Positif Hadapi Kritik, Let’s Move on!

 

Yakin, berani menerima kritik ?  

Yakin, bisa kuat dan berlapang dada ?

Jujur saja, rasanya hampir setiap hal dalam diri saya menginginkan kesempurnaan termasuk dalam hal karier. Ketika sebuah kritik terlempar pada saya, artinya ada yang tidak puas dengan kerja saya. Tentu saja hal ini melukai kesempurnaan karier saya.

 

Kritik hadir dalam dua rasa yang berbeda. Ada kritik yang tersampaikan dengan kalimat yang enak didengar,  namun tidak sedikit  kritik yang lebih mirip sebagai ungkapan kekesalan.

 

Kritik banyak berkonotasi negatif karena  mengingatkan sesuatu yang destruktif dan seringkali terkait tentang perasaan negatif antar personal. Kritik mampu membuat seseorang sakit hati karena harga dirinya terusik, juga menyakitkan secara psikologis sehingga fungsi kritik yang sebenarnya tidak efektif.

(gambar dipinjam dari sini)

(gambar dipinjam dari sini)

 

Menerima kritik bukan hal baru bagi pegawai seperti saya. Seperti sudah menjadi kewajaran bahwa pegawai adalah objek dan atasan adalah subyek dari sebuah kritik.

 

Sebuah contoh kritik destruktif adalah jika atasan  berbicara tentang keburukan kita tanpa memberikan solusi dan saran yang jelas.

“Bagaimana anda bisa membuat kesalahan?”

“Apa yang anda pikirkan hingga terjadi sesuatu yang salah?” atau

“Saya sangat menyesal telah mempekerjakan anda.”

“Tolong diingat, kantor tidak mau tahu urusan pribadi yang menyebebkan ketidakhadiran anda!”

 

Mungkin sang atasan  berpikir bahwa kata-kata tersebut akan memotivasi pegawai untuk bekerja lebih keras.  Benarkah tujuan itu tercapai? Bisa jadi, yang terjadi justru adalah kekesalan dan kebencian yang timbul sesudahnya dan kemudian memperburuk kinerja pegawai.

 

Bersyukur, atasan saya tidak begitu.  Saya pernah mendapatkan kritik beberapa bulan yang lalu dari atasan tentang kinerja saya.  Untungnya, kritik yang disampaikan jauh lebih lembut daripada contoh-contoh kalimat diatas.

 

Tetapi tidak bisa saya pungkiri, sehalus apapun bentuk kritik di tempat kerja tetap terasa menyakitkan dan dapat mempengaruhi kehidupan saya dimanapun hingga waktu tertentu.  Langit terasa gelap dan ruangan kian menyempit.  Sebenarnya, itu adalah gambaran yang terjadi pada ruang hati saya.

 

Ditambah lagi omongan rekan-rekan kerja yang ikut menguping mendengar ketika saya mendapatkan kritikan.  Hampir bisa dipastikan, lebih banyak rekan kerja yang bergunjing daripada memberikan dukungan saat saya terpuruk. Ehm, ini situasi yang lazim, bukan?

 

Berita buruknya, saya jadi mewaspadai semua orang. Saya jadi tidak mempercayai siapapun di lingkungan kantor.  Siapa saja bisa menjadi penguping dan pelapor.  Dan tidak bisa dipastikan bahwa setiap laporan akan sesuai dengan kenyataan.  Bumbu-bumbu akan lebih banyak mempengaruhi rasa.  Saya pun menjadi lebih defensive pada setiap pembicaraan. Saya sulit membedakan yang mana teman dan mana yang benar-benar teman.

 

Waktu demi waktu kekecewaan akan berubah menjadi perasaaan tidak sempurna, merasa gagal menjadi pegawai yang baik dan kesal pada si pemberi kritik.  Lantas saya menyadari, penyakit hati ini tidak boleh saya biarkan.

 

Baiklah, saya telah melakukan kesalahan. Selanjutnya apa?

Memilih terpuruk atau bangkit?

Memilih mundur atau melangkah maju?

 

Tenangkan Hati dan Berpikir.

Sesaat setelah kritik mampu mempersempit ruang gerak, saya memilih untuk menarik napas. Melepaskan sedikit beban. Memang hanya sedikit, karena beban sesungguhnya masih ada pada diri ini.  Kritik, bahkan ketika saya mencoba untuk mengabaikannya, hati ini tetap terluka. Tetapi saya memilih melanjutkan hidup dan berpegang pada apa yang saya yakini benar.  Saya harus bisa mengelola kritik menjadi pelecut kesuksesan karir.  Saya harus bisa memberikan umpan balik yang positif.  Jangan biarkan kritik menggagalkan karir dan merenggut kebahagiaan hidup.

 

Saya mencoba mengingat, ada banyak persoalan orang lain yang lebih buruk dari yang saya alami.  Semua orang pernah bersalah, dan banyak diantaranya yang mampu untuk bangkit.  Dengan perbaikan ataupun tetap pada dirinya semula, yang penting hidup terus berjalan sesuai kemampuan.  Setidaknya, inilah yang membuat jiwa saya bertahan pada titik sehat.

 

Ketika saya telah berhasil menenangkan hati, saya kembali ke kantor dengan perasaan yang nyaris tanpa rasa.  Saya biarkan semua berjalan ke arah mana angin akan membawa.  Saya memilih untuk lebih banyak diam dan menunggu.    Saya lebih banyak bekerja dan mengurangi kata-kata.

 

Di sisi lain relung hati, saya hilangkan prasangka-prasangka dan melupakan segala pergunjingan tentang saya.  Toh saya tidak mendengarnya secara utuh dan langsung.  Anggap saja mereka tidak berbicara untuk saya.  Saya meyakinkan diri, mereka akan baik jika mengenal saya lebih baik.

 

Benar saja, tidak semua orang menjadi monster.  Ketika beban dan prasangka berhasil saya atasi, saya mulai bertegur sapa kembali. Kami terlibat perbincangan lebih panjang.  Namun satu rambu-rambu yang saya pegang erat : tidak membicarakan keburukan seseorang ataupun menyebutkan sebuah nama yang mengarah pada pergunjingan yang akan menjadi boomerang bagi saya sendiri.

 

(Gambar dipinjam dari sini)

 

 Dendam Positif = Menjadi Produktif

Entah apakah ini baik atau buruk, yang tersisa dari sebuah kritik adalah dendam untuk membuktikan.  Mudah-mudahan ini dendam yang positif. Saya ingin membuktikan bahwa kritik itu tidak sepenuhnya benar, artinya saya bisa lebih baik.  Setidaknya ada 2 hal positif yang bisa saya ambil, pertama saya menjadi lebih kreatif, produktif dan disiplin. Tentu ini dalam rangka pembuktian bahwa saya bisa lebih baik. Kedua, saya belajar memahami bahwa dunia tidak selalu dipenuhi oleh pujian yang indah, namun juga kritik pedas. Situasi ini kemudian mengajarkan pada saya untuk bisa mengelola hati dan berlapang dada.

 

Membangun kepercayaan memang tidak mudah.  Namun jika saya terus konsisten dengan niat baik dalam 3 bulan usaha ini akan terlihat.  Dan selanjutnya tergantung bagaimana saya konsisten menjaganya.  Sekarang saya merasa sangat baik saat bekerja dan senang pada lingkungan kantor.  Apapun kata mereka, apapun pikiran mereka, saya tidak perlu terlalu ambil pusing.

 

It’s better to move on, right ?

Saya meyakini,  bahwa kunci kesuksesan seseorang adalah dengan berani menerima kenyataan bahwa usaha mereka pernah gagal. Banyak cerita tentang kesuksesan yang diawali oleh kegagalan berulang. Calon orang sukses tahu bahwa dirinya mendapatkan manfaat dari kritik yang mereka terima dalam lingkup kerja.

(gambar dipinjam dari sini)

 

Tulisan ini diikutkan dalam Chic Magazine Blog Competition 2013


Memikat Juri Kompasiana

Baru saja berlalu, Lomba Menulis Anmum Bunda Inspiratif yang diselenggarakan sebuah produk susu Anmum Essential, bekerja sama dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis.  Naluri kompetisi saya langsung terpanggil, apalagi melihat hadiah untuk juara 1 adalah sebuah benda yang saya impikan dalam beberapa bulan terakhir : Samsung Galaxy Note II !!!

 

Sebenarnya, apakah yang membuat tulisan kita bisa menjadi juara? Apakah karena tulisan yang bagus? Lantas ada pertanyaan, tulisan sudah bagus, tapi kok nggak menang? Masalahnya banyak peserta yang tulisannya bagus-bagus, jadi juri bingung memilihnya. Jadi, kata kunci kemenangan adalah bagaimana memikat hati juri agar menjatuhkan pilihan pada tulisan kita.  

 

Karena itu, setiap membaca sebuah pengumuman press release sebuah even lomba, yang menjadi target utama saya adalah bagaimana memikat hati juri.  Kelengkapan persyaratan jelas menjadi syarat administratif yang tidak bisa diganggu gugat.  Setelah itu, saya melihat tema, siapa penyelenggara, dan siapa jurinya. 

19 Maret 2013, saya mendapat undangan dari Fonterra (produsen Anmum) untuk hadir di kantornya di jl. Casablanca Jakarta.  Saya diundang bersama belasan ibu-ibu peserta lomba yang ada di wilayah Jabodetabek.  Agenda utama adalah pengumuman pemenang.  Sebelum pengumuman, Fonterra memberikan presentasi sekilas tentang perusahaan dan produk susu tanpa tambahan gula, Anmum Essential. Sesaat sebelum pengumuman, seluruh undangan diberitahu mekanisme penjurian oleh seorang juri tamu dari Kompasiana, yaitu mas Iskandar Zulkarnaen.

Mata saya langsung melek, telinga kembali mendengarkan, karena memang inilah yang saya cari : apa sih kriteria juri? Mas Iskandar Zulkarnaen memaparkannya poin demi poin apa yang menjadi kriteria juri.  Dan satu persatu, saya merasa kok mendekati tulisan saya ya? jadi GE-ER deh..

 

1. Kesesuaian dengan tema

Penting banget bagi kita untuk bisa membaca maksud dari sebuah tema yang ditentukan oleh penyelenggara.  Dari tema kita membaca arah tujuan penyelenggara.

Anmum menawarkan 3 tema, mengajarkan anak untuk konsentrasi, mengoptimalkan anak untuk konsentrasi dan asupan sehat tanpa gula tambahan. Saya pribadi mempermudahnya dalam 2 kata : konsentrasi dan asupan tanpa gula tambahan. Saat membaca tema yang cukup luas, saya pikir saya tidak perlu tidak perlu mengulas produk terlalu dalam, saya memilih lebih banyak porsi cerita tentang anak sendiri, toh masih dalam cakupan tema. Memilih cerita tidak berarti seluas-luasnya tema kita capai, cukup mengambil satu atau dua poin cerita dan itu yang akan diulas mendalam.

 

2. Orisinalitas dan keunikan ide

Poin ini tampaknya menjadi paling utama di setiap lomba.  Orisinalitas biasanya terlihat dari cara penuturan dan isi.  Karya orisinil lebih banyak memuat pengalaman pribadi, bukan sekedar copy paste atau mengutip dari berbagai sumber.  Jadi kita harus percaya diri dengan ide kita.  Satu kalimat yang saya suka dari mas Iskandar, “Harus berani cari ide yang berbeda. Pilihannya ada dua, kalah sama sekali, atau menjadi juara”

Saat peserta lain kebanyakan memilih cara melatih konsentrasi visual (penglihatan), saya memilih melatih konsentrasi auditori (pendengaran).

Dan apakah ibu-ibu peserta membaca detil kriteria di pengumuman lomba berikut : Orisinalitas, kreativitas, eksplorasi ide dalam membuat artikel sesuai dengan ruang lingkup yang ada

Seberapa detil? Saya menyoroti bagian akhir kalimat, “sesuai dengan ruang lingkup yang ada.”  Dari situ saya ketahui bahwa juri tidak menginginkan tulisan ilmiah atau materi berat diluar kapasitas kita sebagai ibu.  Jadi, saya merasa tidak perlu mencari sumber data atau literatur terlalu banyak. Di samping memang panjang tulisan sangat dibatasi.

 

3. Keutuhan Tulisan dan Kedalaman Pesan

Saat memberi penilaian, juri tidak menilai pada awal, tengah atau akhir tulisan.  Juri menilai pada keseluruhan tulisan, membaca dari awal sampai akhir baru memberi penilaian.  Kira-kira, pesan apa yang ingin disampaikan harus jelas, harus ada benang merahnya.  

Tema utama yang ingin saya sampaikan adalah melatih konsentrasi pendengaran.  Namun satu pesan lain yang saya sampaikan dalam judul, kalimat tengah dan kalimat penutup adalah : Perhatian orangtua adalah faktor utama melatih konsentrasi !

 

4. Sembunyikan Promosi

Tulisan yang diharapkan Juri ternyata adalah promosi yang tidak kelihatan ! Caranya, buat tulisan yang natural sesuai pengalaman. Jangan terlalu sering menyebut merk atau terkesan mempromosikan merk tersebut.  Fokus pada cerita anda, jangan fokus pada produk.

Saya hanya satu kali menyebutkan merk produk, itupun tidak mengulasnya, dan tidak mengajak pembaca untuk mengkonsumsinya :

… Sebentar lagi saya menyapih Asa. Karena terbiasa dengan ASI yang tidak manis, kebiasaan ini akan diteruskan dengan mengkonsumsi susu tanpa gula tambahan.  Saat bergabung di Anmum Club dan situs Anmum, saya mendapatkan inspirasi dari para bunda tentang pilihan susu.  Untuk anak seumur Asa, banyak bunda yang telah memilih Anmum Essential 3.

