RSS Feed

Posts Tagged ‘keluarga’

  1. #Lebihbaik Menghangatkan Hati Orangtua

    August 21, 2015 by murtiyarini

    Sudah 11 tahun suami tidak berlebaran bersama orangtuanya.  Banyak hal menjadi pertimbangan. Dan tahun ini, kami ingin telah melalui lebaran dengan #lebihbaik.

     

    Kendala Biaya.

    Beginilah saya ditakdirkan berjodoh dengan pasangan yang berasal dari dua pulau berbeda. Saya dari Jawa Timur, sedangkan suami dari Medan, Sumatera Utara. Kemudian kami menetap di Bogor.  Sejak menikah,  kami ke Medan justru bukan saat lebaran. Sebagaimana kita tahu, tiket kendaraan baik darat, laut apalagi udara harganya melambung di saat liburan menjelang dan sesudah hari raya.  Dengan dua anak saat ini, biaya mudik ke Medan di hari raya tidak sedikit.  Dengan pertimbangan itu, kami memilih mudik Medan justru di luar hari raya, di saat harga tiket pesawat sedang normal. Itupun bukan berarti benar-benar murah. Tetap saja butuh biaya besar untuk satu kali mudik.

    Assalamu’alaikum, Asa” sapa bapak pada putra saya dari ujung telepon.

    “Waalaikum salam, kakek,” jawab Asa.

    “Asa kapan ke rumah kakek?” tanya Bapak.

    “Belum tahu, Kek. Nanti kalau Ayah sudah punya uang,” jawab Asa.

    Hmm..saya sedih setiap mendengar pertanyaan yang sama setiap minggunya, saat sang kakek dan cucu itu berbincang melalui telepon.

    Campur aduk perasaan saya, antara bersalah, sedih, dan keinginan yang membuncah.  Setahun saya dan suami sibuk bekerja, namun tak kunjung sanggup menghangatkan hati orangtua di saat lebaran.  Saat dimana seharusnya para orangtua memeluk putra-putrinya.  Sebenarnya sudah sejak lama saya memendam keinginan berlebaran ke Medan.  Mudik bagi kami bukan sekedar berlebaran ataupun berlibur.  Ada keinginan besar untuk menghangatkan hati orangtua.  Keinginan ini mendesak, seakan berkejaran dengan waktu, sambil harap-harap cemas, semoga kita masih diberi kesehatan dan umur, agar bisa berjumpa lagi.

    Persiapan membuat Lebaran #lebihbaik

    Maka sejak tahun lalu saya tekatkan, untuk dapat berlebaran bersama orangtua tahun ini.  Persiapan yang panjang. Mulai dari menghitung budget, strategi penghematan pada pos-pos belanja yang tidak penting, membuat rencana-rencana saat lebaran nanti dan mengatur waktu kapan saya sudah harus berburu tiket pesawat.

    Persiapan satu tahun, ya satu tahun. Apakah menurut anda terlalu lama? Harap maklum, karena kami harus berhitung antara penghasilan, pengeluaran rutin, tabungan jangka panjang, dan tabungan setahun diantaranya untuk mudik.  Tapi bagi kami, itu pencapaian terbaik lebaran tahun ini. Dan kami sukses mudik ke Medan. Lebaran tahun ini terasa #lebihbaik. Jika kita punya niat, kita bisa membuat rencana dan persiapan.  Tidak ada kata mustahil jika kita berusaha.  Dan nyatanya kami bisa.

     

    Menghangatkan Hati Orangtua.

    Kami mengambil cuti panjang untuk lebaran di Medan, yaitu 9 hari. Rasanya rugi jika biaya mudik yang besar tidak diimbangi dengan waktu mudik yang panjang. Sepakat?

    Selain itu, saya ingin lebaran kali ini benar-benar istimewa. Kapan lagi bisa menyenangkan hati orangtua secara langsung jika tidak saat bertemu seperti ini.  Saya tahu, kebahagiaan kakek dan nenek adalah saat melihat cucu-cucunya gembira. Karena itu, saya telah mempersiapkan liburan lebaran yang berkesan untuk kami semua.

    Apalagi kalau bukan liburan. Ya..liburan keluarga!  Mengingat orangtua fisiknya tidak terlalu kuat berjalan jauh, maka kami liburan santai di pantai. Sungguh nikmat bisa makan siang di pantai dengan sajian kepiting dan udang langsung dari hasil tangkapan Nelayan.  Sementara itu anak-anak bermain pasir sambil tertawa-tawa.

    Di hari lain, kami mengajak orangtua menginap di sebuah hotel di Medan. Hm, hotel di kota yang sama dengan rumah? Yup, kenapa tidak? Hotel sekarang sudah bisa menjadi tempat rekreasi keluarga.  Menikmati suasana kamar yang berbeda, serta berenang di pagi harinya. Inilah cara kami menyenangkan hati orangtua. Mengajak mereka ke hotel bersama anak dan cucu.  Seperti halnya di pantai, anak-anak saya ceria sekali saat di hotel.

    Suara tawa cucu menghangatkan hati kakek-neneknya.  Lebih dari itu, inilah kesempatan kami  sebagai anak bisa mengobrol dengan orangtua. Senang rasanya bisa mendengar keluh kesah maupun kabar gembira dari mereka secara langsung. Bisa melihat ekspresi mereka saat bercerita adalah hal yang tidak bisa kami lakukan hanya melalui telepon.

     

     Tahun depan #lebihbaik lagi.

    Alhamdulillah, lebaran tahun ini meninggalkan kesan.  Satu hal penting, bahwa tahun ini lebaran kami lebihbaik  dan bermakna karena kami bisa mudik mengunjungi orangtua.

    Menjadi “PR” kami untuk tahun depan untuk lebih baik lagi.  Tantangannya tentu lebih besar, yaitu kenaikan harga-harga otomatis akan berimbas pada kenaikan budget. Takut? Tidak dong. Berpegang pengalaman dari tahun sebelumnya, saya merencanakan lebaran untuk 1-3 tahun ke depan.  Itu artinya perencanaan baik pemilihan waktu, kegiatan dan budget harus lebih baik lagi.  Saya yakin, segala sesuatu yang telah direncanakan jauh hari sebelumnya, hasilnya akan lebih baik. Karena rencana adalah bagian dari bentuk usaha, dan di sana terselip doa-doa. Semoga Allah mengabulkannya. Aamiin.

     

     

     

     


  2. Peran Pabrik Gula dalam Pemberdayaan Perempuan Desa

    January 22, 2013 by murtiyarini

    Oleh : Murtiyarini

    (Foto dari www.mediaindonesia.com)

    Prolog

    Pemerintah memilih 24 perusahaan di seluruh Indonesia sebagai pembina terbaik tenaga kerja perempuan tingkat provinsi selama tahun 2012.  Anugerah ini diberikan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak bersama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bersamaan dengan peringatan Hari Ibu 22 Desember 2012.

    Perusahaan-perusahaan yang terpilih bergerak di sektor usaha perkebunan, industri rokok, perhotelan, pabrik gula, elektronik, rumah sakit, hingga pertambangan emas.  Penghargaan ini diharapkan diikuti dengan penerapan perlindungan hak-hak perempuan di tempat kerja melalui penegakan peraturan ketenagakerjaan yang mengacu pada sejumlah kerangka hukum seperti Konvensi ILO (International Labour Organization), Konvensi CEDAW (Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women) dan MDGs (Millenium Development Goals).  Upaya diatas semakin memantapkan pengakuan peran perempuan dalam roda industi dan perekonomian bangsa ini.

    Topik ini sangat menarik dalam kaitannya dengan upaya PTPN X yang tengah giat membangkitkan kembali industri gula melalui pabrik-pabrik gula. Satu dari 24 perusahaan yang menerima penghargaan diatas adalah pabrik gula PT Gunung Madu Plantation di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung.  Bukan tidak mungkin,  pengembangan pabrik-pabrik gula oleh PTPN X dimasa mendatang lebih memihak pada perempuan dengan memberi peluang kerja dan perlindungan kepada perempuan-perempuan di desa sekitar pabrik gula.

    Pabrik Gula dalam Aspek Ekonomi

    Keberadaan industri di suatu daerah dapat membangkitkan sektor-sektor lainnya seperti perdagangan, pertanian, ataupun jasa. Sebaliknya, berkembangnya sektor-sektor tersebut akan mendukung pertumbuhan industri. Kebangkitan berbagai sektor tersebut membuka peluang kerja dan pendapatan masyarakat. Kemampuan ekonomi masyarakatpun membaik.

    Yang terjadi pada industri gula. Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Kebutuhan gula dalam negeri yang terus meningkat 3.87% setiap tahun. Diperlukan sekitar 12 kg per tahun gula untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Jika industri gula tidak bisa memenuhinya, maka seperti yang terjadi saat ini, Negara kita masih membutuhkan gula impor.

