RSS Feed

‘on Media’ Category

  1. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEDIA ONLINE

    November 9, 2013 by murtiyarini

    Akhir-akhir ini saya lebih banyak waktu untuk membaca media online, karena bisa dibaca dari HP sambil kelonan (dengan anak).
    Di era digital, media online kian populer karena beberapa kelebihannya :

    1. Paperless
    2. Cepat diakses
    3. Ekonomis
    4. Banyak menyediakan ruang publik (citizen jurnalism) sehingga lebih bebas bertukar informasi
    5. Mudah dibagi di jejaring sosial

    Media online ada yg membebaskan penggunanya mengunggah tulisan tanpa moderasi, dikenal denga blog bersama, misalnya kompasiana, blogdetik dll, ada juga yang dengan moderasi dan seleksi, misal media Indonesia (ruang citizen jurnalism), tribun news dll.

    Detik news biasanya menerbitkan berita dengan cepat. Kalau tidak salah di Detik news ada laman suarapembaca.detik.com, menerima opini dan foto.

    Media online bisa menjadi ajang berlatih menulis bagi penulis. Jika masih ragu, bisa dimulai dari surat pembaca, hehehe…itu tahap paling mudah.

    Menulislah dari tema apapun, jangan minder karena tema untuk media online sangat beragam.

    Cara mengirim tulisan ke media online ada dua cara. Pertama bisa melalui email dan kedua dengan posting di situsnya langsung. Kita harus mengunjungi situsnya untuk mendapatkan info detilnya.

    Cara kirim yang posting langsung di situsnya seperti pada kompasiana. Tulisan akan langsung tayang alias nggak ada seleksi. Di kompas cetak sekarang ada rubrik kompasiana, yaitu Kompas Frezz, setiap hari rabu.  Tulisan diambil dari postingan di kompasiana yang terseleksi dan menurut redaksi bagus. Dari kompasiana kita bisa belajar, kalau highlight berarti tulisan bisa mejeng agak lama, kalau headline bisa sebulan dan kesempatan dibaca orang semakin banyak. Kalau kompasiana tidak menyediakan honor. Senengnya, kalau di kompasiana tulisan kita bisa nangkring di headline, artinya tulisan kita banyak dikunjungi pembaca.

    Jikalau ditolak di media online, jangan pernah berputus asa. Ada banyak sekali situs media online. Dioper dan daur ulang saja sampai tulisan itu menemukan jodohnya.



  2. {TIPS MENEMBUS MEDIA] MENENTUKAN IDENTITAS PENULIS

    November 8, 2013 by murtiyarini

    Beberapa kali saya mendapat komentar “Dirimu enak mbak, tiap artikel dimuat ada identitas yang pantas dicantumin dibawah nama penulis, makanya sering dimuat. Lha aku mau nulis apa…masa’ ibu rumah tangga?”

    Hm, memang untuk tulisan non fiksi di media, identitas penulis biasanya dicantumkan di bagian bawah tulisan. Hampir selalu ada, karena memang pembaca pasti mau tau siapa sih penulis? Apa kapasitasnya menulis ini?

     

    Untuk koran-koran besar nasional, kita bisa lihat identitas penulis yang bikin kita langsung mengkerut, contohnya : Guru Besar, Direktur,  Aktivis, Staf Menteri, Anggota Dewan dan lain-lain.

     

    Koran tentu nggak mau sebuah tulisan hanya Omdo (omong doang) atau gagasan kosong, karena itu identitas penulis sangat diperhatikan.

    Jangan ciut dulu, ingat, kita bisa punya banyak peran lo !

     

    Coba kita cari identitas apa yang bisa kita tempelkan pada tulisan kita. Masing-masing tulisan bisa dengan identitas berbeda. Saya gunakan identitas sebagai Ibu untuk artikel parenting, sebagai karyawan untuk artikel perempuan & dunia kerja, sebagai sarjana pertanian utk artikel pertanian & sains, terakhir kemaren saya memberanikan diri menyebut diri “penulis” untuk tulisan tentang bahasa di jawa pos. Yang penting nama tetap sama, identitasnya aja beda. Hehehe

    Bagaimana dengan Blogger ? Wow, sudah jelas bisa banget dijadikan identitas dan membanggakan.

    Jadi sebuah tulisan yang bagus bisa datang dari siapa saja. Kekuatan tulisan di atas ada pada sajian pengalaman hasil eksplorasi lingkungan sekitarnya oleh penulis, jadi identitas yg digunakan sudah sangat tepat. Pengalaman seseorang adalah suatu ilmu/data yang valid .

     

    Identitas ini penting untuk petunjuk redaktur merunut latar belakang kita menulis tema tersebut, apakah mengalami, mempraktekkan atau hanya baca dan menulis ulang. Jadi untuk menyakinkan redaktur bahwa penulis tidak copy paste atau plagiasi.

     

    Juga seperti yg kusebut diatas, menghindarkan gagasan “kosong” yang kadang nggak realistis. Buat redaksi penting, karena mereka juga bertanggung jawab memilih tulisan mana yang layak atau tidak.