Adakah kalimat anak saya meminum susu? Atau saya membeli susunya?

 

5. Perhatikan Psikologi Pembaca Online

Pembaca online, apalagi yang awam pada topik tersebut, biasanya mudah bosan jika membaca tulisan yang terlalu panjang.  Karena itu, untuk lomba menulis blog, biasanya panjang tulisan dibatasi.  Tulisan yang baik tidak selalu menyisipkan kata-kata sulit, kata-kata dalam bahasa Inggris diusahakan mencari padan katanya sehingga membuat pembaca nyaman.

 

6. Deskripsikan dengan Detil

Buat pembaca merasakan apa yang anda tulis dengan menceritakan kejadian secara detil. Visualkan dalam tulisan anda sehingga pembaca mengerti.  Dengan panjang tulisan yang dibatasi, membuat tulisan dengan detil menjadi tantangan.  Akhirnya, kita dituntut mengutamakan kalimat penting dan membuang kalimat tidak penting.

Saya membagi beberapa poin cerita dalam paragrap-paragrap yang masing-masing menceritakan cara melatih konsentrasi.  Konon, juri lebih menyukai bentuk paragrap karena lebih mengalir daripada poin-poin atau penomoran.

 

7. Beri sentuhan akhir  Akhir tulisan menentukan bagaimana pembaca menangkap pesan anda.   Jika penutup menggantung pembaca mungkin akan bingung. Penutup dapat berupa kalimat ajakan, kalimat positif, atau kalimat bertanya yang memancing rasa pembaca.  Misalnya, “ini pendapat saya, bagaimana dengan anda?”

Biasanya saya mengakhiri tulisan dengan harapan atau perenungan.  Seperti dalam kalimat ini :

Jadi, kalau pandai berbahasa begini, kira-kira kelak Asa mau jadi apa ya? Presenter ? Dosen? Penulis bestseller? Atau dokter yang ramah? Jalan masih panjang. Sekarang, yang pasti ketika Asa memanggil “Lihat Ma, Dengar Ma!” saya harus siap menjadi teman bicaranya.

 

8. Kurangi Foto Narsis

Foto adalah penunjang tulisan dalam blog yang sangat penting, tapi jangan narsis ! Misalnya ingin menceritkan tentang tempat wisata, tidak harus selalu ada foto penulis menghadap kamera.  Foto kegiatan anak juga tidak harus tampak wajah anak. Ambil foto senatural mungkin.

Kebetulan sekali, saya jarang foto sendiri atau memotret anak tampak depan.  Untuk foto produk yang menjadi persyaratan lomba, kali ini saya kreasikan dengan sebuah agenda yang tidak kalah menarik perhatian yang melihatnya. Saya berharap pembaca lebih fokus pada foto agenda.

 

Demikian sebagian yang saya tangkap dari penuturan mas Iskandar. Pada akhir penjelasan beliau saya tanyakan, apakah kriteria tersebut berlaku untuk kompetisi blog di Kompasiana ? 

“Tergantung siapa juri dan penyelenggaranya” katanya sambil tertawa.

 

dan ternyata, feeling saya benar…horeeee…


IIDN dan Bukuku

Saya lupa kapan tepatnya masuk dalam sebuah grup facebook yang semua anggotanya adalah ibu-ibu yang suka menulis. Grup itu bernama Ibu-ibu Doyan Nulis, kemudian populer dengan sebutan IIDN. Saat saya masuk kira-kira akhir tahun 2011, anggotanya masih kurang dari 1000 orang. Hingga tulisan ini saya tulis, anggota telah mencapai 6000 orang. Perkembangan yang pesat ini tentunya karena IIDN mampu menjawab kebutuhan ibu-ibu yang ternyata mempunyai potensi untuk menulis.

Ini dia visi dan misi IIDN :

Visi: Mencerdaskan Perempuan Indonesia

Misi:
Menerbitkan minimal 1 buku untuk setiap anggota IIDN
Meningkatkan produktifitas anggota di berbagai media di Indonesia
Meningkatkan kemampuan anggota dalam bidang penulisan
Mempererat kolaborasi positif antar anggota di berbagai bidang

Untuk wilayah Bogor, saya bergabung di IIDN Jabodetabek.

 

Singkat cerita, jumlah request teman facebook saya meningkat pesat sejak gabung grup ini. Mungkin karena saya sering kirim-kirim postingan iseng dan ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu sesama member. Dari obrolan di grup lanjut ke chat dan inbox pribadi. Tak jarang saya sering dapat sapaan tengah malam “Online terus nih, lagi nulis apa?” Padahal saya sedang tidur dan facebook di ponsel saya selalu online. Lain waktu, siang hari ada chatingan lagi “Mba Arin, sibuk ngejar deadline ya? Lagi nulis apa?” Padahal saya lagi belanja di pasar. Jadi, sapaan demi sapaan selalu mengira saya selalu menulis, menulis dan menulis. Syukurlah kalau dikira begitu, hehehe..

Oiya, kalau yang suka chatting tuh, linknya di sini, di sini, di sini dan di sini. Add deh, asyik buat ngobrol.

 

Yang lucu lagi pernah ada yang nanya ke saya cara bikin outine dan proses mengajukan proposal buku ke penerbit. Waduh, wong saya sendiri belum pernah nerbitin buku, ya belum tahu caranya. Tapi iya, memang pengen banget saya menulis buku, sesuaai dengan salah satu misi grup IIDN yaitu setiap anggota bisa menerbitkan satu buku. Sejak menulis tahun 2007, sampai sekarang saya belum menerbitkan satu bukupun. Sedih deh! Kalah melaju dibanding teman-teman yang telah punya buku sendiri.

(Mau tahu siapa yang saya maksud? Nih link facebook nya ada di sini, di sini, di sini dan di sini. Ssst, jangan bilang-bilang yang bersangkutan ya. Langsung add aja. )

 

Setiap hari melihat foto teman-teman yang narsis dengan buku-bukunya. Kapan giliran saya?
Semoga ya, setelah ter”kompori” oleh teman-teman yang sudah menenteng buku kesana-kemari sambil promosi, saya bisa segera duduk manis dan fokus menulis buku. Amiiiin…

Insya Allah deh, nanti kalo sudah punya buku sendiri saya tidak akan kalah narsis dari teman-teman. Dan cita-cita saya sejak lama, bikin kuis buku yang hadiahnya bukan buku saja, tapi plus..plus..(Mohon saran hadiah tambahannya apa dengan komen dibawah ini ya).

Semoga ya…

 

 

 

 

Nb.
Buat yang linknya saya cantumkan : “jangan lupa kirim pulsa yaaa” hehehe…


Iklim Telah Berubah, Selanjutnya Bagaimana ?

Pembicaraan tentang perubahan iklim (climate change) akibat pemanasan global (global warming) telah terjadi dalam satu abad terakhir ini. Saat itu manusia mulai merasakan ketidaknyamanan suhu dan udara di Bumi, sumber daya alam mengalami penurunan produksi dan bencana alam lebih sering terjadi.

Perubahan pada kondisi fisik Bumi lantas mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, yaitu aspek sosial, budaya, ekonomi, hukum bahkan politik. Sekuat apapun kita menolaknya, nyatanya bumi telah memanas, iklim telah berubah dan pola kehidupan manusia telah berubah.

 

It is happened, what’s next?
Baiklah, kondisi bumi memang tidak lagi sama. Manusia pun beradaptasi untuk mempertahankan kelangsungan generasinya. Namun apapun aktivitas hidup manusia, semestinya berada pada langkah yang arif demi mempertahankan kelanjutan bumi. Setidaknya, kondisi bumi tidak semakin memburuk. Lebih baik lagi, jika kondisi bumi berangsur membaik. Tidak ada yang tidak mungkin.

Manusia akan melakukan adaptasi sebagai respon natural. Adaptasi adalah upaya oleh manusia untuk mempersiapkan atau menyesuaikan diri dengan perubahan iklim.  Adaptasi dapat berupa perlindungan diri terhadap dampak buruk perubahan iklim atau oportunistik dengan mengambil keuntungan dari efek menguntungkan perubahan iklim.

Bentuk-bentuk adaptasi manusia misalnya migrasi ke daerah baru, perubahan sistem budidaya tanaman, perbaikan infrastruktur, membangun penampungan bencana dan yang terpenting adalah perubahan pola tingkah laku.  Perubahan iklim yang kita alami sekarang ini lebih cepat dari yang terjadi di masa lalu.  Dalam dunia yang saling mempengaruhi satu sama lain, efek negatif perubahan iklim pada satu populasi atau sektor ekonomi dapat berakibat pada seluruh dunia.

Namun, ada batas-batas kemampuan manusia untuk melakukan adaptasi. Karena itu segala aktivitas manusia hendaknya dilakukan dengan orientasi untuk mencegah perubahan iklim terus terjadi.  Sebagai contoh, relokasi masyarakat akibat bencana hanya memungkinkan menolong dalam jangka pendek. Jika iklim terus berubah dan bencana sering terjadi maka upaya tersebut akan menemui batas ketidakmampuannya.  Adaptasi harus terus dilakukan sambil tetap memegang prinsip pengurangan emisi gas rumah kaca (CO2), penyebab utama perubahan iklim.

Kita, dalam peran kita sebagai individu manusia, masing-masing mempunyai kontribusi pada perubahan iklim di Bumi. Setiap aktivitas individu akan meninggalkan jejak ekologi pada Bumi. Nah, seberapa burukkah jejak ekologi kita? Apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi?

Apapun peran kita, satu hal yang mendasar yang harus dipahami adalah belajar dari kesalahan  masa lalu.  Hal-hal yang menyumbang emisi gas rumah kaca harus dicegah sekuat-kuatnya dan dicari solusinya.  Berbagai teknologi yang memanjakan manusia, lantas diketahui menyumbang emisi gas rumah kaca, tidak serta merta mudah untuk dihentikan begitu saja . Harus ada teknologi pengganti yang setara sehingga masyarakat banyak mau beralih pada teknologi ramah lingkungan.

Telah banyak literatur menyebutkan bentuk adaptasi perubahan iklim dan tindakan ramah bumi. Saya mencoba menuliskannya dari sudut pandang masing-masing peran kita dalam masyarakat, sehingga memudahkan untuk melakukan aksi.

 


Adaptasi dari Rumah

Andaikan masing-masing rumah tangga mampu menggunakan lampu hemat energi, atau lampu tenaga solar, tentu akan banyak tenaga listrik yang bisa dihemat. Begitu juga dengan penggunaan pemanas air dan pendingin ruangan sesuai keperluan, mematikan peralatan listrik saat tidak diperlukan, dan mematikan TV sebelum anda tertidur. Konsumsi wadah minuman kertas dan plastik yang akan meningkatkan volume sampah. Karena itu bentuk adaptasi bisa berupa menggunakan wadah yang bisa dipakai ulang. Jika kreatif, kita bisa mendaur ulang kertas atau plastik bekas bungkus. Minimal, kita memisahkan sampah kering dan sampah basah, sampah organik dan non organik sehingga memudahkan pemulung dalam memilah sampah dan mengirimkannya ke pusat daur ulang

Mari kita menjadi kreatif dengan mengadakan lahan hijau di rumah, dengan  menanam tanaman di sisa lahan atau menanam tanaman dalam pot. Bisa juga dengan menjadikan bagian atas atau loteng rumah sebagai tempat menanam bunga dan hijauan lainnya.

 


Adaptasi sebagai Pengguna Jalan

Setiap kali menggunakan kendaraan bermotor, kita berkontribusi pada pelepasan emisi gas rumah kaca (CO2) ke atmosfer. Langkah konkrit untuk mengurangi pelepasan CO2 ke udara adalah dengan lebih sering menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Jika memungkinkan beralih menggunakan sepeda ke kantor. Saat jalanan macet, jangan ragu untuk mematikan mesin mobil, dan tentu saja berperilaku baik di jalan untuk tidak menjadikan diri sebagai penyebab kemacetan.  Pemilihan bahan bakar yang ramah lingkungan juga membantu mengurangi pelepasan CO2 ke atmosfer, begitupun dengan perawatan kendaraan sehingga mesin bekerja efisien dan tidak boros bahan bakar.  Bahan bakar terbarukan seperti minyak biodiesel mulai digunakan pada beberapa jenis mobil.  Ada juga mobil bertenaga solar tanpa bahan bakar minyak, namun saat ini masih belum diproduksi secara komersil.

 


Adaptasi sebagai Pekerja

Dunia industri dan perkantoran sangat besar berkontribusi pada pelepasan emisi karbon.  Sebagai individu pekerja, banyak hal yang kita lakukan dalam rangka melindungi bumi dari kerusakan. Kita bisa mengelola penggunaan energi peralatan kantor secara lebih hemat dan efisien.  Ketelitian dalam bekerja dapat mengurangi penggunaan kertas, tinta dan energi. Bukalah jendela ruang kantor agar angin mendinginkan ruangan dan tidak memerlukan pendingin ruangan.  Matikan lampu jika cahaya matahari cukup memadai memasuki ruangan.  Pihak manajemen gedung sebaiknya mendesain bangunan kantor yang mempunyai sirkulasi udara dan cahaya yang baik sehingga meminimalkan penggunaan AC dan lampu.  Dan kita tentu akan merasa segar jika di meja kerja tersedia satu buah tanaman hidroponik.