    Pemerintah perlu segera membangkitkan potensi-potensi industri gula di Indonesia. Peningkatan produksi pada Pabrik Gula akan berdampak ke ekonomi lokal karena industri gula mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan pendapatan ekonomi lokal.

    Selama periode 2007-2009, industri gula merupakan sumber pendapatan bagi 1.3 juta orang yang bekerja pada areal sekitar 400 ribu ha perkebunan tebu di Seluruh Indonesia.  PTPN X yang menaungi pabrik-pabrik gula di wilayah Jawa Timur memiliki luasan areal unit usaha gula sekitar 72.125 ha pada tahun 2012, dan sedikitnya mempekerjakan 71.691 petani tebu serta 12.000 karyawan dari masyarakat di sekitar pabrik gula. Jumlah tersebut belum termasuk ratusan ribu tenaga penunjang lepas seperti tenaga tebang, sopir bus pengangkut tebu, penjual makanan dan lain sebagainya.

    Peran Perempuan dalam Ekonomi Masyarakat

    Dalam situasi ekonomi kurang baik, dukungan masyarakat terutama keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat akan berdampak positif pada tatanan mekanisme ketahanan kemandirian ekonomi keluarga. Krisis ekonomi dan krisis moneter yang dialami bangsa ini berdampak negatif pada keluarga-keluarga di Indonesia.  Perempuan sebagai pilar penting keluarga menanggung beban ganda. Pertama, menghadapi kenyataan suami yang ter-PHK, sehingga tidak mampu menafkahi keluarga. Kedua, sebagai pekerja, perempuan ter-PHK merasa tidak bisa membantu perekonomian keluarga. Belum lagi tekanan mental yang dihadapi pada semua persoalan krisis.

    Kabar baiknya, secara kultur dan fakta empiris perempuan memiliki keunggulan prima dalam menghadapi krisis internal dan eksternal. Secara kultural perempuan mempunyai peran psikologis sebagai pemberi rasa nyaman keluarga. Perempuan memiliki etos pengorbanan tinggi untuk selalu mendahulukan kepentingan keluarga. Jika seorang perempuan bekerja mencari nafkah maka kegiatan itu dilakukan demi kesejahteraan keluarga.

    Secara fakta empiris historis, perempuan mempunyai daya adaptasi lebih baik untuk menghadapi kemelut hidup.  Perempuan dinilai lebih tabah dibanding pria.  Perempuan sebagai istri menjalankan peran sebagai pengelola atau manajer rumah tangga. Tugasnya sangat krusial dalam mengatur pengeluaran keluarga. tindakan penghematan terbukti efektif sebagai bentuk pertahanan keluarga. Perempuan juga memiliki keuletan dan keluwesan yang didukung akses ke modal akan dapat menciptakan pasar kerja informal dan usaha kecil keluarga.

    Membangun perempuan berarti membangun negara dan bangsa. Karena itu memantapkan ketahanan perempuan dan keluarga akan membawa dampak jangka panjang mengatasi berbagai krisis kehidupan.  Usaha ini dapat dimulai dari perempuan dengan basis keluarga sebagai unit sasaran pembinaan.  Perempuan  bukan lagi sebagai aset pelengkap, sudah saatnya melihat perempuan sebagai aset strategis. Bukan hanya jumlah perempuan yang potensial, namun juga perspektif pemberdayaan perempuan akan berdampak pada ketahanan bangsa. Dengan demikian perempuan sebagai pilar bangsa dapat berperan untuk pembangunan dengan dimensi kesetaraan gender.

    Menurut data BPS tahun 2010, persentase penduduk perempuan adalah 49,83%.  Sebagai pencari nafkah, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja TPAK Perempuan 38,58%, sedangkan TPAK laki-laki 61,42%.  Dinamika TPAK perempuan dipengaruhi oleh faktor sosial, demografi dan budaya. Sebagai aset sumberdaya manusia perempuan tetap mempunyai peran-peran strategis karena selain sebagai ibu rumah tangga, mereka juga mampu bekerja mencari nafkah.  Namun karena perempuan banyak dibutuhkan di ranah domestik, maka sebagian besar perempuan menginginkan bekerja di lingkungan rumah. Peran perempuan yang menempatkan mereka sebagai pekerja domestik dan laki-laki sebagai pekerja sektor publik.  Akibatnya banyak perempuan memilih mencari nafkah di lingkup rumah tangga atau di lahan pertanian milik keluarga.

    Tingkat pendidikan perempuan desa usia 16-18 tahun atau setara SMU pada tahun 2010 sebanyak 61.57 % untuk perkotaan dan 47.88% untuk pedesaan.  Artinya, perempuan desa mengalami kekurangan dalam hal akses pendidikan sehingga mereka sulit mendapatkan pekerjaan di tempat-tempat yang mensyaratkan pendidikan minimal SMU.  Karena itu perempuan desa banyak berdiam di desanya. Otomatis peluang pekerjaan tergantung dari keberadaan industri atau bisnis di desa tersebut. Jika ada kegiatan kelompok keterampilan atau sosial mereka sangat antusias untuk ikut karena pada dasarnya perempuan desa juga mempunyai etos kerja yang baik.

    Menurut BPS 2004, perempuan lebih banyak bekerja di sektor primer (pertanian) yaitu 44,62%, di sektor skunder (perdagangan, keuangan dan jasa) sebanyak 28,57%, dan di sektor tertier (pertambangan, Industri, listrik, bangunan dan angkutan) sebanyak 28,57%.  Sektor primer tidak terjadi terlalu banyak kesenjangan gender laki-laki dan perempuan, namun sektor skunder dan tertier kesenjangan cukup mencolok. Selain itu, perempuan juga lebih banyak bekerja di sektor informal 75,27% dibanding sektor formal 24,73%.

    Melihat angka diatas, dan menimbang pentingnya peran perempuan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga, maka potensi lapangan pekerjaan untuk perempuan masih perlu ditingkatkan. Pabrik Gula adalah industri yang sangat berpotensi menyediakan lapangan pekerjaan bagi perempuan desa-desa di sekitar Pabrk.

    Peran Pabrik Gula dalam Pemberdayaan Perempuan

    Industri gula menyediakan banyak aktivitas ekonomi dan membuka banyak peluang kerja.  Berbagai proses yang ditempuh Pabrik Gula dari awal penyediaan bahan baku, pemrosesan hingga pemasaran hasil sangat padat karya. Saat ini, aktivitas Pabrik Gula lebih banyak memerlukan tenaga kerja laki-laki dibanding perempuan, terutama karena banyak pekerjaan yang memerlukan ketrampilan dan kekuatan fisik laki-laki.  Namun tidak menutup kemungkinan, jika perempuan dibekali pengetahuan dan ketrampilan tentang pekerjaan industri gula, ada beberapa posisi pekerjaan yang bisa dialokasikan untuk tenaga kerja perempuan.

    Pabrik gula membutuhkan banyak pasokan tebu pada musim giling.  Kebutuhan tebu untuk bahan baku proses produksi gula cukup tinggi. PTPN X membutuhkan bahan baku tebu sekitar 5 – 7 juta ton tebu  setiap tahunnya.   Untuk dapat memenuhi kebutuhan tebu, diperlukan tenaga yang bekerja di kebun tebu sebagai penanam tebu, penebang tebu, pengangkut tebu, dan sopir truck yang mengantarkan tebu ke pabrik. Pada tahapan selanjutnya, dibutuhkan tenaga produksi, tenaga pembantu produksi, maupun tenaga pengangkut gula dari gudang ke truck. Perempuan dapat mengambil posisi sebagai tenaga kerja yaitu pada bidang kerja yang bisa dilakukan oleh perempuan, misalnya menanam tebu, menyiangi rumput di sekitar ladang tebu, menyemprotkan pembasmi hama, melepas pelepah tua dan mengumpulkannya untuk pakan sapi atau atap rumbia, menyortir tebu, bagian penghitungan hasil dan penimbangan hasil.

    Kecukupan tebu untuk proses industri gula diperoleh dari kebun milik Pabrik Gula, dan lahan sewaan milik warga sekitar. Kegiatan sewa lahan ini mendatangkan penghasilan bagi penduduk setempat. Dari kegiatan ini, pemilik lahan juga mendapatkan keuntungan lebih karena dapat melanjutkan budidaya yang sudah dilakukan oleh pabrik gula pada musim tanam berikutnya.  Perempuan-perempuan desa dapat berperan membantu proses penanaman tebu yang dilakukan dilahan-lahan milik keluarga mereka.

    Pada proses produksi di Pabrik Gula memang lebih banyak dilakukan oleh laki-laki.  Adapun alokasi pekerjaan untuk perempuan misalnya pada kegiatan pemeliharaan mesin – mesin pabrik , tenaga kebersihan, bagian penyortiran, bagian pengemasan dan bagian pemasaran.  Tentu saja, semua posisi tersebut harus diawali dengan training oleh pihak manajemen pabrik guna memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan. Harapannya akan lebih banyak tenaga kerja perempuan di desa sekitar pabrik yang bisa bekerja di pabrik gula.