    Bisa jadi tema tulisan bagus banget, tapi redaktur ragu dengan kapasitas penulis, akhirnya tulisan ditolak.

    Contoh:

    Identitas Guru SMA , menulis tentang teknik bedah syaraf = kemungkinan besar ditolak

    Identitas Dosen Unibraw, tema : mengatasi gelandangan dan pengemis di Bogor = Apa hubungannya?

    Bisa saja si dosen pernah ke bogor, tapi dia domisili di Malang. Namun identitas ini kurang relevan karena bisa-bisa dibilang “sok tau” oleh pemda Bogor. Mungkin akan lebih dihargai kalo tulisan tentang “pengemis di Bogor” ditulis oleh : Ibu Rumah Tangga di Bogor.

    Hanya saja, redaksi tidak bertanya langsung kepada kita kalau identitas dirasa kurang pas atau kurang lengkap, redaksi hanya punya 2 pilihan : terima atau tolak. Jadi kalau tulisan ditolak, identitas patut kita cek ulang, seperti halnya kelengkapan administrasi yang lain.



  3. DAUR ULANG NASKAH

    November 7, 2013 by murtiyarini

    Pernahkah anda menerima “surat cinta” (penolakan naskah) dari redaksi sebuah media?

    Jika belum, ada 3 kemungkinan:
    1. Naskah akan segera dimuat dalam waktu dekat.
    2. Anda dan Redaksi sama-sama tidak saling mengkonfirmasi nasib naskah tersebut.
    3. Anda belum pernah mengirimkan naskah, hehehe
    Saya pernah menerima surat cinta tersebut.
    Tentu saja langsung patah hati. Tapi tidak lama, sekitar 30 menit saja.
    Selama itu saya mencari-cari peluang kemana sebaiknya naskah kembali ini saya kirimkan?
    Saya memperlakukan setiap tulisan saya dengan istimewa, jadi kalaupun ditolak oleh sebuah media, saya pikir itu hanya sebuah perbedaan selera. Jangan pernah membuang atau menyimpan naskah anda terlalu lama. Segera lakukan daur ulang!!

    Tips melakukan daur ulang
    1.    Baca kembali naskah lama anda, apakah informasi dan ide-ide di dalamnya masih aktual. Jika sudah basi, lakukan perbaikan dan tambahkan informasi terbaru.
    2.    Pastikan kembali apakah naskah itu perlu mengalami perubahan format penulisan atau menurut anda masih oke. Perubahan format bisa terjadi jika anda menyasar media dengan visi misi yang agak jauh berbeda dari media pertama. Dari artikel lama bisa saja anda perlu memecahnya menjadi 2 atau 3 pokok bahasan, dan ini sebenarnya kabar bagus, anda menemukan pengembangan ide baru atas naskah lama anda.
    3.    Lakukan perubahan gaya bahasa sesuai media baru yang akan anda tuju. Perubahan gaya bahasa tidak selalu harus terjadi, kadang kala gaya penulisan kita udah cukup bisa masuk ke beberapa jenis media sekaligus kok.

    Sebagai contoh, saya pernah gagal dalam sebuah antologi. Tulisan tersebut saya daur ulang sedikit, dan kemudian saya kirimkan ke sebuah majalah nasional, dan dimuat tak lama kemudian. Jadi ibu-ibu, perlakukan setiap naskah anda dengan istimewa, carikan tempat terbaik, karena mungkin saja “nasibnya” akan lebih baik setelah mengalami beberapa penolakan. :)

    Lantas bagaimana naskah yang diikutkan dalam event antologi? Antologi itu kumpulan cerita yang ditulis oleh beberapa orang. Dengan mengikuti event antologi setidaknya bisa memancing ide menulis dengan tema-tema yang dilombakan. Bagaimana kalau tidak lolos seleksi alias gagal? Yah dimodif saja. Naskah saya ada yang tidak lolos diseleksi antologi, eh ketika saya modifikasi dan ikutkan lomba lain malah dapat kompensasi yang lumayan besar, jauh dibandingkan hasil audisi antologi hehehe… alhamdulillah ya . Dan daur ulang naskah itu biasanya tidak membutuhkan waktu yang banyak, jadi bisa sambil terus memproduksi tulisan-tulisan baru.

    Jika telah mengirimkan tulisan ke media atau penerbit dalam kurun waktu yang lama, yah minimal 1 bulan lah, sebaiknya minta konfirmasi kejelasan naskah kita kepada yang bersangkutan, apakah diterima, ditolak atau kelupaan dilirik 😀

    Dan kalau mau daur ulang sebaiknya dikonfirmasi dulu, agar tidak dobel tayang. Malahan, saya belum mengirim ke media yang sama kalo tulisan saya yg lama belum jelas nasibnya (ini tidak perlu dicontoh krn mengurangi produktivitas).