 


Adaptasi sebagai Masyarakat Ekonomi

Kita bukan ahli ekonomi, namun masing-masing kita dituntut secara ekonomi untuk berhemat.  Perubahan iklim berimbas pada turunnya produksi sumber daya alam, kesulitan produksi  dan menyebabkan kelangkaan sumber pangan tertentu sehingga harganya lebih mahal. Berhemat adalah langkah adaptasi ekonomi yang bisa dilakukan oleh individu.  Tentu kita berharap, ada langkah-langkah inovasi para ilmuwan untuk dapat meningkatkan produksi pangan dan bahan-bahan kebutuhan hidup dengan tetap memperhatikan azas ramah lingkungan.

Dalam lingkup lebih luas, pemerintah dan departemen yang berwenang mengatur perputaran bahan dan pangan di pasar tentunya mengedepankan kepentingan masyarakat banyak sehingga mampu menghadirkan harga bahan dan pangan di pasar yang terjangkau. Penggunaan pangan lokal adalah bentuk adaptasi masyarakat bidang ekonomi.

 

Adapatasi Masyarakat Pertanian,  Pesisir dan Hutan

Praktisi pertanian mempunyai beban berat untuk menghasilkan hasil panen yang mampu mencukupi kebutuhan pangan dunia, sementara cekaman perubahan iklim telah menggagalkan panen.  Penggunaan pestisida tidak lagi sepenuhnya mampu menangani hama dan penyakit tanaman semakin mengganas dan lebih kebal dari sebelumnyau.  Karena itu, upaya pengendalian hayati saat ini mulai banyak dilakukan dengan memberdayakan kembali musuk alami yang telah ada di alam.   Para pemulia tanaman melakukan perbaikan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap cekaman perubahan iklim misalnya tahan panas, tahan kekeringan, tahan genangan air hujan dan banjir.  Sementara itu, para peternak berusaha meningkatkan kebugaran ternaknya dari suhu panas dengan membuat kandang-kandang yang banyak menerima aliran udara.

Pada daerah pesisir pantai, kenaikan air laut beresiko pada kerusakan pesisir.  Para nelayan dan penduduk pesisir membangun infrastruktur perlindungan pantai dan mempertahankan ruang terbuka untuk mengantisipasi pergeseran batas pantai ke arah pedalaman.  Masyarakat pantai saat ini lebih waspada terhadap bahaya tsunami dan gelombang badai dengan memperbaiki rute dan rencana evakuasi untuk mengantisipasi saat bencana datang.

Masyarakat hutan mempunyai peran sangat besar dalam menjaga atmosfer bumi dari efek emisi gas rumah kaca.  Banyaknya hutan-hutan yang ditebang karena faktor sosial ekonomi, tampaknya harus diimbangi dengan kampanye penghijauan kembali hutan dunia.

 

Adaptasi sebagai Pengguna Sumber Daya Air

Pada satu belahan bumi, perubahan iklim mencairkan gunung salju dan es sehingga permukaan air laut meningkat, pada belahan bumi lain, pemanasan global membuat tanah kering dan sumber daya air bersih berkurang.

Adaptasi masyarakat merespon situasi ini adalah dengan meningkatkan efisiensi penggunaan air dan membangun kapasitas penyimpanan air tambahan.  Sungai dan tepiannya harus  dilindungi dan dikembalikan fungsinya sebagai sumber air bersih.

 

Adaptasi Bidang Pendidikan

Di sekolah, penggunaan listrik , air dan benda konsumtif  tidak sebanyak pada industri dan rumah tangga. Namun sekolah berperan penting dalam mendukung adaptasi masyarakat menghadapi perubahan iklim.  Sekolah adalah tempat pendidikan lingkungan bisa ditanamkan pada manusia muda generasi penerus bumi.

Menjadi tugas wajib bagi guru memberikan pemahaman bagaimana pemanasan global dan perubahan iklim terjadi serta bagaimana mencegahnya.  Murid dapat melakukan eksperimen sains untuk memahaminya.  Dan tentu saja dengan ajakan dan kampanye bertindak nyata menyelematkan lingkungan seperti yang sudah disebutkan pada adapatasi kantor, pengguna jalan dan rumah tangga.

 

Pendampingan Adaptasi Masyarakat oleh Oxfam

Dampak ekstrim perubahan iklim adalah bencana alam, kelaparan, wabah penyakit dan kemiskinan. Seluruh lapisan masyarakat semestinya mendapatkan pelatihan penyelematan saat bencana terjadi. Pelatihan bisa dilakukan di sekolah, kantor, dan tingkat desa.

Dalam situasi bencana, mental masyarakat yang terguncang perlu mendapatkan dukungan dan pendampingan. Masyarakat yang paling banyak menerima imbasnya adalah masyarakat miskin dan lemah. Mereka yang selayaknya mendapatkan pendampingan lebih intens dari pemerintah dan lembaga-lembaga kemanusiaan.

Berangkat dari sini, tahun 1942 sekelompok orang di Oxford Inggris membentuk organisasi penyelamatan untuk warga Yunani korban perang dunia kedua. Mereka menamakan dirinya Oxfam.

Oxfam adalah konfederasi internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.

Oxfam memasuki Indonesia tahun 1957 untuk membantu anak-anak yatim piatu. Dalam perkembangan oxfam bekerjasama dengan pemerintah dan organisasi lokal untuk membantu masyarakat miskin dan lemah. Oxfam juga bekerjasama dengan nelayan dan petani di pulau-pulau kecil di Indonesia berusaha beradaptasi dengan perubahan iklim. Program Oxfam diantaranya memberdayakan masyarakat memerangi kemiskinan, menanggulangi bencana dan pendidikan adaptasi perubahan iklim.

Saat kesulitan menimpa, bukan lagi saatnya saling menuding menyalahkan.  Mari berpikir jernih, mencoba saling mendukung satu sama lain. Yang lebih kuat membantu yang lemah. Bukan lagi waktunya sombong.  Karena sesungguhnya,  tidak ada yang tahu, siapa selanjutnya yang terkena musibah.

Perubahan sekecil apapun di bumi ini akan mencari keseimbangan. Satu spesies bertambah jumlahnya, sementara spesies lain terancam punah, tetapi lambat laun mereka menemukan keseimbangan ekosistem. Masalahnya, tidak ada yang dapat memastikan kapan keseimbangan itu terbentuk. Jika kerusakan terus terjadi, iklim terus berubah dan bumi terus memanas, ke arah mana kehidupan ini akan bermuara?

 

Referensi :

www.oxfamindonesia.wordpress.com/oxfam-at-a-glance/

www.epa.gov/climatechange/

www.asacinta.blogspot.com/2011/02/mencari-cahaya-kunang-kunang.html?m=1

gambar dari : www.yolanddhaha.blogspot.com


Peran Pabrik Gula dalam Pemberdayaan Perempuan Desa

Oleh : Murtiyarini

(Foto dari www.mediaindonesia.com)

Prolog

Pemerintah memilih 24 perusahaan di seluruh Indonesia sebagai pembina terbaik tenaga kerja perempuan tingkat provinsi selama tahun 2012.  Anugerah ini diberikan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak bersama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bersamaan dengan peringatan Hari Ibu 22 Desember 2012.

Perusahaan-perusahaan yang terpilih bergerak di sektor usaha perkebunan, industri rokok, perhotelan, pabrik gula, elektronik, rumah sakit, hingga pertambangan emas.  Penghargaan ini diharapkan diikuti dengan penerapan perlindungan hak-hak perempuan di tempat kerja melalui penegakan peraturan ketenagakerjaan yang mengacu pada sejumlah kerangka hukum seperti Konvensi ILO (International Labour Organization), Konvensi CEDAW (Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women) dan MDGs (Millenium Development Goals).  Upaya diatas semakin memantapkan pengakuan peran perempuan dalam roda industi dan perekonomian bangsa ini.

Topik ini sangat menarik dalam kaitannya dengan upaya PTPN X yang tengah giat membangkitkan kembali industri gula melalui pabrik-pabrik gula. Satu dari 24 perusahaan yang menerima penghargaan diatas adalah pabrik gula PT Gunung Madu Plantation di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung.  Bukan tidak mungkin,  pengembangan pabrik-pabrik gula oleh PTPN X dimasa mendatang lebih memihak pada perempuan dengan memberi peluang kerja dan perlindungan kepada perempuan-perempuan di desa sekitar pabrik gula.

Pabrik Gula dalam Aspek Ekonomi

Keberadaan industri di suatu daerah dapat membangkitkan sektor-sektor lainnya seperti perdagangan, pertanian, ataupun jasa. Sebaliknya, berkembangnya sektor-sektor tersebut akan mendukung pertumbuhan industri. Kebangkitan berbagai sektor tersebut membuka peluang kerja dan pendapatan masyarakat. Kemampuan ekonomi masyarakatpun membaik.

Yang terjadi pada industri gula. Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Kebutuhan gula dalam negeri yang terus meningkat 3.87% setiap tahun. Diperlukan sekitar 12 kg per tahun gula untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Jika industri gula tidak bisa memenuhinya, maka seperti yang terjadi saat ini, Negara kita masih membutuhkan gula impor.

Pemerintah perlu segera membangkitkan potensi-potensi industri gula di Indonesia. Peningkatan produksi pada Pabrik Gula akan berdampak ke ekonomi lokal karena industri gula mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan pendapatan ekonomi lokal.

Selama periode 2007-2009, industri gula merupakan sumber pendapatan bagi 1.3 juta orang yang bekerja pada areal sekitar 400 ribu ha perkebunan tebu di Seluruh Indonesia.  PTPN X yang menaungi pabrik-pabrik gula di wilayah Jawa Timur memiliki luasan areal unit usaha gula sekitar 72.125 ha pada tahun 2012, dan sedikitnya mempekerjakan 71.691 petani tebu serta 12.000 karyawan dari masyarakat di sekitar pabrik gula. Jumlah tersebut belum termasuk ratusan ribu tenaga penunjang lepas seperti tenaga tebang, sopir bus pengangkut tebu, penjual makanan dan lain sebagainya.

Peran Perempuan dalam Ekonomi Masyarakat

Dalam situasi ekonomi kurang baik, dukungan masyarakat terutama keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat akan berdampak positif pada tatanan mekanisme ketahanan kemandirian ekonomi keluarga. Krisis ekonomi dan krisis moneter yang dialami bangsa ini berdampak negatif pada keluarga-keluarga di Indonesia.  Perempuan sebagai pilar penting keluarga menanggung beban ganda. Pertama, menghadapi kenyataan suami yang ter-PHK, sehingga tidak mampu menafkahi keluarga. Kedua, sebagai pekerja, perempuan ter-PHK merasa tidak bisa membantu perekonomian keluarga. Belum lagi tekanan mental yang dihadapi pada semua persoalan krisis.

Kabar baiknya, secara kultur dan fakta empiris perempuan memiliki keunggulan prima dalam menghadapi krisis internal dan eksternal. Secara kultural perempuan mempunyai peran psikologis sebagai pemberi rasa nyaman keluarga. Perempuan memiliki etos pengorbanan tinggi untuk selalu mendahulukan kepentingan keluarga. Jika seorang perempuan bekerja mencari nafkah maka kegiatan itu dilakukan demi kesejahteraan keluarga.

Secara fakta empiris historis, perempuan mempunyai daya adaptasi lebih baik untuk menghadapi kemelut hidup.  Perempuan dinilai lebih tabah dibanding pria.  Perempuan sebagai istri menjalankan peran sebagai pengelola atau manajer rumah tangga. Tugasnya sangat krusial dalam mengatur pengeluaran keluarga. tindakan penghematan terbukti efektif sebagai bentuk pertahanan keluarga. Perempuan juga memiliki keuletan dan keluwesan yang didukung akses ke modal akan dapat menciptakan pasar kerja informal dan usaha kecil keluarga.

Membangun perempuan berarti membangun negara dan bangsa. Karena itu memantapkan ketahanan perempuan dan keluarga akan membawa dampak jangka panjang mengatasi berbagai krisis kehidupan.  Usaha ini dapat dimulai dari perempuan dengan basis keluarga sebagai unit sasaran pembinaan.  Perempuan  bukan lagi sebagai aset pelengkap, sudah saatnya melihat perempuan sebagai aset strategis. Bukan hanya jumlah perempuan yang potensial, namun juga perspektif pemberdayaan perempuan akan berdampak pada ketahanan bangsa. Dengan demikian perempuan sebagai pilar bangsa dapat berperan untuk pembangunan dengan dimensi kesetaraan gender.

Menurut data BPS tahun 2010, persentase penduduk perempuan adalah 49,83%.  Sebagai pencari nafkah, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja TPAK Perempuan 38,58%, sedangkan TPAK laki-laki 61,42%.  Dinamika TPAK perempuan dipengaruhi oleh faktor sosial, demografi dan budaya. Sebagai aset sumberdaya manusia perempuan tetap mempunyai peran-peran strategis karena selain sebagai ibu rumah tangga, mereka juga mampu bekerja mencari nafkah.  Namun karena perempuan banyak dibutuhkan di ranah domestik, maka sebagian besar perempuan menginginkan bekerja di lingkungan rumah. Peran perempuan yang menempatkan mereka sebagai pekerja domestik dan laki-laki sebagai pekerja sektor publik.  Akibatnya banyak perempuan memilih mencari nafkah di lingkup rumah tangga atau di lahan pertanian milik keluarga.