    Dalam kaitannya dengan penerimaan tenaga kerja perempuan sebagai karyawan di Pabrik Gula, pihak Pabrik perlu melakukan beberapa penyesuaian. Misalnya pada peraturan terkait hak dan kewajiban tenaga kerja perempuan, standarisasi gaji dan upah, jam kerja dan aturan-aturan lain yang menyertainya.

    Saat musim giling, aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar pabrik gula menyebabkan kebutuhan makanan, minuman dan kebutuhan – kebutuhan lainnya, hal ini menciptakan peluang bagi perempuan sekitar pabrik gula untuk menjual barang – barang yang dibutuhkan oleh tenaga kerja pabrik.

    Dengan membuka peluang lebih banyak untuk tenaga kerja perempuan, Pabrik Gula sebenarnya telah memanfaatkan aset sumber daya manusia yang sangat potensial untuk mendukung peningkatan produksi gula.  Disisi lain, Pabrik Gula juga menjalankan perannya sebagai penggerak ekonomi daerah melalui pemberdayaan perempuan di desa sekitar Pabrik Gula.

    Referensi :

    Vitalaya, Aida. 2012. Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa. IPB Press.

    www.ptpn10.com

    http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52087/F11mha_BAB%20I%20Pendahuluan.pdf?sequence=5

    http://www.kabarbisnis.com/read/2835577

    Foto dari http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2012/12/06/367970/4/2/P3GI_Targetkan_Produksi_100_Juta_Bibit_Tebu_Tahun_Depan


  3. Usia Enam (Cerita Anda di Majalah Parenting)

    July 1, 2012 by murtiyarini

    Angka enam dalam usia seseorang tidak sepopuler angka tiga belas tanda memasuki usia remaja atau angka tujuh belas tanda memasuki usia dewasa, serta tak mudah diingat seperti sepuluh, dua puluh lima dan lima puluh yang menjadi penanda pada ulang tahun pernikahan. Pada anak – anak, tonggak usia yang populer adalah satu, tiga, lima atau tujuh tahun, dan bukan enam tahun. Siapa menyangka ketika kemudian angka enam menjadi istimewa bagi saya dan Cinta. Pada angka enam di usia Cinta terjadi banyak hal dan peristiwa yang menuliskan titik-titik sejarah perjalanan hidupnya. Saya beberapa kali terkaget karena banyak tonggak tumbuh kembang yang semula saya kira akan terjadi beberapa tahun lagi justru terjadi tahun ini. Bagaimanapun kami harus siap, dan senangnya…ternyata momen-momen berharga itu begitu menyenangkan meskipun awalnya cukup sulit.

    Tahun lalu, kelahiran sang adik terjadi saat Cinta berusia 5 tahun, adalah jarak yang ideal menurut saya. Cinta terlihat cukup dewasa untuk memahami kehadiran sang adik dengan segala konsekuensinya. Cinta tidak merasa cemburu, bahkan sangat perhatian dan protektif pada adiknya. Hmmm..kakak yang baik, begitu saya selalu menyebutnya.
    Namun kesibukan saya dengan bayi baru agaknya menyita perhatian cukup banyak, sehingga saya melewatkan momen dimana Cinta mulai meninggalkan usia balitanya. Yang ada sekarang saya begitu terkagum-kagum dengan kemandirian Cinta. Dia sudah bisa mandi, memakai baju, makan, atau menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri. Dan wow….saya tidak tau kapan itu mulai terjadi, Cinta sudah bisa membersihkan diri saat pipis dan buang air besar. Sifatnya yang lembut begitu telaten menjaga adik dan mengajaknya bermain, terutama saat saya perlu ke kamar mandi. Dan ketika saya tidur kelelahan, dengan sabar Cinta menunggu saya bangun sebelum minta dibuatkan susu atau makan malam. Jadi, walaupun saya melewatkan momen “selamat tinggal usia balita”, saya mendapatkan gantinya dengan menyaksikan titik tonggak kemandirian Cinta pada usia 6 tahun.

    Tahun ini juga menjadi tahun perpisahan Cinta dengan daycare, tempat dia dititipkan sejak usianya masih 3 bulan. Sesuai peraturan daycare bahwa anak yang dititipkan maksimal berusia 6 tahun. Perpisahan juga terjadi antara Cinta dengan taman kanak-kanaknya (kebetulan satu lingkungan dengan daycare) dan tahun ajaran mendatang sudah saatnya masuk SD. Saya sudah menduga Cinta akan mengalami perasaan sedih atas perpisahannya tersebut. Dan yang paling memberatkan adalah perpisahan dengan Bu Ita, gurunya sejak bayi. Bu Ita sudah menjadi mama kedua bagi Cinta.

    Pada acara perpisahan, Cinta dan teman-teman kelasnya tampil ke panggung untuk penerimaan ijazah. Tak terbendung air mata Cinta tumpah saat guru kelas menyalaminya. Cinta merangkul erat seakan tak mau lepas. Hadirin terbawa suasana haru. Si bibi dan si mbak, para asisten daycare tersebut ikut berkaca-kaca. Saya yang semula mondar-mandir memotret akhirnya juga ikut menangis. Sementara itu, teman-temannya hanya tercenung memandang. Oh, sayangku…kamu begitu perasa bagai orang dewasa. Kamu baru berusia 6 tahun dan sudah sangat mengerti arti perpisahan ini.

    Dibalik panggung tangisnya masih berlanjut, dan sayapun menyusul membesarkan hatinya. Saya memahami Cinta begitu sensitif perasaannya. Cinta mengerti bahwa setelah acara pentas seni pelepasan TK B, maka dia tidak akan belajar lagi dengan bu guru dan teman-teman. Dia akan sangat terpukul dengan perpisahan ini. Meski begitu, saya berusaha tenang, serta menyampaikan bahwa perpisahan ini bukan berarti tidak akan ketemu lagi, hanya saja Cinta harus pindah sekolah. Sewaktu-waktu mau menemui guru – gurunya tentu saja diperbolehkan.

    Sebenarnya, beberapa bulan sebelum perpisahan yang mengharukan itu, Cinta sangat senang mengetahui dirinya akan segera menjadi anak SD. Satu jenjang untuk menjadi “orang besar” akan segera sampai padanya. Cinta terlibat dalam proses pemilihan sekolah. Saya membawanya berkeliling ke lingkungan calon-calon sekolah. Pemilihan lingkungan yang aman dan nyaman menjadi penentu utama. Berbagai pertimbangan saya sampaikan kepada Cinta hingga akhirnya kami berhasil memilih salah satu sekolah yang sesuai. Selanjutnya Cinta juga saya libatkan secara aktif dalam persiapan observasi (tes masuk) sekolah, persiapan perlengkapan sekolah, dan persiapan mental terutama mengenai peraturan-peraturan Sekolah Dasar yang berbeda dengan Taman Kanak-Kanak.
    Memang tren saat ini mulai bergeser, usia masuk SD tak lagi 7 tahun, banyak anak usia 6 tahun yang telah siap masuk SD. Dan Cinta bangga sekali akan menjadi anak SD. Baginya itu pencapaian yang hebat. Juga bagi saya tentunya…tak terasa, saya sudah mempunyai putri usia sekolah. Saya sadari, dalam tahun-tahun ke depan akan ada romantika baru dalam mendampingi Cinta, si anak sekolah.
    Jadi, usia enam bagi Cinta berarti menjadi kakak yang baik, menjadi anak mandiri, berpisah dengan daycare, dan menjadi anak sekolah. Saya pasti akan merindukan masa-masa mengandung, menyusui, dan mengurus balita. But the show must go on, hidup terus berlanjut. Setiap jenjang usia anak-anak saya akan menjadi periode-periode indah dalam hidup saya.

    Angka-angka hanyalah penanda usia. Angka enam memang istimewa bagi saya dan Cinta, mungkin angka lain yang menjadi istimewa bagi anda. Berapapun angkanya, keistimewaannya tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya ingin menjadikan setiap tahun memiliki kesan. Kesan indah kalau bisa, dan di atas itu, ada pengalaman yang akan menjadi pelajaran untuk anak-anak saya kelak. Tentang bagaimana mensyukuri tahun demi tahun, dan menggunakan waktu dengan berharga.

    “Semoga mama bisa menyaksikan sebanyak mungkin momen bersejarah dalam hidupmu, Cintaku.., semoga kamu mampu membuat pilihan-pilihan tepat dalam hidupmu”


  4. BUKU BARU : DIARY BUNDA KETIKA BUAH HATI SAKIT

    February 3, 2012 by murtiyarini

    Judul buku : Diary Bunda : Ketika Buah Hati Sakit

    Penulis : Kumpulan Ibu-ibu smart

    Harga : Rp. 48.000,-

    Penerbit : Indie Publishing

    Tebal : 378 halaman

    Mendapati buah hatinya sakit adalah pengalaman paling menegangkan setiap Bunda. Demam, muntah, pusing,  pilek, batuk,  gatal, terluka… Andaikan  bisa bernegosiasi dengan Tuhan, ingin rasanya memindahkan rasa sakit  Ananda ke tubuh Bunda.

