontak blackberry, facebook, tweeter, dan milis. Kalau pesan-pesan itu kelihatan, mungkin langit gelap tertutup huruf-huruf yang beterbangan.

    Dari sekian pesan yang saya terima hari itu, ada satu pesan yang menarik perhatian. Pengirimnya dari Ratna, teman SMA yang hanya kontak setahun sekali, itupun biasanya pas lebaran. Kali ini dia mendahului mengirim sms sebelum saya sempat mengiriminya (maklum, huruf R belakangan menunggu giliran).

    Sepertinya saya sangat mengenal kalimat dari Ratna : ”Seiring kumandang takbir pagi, teraih kemenangan fitri. Dan hati pun berhias pelangi, Tergerak sanubari ulurkan jemari. Tautkan kembali silaturahmi , Mohon maaf atas kesalahan diri. Selamat Idul Fitri 1431 H.

    Saya buka lagi arsip sms lebaran ”ciptaan” saya. Astaga, ternyata sms dari Ratna persis seperti yang kalimat saya buat. Sejenak saya ingat-ingat lagi kepada siapa kalimat itu telah terkirim : Anto teman waktu kuliah, Heni penjahit langganan di kampung, Neny teman SMA atau Dina, sepupu saya yang kebetulan satu kos dengan Ratna ? Mungkin Ratna terima dari salah satu mereka.

    Tapi belum tentu juga, saya kirim sms itu ke sekian orang, mungkin mereka masing-masing mengirimkan ke sekian orang berikutnya. Entah rantai yang keberapa yang diterima Ratna. Baguslah, berarti kalimat ciptaan saya itu disukai. Kalau di dunia rekaman atau penerbitan buku pasti royaltinya sudah banyak.


  7. Bangga Ada Porsinya

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Ibu pasti bangga pada anaknya.  Semua anak cantik atau ganteng atau pinter di mata ibunya. Betul kan ? Bangga adalah hal yang wajar.  Tapi jangan lupa, terlalu membanggakan anak, apalagi membawa ke obrolan dengan teman dan tetangga belum tentu mendapat respon positif. Lingkungan bisa bosan, anak bisa malu.  Semoga tulisan ini menjadi refleksi bagi ibu-ibu yang saya yakin 100% bangga pada anaknya.

    Dimuat diParents Guide  Oktober 2009 , lengkapnya di http://www.asacinta.blogspot.com/2009/10/bangga-ada-porsinya.html