Tingkat pendidikan perempuan desa usia 16-18 tahun atau setara SMU pada tahun 2010 sebanyak 61.57 % untuk perkotaan dan 47.88% untuk pedesaan.  Artinya, perempuan desa mengalami kekurangan dalam hal akses pendidikan sehingga mereka sulit mendapatkan pekerjaan di tempat-tempat yang mensyaratkan pendidikan minimal SMU.  Karena itu perempuan desa banyak berdiam di desanya. Otomatis peluang pekerjaan tergantung dari keberadaan industri atau bisnis di desa tersebut. Jika ada kegiatan kelompok keterampilan atau sosial mereka sangat antusias untuk ikut karena pada dasarnya perempuan desa juga mempunyai etos kerja yang baik.

Menurut BPS 2004, perempuan lebih banyak bekerja di sektor primer (pertanian) yaitu 44,62%, di sektor skunder (perdagangan, keuangan dan jasa) sebanyak 28,57%, dan di sektor tertier (pertambangan, Industri, listrik, bangunan dan angkutan) sebanyak 28,57%.  Sektor primer tidak terjadi terlalu banyak kesenjangan gender laki-laki dan perempuan, namun sektor skunder dan tertier kesenjangan cukup mencolok. Selain itu, perempuan juga lebih banyak bekerja di sektor informal 75,27% dibanding sektor formal 24,73%.

Melihat angka diatas, dan menimbang pentingnya peran perempuan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga, maka potensi lapangan pekerjaan untuk perempuan masih perlu ditingkatkan. Pabrik Gula adalah industri yang sangat berpotensi menyediakan lapangan pekerjaan bagi perempuan desa-desa di sekitar Pabrk.

Peran Pabrik Gula dalam Pemberdayaan Perempuan

Industri gula menyediakan banyak aktivitas ekonomi dan membuka banyak peluang kerja.  Berbagai proses yang ditempuh Pabrik Gula dari awal penyediaan bahan baku, pemrosesan hingga pemasaran hasil sangat padat karya. Saat ini, aktivitas Pabrik Gula lebih banyak memerlukan tenaga kerja laki-laki dibanding perempuan, terutama karena banyak pekerjaan yang memerlukan ketrampilan dan kekuatan fisik laki-laki.  Namun tidak menutup kemungkinan, jika perempuan dibekali pengetahuan dan ketrampilan tentang pekerjaan industri gula, ada beberapa posisi pekerjaan yang bisa dialokasikan untuk tenaga kerja perempuan.

Pabrik gula membutuhkan banyak pasokan tebu pada musim giling.  Kebutuhan tebu untuk bahan baku proses produksi gula cukup tinggi. PTPN X membutuhkan bahan baku tebu sekitar 5 – 7 juta ton tebu  setiap tahunnya.   Untuk dapat memenuhi kebutuhan tebu, diperlukan tenaga yang bekerja di kebun tebu sebagai penanam tebu, penebang tebu, pengangkut tebu, dan sopir truck yang mengantarkan tebu ke pabrik. Pada tahapan selanjutnya, dibutuhkan tenaga produksi, tenaga pembantu produksi, maupun tenaga pengangkut gula dari gudang ke truck. Perempuan dapat mengambil posisi sebagai tenaga kerja yaitu pada bidang kerja yang bisa dilakukan oleh perempuan, misalnya menanam tebu, menyiangi rumput di sekitar ladang tebu, menyemprotkan pembasmi hama, melepas pelepah tua dan mengumpulkannya untuk pakan sapi atau atap rumbia, menyortir tebu, bagian penghitungan hasil dan penimbangan hasil.

Kecukupan tebu untuk proses industri gula diperoleh dari kebun milik Pabrik Gula, dan lahan sewaan milik warga sekitar. Kegiatan sewa lahan ini mendatangkan penghasilan bagi penduduk setempat. Dari kegiatan ini, pemilik lahan juga mendapatkan keuntungan lebih karena dapat melanjutkan budidaya yang sudah dilakukan oleh pabrik gula pada musim tanam berikutnya.  Perempuan-perempuan desa dapat berperan membantu proses penanaman tebu yang dilakukan dilahan-lahan milik keluarga mereka.

Pada proses produksi di Pabrik Gula memang lebih banyak dilakukan oleh laki-laki.  Adapun alokasi pekerjaan untuk perempuan misalnya pada kegiatan pemeliharaan mesin – mesin pabrik , tenaga kebersihan, bagian penyortiran, bagian pengemasan dan bagian pemasaran.  Tentu saja, semua posisi tersebut harus diawali dengan training oleh pihak manajemen pabrik guna memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan. Harapannya akan lebih banyak tenaga kerja perempuan di desa sekitar pabrik yang bisa bekerja di pabrik gula.

Dalam kaitannya dengan penerimaan tenaga kerja perempuan sebagai karyawan di Pabrik Gula, pihak Pabrik perlu melakukan beberapa penyesuaian. Misalnya pada peraturan terkait hak dan kewajiban tenaga kerja perempuan, standarisasi gaji dan upah, jam kerja dan aturan-aturan lain yang menyertainya.

Saat musim giling, aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar pabrik gula menyebabkan kebutuhan makanan, minuman dan kebutuhan – kebutuhan lainnya, hal ini menciptakan peluang bagi perempuan sekitar pabrik gula untuk menjual barang – barang yang dibutuhkan oleh tenaga kerja pabrik.

Dengan membuka peluang lebih banyak untuk tenaga kerja perempuan, Pabrik Gula sebenarnya telah memanfaatkan aset sumber daya manusia yang sangat potensial untuk mendukung peningkatan produksi gula.  Disisi lain, Pabrik Gula juga menjalankan perannya sebagai penggerak ekonomi daerah melalui pemberdayaan perempuan di desa sekitar Pabrik Gula.

Referensi :

Vitalaya, Aida. 2012. Pemberdayaan Perempuan dari Masa ke Masa. IPB Press.

www.ptpn10.com

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52087/F11mha_BAB%20I%20Pendahuluan.pdf?sequence=5

http://www.kabarbisnis.com/read/2835577

Foto dari http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2012/12/06/367970/4/2/P3GI_Targetkan_Produksi_100_Juta_Bibit_Tebu_Tahun_Depan


Lihat Ma, Dengar Ma !

 “Lihat Ma, Asa seperti kerbau,” kata Asa (2 tahun) sambil kedua telunjuknya di atas kepala.   Tak lama kemudian dia merangkak di lantai. “Mama dengar suara Asa seperti kucing, meoow!”

Gerakan, suara dan ekspresinya menghayati peran. Saya geli sendiri melihatnya. Aduh Nak, masa meniru gaya-gaya binatang sih? Tapi, apa iya harus dilarang? Asa sedang tahap belajar, mengenali dan meniru apa yang dilihatnya. Seringkali, aktivitasnya jadi tidak fokus. Memberinya ruang gerak akan memupuk keberaniannya bereksplorasi.

 

Kecerdasan bahasa Asa tampak menonjol. Asa sudah bisa menyusun kalimat 5-6 kata dan menyambung 2-3 kalimat dalam satu kali bicara. Apa yang dipikirkan langsung dikatakan. Pendengarannya juga tajam. Saat saya berbisik pada suami, Asa dapat menangkap pembicaran kami dan ikut bicara. Saat saya mengganti kata “mainan” dengan “toys”, eh Asa ternyata sudah tahu artinya. “Asa mau dibelikan toys baru di toko”, katanya. Anak menyerap bahasa dengan cepat .

 

Asa sedang pada golden age, otak dan kecerdasannya berkembang pesat. Ada 100 milyar syaraf yang akan terhubung seiring banyaknya stimulasi. Kecerdasan didukung oleh daya konsentrasi. Padahal rentang konsentrasi anak sangat pendek.  Karena itu, anak perlu dilatih berkonsentrasi sesuai tahapan usianya. Kelak, saat golden age berlalu, anak masih dapat mengandalkan daya konsentrasi untuk bernalar dan memanggil memori.

 

Terkait kecerdasan bahasa Asa, saya melatih agar Asa tidak hanya banyak bicara tapi juga konsentrasi. Maksudnya, apa yang dikatakan adalah hal yang sedang dilihat, dilakukan atau dipikirkannya. Saat dipanggil juga mau menjawab. Berimajinasi sambil berceloteh boleh, tapi bukan bicara kosong atau bergumam.

 

Hal terpenting melatih konsentrasi bicara adalah memberi perhatian saat anak bicara dan menunjukkan ekspresi yang sesuai. Ini sekaligus mengajarkan anak berempati pada perasaan orang lain, sedih atau gembira. Saya juga berbicara dalam berbagai intonasi, kadang keras, kadang berbisik, ditambah dengan gerakan tangan saat bicara.  Dengan begitu, Asa tertarik untuk menatap wajah saya dan mau mendengarkan.  Saat berbicara dengan Asa, saya letakkan majalah atau blackberry yang sedang saya pegang. Mengajarkan konsentrasi tentu dengan konsentrasi juga kan?

 

Banyak kosakata Asa  berasal dari meniru namun tidak selalu mengerti artinya. “Asa masih kecil, kalau Mama masih besar.” Asa belum mengerti penggunaan kata “masih”. Dengan bicara sesering mungkin membuat Asa semakin memahami kata baru dan konteks kalimat yang benar. Ada juga kata-kata berkonotasi negatif.  Selain menghindari sumber negatif sebagai antisipasi, saya respon kata-kata Asa dengan dengan lembut “Tidak boleh bilang kata tersebut, mendingan menirukan suara kodok yuk”. Lantas kami lanjut bermain dan Asa lupa dengan kata “aneh”nya.

 

Saya pernah kesal, saat saya berbicara dengan orang lain, Asa ikut bersuara dengan lantang. Lagi-lagi anak ingin menarik perhatian orangtua. Di saat lain saya beri kesempatan Asa berbicara terlebih dahulu. Saya dengarkan ceritanya sampai dia puas, lalu saya katakan “Sekarang giliran mama bicara dulu ya.” Cara ini perlahan mengajarkan Asa sabar menunggu giliran bicara. Saya memujinya setiap kali Asa mau menunggu.  Ketika mendadak saya harus bicara dengan orang lain, Asa mulai terlatih untuk menunggu.

 

Tebak-tebakan adalah cara menarik untuk melatih anak konsentrasi saat bicara. Saya menanyakan hal yang sama berulang kali, kemudian tiba-tiba saya tanyakan sesuatu yang berbeda. Misalnya, bagaimana suara gajah? Kalau suara monyet? Suara kucing? Rumah beruang dimana? Pertanyaan terakhir konteksnya berbeda dengan pertanyaan sebelumnya. Asa terbiasa dengan tebakan seperti ini. Saya memujinya setiap kali Asa mau menjawab. Perhatian dan pujian akan memupuk keberanian anak. Saat anak merasa berani dan percaya diri, dia akan lebih mudah berkonsentrasi.

 

Daya konsentrasi perlu didukung dengan pemenuhan gizi seimbang. Yang penting diperhatikan adalah  asupan gula tidak boleh berlebihan karena dapat menurunkan daya konsentrasi.  Sebentar lagi saya menyapih Asa. Karena terbiasa dengan ASI yang tidak manis, kebiasaan ini akan diteruskan dengan mengkonsumsi susu tanpa gula tambahan.  Saat bergabung di Anmum Club dan situs Anmum, saya mendapatkan inspirasi dari para bunda tentang pilihan susu.  Untuk anak seumur Asa, banyak bunda yang telah memilih Anmum Essential 3.

 

Jadi, kalau pandai berbahasa begini, kira-kira kelak Asa mau jadi apa ya? Presenter ? Dosen? Penulis bestseller? Atau dokter yang ramah?

Jalan masih panjang.

Sekarang, yang pasti ketika Asa memanggil “Lihat Ma, Dengar Ma!” saya harus siap menjadi teman bicaranya.

 

Anmum Essential 3 dan Jurnal Mama

Asa suka mainan, Mama suka buku IIDN

Interaksi melatih konsentrasi

Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Competition Anmum Bunda Inspiratif bersama IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis)

http://www.facebook.com/groups/ibuibudoyannulis/

dan menjadi juara 1


Buku dan Blog Sang Pemimpin

Penulis dan Pemimpin

Pemimpin yang diharapkan oleh rakyatnya adalah seorang pemimpin yang selalu berada di garis depan membuka jalan pada perubahan yang lebih baik. Perubahan terjadi apabila pemimpin itu memiliki jiwa kepemimpinan. Menurut Seth godin, seorang ahli perubahan dan kepemimpinan menyarankan 7 sifat yang membuat pemimpin mampu menghadapi segala tantangan di abad 21 adalah challenge (tantangan), culture (budaya), curiosity ( ingin tahu) , charisma (berkarisma) communicate (berkomunikasi), connect (terhubung) dan commit (komitmen).

Dari semua itu, definisi terpendek dari kepemimpinan adalah pengaruh. Memimpin pada dasarnya adalah mempengaruhi. Ada orang yang mempengaruhi tapi tidak memimpin. Tapi semua orang yang memimpin pasti mempengaruhi.

Bicara masalah pengaruh, selain pemimpin, profesi lain yang juga mempunyai kemampuan mempengaruhi suatu komunitas tertentu adalah penulis. Melalui tulisannya, seorang penulis yang handal dapat membawa pembaca menyelami alam pikirnya dan lebih jauh terbawa pada pemahaman yang ditulis, meskipun tidak semuanya demikian. Sayangnya, tidak semua penulis bisa memimpin, dan tak semua pemimpin bisa menulis. Jika saja kedua kekuatan itu bersatu, menjadi pemimpin yang bisa menulis, maka membawa pengaruh yang lebih besar. Kekuatan untuk menggugah rakyat, membangkitkan nasionalisme, membangun semangat untuk maju.