    Buku ini memuat pengalaman-pengalaman Bunda  ketika buah hati sakit. Pantas dibaca  para Bunda dan  Ayah.  Pembaca akan terbawa pada situasi menegangkan yang dialami Bunda-bunda, dan ikut mengambil hikmah serta solusi-solusi ketika sakit datang.

    Berikut testimoni yang sudah membaca :

    “Melihat buah hati sehat  adalah harapan setiap orangtua. Bagaimana ketika buah hati sakit ? Mengharukan, sebagai ibu kita disadarkan untuk memahami informasi seputar kesehatan ” (Haya ALiya Zaki, Farmasis)

    “Membaca buku ini seperti diajak untuk menjadi bagian dalam  pengalaman luar biasa. Inspiratif, Reflektif, Menggugah !” Buku yang dahsyat !!  (Deri Rizki Anggraini, Konsultan Gizi)

    “Orangtua membutuhkan empati saat buah hati sakit dan mengambil hikmah dari pengalaman orang lain yang bisa menguatkan dalam menghadapi cobaan dan mengambil keputusan” (Ary Nilandari, Penulis)

    Teman-teman yang ingin memiliki buku ini, bisa kontak saya di murtiyarini@yahoo.com 

    CETAK TERBATAS

     


  5. Cinta Kedua

    December 13, 2011 by murtiyarini

    .

    Majalah Parents Desember 2011

    Sepenggal kisah tentang kekuatiran untuk jatuh cinta lagi.

    Artikel ini dimuat di majalah Parents edisi Desember 2011.  Bisa dikatakan saya beruntung. Majalah ini adalah lisensi Parents USA yang cukup ketat dalam menerima tulisan dari penulis lepas.  Setelah berlangganan sekitar satu tahun, saya memahami gaya selingkung majalah Parents serta topik-topik apa yang diperlukan oleh pembaca.  Dengan kenekatan, saya mencoba mengirim ke redaksi.  Sangat membanggakan akhirnya nama saya terpampang sebagai penulis disini.

    Saya bercerita tentang kegalauan saya sebelum memutuskan untuk hamil lagi. Banyak pertimbangan, misalnya apakah Cinta akan menerima adiknya, apakah saya bisa berbagi kasih, apakah keceriaan kami bertiga (saya, Cinta dan suami) akan tetap ada.  Dengan bumbu berupa pengalaman cerita-cerita teman-teman yang telah beranak lebih dari satu, tulisan ini akhirnya selesai saya buat.  Ini merupakan tulisan favorit saya, karena terasa sekali perjuangan untuk menulisnya, juga idenya yang sangat mengena di hati dan berbeda dari tulisan-tulisan lain.

    Berulang kali saya membaca tulisan ini, belum bosan, karena syarat cerita perjalanan batin saya menjadi ibu.  Dan saat tulisan ini telah dimuat, saya sudah mempunyai dua anak, yang kecil berusia 1 tahun.

     

    Ini tentang kekuatiran untuk jatuh cinta lagi..

    Saya merasa seperti berada dalam mesin waktu dan tiba-tiba terlempar beberapa tahun ke depan ketika menyadari putri pertama saya, Cinta, sudah berusia 4 tahun. Begitu larutnya dalam kebahagiaan (dan kelelahan) mengasuh anak, hingga saya lupa sudah saatnya memberi Cinta hadiah terpenting dalam hidupnya, yaitu seorang adik. Saya baru tersadar ketika seorang teman yang anaknya baru berusia 2 tahun mengabarkan berita kehamilan keduanya.
    ” Hayoo..kamu kapan nyusul? Cinta sudah besar lho..” Kata teman saya memanas-manasi, dan kenyataannya saya memang mulai merasa gerah karena pertanyaan serupa telah saya terima berulang kali baik dari teman dan keluarga.

    Saat itu saya mengira Cinta belum siap untuk mempunyai adik. Yang terbayang adalah setiap hari akan ada rengekan si sulung mencari perhatian ketika perhatian hampir semua orang terpusat pada si bayi. Karena itu saya kaget kita suatu hari Cinta menanyakan kapan dia mempunyai seorang adik bayi yang lucu. Terusterang, saya tidak yakin dia akan benar-benar rela dengan kehadiran anggota baru di rumah yang berpotensi menyita perhatian ayah-mama nya. Tapi ketika Cinta memohon berulang-ulang, saya merasa inilah saatnya untuk bersiap-siap hamil lagi.

    Masalah utamanya ternyata bukan ada pada putri saya, melainkan pada perasaan saya sendiri. Meskipun telah mempunyai pengalaman hamil dan menguasai teori-teori pengasuhan bayi paling baru, saya toh masih merasa enggan untuk hamil lagi.

    Tampaknya saya begitu menikmati perasaan sayang pada si sulung. Setelah kehadiran bayi baru, apakah kelak kita akan tetap menyayangi anak pertama sebesar saat ini ? Apakah momen-momen indah kami bertiga (saya, suami dan Cinta) akan tetap ada? Saya takut Cinta yang sekarang adalah anak yang manis akan berubah sikap karena haus perhatian. Bisakah kami bersikap adil ? Ketakutan-ketakutan saya tersebut membuat saya merasa belum siap untuk ”jatuh cinta” lagi, apalagi berbagi cinta.

    BERJALAN ALAMI
    Kapankah saya siap menanti kehadiran cinta kedua? Saya bertanya kepada beberapa sahabat yang sudah mempunyai anak lebih dari satu. Mereka berbagi tentang bagaimana cara mereka mengelola perasaan.

    Dan hasilnya, hampir semua dari mereka mengatakan hal tersebut akan berjalan secara alamiah.
    ”Secara naluri, rasa sayang itu tak akan berkurang kepada sang kakak, malah sang kakak akan mendapatkan kasih sayang baru dari sang adik” demikian nasehat seorang sahabat saya.

    Awalnya mereka juga khawatir kehilangan momen-momen kasih sayang dengan si sulung. Mereka baru percaya setelah benar-benar mengalaminya, bahwa cinta mereka tidak terbagi antara anak pertama dan berikutnya. Setiap anak membuat orangtua jatuh cinta dengan keistimewaan masing-masing

    Rekan saya yang lain sempat merasa ragu bagaimana membagi cinta pada kedua putrinya. Pada saat itu, ia merasa belum ingin menduakan cinta yg menurutnya masih menjadi milik anak pertama. Ketika anak kedua terlahir, perasaannya secara alamiah mencintai kedua buah hatinya dalam porsi yang sama. Tapi dalam urusan menikmati rasa kasih sayang, dia berterus terang merasa lebih berat pada si kecil, dengan alasan sederhana, karena terlihat lebih lucu dibanding sang Kakak.

    Berbagi perhatian bukan berarti berkurangnya kasih sayang. Berapapun jumlah anak dalam sebuah keluarga, bukan berarti kasih sayang orangtua dibagi-bagi, melainkan semuanya mendapatkan satu cinta yang utuh 100%. Memang, tidak mudah memahami perbedaan antara berbagi perhatian dan berkurangnya kasih sayang. Tidak heran, jika banyak orangtua yang baru memahami setelah menjalaninya, dan mereka merasakan sensasi kebahagiaan yang bertambah.

    KESIAPAN ORANG TUA
    Kesiapan orangtua untuk memulai kehamilan kedua melibatkan kesiapan fisik dan mental. Mengatur jarak kelahiran sangat menentukan kesiapan tersebut. Jeda waktu ini bersifat relatif bagi setiap orang. Sebagian orangtua mungkin merasa jarak ideal antara anak pertama dan kedua 3-4 tahun. Pada jarak ini selain anak pertama sudah cukup besar untuk mengerti dan bisa bersikap mandiri, sudah cukup pula waktu untuk menyusun kekuatan untuk hamil lagi. Tapi jika usia sang ibu sudah mendekati 35 tahun, mungkin akan memilih “kejar tayang” meskipun anak pertama baru berusia 1-2 tahun.

    Untuk menambah kesiapan, saya membuat rencana jadwal bagaimana meluangkan waktu untuk kakak dan adik serta kegiatan apa saja yang dapat dinikmati bersama. Meskipun tidak harus persis sama durasinya, paling tidak keduanya mendapatkan cukup perhatian yang membuatnya merasa disayang. Jadwal terencana ini juga membuatnya lebih tenang dan menghindarkan dari rasa bersalah berkepanjangan.

    Adanya pihak pendukung baik itu orangtua, mertua, asisten ataupun baby sitter akan menambah kesiapan orangtua. Suami adalah partner yang paling dapat diandalkan. Saya membuat komitmen dengannya, ketika perhatiannya saya sedang tertuju pada si kecil, suami wajib mengambil alih tugas menemani sang kakak.

    KESIAPAN SI KAKAK
    Saya diingatkan untuk tidak kaget jika si kakak yang semula mandiri akan kembali bersikap kekanak-kanakan ketika dilihatnya si adik mendapat perhatian yang begitu banyak. Kesiapan sang kakak juga menjadi pertimbangan kapan orangtua akan menghadiahi seorang adik padanya. Saya melibatkan si kakak dalam proses kehamilan, seperti mengajaknya ke dokter kandungan, memintanya mengambilkan vitamin kehamilan atau mengajaknya merasakan tendangan dari dalam perut akan membuatnya mengenal sang adik lebih awal. Saya katakan satu manfaat yang menyenangkan dari kehadiran adiknya, yaitu sebagai teman bermain yang seru.

    Saya menjaga agar lingkungan keluarga kompak menjaga perasaan sang kakak. Jangan ada yang meledek atau menakut-nakuti si sulung akan kehilangan perhatian. Lebih baik mereka meyakinkan si sulung bahwa dia akan lebih berbahagia dengan kehadiran adiknya.

    Kadang kala, kecemburuan si sulung sebenarnya hanya ketakutan orangtua yang belum tentu terbukti. Nyatanya, ketika si adik lahir, si sulung justru merasa senang dan bisa mengungkapkan rasa sayangnya. Memang diperlukan dukungan dari suami dan keluarga untuk menciptakan suasana yang kondusif agar si sulung merasa nyaman dan tidak merasa berkurang perhatian orangtuanya.

    BELAJAR BERLAKU ADIL
    Tidak ada orangtua yang dengan sengaja lebih sayang pada satu anak daripada lainnya. Akan tetapi, kadangkala lebih mudah bekerja sama dengan salah satu anak saja karena berbagai alasan, misal karena sifat yang lebih mirip, hobi yang sama atau lebih mengerti anda.

    Perbedaan kebutuhan setiap anak menjadikan anda sulit menentukan porsi perhatian dan kasih sayang yang adil. Saat si adik lahir, dia akan menyita lebih banyak perhatian saya. Dilain sisi, sikap cemburu si kakak , akan menyadarkan saya bahwa masih ada seorang anak lagi yang juga masih butuh perhatian.

    Bagi anak, keadilan bisa diartikan dalam bentuk perhatian dan pemberian benda-benda yg mereka inginkan. Anak mungkin akan protes jika mainan milik adiknya berbeda dengan miliknya. Dalam usaha berlaku adil, saya tidak harus membelikan dua mainan sama persis. Saya ajarkan terutama untuk si kakak bagaimana harus berbagi dan saling meminjam. Seiring bertambahnya usia, pemahaman konsep keadilan disampaikan pada anak agar anak mengerti bahwa pemenuhan kebutuhan setiap orang berbeda-beda.

    Bukan hal mudah untuk bersikap benar-benar adil seperti yang direncanakan sebelumnya. Sepertinya, tidak ada orangtua yang benar-benar sukses menghindarkan kecemburuan adik-kakak. Protes dari salah satu anak atau keduanya adalah hal yang umum terjadi. Dengan berulang-ulang mentjelaskan bahwa perasaan mama-papa pada mereka adalah sama, lama-kelamaan mereka akan mengerti. Bahkan, tak hanya kasih sayang dari kedua orang tua yang mereka dapatkan, melainkan juga kasih sayang dari saudaranya.

    Hadiah terbaik
    Saya akhirnya berhasil meyakinkan diri bahwa saya akan memiliki kasih sayang yang utuh untuk anak-anak saya. Tak ada untungnya terus mempertajam ketakutan yang belum tentu terjadi, lebih baik saya bersikap rileks membiarkan perasaan berjalan secara alami. Saya akan menikmati keistimewaan masing-masing anak dan merasakan kekaguman yang berbeda pada mereka.

    Lagipula, kehadiran seorang adik adalah hadiah terbaik untuk sang kakak. Kelak mereka akan merasakan indahnya memiliki saudara, yaitu sebagai sahabat yang setia.

    Ditulis untuk Majalah Parents Indonesia

     


  6. Keikhlasan Ibu

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Parenting edisi Hari Ibu, Desember 2010

    Sampai saat ini, satu tahun berlalu dari saya tulis, air mata masih menetes setiap kali membaca tulisan ini.

    Saya pernah menjadi seorang anak. Dan kini menjadi seorang ibu. Saya bisa memahami perasaan anak, sekaligus perasaan ibu.  Ketika saya menjadi anak, saya sangat mengagumi ibu, sangat berterimakasih atas perjuangannya dan ingin memberikan balasan budi baiknya. Di sisin lain, sebagai seorang ibu, saya selalu bertanya apakah anak saya bahagia dengan pola asuh yang kami terapkan selama ini ? Apakah saya tidak memaksakan kehendak, walaupun demi kebaikannya juga. Saya merasa, sebagai ibu tidak berkorban apa-apa, karena semua saya lakukan dengan bahagia.

    Keikhlasan ibu

    Pagi itu, kunyalakan TV untuk melihat berita. Rutinitas pagi yang kulakukan sambil sarapan bersama Cinta, putriku yang berumur 4 tahun. Sebelumnya Cinta telah puas menonton kartun pagi kesukaannya, jadi tidak terjadi perebutan chanel TV.

    Sesaat kemudian kuraih remote mengganti chanel karena sedang break untuk iklan. Sekilas tadi terlihat iklan sebuah produk minyak yang mengklaim sebening kasih ibu. Hmm..berlebihan nggak sih? Tapi namanya juga iklan. Tak apalah jika sedikit berlebihan. Memang pantas kalau sosok ibu melambangkan segala kebaikan, dari beningnya minyak goreng sampai murninya susu sapi kemasan. Bahkan salah satu partai politik dengan musik latar berupa lagu tentang kasih seorang ibu.

    Di chanel berikutnya, ada infotaiment, seorang artis sedang menceritakan dengan mata berbinar bagaimana masa kecilnya yang indah dilalui bersama sang mama. Meskipun seorang single parent, tetapi sang mama dapat membesarkan anak-anaknya hingga menjadi artis.

    Baru kusadari, hari itu adalah tanggal 22 Desember 2009. Aku hanya mengingat hari ini hari senin, harus mengantar putriku Cinta lebih pagi ke daycare nya, sekaligus agar saya bisa sampai tepat waktu di kantor. Hari senin biasanya jalanan lebih macet dari biasa. Dalam perjalanan, masih sedikit menyesali kenapa aku melupakan hari ini. Mestinya aku bangun dan siap lebih pagi agar tak buru-buru dan melupakan satu ritual tahunan yang menurutku penting. Aku lupa belum menelepon Ibuku.

    Biasanya aku berusaha menjadi orang pertama yang menelepon di pagi hari, memulai obrolan dengan menanyakan kabar atau masakan apa hari ini di rumah Ibu, baru kemudian kuucapkan selamat hari ibu pada akhir pembicaraan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu akan mengucapkan terimakasih kembali atas ucapan selamatku itu. Padahal aku menelepon justru untuk mengucapkan terimakasih pada beliau. Tapi itulah Ibu, tak pernah lupa berterimakasih padaku sekecil apapun pemberianku, sementara apa yang telah beliau berikan padaku selama ini sangat banyak, begitu berharga dan tak berbalas.

    Segera kucatat dalam agenda ponselku, bahwa aku akan menelpon Ibu nanti malam. Terlambat tak apalah, daripada tidak sama sekali dan menyesal.

    Putriku sendiri belum mengerti betul yang dimaksud hari ibu. Tepatnya tanggal berapa juga belum tahu. Dia hanya tau ketika aku mengantarnya ke daycare tadi pagi, gurunya meminta Cinta mengucapkan selamat hari ibu padaku. “Cinta maunya mengucapkan selamat hari mama” protesnya pada sang guru karena memang dia memanggilku Mama. Kami pun tertawa mendengarnya.

    Mungkin Cinta heran mengapa hari ini menjadi istimewa? Hampir setiap hari Cinta mempersembahkan karyanya untukku. Setiap hari juga Cinta memeluk dan menciumku, setiap kesempatan kami bersama. Setiap hari juga Cinta menyanyi lagu “I Love You” yang menjadi themesong film Barney kesukaannya. Lantas kenapa juga hari ini begitu istimewa? Bagi Cinta, hari mama adalah setiap hari bisa bersama mama.

    Pagi itu juga, puluhan ucapan Hari Ibu datang dari teman-temanku melalui email, facebook maupun twitter. “Selamat hari Ibu, jeng..semoga semakin pinter merawat anak dan suami”…”Dimasakin apa hari ini sama suami? Selamat hari ibu ya..”…dan kalimat-kalimat serupa. Sebuah ucapan yang aku sendiri belum mengucapkannya pada ibuku hari ini. Ya, hari ini memang sosok ibu begitu diistimewakan.