Menulis secara tidak langsung berhubungan dengan sifat-sifat kepemimpinan dalam kadar yang sangat relatif. Tahapan merumuskan tujuan dan mengatur strategi dalam menulis juga dapat diterapkan di kehidupan berbangsa dan bernegara. Segala keputusan dan tindakan yang akan diambil pun bisa lebih terfokus, dan terarah untuk mencapai tujuan tersebut. Langkah berikutnya adalah mengumpulkan data ataupun informasi yang cukup untuk membangun tulisannya sehingga terciptalah suatu informasi baru. Jadi, tahap persiapan ini merupakan sarana belajar yang ampuh untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Seorang pemimpin idealnya mengerti dan memahami negara yang dipimpinnya, meliputi kehidupan sosial rakyatnya, keadaan alamnya, hukum yang berlaku, kondisi politik, hubungan internasional dan banyak lagi dalam aspek-aspek bernegara.

Tahap berikutnya adalah menyusun kerangka dasar penulisan. Disini kemampuan berpikir sistematis sangat diperlukan. Kebiasaan ini juga akan terbawa ke aspek-aspek kehidupan lainnya, misalnya dalam menyatakan pendapat, dalam menyusun perencanaan, dan dalam membuat laporan. Untuk melakukan semua ini diperlukan kemampuan intelektual. Secara garis besar, orang yang memiliki kebiasaan menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat dibanding yang tidak.

Dahsyatnya Sebuah Tulisan 

Sejarah membuktikan bahwa tulisan dapat berdampak sangat dahsyat. Tulisan dapat menggulingkan sebuah rezim atau sebaliknya mencegah perang, tulisan dapat membangkitkan semangat hidup, menyelamatkan nyawa, mengasah otak, dan mendatangkan rejeki.

Bagaimana tulisan orang dapat mempengaruhi massa? Kiyosaki dengan bukunya yang terkenal Rich Dad Poor Dad dan berbagai tulisan lainnya digunakan untuk ”mempengaruhi orang” melihat pentingnya memiliki semangat wirausaha. R.A. Kartini juga menggunakan tulisan untuk mempengaruhi orang lain agar mau memberi kesempatan yang sama pada wanita untuk mengecap pendidikan.

Dalam buku sejarah Indonesia disebutkan sebuah buku berjudul Max Havelaar karya Multatuli (nama alias Eduard Douwes Dekker (2/3/1820 – 19/2/1887) yang pada bulan Maret 2010 diupayakan masuk ke dalam daftar warisan dunia UNESCO. Buku yang menguak kekejaman yang terjadi di Nederlands-Indie (Hindia Belanda) mempunyai pengaruh luar biasa, menjadi sebuah bentuk gugatan terhadap pemerintah kolonial, menggungah semangat dan membakar geram kaum pribumi. Karya gemilang yang diterbitkan pertama kali pada 150 tahun lalu itu kini masih aktual dan menjadi sumber inspirasi untuk tata perdagangan dunia yang adil.

Menulis juga menjadi sarana berbagi pengalaman, dan berbagi pengetahuan. Dari tulisan orang juga dapat hidup abadi melalui karyanya. Sebut saja Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, Hamka, dan Muhammad Hatta sampai sekarang pun tetap abadi melalui hasil tulisan mereka.

Tahun 2006, dunia perbukuan Indonesia digemparkan oleh buku karangan Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi. Buku tersebut menghipnotis jutaan pembaca. Laskar Pelangi adalah cerita masa kecil yang sebenarnya sederhana, ditulis oleh penulis yang sebelumnya bukan siapa-siapa. Dengan kemampuan menulis, Andrea berhasil membawa jutaan rakyat Indonesia mengenal 10 anak dari propinsi Bangka Belitung yang menjalani hidup dengan jiwa juang tinggi. Bayangkan seandainya ada buku serupa, dengan kekuatan sama dahsyatnya bertema kebangsaan, nasionalis, kepemimpinan, kebangkitan yang bisa menggugah semangat bangsa ini, maka sang penulis kemungkinan besar akan dikandidatkan sebagai calon pemimpin bangsa.

Tulisan Para Pemimpin

Menulis adalah pekerjaan prestis. Para pemimpin-pemimpin kita terdahulu (dan sekarang) juga menulis buku. Presiden pertama RI terkenal dengan bukunya Di Bawah Bendera Revolusi (DBR). Buku ini menghimpun tulisan-tulisan Bung Karno di masa penjajahan Belanda, pertama kali diterbitkan pada tahun 1959. Terakhir kali, tahun 1965 buku itu untuk keempat kalinya dicetak ulang. Ini menunjukkan bahwa keinginan rakyat Indonesia untuk memiliki buku itu sangat besar. Buku-buku lain karya Bung Karno adalah “Indonesia Menggugat”, “Indonesia Merdeka” dan “Sarinah (Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia)”

Presiden kedua, Suharto, meskipun dibantu dengan oleh penulis yang juga orang-orang terdekat beliau, menyadari perlunya membuat buku-buku pada masa pemerintahannya. Tahun 1976, pandangan Presiden Soeharto tentang Pancasila ditulis oleh Krissantono dan diterbitkan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Tim dokumentasi Presiden RI pernah pula menerbitkan buku Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983-11 Maret 1988 pada 1992. Buku ini diedit oleh Nazaruddin Sjamsuddin. Lalu pada 1996 terbit pula buku Managemen Presiden Soeharto, Penuturan 17 Menteri dengan editor Riant Nugroho Dwidjowijoto.

Presiden Indonesia yang juga terkenal aktif menulis adalah Gus Dur. Berbekal keluasan pengetahuan dan wawasan keilmuan hasil pergulatannya dengan buku, Gus Dur piawai menulis. Buku-bukunya yang populer antara lain “Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman” berupa kumpulan tulisan mengenai pemikiran Gus Dur, “Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat” merangkum 24 artikel Gus Dur dalam harian KOMPAS, dan “Islamku Islam Anda Islam Kita” berisi esai-esai Gus Dur dari sudut pandang korban dalam hampir semua kasus yang dibahas, tanpa pandang bulu.

Bahkan Presiden tersingkat masa jabatannya, yaitu BJ Habibie, sempat menulis sebuah buku pada masa pemerintahannya, berjudul “Detik-detik yang Menentukan – Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi”. Sebelum itu, Habibie sebagai ilmuwan juga telah menulis di banyak jurnal ilmiah berbahasa Jerman mengenai keahliannya di bidang teknologi pesawat terbang.

Presiden kita saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono juga menuangkan pemikirannya dalam buku-buku berjudul “Indonesia Unggul” ,“Menuju Perubahan Menegakkan Civil Society”, “Transformin Indonesia” dan “Indonesia on The Move”. Beberapa buku lain yang juga berisikan pemikiran SBY dibantu penulisannya oleh orang-orang terdekatnya seperti Dino Pati Djalal dalam bukunya “Harus Bisa” dan Bahrudin Supadri dalam bukunya “Seri Lebih Dekat dengan SBY”. Pada masa pemilu, Susilo juga menulis buku “Berkarya Membangun Bangsa”

Membangkitkan Budaya Menulis 

Pemuda sebaiknya mengisi waktu luangnya dengan membaca buku. Sistem pendidikan kita memang kurang menuntut siswa untuk membaca. Kurangnya minat baca masih menjadi permasalahan sumber daya manusia di Indonesia. Sebuah studi lima tahunan yang dilakukan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) terhadap minat baca anak Indonesia, menyebutkan bahwa siswa sekolah dasar (SD) di Indonesia menduduki posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Apalagi menulis? Menulis, merupakan tingkat lanjutan yang dimiliki seseorang yang gemar membaca. Seseorang yang gemar membaca akan memiliki cakrawala ilmu yang luas, pikiran terbuka pikiran, dan akan dengan mudah menuangkan pemikiran melalui tulisan. Sampai manakah kemampuan pemuda sebagai calon-calon pemimpin kita dalam hal menulis?

Dalam lingkup pendidikan sekolah, guru-guru jarang meningkatkan kapasitas dirinya dan muridnya untuk membaca dan menuangkan pemikiran mereka lewat tulisan. Siswa menulis biasanya karena ada kewajiban tugas sekolah yang harus ditunaikan. Bahkan, tugas paper yang dibuat pun tinggal copy-paste tanpa analisis kritis dan penuangan pemikiran orisinal. Nah, bagaimana mungkin calon-calon pemimpin bangsa jarang, bahkan tidak pernah “membaca” Indonesia saat ini?

Padahal jika dipikirkan betul-betul, menulis merupakan jalan yang lebih bijak sebagai ganti protes dan demo di jalan yang ujung-ujungnya berakhir bentrok. Andai saja banyak mahasiswa yang lebih memilih menulis untuk menghimpun gerakan pemikiran dalam tubuh masyarakat, membuka wawasan dan menyentuh cakrawala yang masih tertutup, niscaya tidak perlu lagi jatuh korban dari aksi-aksi anarkhis.

Bangsa yang tidak mempunyai budaya membaca buku dan menulis buku, maka akan kehilangan seluruh atau sebagaian sejarah kehidupan bangsa sehingga tidak dapat dipelajari oleh generasi penerusnya. Agar menjadi budaya, membaca buku dan menulis buku harus dilatih setiap hari. Salah satunya di sekolah, dan di dukung oleh lingkungan keluarga. Harus ditanamkan dalam pengertian para calon pemimpin bangsa, bahwa membaca dan menulis adalah salah satu langkah untuk memperbaiki kualitas hidup dan kesejahtaraan bangsa.

Apa yang bisa dilakukan oleh para guru dan dosen untuk menumbuhkan budaya menulis calon pemimpin bangsa ini? Pertama, menumbuhkan kemauan kuat akan menumbuhkan tekad yang kuat. Menumbuhkan budaya menulis salah satunya dengan melakukan edukasi untuk meningkatkan pemahaman para mahasiswa dan siswa, juga dosen dan guru untuk menulis. Menulis tidaklah selalu identik dengan karya ilmiah yang sulit dan formal. Kegemaran menulis dapat ditumbuhkan dengan cara yang lebih menyenangkan, misalnya membuat esai bebas atau menulis di blog.

Kedua, menekankan kejujuran hati yang akan melahirkan ketulusan berkarya, bebas plagiasi, menuntun kita menulis dengan bebas, mengembangkan pemikiran secara orisinal, tanpa beban, dan apa adanya. Ketulusan dalam menulis dapat menghasilkan sebuah tulisan berkarakter dan natural. Ketiga, adalah memberi kebebasan berpikir agar muncul keberanian mengungkapkan gagasan dan kepercayaan diri yang akan menuntun pada keleluasaan berbahasa , kebebasan mengeksplorasi data dan kosakata dalam menulis. Keempat, menjaga kontinuitas dan terus mengasah kemampuan misalnya menulis pada berbagai kegiatan, koran kampus, mengikuti lomba esai, menulis buku bersama atau mengirimkan tulisan pada media .

Mencari Wadah Menulis untuk Calon Pemimpin 

Bisa dibilang, kurangnya wadah untuk menulis bukan lagi menjadi alasan. Saat ini siapapun dapat menulis, dan tulisannya dapat dengan mudah dipublikasikan. Memang dalam sejarahnya, penulis jaman dulu tidak semudah sekarang untuk menulis dalam artian tulisannya bisa dibaca khalayak ramai.

Menurut Ajip Rosidi (sastrawan dan mantan ketua IKAPI), secara garis besar, usaha penerbitan buku di Indonesia dibagi dalam tiga jalur, yaitu usaha penerbitan buku pelajaran, usaha penerbitan buku bacaan umum (termasuk sastra dan hiburan), dan usaha penerbitan buku agama. Pada tahun 1908, lahirlah penerbit Balai Pustaka yang kita kenal hingga saat ini. Sekitar tahun 1950-an, penerbit swasta nasional mulai bermunculan. Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia. Kemudian pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha penerbitan buku nasional. Sejak akhir tahun 1965, subsidi bagi penerbit dihapus. Akibatnya, karena hanya 25% penerbit yang bertahan, situasi perbukuan mengalami kemunduran. Pada masa itu penerbitan buku juga melalui sensor dan persetujuan Kejaksaan Agung.

Sejak pemerintahan Gus Dur, pers mendapatkan kebebasannya dan dunia tulis menulis berkembang pesat. Siapapun berhak mengeluarkan pendapatnya, termasuk dalam bentuk tulisan. Dunia penerbitan pun semakin mudah, kritis dan beragam. Tak hanya melalui penerbit, berbagai situs yang mewadahi tulisan-tulisan lepas seperti Kompasiana dan Blogdetik dapat menjadi sarana seseorang untuk menulis dan langsung dibaca banyak orang tanpa sensor. Kalau menginginkan yang lebih personal, penulis dapat membuat blog pribadi yang telah tersedia secara gratis oleh rumah-rumah blog seperti Multiply atau Blogspot.

Konvergensi dari komputer, telekomunikasi dan media masa membawa perubahan dengan hadirnya hadirnya berbagai media, gaya hidup baru, tantangan berkarir, perubahan regulasi, isu-isu sosial dan kekuatan baru yang dinamis dalam masyarakat. Konvergensi teknologi itu juga membawa perubahan dalam pengertian proses komunikasi yang terkait dengan trend media saat ini. Dengan munculnya jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya, proses komunikasi tidak lagi hanya diprakarsai oleh sumber atau media tapi oleh penerima komunikasi yang berinteraksi sesamanya.

Hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah segi politik, secara garis besar, trend perubahan teknologi, ekonomi dan politik, berimplikasi terhadap trend perkembangan industri majalah, buku dan suratkabar dalam hal produksi, distribusi. Beberapa tahun terakhir produksi buku di Indonesia meningkat dari berbagai genre, begitu beragam. Penerbitan dan distribusi juga semakin mudah. Begitupun dengan perkembangan majalah. Segmentasi beragam mengikut usia, hobi,- hadirnya web ‘zines’, genre: investigasi, digest, majalah berita dan majalah bergambar. Sedangkan untuk suratkabar, saat ini produksi bisa dilakukan dengan komputerisasi dan cetak jarak jauh, juga diramaikan dengan hadirnya edisi internet untuk suratkabar, lebih personal.

Selain itu, seperti dijelaskan Jacob Utama (2001), pers dalam suatu negara akan selalu dipengaruhi oleh pikiran dasar dan orientasi pokok yang sedang berlaku dalam masyarakatnya. Pers Indonesia juga terbawa oleh orientasi pembangunan. Pers tidak hanya melaporkan pembangunan, namun juga diharapkan pendapat dan sumbangan pemikirannya tentang model pembangunan.

Media internet dapat menggabungkan kelebihan media cetak dalam hal ketahanan informasi dan media elektronik yang cepat dalam menyampaikan isi berita. Mengikuti tantangan zaman itulah, kemudian hadir pula versi online beberapa suratkabar seperti Bisnis Indonesia, Kompas, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia, dan Sinar Harapan. Sedangkan untuk majalah online telah hadir Femina, Gatra, Gamma, Cosmopolitan, Tempo dan lain-lain.

Kelompok-kelompok penulis yang kemudian bermunculan menjadi penghubung antara penulis senior dengan penulis-penulis baru. Forum Lingkar Pena adalah salah satunya. Penulis muda, bahkan penulis anak-anak pun banyak meramaikan toko buku dengan buku-buku mereka, misalnya novel teenlit dan buku dari kelompok kecil-kecil punya karya.
Lomba-lomba menulis essay dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta juga merupakan ajang penggodokan kemampuan menulis calon pemimpin. Dalam kegiatan tersebut, luasnya wawasan dan pola pikir diuji. Selain lomba, tentu saja calon pemimpin dapat menulis secara mandiri, melalui blog pribadi, situs media maupun media cetak. Berbagai sarana dan media menulis tersebut di atas selayaknya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang ingin menjadi pemimpin bangsa ini untuk menuangkan pemikirannya, menanamkan pola-pola pembangunan sedari awal, memperkenalkan konsep kebangsaan dari berbagai aspek kehidupan dan dari unsur sekecil-kecilnya. Persiapan menjadi pemimpin bangsa tidaklah singkat dan mudah. Banyak para calon pemimpin yang muncul mendadak menjelang pemilu, sementara rakyat tidak terlalu mengenal sosoknya.

Melalui tulisan, seharusnya calon pemimpin tersebut dapat memperkenalkan dirinya, visi dan misinya kelak. Melalui tulisan juga pemimpin dapat menjalin hubungan yang lebih akrab dengan rakyat.
Sudahkah calon-calon pemimpin kita menulis, dalam bentuk buku, artikel, kolom atau setidaknya dalam blog pribadi yang dapat dibaca oleh masyarakat? Atau, kita berharap dari blogger-blogger muda, novelis, kolumnis dan penulis lainnya yang sekarang ini bermunculan, ada seorang pemimpin berkualitas di masa depan? Semoga.

Daftar Pustaka

http://esqmagazine.com/pendidikan/2010/07/08/rendah-minat-baca-anak-indonesia.html
http://guskar.com/2010/02/07/buku-buku-gus-dur/ www.hsutadi.blogspot.comhttp://htanzil.multiply.com/journal/item/28/Soeharto_Dalam_Dunia_Bukuhttp://id.wikipedia.org/wiki/Bacharuddin_Jusuf_Habibie#Karya_Habibie http://indonesiabuku.com/?p=6439 www.kiki.dagdigdug.com/2009/05/08/miskinnya-budaya-intelektual-mahasiswa/http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/10/105170/19/Budaya-Menulis-Mencegah-Penjiplakan http://wijayalabs.blogdetik.com/2009/02/01/kepemimpinan-sby/ http://yayasanbungkarno.or.idUtama, Jacob. (2001) “Pers Indonesia Berkomunikasi dalam Masyarakat yang Tidak Tulus”. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Tulisan ini meraih juara Harapan 2 kategori Umum
http://forumlingkarpena.net/2010/10/pengumuman-pemenang-lomba-menulis-esai-kepemimpinan-pemuda-dan-penghargaan-penulis-artikel-kepemudaan-kerja-sama-kementerian-pemuda-olahraga-ri-dengan-flp-tahun-2010/


Resensi buku : Energi dalam Perencanaan Pembangunan

Resensi ini dimuat di rubrik perada Koran Jakarta

Judul Buku : Energi dalam Perencanaan Pembangunan
Penulis : Hanan Nugroho
Penerbit : IPB Press
Cetakan : Pertama, Juni 2012
Tebal : 352 halaman ISBN : 978-979-493-417-3
Harga : Rp.69.000,-

Pemerintah dan masyarakat harus selalu memikirkan energi yang semakin kritis. Sebagai sumber daya kehidupan dan mesin penggerak ekonomi, energi yang tersedia tidak sepadan dengan jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar, meski sesungguhnya kekayaan sumber energi melimpah. Indonesia yang luas sering menjadi kendala pemerataan energi. Di sisi lain, ekonomi yang masih terus tumbuh membutuhkan lebih banyak energi.

Buku ini mencoba menggambarkan kompleksitas persoalan energi yang dihadapi Indonesia. Bahasan meliputi persoalan minyak bumi, gas, batu bara, energi perdesaan, konversi energi, regulasi industri energi, energi dan lingkungan, energi internasional,alternatif dan solusi.

Upaya menginformasikan kepada masyarakat dikemukakan lewat judul “Apakah yang menjadi persoalan pada subsidi BBM?” Warga perlu memperoleh hitung-hitungan dampak bila ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) atau penurunan terutama terkait besaran subsidi.

Saat ini, subsidi BBM telah berkembang melampaui kemampuan dan pendapatan ekspor minyak bumi. Untuk mengantisipasi gejolak harga minyak, pemerintah harus segera banting setir kediversifikasi dengan menggunakan energi nonminyak bumi. Karena pusat konsumsi energi paling banyak di pulau Jawa, sementara sumber energi berada di pulai lain, pembangunan infrastruktur energi harus segera diselesaikan. Tinjauan terhadap masalah subsidi BBM, kebergantungan pada minyak bumi, manajemen energi nasional-pembangunan infrastruktur, kritik terhadap subsidi BBM, solusi keluar dari subsidi BBM, dan manajemen energi nasional yang seharusnya dijalankan, dibahas pada bab 2 (halaman 13-60).

Energi kedua yang digunakan Indonesia adalah gas. Pada awal 1990-an, konsumsi gas bumi di Jawa masih kecil yang terpusat di Jawa Barat. Kebutuhan gas meningkat setelah konversi minyak tanah ke gas Elpiji. Pasar gas Indonesia sekarang didominasi PT Pertamina. UU Migas 22 Tahun 2001 dan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan konsumsi gas masyarakat pada 2007 berpotensi mengubah struktur pasar dan pemain dalam industri gas.

Upaya pemerintah ini diharapkan mendorong munculnya badan usaha baru dan menciptakan persaingan yang lebih baik. Pada Bab 3 (halaman 63-142) digambarkan mengenai pengembangan industri hilir gas bumi Indonesia. Ini meliputi rantai industri, struktur, infrastruktur, pelaku industri hilir, model pengembangan industri hilir, serta pengembangan industri hilir beberapa negara maju sebagai pembanding.

Indonesia perlu melakukan gerakan konservasi energi agar tidak boros sebagaimana tertera dalam Instruksi Presiden No 10/2005 mengenai Penghematan Energi. Ini langkah untuk gerakan konservasi energi nasional dengan pilar utama membentuk Pusat Konservasi Energi Nasional dan menyiapkan undang-undang konservasi energi (halaman 181-208).

Perubahan iklim melanda global. Dalam UN Framework Convention on Climate Change tahun 1977 telah dihasilkan kesepakatan internasional untuk menata perubahan iklim global lewat Protokol Kyoto. Pada Bab 8 (halaman 243-268), dibahas konsekuensi Indonesia setelah meratifikasi Protokol Kyoto, terutama terkait penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas bumi) dan implikasi sektor energi.

Energi sering diasosiasikan dengan pemanfaatan teknologi. Tetapi, agar menarik, di sini sengaja dibahas lebih banyak sisi kebijakan dan perencanaan. Buku ini sarat materi, namun dikemas secara sistematis dan menggunakan bahasa populer sehingga mudah dicerna. Buku Energi dalam Perencanaan Pembangunan diharapkan merangsang generasi muda untuk mengeksplorasi permasalahan energi secara lebih lanjut.