    Hari ini juga, berbagai media cetak yang terbit hari itu membahas betapa seorang wanita mengorbankan waktu dan tenaganya dalam melakukan multiperan sebagai ibu-istri dan wanita karier. Disebutkan juga cerita beberapa artis yang bisa mengorbankan kariernya demi membesarkan anak mereka. Mendadak aku teringat salah satu pesan di wall facebook untukku hari ini dari l sahabatku yang kebetulan masih lajang “Terimakasih ya Rien.. kamu dan mama-mama lainnya adalah pahlawan pembangunan bangsa karena pengorbanannya sangat besar dalam mendidik anak-anak bangsa. Ingin sekali aku segera merasakan kebanggaan menjadi mama”

    Tapi…kok mendadak aku merasa ada yang aneh dengan kalimat –kalimat tadi. Rasanya ucapan yang kuterima kok berlebihan dari apa yang telah kulakukan. Masa sih aku sudah sedemikian berjasa dan berkorban? Sudah sebanyak itukah yang kulakukan? Satu kata yang terasa janggal adalah “berkorban” Telah berkorban apakah aku?

     

    Sambil merenungi, mencoba memahami kebenaran kalimat itu. tidak Tahukah mereka apa yang sesungguhnya kurasakan selama 4 tahun menjadi mama. Bahwa waktu yang kuhabiskan dengan anakku karena memang aku menginginkan kebersamaan itu. Bahwa tenaga yang kukeluarkan untuk bermain dengannya karena aku menyukainya. Bahwa tarikan tangannya minta dibuatkan susu malam hari saat terlelap telah membuatku terasa berharga dan dibutuhkan. Dan mengajaknya tertawa dalah niatku untuk menghilangkan semula lelah dalam hari itu. Segala pikiran yang kucurahkan untuk mendidik anakku adalah berawal dari harapanku agar kelak mereka menjadi pribadi yang bisa menjalankan kehidupan sebaik-baiknya.

    Tahukah mereka? Bahwa didalam perjalananku menjadi mama sebenarnya terdapat ketidaknyamanan yang dirasakan putriku, ketidaksabaranku menghadapi pertanyaannya yang cerdas, memaksakan kehendak untuk mengikuti pilihan-pilihanku, membebaninya dengan harapan dan cita-cita tinggi, memamerkan kemampuan anak sementara anakku malu dan tidak menyukainya…dan hampir disetiap apa yang kulakukan untuk anakku adalah cerminan keinginanku agar kelak menjadi pribadi unggul.

    Ohh Tuhan..apakah keinginan-keinginanku itu dapat membuatnya bahagia? Bukan kali pertama aku hatiku berkecamuk, berada antara niat baik dan rasa bersalah. Bila kelak Cinta mengerti, aku ingin meminta maaf untuk itu.. Mama akan mencari jalan terbaik Nak, agar dalam proses mendidik dan membesarkanmu tidak terlalu banyak menyakiti perasaanmu.

    Dan pantaskah aku disebut berkorban sementara aku tidak merasa lelah, atau rugi ? Aku memang memperjuangkan kebaikan putriku, tapi aku tidak merasa ada bagian diriku yang kukorbankan, karena aku bahagia dan ikhlas menjadi mama.

    Ini adalah perasaan pribadiku, setelah merasa jengah menerima begitu banyaknya kalimat bermakna agung itu. Tapi disudut hati yang lain, tak dapat kubendung keinginanku untuk segera mengucapakan terimakasih pada ibu.

     

    Akhirnya, menjelang makan siang kuangkat HP dan menelepon Ibu. Rupanya ibu juga lupa kalau hari itu adalah hari istimewanya, jika saja kakakku tidak mengunjunginya tadi pagi. Setelah sekitar 10 menit berbicara, kuucapkan apa yang ingin kusampaikan dari pagi tadi “Ibu, terimakasih atas perjuangan ibu…selamat hari ibu” Cuma itu yang bisa kukatakan. Hilang rangkaian kalimat panjang yang telah kurencanakan karena menahan haru di dada.

     

    Dan dengan nada bergetar dan lirih, kudengar ibu mengatakan “Terimakasih, Nduk“ Oh..ibuu…kuusap setetes air diujung mataku

    Tak sabar kumenunggu sore hari saat untuk menjemput Cinta. Aku ingin segera mengatakan padanya “Terimakasih sayang, atas kehadiranmu untukku” sambil memeluknya erat.

     


  7. Tanpa Racun (Majalah Ayahbunda, no 20/2008)

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Tulisan dimuat di Ayahbunda, Oktober 2008

     

    Idealnya, kita mengkonsumsi makanan organik karena minim residu pestisida.  Tapi karena makanan organik masih mahal dan sulit didapat, banyak cara menyiasati residu pestisida dalam buah dan sayur

    Berikut adalah cara-cara mengurangi residu pestisida pada konsumsi buah dan sayur

    • Mencuci dengan air mengalir. Mencuci dengan detil dapat mengurangi 20-70 % residu pestisida yang menempel.
    • Gunakan sabun foodgrade saat mencuci agar dapat mengurangi minyak pembawa pestisida dan lilin yang menempel.
    • Kupas kulit buah karena di kulit kandungan residu pestisida tertinggi. Kulit buah menghambat translokasi zat racun ke jaringan lainnya.
    • Buang lapisan terluar sayuran seperti kubis, daun bawang, sawi dll.
    • Rendam dengan air panas  menurunkan residu , 38-97%.
    • Rebus sayuran. Merebus dapat  menurunkan residu pada sayuran.
    • Buat menu bervariasi dan dari sumber pasar yang berbeda. Tujuannya untuk mengurangi paparan  satu jenis pestisida tertentu dan mencegahnya terakumulasi dalam tubuh. Pproduk dari sumber yang sama baisanya menggunakan teknik budidaya yang sama, termasuk jenis pestisidanya.
    • Konsumsi sayuran dan buah segar yang sedang dalam musimnya, sehingga  tidak membutuhkan penyimpanan dan distribusi yang panjang. Biasanya pestisida diaplikasikan di tempat penyimpanan .
    • Jangan memilih buah impor yang kulitnya sangat mengkilat, bisa jadi itu adalah  parafin (lilin).
    • Hindari bercak putih pada sayur dan buah, mungkin saja merupakan sisa-sisa pestisida yang telah mengering.
    • Tidak masalah memilih buah dan sayur yang sedikit berlubang atau robek. Artinya ada bekas gigitan ulat/hama sehingga ada kemungkinan tanaman tersebut dibudidayakan secara organik.
    • Sayuran hidroponik yang biasanya  ini dipelihara dalam rumah kaca tertutup sehingga jarang terserang hama mengurangi kemungkinan adanya residu pestisida.
    • Cobalah menanam sendiri sayur dan buah dalam pot untuk konsumsi keluarga.
    • Buah yang telah dijus, mengandung residu pestisida lebih rendah dibandingkan buah dalam bentuk utuh, begitu juga dengan buah kaleng.

     

     


  8. Menjadi Mama Penulis

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Menulis menjadi passion saya sejak mempunyai anak tahun 2005.  Dari menulis akhirnya berkembang komunitas saya. Dan inilah wujud apresiasi saya pada sesama Mama-mama penulis, dimuat di Parenting April 2010.

    Menjadi Mama Penulis

    Beberapa teman bertanya kepada saya, “Bagaimana sih caranya bisa menulis yang bagus dan mengalir ?”, “Sejak kapan suka menulis?”, “Belajar menulis dari siapa? Ajari aku dong..” dan pertanyaan-pertanyaan serupa setelah mereka membaca beberapa tulisan saya di note facebook dan blog pribadi.
    Momentum itu terjadi ketika saya hamil. Saya mendapati perasaan bahagia yang berbeda dari sebelumnya. Bahagia yang bertambah setiap harinya. Dan terus bertambah hingga saat ini.
    Bukan sempurna, perjalanan saya sebagai mama pernah mengalami pasang surut . Namun bahagia adalah sebuah kata yang mewakili perasaan saya secara keseluruhan. Saya merasa lebih kreatif. Kertas warna-warni bercampur dengan coretan bertuliskan Asa dan Cinta menghiasi sudut-sudut di rumah kami. Distyrofoam di dapur tak hanya tertempel resep masakan dan daftar menu, terdapat beberapa foto senyum anak-anak saya, plus hiasan di pinggirnya. Di meja komputer yang berlapis kaca, tertempel lagi foto mereka. Setiap saya membuka pintu lemari, ada senyum anak-anak di baliknya. Wajah mereka juga dapat saya pandang setiap kali bercermin, ada foto mereka di sana. Agak berlebihankah? Hehehe..boleh dong.
    Petualangan baru menjadi mama membuat saya gemar menulis (padahal dulu tidak). Saya menulis tidak lama dari setiap kejadian berlangsung. Tak heran, di agenda harian, netbook, blog pribadi, facebook,HP atau kertas memo banyak penggalan-penggalan cerita saya. Dari tulisan yang hanya berisi beberapa kata, “Hari ini dapat surprise dari Cinta” atau “Kenapa Asa paling suka lihat wajah kakak? “ sampai tulisan yang berlembar-lembar yang saya tulis selama berhari-hari . Begitu banyaknya tulisan itu, sebagian besar bercerita tentang dua orang teristimewa, yaitu Cinta dan Asa, anak-anak saya.
    Bosan? Tentu saja tidak. Kian hari, ide terus mengalir tiada habisnya. Setiap hari berganti artinya akan ada hal baru yang terjadi (setidaknya hal yang baru saya ketahui). Setiap milestone pertumbuhan membawa satu episode cerita. Setiap anak adalah unik. Saya membuktikan bahwa antara kakak-adik tidak selalu sama tahapan dan periode perkembangannya, sifat mereka pun berbeda. Kelucuan, kenakalan, gaya ingin tahu, pertemanan, persaudaraan, ide bermain dan banyak lagi yang bisa diceritakan.
    Dari sekedar jurnal pribadi, saya mulai tertarik mengirimkan cerita-cerita singkat di majalah.Beberapa kali dimuat dan saya senang sekali. Apalagi cerita itu tentang buah hati saya. Kadang kala ada fotonya pula. Dari sini muncul ide untuk mendokumentasikan tumbuh kembang anak dengan cara yang lebih menarik, yaitu mengirimkan cerita – cerita pendek tentang mereka ke media. Majalah tersebut saya simpan untuk arsip dan akan saya tunjukkan pada anak-anak kelak mereka sudah dewasa. Anak saya yang besar bahkan sudah mengerti akan hal ini dan itu membuatnya lebih percaya diri.
    Dunia saya pun meluas. Saya mulai mengikuti jejaring sosial, milis dan grup sesama orangtua. Yang menarik, diluar sana ternyata banyak yang seperti saya, mereka adalah mama-mama yang suka menulis. Mama-mama penulis, tidak selalu berarti penulis buku atau artikel di media. Mama-mama penulis, sahabat-sahabat online saya, adalah mereka yang suka menuangkan cerita tentang anak-anaknya dan berbagi pengalaman di blog atau note. Membaca tulisan mereka bagaikan membaca majalah digital yang praktis, cukup dari layar blackberry saya.
    Saya berkenalan dengan mereka. Menyenangkan sekali pertemanan kami. Kami saling bertukar blogdan notes. Ada yang memang sudah menulis sejak lama, ada juga yang mendadak menulis setelah mempunyai anak. Senioritas tersebut tidak berlaku di sini. Tulisan – tulisan mereka menarik untuk dibaca.Saling berbagi pengalaman membuat perbincangan kami terasa nyambung. Membaca pengalaman-pengalaman mereka menjadikan penguat di saat saya menghadapi masalah yang sama. Saat anak demam atau sakit, curhat sesama mama adalah pilihan pertama sebelum ke dokter. Saat saya membutuhkan referensi barang keperluan si adik, atau informasi sekolah untuk si kakak, saya berkunjung ke blog mereka. Dan saya pun mendapatkan informasi dan opini yang lebih banyak, serta menawarkan berbagai solusi yang mungkin sesuai untuk saya.
    Saya menyadari betul bahwa setiap orangtua dan anak itu unik. Interaksi keduanya juga menghadirkan situasi yang unik. Karena itu, saya menjaga betul “tata krama” dalam pertemanan ini, yaitu tidak saling menyalahkan, juga tidak merasa paling hebat dan paling benar.
    Kami juga bisa bertukar ide, seperti ide menu bekal sekolah, cara menyembunyikan sayur dalam makanan anak, atau ide bermain seru di rumah. Dari situ juga muncul ide-ide saya yang baru, cerita-cerita seru dan tentunya inspirasi baru untuk menulis lagi.
    Menulis adalah potensi yang pada sebagian mama mungkin baru disadari seiring dengan hadirnya sang buah hati. Ya, bisa dibilang hampir semua mama bisa menulis. Disadari atau tidak, menuangkan pikiran dan menulisnya ke dalam sebuah catatan pribadi akan sangat bermanfaat. Dari rasa kaget dan senang mengetahui kehamilan, memerangi rasa bosan selama hamil, semangat mempersiapkan kelahiran buah hati dan menyaksikan perkembangan buah hati yang menakjubkan dalah cerita hebat yang kelak dapat dibagi dengan si anak. Anak akan dengan bangga membaca pengalaman luarbiasa yang mereka alami sejak dalam kandungan. Anak juga akan merasa sangat dicintai oleh mamanya.
    Profesi menulis saat ini bukan suatu hal asing. Menulis adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan dan prestise. Dari hobi, menulis bisa mendatangkan penghasilan tambahan. Tulisan bisa dikirim ke media atau diikutkan dalam lomba. Yang paling disukai para Mama dari profesi penulis adalah pemilihan waktu yang fleksible dan bisa dikerjakan dari manapun, termasuk dari rumah atau sambil mengantar anak sekolah.
    Sebenarnya saya tidak terlalu paham teknik penulisan. Namun saya terus belajar dan mengasah kepekaan pada kejadian-kejadian di sekitar. Semakin terasah, semakin sering menulis, maka semakin percaya diri meningkat. Dan dari menulis saya menemukan cara eksis dan gaul ala mama yang menyenangkan.
    Kembali ke pertanyaan teman-teman di atas, biasanya saya akan menjawab “Kamu juga bisa kok, semua mama pasti bisa menulis. Mulailah dari diary dan menulislah dengan santai. Coba saja..”
    (Didedikasikan untuk para Mama, sahabat online saya, dimuat di Parenting edisi April 2011)

     

     


  9. Buku 100 Kisah Inspiratif – Mari Bicara

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Memandang Dari Dua Sisi Mempermudah Komunikasi, itulah judul kisah saya dalam 100 Kisah Inspiratif menghangatkan hati  :MARI BICARA.  Buku ini ditulis oleh 100 penulis tentang bagaimana berkomunikasi efektif dan harmonis dengan pasangan.  Penulis dijaring dari ajang lomba Mari Bicara Sariwangi, dan 100 pemenangnya mendapatkan hadiah masing-masing Rp. 3.000.000,-  hmmm…cukup besar kalau dibandingkan dengan royalti penulis.


  10. Belajar Itu Indah (Juara 1 Writting Competition Parentsguide – Gain Advance)

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Anak kecil punya daya ingat kuat, cara pandang seperti kamera, yaitu merekam dengan detil apa yang dilihatnya, serta mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat orangtua garuk-garuk kepala untuk menjawabnya.

    Itulah ciri-ciri anak cerdas.  Momen pencapaian tumbuh kembang yang sayang untuk dilewatkan.  Untung saya merekam dan menulisnya dengan baik pertanyaan-pertanyaan Cinta.  Alhamdulillah, tulisan tersebut memenangkan juara I lomba menulis yang diadakan PT Abbot Nutrition dengan Majalah Parentsguide. Selain dapat hadiah uang tunai, paket susu, saya juga diundang dalam seminar menarik di Jakarta tentang bagaimana mencatat tumbuh kembang anak.

    Belajar itu Indah

    Kaget, tercengang, diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum adalah hal yang biasa saya alami setiap hari. Bagaimana tidak, setiap hari ada saja kejutan-kejutan cerdas yang terlontar dari mulut Cinta Ing Larasati, putriku yang kini berusia 5 th. Saat-saat belajar dan bereksplorasi menjadi momen indah bagi kami.

    “Mama, nanti kalau sudah besar Cinta ingin punya anting kupu-kupu seperti punya teman mama” celetuk Cinta suatu sore
    “Teman mama yang mana?” tanya saya bingung
    “Ituuu..yang pakai baju warna pink bunga-bunga, dan celana coklat, trus bawa tas coklat juga, dan bawa buku besar. Bukunya nggak dimasukkan tas” Cinta berusaha menjelaskan
    “Yang ketemu di Halte bis Pakuan sore-sore, yang badannya agak gemuk. Mama sih nggak mengenalkan namanya, jadi Cinta juga nggak tahu” dia mulai tak sabar melihat saya tak segera mengingat.
    “Ooohh…tante Heny?? Ya ampun Cinta…itu kan sudah 2 bulan yang lalu. Kok kamu masih ingat sama baju dan antingnya sih..?“ saya terheran-heran mengagumi ingatan Cinta yang detil. Kami pun lalu membahas masalah anting kupu-kupu yang tadi diceritakan Cinta.