Diresensi oleh Murtiyarini, Staf Kependidikan Institut Pertanian Bogor


Cara Hijau Mengatasi Hama Dapur

Anda mungkin akan langsung mengangkat raket elektrik atau mengambil penyemprot serangga begitu melihat seekor kecoa melintas. Tak hanya kecoa, lalat, tikus dan semut memang sedari dulu menjadi ”musuh-musuh” di dapur kita.  Apalagi jika si kecil sering ikut bermain di dapur. Dapur sebagai tempat dengan aktivitas paling tinggi dan lembab menjadi tempat paling sesuai bagi serangga, tikus dan cicak.
            Berbagai merk dan jenis pembasmi serangga dan tikus tersedia di pasaran. Tapi jika  anda ingin cara yang lebih ’hijau’ dan aman untuk anak-anak,  kata kuncinya adalah  ”pengendalian”.
Kecoa
            Kecoa dapat hidup tanpa makanan hingga 40 hari, tapi hanya bertahan seminggu tanpa air. Karena inilah kecoa menyukai di tempat lembab yaitu di sekitar kamar mandi dan WC. Meskipun bisa terbang, tapi kecoa lebih suka berjalan di lantai atau dinding bagian bawah agar mudah menemukan air.
            Tempat tinggalnya yang kotor menjadikan serangga ini sangat menjijikan. Anda tentu jijik membayangkan kalau tungkai-tungkai penuh kuman ini berjalan-jalan di atas makanan. Kecoa lebih suka mencari makan pada malam hari (nokturnal), karena itu jarang terlihat pada siang hari.  Makanan kecoa beragam, mulai dari sampah, lem, kertas, sabun, semir dan tinta.
            Tubuh kecoa pipih,  mudah memasuki celah sempit. Cara ini cukup efektif untuk menghindari pukulan sapu lidi kita. Cara lain untuk mempertahankan diri adalah dengan mengeluarkan cairan bau dari dalam tubuhnya sehingga kadang kita memilih menjauh daripada harus mengejarnya.
            Kecoa menularkan bibit penyakit berasal  tempat-tempat kotor yang menempel pada tungkainya. Pada anak yang sensitif, kecoa dapat menjadi pencetus alergi dan asma.  Zat penyebab alergi berasal dari sekresi, eksresi, bangkai dan serpihan-serpihan tubuhnya. Di Amerika, 1 dari 4 orang sensitif pada kecoa.
Trik sehat :
·     Tutup makanan dan bahan makanan di dapur.
·     Atur sirkulasi udara dan cahaya agar dapur dan kamar mandi tidak terlalu lembab.
·     Rutin membersihkan dapur dan kamar mandi
·     Menutup celah-celah di dinding
Lalat
            Lalat  terbang cepat dan cekatan. Tingkahnya seperti pencuri yang mencicipi semua makanan, tapi sulit untuk ditangkap . Tubuhnya dikelilingi bulu-bulu halus yang peka terhadap desiran angin gerakan tangan kita.
            Lalat yang umum di dalam rumah adalah lalat rumah, lalat hijau dan lalat buah. Lalat rumah yang berwarna hitam. Lalat menyukai aroma makanan yang menyengat, seperti buah-buahan yang matang dan makanan yang mulai membusuk. Karena itu, lalat suka hinggap di tempat sampah. Tungkainya dapat membawa kuman penyakit.  Lalat biasanya terbang rendah dan dekat. Suka hinggap di lantai dan dinding yang rendah.
            Lalat daging berwarna hijau. Suka makan dan bertelur pada daging.  Dalam 2-3 hari, pada sampah daging atau plastik bekas pembungkus daging yang tidak dibuang akan muncul larva lalat (belatung) dan akan menjadi lalat dewasa.
            Jenis lalat yang lain adalah lalat buah.  Ukurannya lebih kecil. Lalat buah mengerumuni buah yang telah matang dan bertelur disana. Tempayak (larva) yang menetas akan memakan bagian dalam buah.  Dengan hinggap dari tempat sampah lalu berpindah ke makanan kita, lalat dapat membawa penyakit diare, typus, disentri, kolera penyakit kulit, E. coli, leprosy, dan polio
Trik sehat :
·         Segera buang sampah terutama jika terdapat makanan yang membusuk. Bersihkan tempat sampah dari sisa sampah yang masih menempel
·         Simpan buah-buahan dalam kulkas atau lemari sehingga tidak tercium baunya. Dengan memutus daur hidup lalat berarti akan mengurangi populasi lalat di dapur.
·         Tutup makanan dan minuman di dapur.
·         Pasang tirai/ kaca pada jendela untuk menghindari masuknya lalat dari luar.
·         Pasang sedotan warna orange yang telah diberi lem dalam gelas dengan posisi tegak. Lalat akan tertarik dan melekat disana.
Semut
            Semut menyukai makanan yang manis. Mereka mudah sekali menemukan makanan manis melalui penciumannya. Dalam beberapa menit, remah makanan yang berserak di lantai  akan segera dikerubuti semut. Semut tinggal dan membentuk terowongan di dalam tembok atau tanah. Seringkali terjadi migrasi besar-besaran menjelang musim hujan.
            Semut sebenarnya tidak menyebarkan penyakit, namun cukup menganggu apabila anak-anak anda bermain di lantai. Gigitan semut dapat menimbulkan rasa gatal yang cukup lama. Semut yang  mengerubuti makanan mengubah makanan menjadi serbuk dalam ukuran partikel kecil sehingga tidak layak untuk dimakan.
Trik sehat :
·         Letakkan mangkuk berisi air pada kaki meja makan untuk menghalangi semut. Air sebaiknya diganti setiap 2 hari agar tidak menjadi tempat berkembangbiaknya namuk.
·         Sapu lantai secara rutin pagi dan sore, atau sesaat setelah si kecil menumpahkan remah-remah biskuitnya.
·         Pel lantai untuk membersihkan sisa makanan dan minuman yang lengket.
Tikus
            Seperti tokoh Jerry dalam kartun “Tom and Jerry”,  tikus memiliki banyak keahlian.Tikus dapat memanjat tembok vertikal dan mengerutkan badan untuk melalui lubang yang lebih kecil dari tubuhnya. Indra penglihatan dan penciuman mereka sangat baik dan berlari cepat untuk menghindari kejaran kucing. Tikus dapat berenang hingga 72 jam, sehingga tidak efektif menjebak tikus dalam air. Tikus selalu menandai lintasannya dengan kencing dan akan selalu melewati rute yang sama.
            Kesalnya, tikus yang giginya terus tumbuh ini gemar sekali menggigit benda-benda di rumah kita seperti kabel, perabot plastik, lemari kayu bahkan kursi besi sekalipun. Bukan hanya untuk dimakan, tapi juga untuk mengasah giginya yang terus memanjang.
            Seekor  tikus dapat melahirkan anak hingga 12 ekor  tiap 3 minggu. Bayangkan dalam  setahun terlahir 150 bayi tikus!
           Tikus sangat berbahaya bagi kesehatan karena menyebarkan berbagai penyakit diantaranya pes,  salmonellosis,  leptospirosis, meningitis oleh  virus lymphocytic coriomengitis, demam lassa, rabies, trikhinosis dan hantavirus (penyebab sakit paru dan gijal). Penyakit ditularkan  melalui kontak langsung dengan urin tikus, ludah dan kotorannya.  Selain itu tikus terus menumpulkan giginya akan merusak perabot rumah dengan gigitannya. Tikus juga sangat pandai mencuri makanan terutama yang beraroma gurih seperti keju dan ikan.
Trik sehat :
·     Memelihara kucing, paling tidak untuk menakuti-nakuti
·     Pasang perangkap tikus ditempat tidak terjangkau anak-anak.
·     Memasang umpan beracun dikuatirkan akan meracuni hewan peliharaan. Selain itu tikus akan mati disembarang tempat yang tidak diketahui bangkainya, namun baunya menyebar kemana-mana.
·     Tutup makanan atau simpan di lemari.
·     Gudang atau tumpukan kardus harus sering diperiksa sehingga tidak dijadikan sarang tikus
·     Ubah posisi interior rumah 2-3 bulan sekali agar  tikus kehilangan orientasi kawasan.
·     Sering mengepel lantai untuk menghapus jejak tikus
·     Buang sampah secara cepat agar tidak jadi makanan tikus.
·     Kurangi rumput dan rimbunan semak di halaman sekitar rumah agar tidak menjadi sarang tikus.
·     Di beberapa toko telah dijual alat penghasil suara ultrasonik dan  gelombang elektromagnetik yang dapat mengusir  tikus.
Cicak
            Cicak tinggal dibalik lemari, di celah atap rumah. Cicak mempunyai bantalan pada kakinya yang memungkinkan mereka menempel di dinding. Kehadiran cicak sebenarnya membantu untuk mengurangi jumlah nyamuk di dalam rumah. Tetapi dalam beberapa hal cicak sangat menganggu.
            Mungkin anda pernah kejatuhan kotoran cicak dari langit-langit rumah, atau  mengenai perabot rumah atau makanan.   Cicak yang sedang gugup sering terpeleset dan terjebak dalam toples gula yang tidak ditutup, blender,  atau kecebur ke dalam gelas.  Cicak dalam keadaan terdesak memutuskan ekornya. Mungkin diantara anda pernah menemukan ekor cicak dalam masakan. Mereka juga suka menyelinap masuk ke dalam lemari baju dan lemari makan
Trik sehat :
·         Tutup gelas, blender, toples, panci dan piring makanan.
·         Sering-sering membersihkan lemari dan perabot rumah lainnya.
·         Tutup celah yang mungkin terdapat di dinding atau lemari.

 


Resto De Leuit

Buitenzorg adalah nama kuno kota Bogor, yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram”. Buitenzorg terletak 54 km dari ibu kota. Jumlah penduduknya lebih banyak di malam hari daripada di siang hari. Sebagian mereka adalah para komuter yang bekerja di Batavia dan berumah tinggal di Buitenzorg. Sesuai namanya, Buitenzorg menjadi kota beristirahat. Dikaruniai alam yang sejuk dan banyak pepohonan, Buitenzorg menjadi tujuan wisata terdekat dari Batavia.

Etnis asli Buitenzorg adalah Sunda. Dalam perkembangan modern, kini Bogor telah dihuni berbagai etnis, diantaranya Jawa dan China. Padanan berbagai etnis ini memperkaya jenis kuliner yang ada di kota Bogor. Perpaduan rasa dari berbagai etnis kuliner dapat ditemukan di restoran “De Leuit”. Restoran ini terletak tak jauh dari pintu tol jagorawi, gerbang kota Bogor.

De leuit berarti Lumbung padi. Leuit ada dua macam, yaitu leuit ageung (besar) dan leuit alit (kecil). Di leuit ageung disimpan padi milik masyarakat satu dusun, sedangkan di leuit alit disimpan padi milik keluarga. Konsep leuit sudah menjadi tradisi adat Sunda secara turun menurun. Dilihat dari kacamata modern, leuit lebih mendekati pada koperasi tradisional, semua incu buyut menyimpan padi di leuit.

Menu yang tersedia resto De leuit sangat bervariasi dari masakan Sunda, China dan Eropa. Dengan rasa yang sangat memanjakan lidah dan harga yang cukup rasional menjadikan resto ini selalu ramai pengujung mulai dari tingkat menengah. Meskipun ramai, daya tampung resto sangat besar. Pengunjung dapat memilih lokasi duduk yang sesuai untuk berbagai keperluan, yaitu duduk lesehan atau duduk di kursi. Resto ini dilengkapi taman bermain dan tempat parkir yang luas.

Menu yang khas dari lumbung padi ini adalah Nasi Jambal, berupa nasi putih yang dikukus dengan bumbu, petai dan ikan jambal. Dalam sepiring menu nasi jambal terdapat lauk-pauk seperti bakwan jagung, tahu yang lembut, krecek oncom, lalap sambel dan pilihan lauk berupa ayam, daging atau ikan balita.

Ikan Balita adalah istilah untuk ikan mas yang dipanen saat masih berusia 30 -45 hari. Normalnya, ikan mas dewasa dipanen pada usia 90 hari atau 3 bulan . Ikan balita yang digoreng garing dan renyah dapat disantap sebagai lauk pauk atau camilan. Di resto ini, ikan balita disajikan bersama nasi, lalapan dan sambal. Sensasi segar khas menu Sunda pun muncul dengan tambahan semangkuk sayur asem .

Resto De leuit memiliki daftar menu yang beragam. Selain nasi jambal, menu andalan lain adalah nasi timbel kasohor, dan nasi rames kahoyong. Jika anda tidak menyukai ikan asin, anda dapat mencoba menu chinese food dan seafood. Anda dapat mencoba ayam saus mentega, ayam saus padang, sapi lada hitam dengan irisan paprika yang menggoda, tumisan baby kalian yang segar dan aneka masakan sapo tahu. Menu ikan tersedia dalam masakan gurame special De leuit, gurame saus Karimata, gurame saus Thailand, atau gurame asam manis yang lezat.

Sepiring udang mayonaise menjadi favorit terutama bagi pengunjung anak-anak karena rasanya yang renyah, empuk , gurih dan manis. Bagi anda pecinta soto, tersedia soto kikil Bogor yang khas. Bumbu soto yang pas dan daging kikil yang bersih dan lembut sangat memanjakan lidah.

Sebagai penutup, anda dapat memilih berbagai minuman unik. Kenapa tidak mencoba es bir kocok? Minuman ini halal karena bebas alkohol, terbuat dari Jahe dan Gula Merah ditambah dengan kayu manis sebagai pewanginya. Atau mencoba es pala yang segar. Konon, minuman es pala ini sudah dinikmati sejak zaman VOC. Bahan dasarnya adalah pala, gula, garam, es batu dan air. Buah pala dipercaya mempunyai khasiat menyegarkan dan menyehatkan badan. Tersedia juga aneka milkshake, juice, dan aneka es seperti es kelapa dan es cendol. Semuanya tersaji dalam komposisi rasa yang pas.

De leuit
(baca : de leyit)
Slogan : Sensasi Nasi Jambal De’Leuit
Jl. Pakuan No.3. Bogor, Jawa Barat 16143
Telp: 0251 – 8390011 Fax: 00251-8390022
Email: de_leuit@yahoo.com

Restoran ini menyajikan menu Sunda, Jawa, Chinese food dan Seafood. Buka pada hari Senin – Minggu, jam 09:30 – 21:30. Kisaran harga untuk makanan Rp 10.000 – Rp 70.000 dan minuman Rp. 2.000 – Rp. 20.000. Kapasitas pengunjung hingga 500 orang. Tersedia dalam 2 lantai dengan model lesehan dan kursi. Fasilitas umum berupa arena bermain, meeting room, mushola, parkir, reservasi, saung lesehan, taman dan Wi-Fi


Resensi buku : TEKNIK AGAR NASKAH DITERIMA PENERBIT

Versi online bisa dilihat di koran jakarta

Judul Buku : When Author Meet Editor
Penulis : Luna Torashyngu dan Donna Widjajanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Mei, 2012 / Cetakan ke 1
ISBN : 978-979-22-8322-8
Tebal : 236 halaman
Harga : Rp. 55.000

Sejak tahun 2005, terjadi ledakan jumlah pengarang buku-buku fiksi di Indonesia. Banyak penulis yang melejit namanya secara mendadak, namun tidak sedikit yang frustasi karena naskahnya ditolak dari penerbit satu ke penerbit yang lain. Karena itu buku-buku tentang teknik menembus penerbit dapat menjadi rujukan bagi para penulis.

Buku When Author Meets Editor merupakan karya kolaborasi antara Luna Torashyngu, pengarang novel teenlit bestseller dengan Donna Widjajanto, editor dari penerbit. Mereka menyajikan rahasia dan fakta dibalik lahirnya buku fiksi dan novel laris. Kolaborasi dari dapur penerbitan ini mengungkap secara terbuka seluk beluk cara menembus penerbit dan hal-hal apa saja yang membuat sebuah naskah ditolak.

Ketidaktahuan pengarang seperti cara mengirimkan naskah ke penerbit, pra syarat yang harus dipenuhi agar naskah diterbitkan, dan berbagai kesalahan sederhana yang membuat naskah langsung ditolak. Dalam buku ini juga dijelaskan tema tulisan yang disukai editor dan pembaca, kunci menjalin hubungan baik dengan editor serta jurus rahasia untuk tetap konsisten berkarya.

Dalam karya fiksi, diperlukan ide – ide liar dari pengarang yang melahirkan rangkaian cerita yang tak biasa dengan ending yang sulit ditebak. Sebuah cerita akan terasa hidup apabila memperhatikan tiga hal penting dalam proses kreatifnya yaitu pemilihan karakter tokoh, setting cerita, dan alur cerita yang tepat. Karakter memegang peranan penting dalam cerita karena membuat cerita lebih hidup. Bahkan karakter yang kuat bisa mengangkat suatu cerita yang tema dan jalan ceritanya biasa saja menjadi menarik. Pengarang yang baik membuat pembacanya mampu membayangkan karakter – karakter dalam ceritanya dengan sangat jelas. Begitu juga dalam penentuan setting waktu dan setting lokasi, diperlukan ide liar agar tidak monoton bagi pembaca. Sedangkan untuk alur cerita, ditentukan oleh kalimat pembuka, alur yang berbeda, ending yang tidak mudah ditebak dan kalimat yang tidak bertele-tele. Langkah-langkah dalam membangun 3 komponen utama ini dijelaskan oleh Luna Torashyngu pada bab 3.

Apa yang terjadi di balik meja redaksi masih menjadi rasa penasaran para pengarang. Pada bab 5, sang editor mulai menceritakan tentang apa saja yang terjadi di balik meja redaksi dan bagaimana editor memperlakukan naskah demi naskah yang jumlahnya bertumpuk-tumpuk. Selain bentuk dan tampilan naskah, tema yang diajukan pengarang sangat menentukan apakah naskah akan dilanjutkan untuk dibaca oleh editor atau tidak. Hal-hal pertama, seperti kalimat pertama, adegan pertama, paragraph pertama, halaman pertama adalah poin krusial yang menyangkut hidup-mati sebuah novel. Kalau yang pertama-pertama ini sukses merebut perhatian editor, maka berita baik untuk pengarang, dalam beberapa bulan novelnya akan berada di toko buku.