    Awalnya saya tidak percaya dengan keistimewaan Cinta ini. Saya sering mengujinya dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. Misalnya apa warna sepatu yang tadi pagi dipakai Nisya, salah satu temannya atau apa warna baju yang dikenakan ayah kemarin. Hampir semua pertanyaan dadakan itu dijawabnya dengan tepat. Cinta memang mempunyai ingatan yang sangat kuat yang berhubungan dengan kemampuan visual yang detil dan tajam. Cinta sangat mengingat apa saja yang pernah dilihatnya, atau informasi apa saja yang pernah didengarnya. Kecerdasan Cinta juga terlihat dari ketertarikannya pada hal-hal yang bersifat sains. Cinta mampu mengenali, mengkategori, menganalisis dan memahami pengetahuan terutama mengenai lingkungan alam. Dia begitu peka terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar seperti flora, fauna, angin, matahari, bintang, bulan, air, awan, sawah, sungai dan tubuh manusia.
    Pernah suatu ketika, sepulang dari daycare, Cinta menceritakan penemuannya hari itu,
    “Ma, ternyata…tonggeret itu bentuknya seperti jangkrik”
    Cinta memang beberapa kali mendengar suara tonggeret ketika saya ajak ke sebuah hutan percobaan. Tapi dia belum pernah melihat bentuknya.
    “Kok Cinta mengira begitu?” tanya saya.
    “Iya, soalnya tadi Cinta lihat jangkrik sama teman-teman. Terus bunyinya seperti tonggeret. Pasti bentuknya juga sama. “ jelasnya.
    “Hmm..mungkin bentuknya sama tapi mungkin juga berbeda. Nanti mama cari tau di internet tentang bentuk tonggeret ya” janji saya.
    Memang tonggeret dan jangkrik sama-sama jenis serangga. Tapi bentuknya sedikit berbeda. Tetapi saya bangga dengan kemampuan analisa Cinta membandingkan benda dari adanya petunjuk yang sama.

    Saya selalu berusaha memancing rasa ingin tahu Cinta. Jika dia bertanya tentang sesuatu, saya tidak langsung menjawabannya. Saya mencoba melontarkan pertanyaan-pertanyaan bantuan yang mengasah kemampuannya menganalisis hubungan sebab akibat hingga akhirnya dia menemukan jawaban dari penalarannya sendiri. Saya juga selalu berusaha memberikan informasi yang jujur agar konsep penalaran Cinta terstimulasi dan terhubung dengan baik.
    Sepertinya otak Cinta tak pernah berhenti bereksplorasi. Saya pun sering dihujani pertanyaan-pertanyaan “ajaib”nya.
    “Mama, kenapa awan di langit sering berubah-ubah bentuknya?”
    “Bagaimana adik bisa masuk ke perut mama? Nanti keluarnya bagaimana?”
    “Mengapa kepiting jalannya miring? Apa nggak pusing ? ”
    “Susu kalau dicampur teh jadi apa? ”

    Saya dan suami sering berandai-andai, sepertinya Cinta cocok menjadi ilmuwan karena kemampuannya itu. Tapi ketika Cinta ditanya tentang cita-citanya, dengan mantap dia menjawab :
    “Cinta ingin menjadi juru masak!” katanya dengan bangga. Kami tidak kecewa. Justru kami sangat menghargai dan mendukung cita-citanya, Yang kami lakukan saat ini adalah mengembangkan dan mengarahkan kecerdasannya dengan memberinya stimulasi, nutrisi dan mengkondisikan lingkungan yang baik bagi Cinta. Yang paling utama, adalah memupuk semangat belajar nya sepanjang masa, karena belajar itu indah.

     


  11. Bangga Ada Porsinya

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Ibu pasti bangga pada anaknya.  Semua anak cantik atau ganteng atau pinter di mata ibunya. Betul kan ? Bangga adalah hal yang wajar.  Tapi jangan lupa, terlalu membanggakan anak, apalagi membawa ke obrolan dengan teman dan tetangga belum tentu mendapat respon positif. Lingkungan bisa bosan, anak bisa malu.  Semoga tulisan ini menjadi refleksi bagi ibu-ibu yang saya yakin 100% bangga pada anaknya.

    Dimuat diParents Guide  Oktober 2009 , lengkapnya di http://www.asacinta.blogspot.com/2009/10/bangga-ada-porsinya.html


  12. Perjuangan Ibu yang Berkarier

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Pemandangan ini mungkin masih jarang terlihat, bekerja membawa buku dan tas, sambil menggendong anak.  Terimakasih pada Pak Nanang, supir bis IPB 54 yang sangat ramah menerima saya dan Cinta untuk naik bis tiap hari dari rumah ke penitipan anak Agriananda.  Banyak kehangatan saya terima dari seluruh penumpang bis 54, saya yakin terbawa oleh sikap supirnya yang juga hangat.

    5 tahun berlalu, anak saya sudah besar dan mandiri.  Ternyata banyak pengikut saya untuk menitipkan anak di Agriananda dan memilih naik bis 54 yang ramah.  Akhirnya bis ini mendapatkan julukan bis taman kanak-kanak karena ada sekitar 2-4 anak kecil di dalamnya.

    (Majalah Kartini, edisi 23 Juli 2009)


  13. Aman di Mal (Majalah Parenting , edisi April 2009)

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Mal bukan taman bermain !!! waspadai titik-titik yang rawan kecelakaan ini, terutama pada anak-anak

    Eskalator
    Jangan gunakan sepatu bertali atau celana panjang yang bagian bawahnya bertali, karena bisa menyangkut di eskalator dan menyeret kaki kedalamnya. Tuntun anak , kalau perlu gendong agar anak tidak terlambat turun dan tergelincir atau terjepit di celah anak tangga.

    Lift
    Lakukan keluar masuk lift dengan cepat.  Waspadai pintu otomatis. Pastikan anak masuk dan keluar lebih dahulu, baru anda.  Postur anak yang kecil sering tidak terbaca sensor pintu, dan pintu otomatis bergerak menutup.

    Troly
    Anak-anak suka bermain dengan troly. Awasi agar saat bermain troly tidak terdorong ke tumpukan barang atau menabrak orang lain.

    Tangga beroda
    Petugas swalayan menata tumpukan barang dengan tangga beroda.  Jangan sampai lengah anak anda bermain atau mendorong tangga tersebut, apalagi jika diatasnya banyak terdapat tumpukan kardus.

    Kabel bersliweran
    Di bagian elektronik, banyak terlihat kabel bersliweran.  Pastikan anak mengerti bahwa kabel berbahaya jika dipegang tidak dengan benar.  Kabel juga dapat menyebabkan anak-anak tersandung.

    Tumpukan barang yang tinggi
    Anak suka memindahkan botol-botol sampo atau kardus-kardus dari rak satu ke lainya, tapi mereka belum paham kalau satu benda diambil dapat menghilangkan keseimbangan tumpukan benda diatasnya.  Waspadai juga ketika anda berada di lorong barang pecah belah dan pisau.  Jangan ijinkan anak memegangnya.

    Pengharum ruangan dan pembasmi serangga
    Tidak disarankan mencium sangat dekat dan menghirup lekat-lekat untuk mengetahui aroma parfum pengharum ruangan atau pembasmi serangga.  Bagaimanapun, zat-zat tersebut berbahaya untuk paru-paru.

    Rak Pajangan / Gantungan yang runcing & menonjol
    Kacamata, aksesoris maupun perlengkapan pertukangan biasanya dipajang di gantungan dengan tangkai runcing, menonjol dan panjang dan bisa berputar. Jaga agar anak tidak terjatuh ke depan dan mengenai benda runcing tersebut.

    Lantai licin
    Ajak anak menjauhi lokasi lantai licin yang biasanya diberi tanda oleh petugas agar terhindar dari risiko terpeleset.  Menginjak lantai yang masih basah juga membuat lantai akan lebih kotor lagi, kasihan kan petugasnya…

    Kipas angin dan AC besar
    Beri pengertian agar anak tidak memasukkan jari-jari mungilnya ke dalam lingkaran kipas angin sementara baling-balingnya sedang berputar kencang.

    Dinding kaca
    Jika anda sekeluarga makan di foodcourt yang memiliki sisi kaca untuk memandang situasi diluar yang indah, jangan lupa untuk memperingatkan anak agar tidak bersandar di kaca.   Kaca dapat pecah akibat beban berat badan, dan lebih berisiko jika berada pada ketinggian.

    Agar jalan-jalan tak merepotkan:
    -Bawa perlengkapan minimal yang paling dibutuhkan, jangan terlalu banyak karena dapat merepotkan anda sendiri.
    -Kenakan anak anda baju yang nyaman

    -Meskipun pembeli adalah raja, namun ajarkan bersikap sopan. Jjangan biarkan anak menyerak, merobek, menjatuhkan atau melempar barang.
    – Pilih waktu yang tidak terlalu ramai  jika anak anda ingin bermain di arena kidsport,karena dikuatirkan sulit untuk mengontrolnya.
    -Ajarkan anak anda menghapal nama nya dan nama anda. Ini penting  apabila anak terlepas dari sisi anda.

    Dimuat di Majalah Parenting Mei 2009

    artikel komplit ada disini http://www.asacinta.blogspot.com/2009/05/aman-di-mal.html