Perjalanan sebuah naskah menjadi buku cantik ternyata tidak mudah. Editor sangat berkuasa memberikan kritik di sana-sini dan meminta pengarang untuk melakukan revisi. Pada bab 6-8 buku ini menjelaskan secara detil apa saja yang perlu direvisi dan bagaimana proses revisi itu berlangsung. Pada babak revisi seringkali terjadi permasalahan antara pengarang dan editor. Permasalahan bisa datang dari pihak editor, misalnya editor sok tahu, kurang cermat, atau terlalu kaku, maupun dari pihak pengarang misalnya penulis yang keras kepala tidak mau merevisi naskah, tidak sabar dan sok tahu. Karena itu, keharmonisan antara pengarang dengan editor ini perlu dijaga karena menentukan kerjasama dan produktivitas pada karya-karya selanjutnya.

Pada akhir buku dilampirkan bonus bab-bab asli dari novel best seller : “Mawar Merah : Matahari” yang dihilangkan dari buku jadinya (halaman 143 -232). Bagi yang sudah membaca novel tersebut, bonus ini dapat menghapus rasa penasaran. Disebutkan bahwa pemotongan bagian tersebut karena dirasa tidak perlu berada dalam alur cerita. Namun bagi yang belum membaca novel tersebut, bonus ini hanya akan menjadi penggalan cerita tanpa awal dan akhir.

Dari riset pasar sederhana menunjukkan ternyata banyak sekali buku tentang cara menulis, namun belum ada atau sedikit sekali buku yang menyinggung hubungan pengarang dengan penerbit dan editor. Ternyata, para pengarang dan editor masih punya rasa takut atau enggan satu sama lain. Diantaranya takut naskah yang sedang dikerjakan ternyata tidak berguna, tidak bermakna dan akhirnya tidak laku di pasaran. Tetapi, riset, sesederhana apapun, bisa membantu membukakan sudut pandang baru pada naskah yang sedang kita kerjakan dan membantu mengatasi rasa takut itu.


Usia Enam (Cerita Anda di Majalah Parenting)

Angka enam dalam usia seseorang tidak sepopuler angka tiga belas tanda memasuki usia remaja atau angka tujuh belas tanda memasuki usia dewasa, serta tak mudah diingat seperti sepuluh, dua puluh lima dan lima puluh yang menjadi penanda pada ulang tahun pernikahan. Pada anak – anak, tonggak usia yang populer adalah satu, tiga, lima atau tujuh tahun, dan bukan enam tahun. Siapa menyangka ketika kemudian angka enam menjadi istimewa bagi saya dan Cinta. Pada angka enam di usia Cinta terjadi banyak hal dan peristiwa yang menuliskan titik-titik sejarah perjalanan hidupnya. Saya beberapa kali terkaget karena banyak tonggak tumbuh kembang yang semula saya kira akan terjadi beberapa tahun lagi justru terjadi tahun ini. Bagaimanapun kami harus siap, dan senangnya…ternyata momen-momen berharga itu begitu menyenangkan meskipun awalnya cukup sulit.

Tahun lalu, kelahiran sang adik terjadi saat Cinta berusia 5 tahun, adalah jarak yang ideal menurut saya. Cinta terlihat cukup dewasa untuk memahami kehadiran sang adik dengan segala konsekuensinya. Cinta tidak merasa cemburu, bahkan sangat perhatian dan protektif pada adiknya. Hmmm..kakak yang baik, begitu saya selalu menyebutnya.
Namun kesibukan saya dengan bayi baru agaknya menyita perhatian cukup banyak, sehingga saya melewatkan momen dimana Cinta mulai meninggalkan usia balitanya. Yang ada sekarang saya begitu terkagum-kagum dengan kemandirian Cinta. Dia sudah bisa mandi, memakai baju, makan, atau menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri. Dan wow….saya tidak tau kapan itu mulai terjadi, Cinta sudah bisa membersihkan diri saat pipis dan buang air besar. Sifatnya yang lembut begitu telaten menjaga adik dan mengajaknya bermain, terutama saat saya perlu ke kamar mandi. Dan ketika saya tidur kelelahan, dengan sabar Cinta menunggu saya bangun sebelum minta dibuatkan susu atau makan malam. Jadi, walaupun saya melewatkan momen “selamat tinggal usia balita”, saya mendapatkan gantinya dengan menyaksikan titik tonggak kemandirian Cinta pada usia 6 tahun.

Tahun ini juga menjadi tahun perpisahan Cinta dengan daycare, tempat dia dititipkan sejak usianya masih 3 bulan. Sesuai peraturan daycare bahwa anak yang dititipkan maksimal berusia 6 tahun. Perpisahan juga terjadi antara Cinta dengan taman kanak-kanaknya (kebetulan satu lingkungan dengan daycare) dan tahun ajaran mendatang sudah saatnya masuk SD. Saya sudah menduga Cinta akan mengalami perasaan sedih atas perpisahannya tersebut. Dan yang paling memberatkan adalah perpisahan dengan Bu Ita, gurunya sejak bayi. Bu Ita sudah menjadi mama kedua bagi Cinta.

Pada acara perpisahan, Cinta dan teman-teman kelasnya tampil ke panggung untuk penerimaan ijazah. Tak terbendung air mata Cinta tumpah saat guru kelas menyalaminya. Cinta merangkul erat seakan tak mau lepas. Hadirin terbawa suasana haru. Si bibi dan si mbak, para asisten daycare tersebut ikut berkaca-kaca. Saya yang semula mondar-mandir memotret akhirnya juga ikut menangis. Sementara itu, teman-temannya hanya tercenung memandang. Oh, sayangku…kamu begitu perasa bagai orang dewasa. Kamu baru berusia 6 tahun dan sudah sangat mengerti arti perpisahan ini.

Dibalik panggung tangisnya masih berlanjut, dan sayapun menyusul membesarkan hatinya. Saya memahami Cinta begitu sensitif perasaannya. Cinta mengerti bahwa setelah acara pentas seni pelepasan TK B, maka dia tidak akan belajar lagi dengan bu guru dan teman-teman. Dia akan sangat terpukul dengan perpisahan ini. Meski begitu, saya berusaha tenang, serta menyampaikan bahwa perpisahan ini bukan berarti tidak akan ketemu lagi, hanya saja Cinta harus pindah sekolah. Sewaktu-waktu mau menemui guru – gurunya tentu saja diperbolehkan.

Sebenarnya, beberapa bulan sebelum perpisahan yang mengharukan itu, Cinta sangat senang mengetahui dirinya akan segera menjadi anak SD. Satu jenjang untuk menjadi “orang besar” akan segera sampai padanya. Cinta terlibat dalam proses pemilihan sekolah. Saya membawanya berkeliling ke lingkungan calon-calon sekolah. Pemilihan lingkungan yang aman dan nyaman menjadi penentu utama. Berbagai pertimbangan saya sampaikan kepada Cinta hingga akhirnya kami berhasil memilih salah satu sekolah yang sesuai. Selanjutnya Cinta juga saya libatkan secara aktif dalam persiapan observasi (tes masuk) sekolah, persiapan perlengkapan sekolah, dan persiapan mental terutama mengenai peraturan-peraturan Sekolah Dasar yang berbeda dengan Taman Kanak-Kanak.
Memang tren saat ini mulai bergeser, usia masuk SD tak lagi 7 tahun, banyak anak usia 6 tahun yang telah siap masuk SD. Dan Cinta bangga sekali akan menjadi anak SD. Baginya itu pencapaian yang hebat. Juga bagi saya tentunya…tak terasa, saya sudah mempunyai putri usia sekolah. Saya sadari, dalam tahun-tahun ke depan akan ada romantika baru dalam mendampingi Cinta, si anak sekolah.
Jadi, usia enam bagi Cinta berarti menjadi kakak yang baik, menjadi anak mandiri, berpisah dengan daycare, dan menjadi anak sekolah. Saya pasti akan merindukan masa-masa mengandung, menyusui, dan mengurus balita. But the show must go on, hidup terus berlanjut. Setiap jenjang usia anak-anak saya akan menjadi periode-periode indah dalam hidup saya.

Angka-angka hanyalah penanda usia. Angka enam memang istimewa bagi saya dan Cinta, mungkin angka lain yang menjadi istimewa bagi anda. Berapapun angkanya, keistimewaannya tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya ingin menjadikan setiap tahun memiliki kesan. Kesan indah kalau bisa, dan di atas itu, ada pengalaman yang akan menjadi pelajaran untuk anak-anak saya kelak. Tentang bagaimana mensyukuri tahun demi tahun, dan menggunakan waktu dengan berharga.

“Semoga mama bisa menyaksikan sebanyak mungkin momen bersejarah dalam hidupmu, Cintaku.., semoga kamu mampu membuat pilihan-pilihan tepat dalam hidupmu”


9 Mama Penulis versi Parents Guide

Kaget banget ketika Parentsguide menelpon dan meminta untuk wawancara.  Majalah Parentsguide ingin menampilkan profilku sebagai satu dari sembilan mama penulis.

Saya tanya  kepada redaktur, mba Damayanti Sofyan, “Tau saya darimana mba?” dan jawabnya simpel, “Dari google”
Woow..nggak sia-sia blogging, menyimpan jejak karya  di blog www.asacinta.blogspot.com …thanks internet.

Tentu saja bangga menjadi satu dari sembilan mama penulis versi majalah PG, bersanding dengan penulis-penulis senior : Asma Nadia , Vera Jasini, Rina Susanti  dan banyak nama yg kukenal di FB.

Inilah dia tampilannya, di Majalah Parents Guide edisi Mei 2012

 

 

 

gambar lengkapnya bisa dilihat di http://asacinta.blogspot.com/2012/05/9-mama-penulis-majalah-parents-guide.html 


BUKU BARU : DIARY BUNDA KETIKA BUAH HATI SAKIT

Judul buku : Diary Bunda : Ketika Buah Hati Sakit

Penulis : Kumpulan Ibu-ibu smart

Harga : Rp. 48.000,-

Penerbit : Indie Publishing

Tebal : 378 halaman

Mendapati buah hatinya sakit adalah pengalaman paling menegangkan setiap Bunda. Demam, muntah, pusing,  pilek, batuk,  gatal, terluka… Andaikan  bisa bernegosiasi dengan Tuhan, ingin rasanya memindahkan rasa sakit  Ananda ke tubuh Bunda.

Buku ini memuat pengalaman-pengalaman Bunda  ketika buah hati sakit. Pantas dibaca  para Bunda dan  Ayah.  Pembaca akan terbawa pada situasi menegangkan yang dialami Bunda-bunda, dan ikut mengambil hikmah serta solusi-solusi ketika sakit datang.

Berikut testimoni yang sudah membaca :

“Melihat buah hati sehat  adalah harapan setiap orangtua. Bagaimana ketika buah hati sakit ? Mengharukan, sebagai ibu kita disadarkan untuk memahami informasi seputar kesehatan ” (Haya ALiya Zaki, Farmasis)

“Membaca buku ini seperti diajak untuk menjadi bagian dalam  pengalaman luar biasa. Inspiratif, Reflektif, Menggugah !” Buku yang dahsyat !!  (Deri Rizki Anggraini, Konsultan Gizi)

“Orangtua membutuhkan empati saat buah hati sakit dan mengambil hikmah dari pengalaman orang lain yang bisa menguatkan dalam menghadapi cobaan dan mengambil keputusan” (Ary Nilandari, Penulis)

Teman-teman yang ingin memiliki buku ini, bisa kontak saya di murtiyarini@yahoo.com 

CETAK TERBATAS

 


Dari Balik Meja Kerja

Ketika anda sudah datang di kantor sejak pukul 08.00, merapikan file-file yang sehari sebelumnya masih tercecer, menatap deretan apa saja yang akan anda kerjakan hari ini, dan tentu saja segera menunaikannya, maka pikiran dan tubuh anda mengeluarkan hormon cortisol yang terpacu saat anda merasa harus serius bekerja.  Dengan kata lain, anda mulai stress.

 Apa yang sebaiknya anda lakukan ? STOP aktivitas anda. Sesaat saja.  Tutup mata anda, beri jeda sejenak dari paparan radiasi monitor PC. Kemudian tarik napas dalam-dalam, hembuskan, dan ulangi hingga 3x. Anda merasa lebih baik bukan ?

Lima belas menit saya rasa tidaklah terlalu lama untuk jeda. Anda masih punya waktu untuk mengunjungi situs pribadi anda di web IPB.  Saatnya anda melakukan sesuatu yang beramanfaat bagi kemampuan blogging sekaligus menampilkan siapa diri anda sebenarnya.

Di blog staff IPB inilah anda bebas (dan bertanggungjawab tentunya) untuk menuliskan apa saja yang ada di benak anda, menuangkan ide-ide tertunda, mencatat kerja harian anda, membagi informasi, dan para blogger IPB akan semakin mengenal anda.  Semua dapat anda lakukan hanya dari balik meja kerja.  Menyenangkan sekali !!

Kita pantas berterimakasih kepada IPB, atas fasilitasi blog staff ini.  Tiga hari dalam minggu ini, tepatnya tanggal 21-23 Desember 2011, DKSI mengadakan pelatihan blog untuk seluruh staff IPB yang berminat.  Antusiasme terlihat dari penuhnya kelas setiap sesi pelatihan.

Setiap tahunnya juga IPB menyelenggarakan lomba blog baik dari level mahasiswa, staff, departemen hingga fakultas.  Bravo IPB !!