    Alasannya, karena saya tidak mau naskahku tercecer atau terlupa. Juga karena saya selalu berpikir bahwa ide-ide saya spesial, sayang kalau tidak jelas nasibnya. Percaya diri saja…

    Semakin rajin menulis, maka semakin banyak file yang akan kita buat. Untuk itu dibutuhkan manajemen folder di komputer kita. Penting bagi kita membuat folder-folder yang rapi, misalnya:
    – Folder tulisan sedang dalam proses pembuatan
    – Folder tulisan yang sudah dikirim tapi belum dimuat (belum ada konfirmasi)
    – Folder tulisan yg sudah dimuat
    – Folder tulisan ditolak dan siap didaur ulang
    Atau judul-judul file lainnya sesuai dengan kebutuhanmu.

    Jadi jika ada naskah yang tertolak. Buat apa patah hati atau patah semangat. Naskah istimewa itu hanya butuh sentuhan daur ulang sedikit, jika ditolak di media A masih ada media B, C sampai Z. Semangaaatt.*



  4. IT’S NOT ALL ABOUT THE MONEY

    November 6, 2013 by murtiyarini

    Pertanyaan sering muncul tentang honor pemuatan di media.

    Ada honor nggak, berapa besaran honornya? Atau dapat apa?

    Lalu membandingkan media satu dengan yang lain. Media nasional umumnya lebih besar daripada media lokal. Media yang banyak iklannya honornya juga lumayan.Tapi ada juga media (nasional) yang tidak selalu memberikan honor, terutama untuk tulisan-tulisan pendek.
    Lantas, apakah anda merasa tidak dihargai tanpa honor?

    Atau memilih media berdasar honor?

    Ini adalah pilihan. Honor adalah hak penulis, hanya saja bentuknya bisa bermacam-macam. Setiap penulis punya kriteria berbeda. Terkait honor, saya pribadi punya urutan prioritas.
    Pertama adalah adanya kesamaan pola pikir media tersebut dengan diri saya. Jika saya suka, nggak dihonorpun nggak masalah. Yang penting ide saya tersampaikan. Kebetulan nggak sering kejadian begini, hampir semua memberi honor. Pernah ada satu media nasional yang tidak memberi honor berupa uang. Pihak media sudah menyampaikan di awal pada saya, bahwa mereka tidak ada space untuk contributor, jadi tidak ada honor. Tapi ketika tulisan yang saya kirim diminta untuk tayang, saya seneng banget dan merupakan suatu kehormatan, so its oke tanpa honor
    Kedua, skala besar kecilnya media. Untuk media nasional, bisa dimuat saja sudah senang, apalagi di honor. Namun, ada rubrik-rubrik tertentu tanpa honor, misalnya rubrik yang meminta opini pendek/testimoni. Tetep saya aktif nulis disana. Kok mau sih tanpa honor? Saya mau karena saya punya tujuan lain, yaitu branding nama, agar semakin sering nama saya dibaca.
    Ketiga, menulis untuk siapa? Jika untuk organisasi yang saya ikuti, atau untuk amal atau demi bisa sebuku dengan teman-teman dalam satu komunitas misalnya, saya rela tidak dihonor. Tapi jika menulis untuk kepentingan seseorang atau satu golongan yang hanya membesarkan nama sepihak, tentu saya menuntut honor yang pantas, hehehe….

     

    Di atas adalah pilihan saya, bagaimana dengan anda?

     

    Berikut beberapa cerita teman-teman saya:

     

    Pengalaman teman saya, Wida Warida mengirim tulisan ke media sejak tahun 2000-an, waktu itu honor biasanya dikirim via wesel dan mencairkannya ke kantor pos. Terus, lucunya lagi, Wida menyimpan struk setiap tulisan yang dimuat. Nah, setelah sekian lama, Wida menemukan kembali struk bersejarah itu dan katanya, berasa gimana gitu…

     

    Anisa Widiyarti sepakat dengan saya. Anisa  sebenarnya tak terlalu masalah dengan besarnya honor. Asalkan media tersebut menghargai karya kita. Kalau memang dimuat, ya berikan honornya. Jujur, Anisa suka dengan kompas group. Mereka langsung mentransfer honor tanpa banyak babibu.

     

    Ya, menurut saya semuanya kembali ke masing-masing pribadi.
    Kalau sejak awal tau itu acara amal, tentu harus siap jika tak dihonor.
    Tapi untuk media, saya benar-benar membuat list siapa saja yang pantas saya kirimi karya.
    Honor menurut saya bukan hanya masalah Rupiah, tapi bagaimana media tersebut menghargai karya kita.

     

    Menurut Bunda Haifa, arti manfaat dalam sebuah tulisan itu relative. Menurutnya, sesungguhnya bermanfaat itu bisa membuat orang berpindah dari titik tidak baik ke mendingan, dari titik mendingan ke titik lebih baik. Sebagaimana arti belajar. Belajar adalah proses membuat orang menjadi lebih baik.

     

    Cerita Pritha K, waktu tahun 2008 blog pribadiku dibukukan. Awalnya menurutku tulisan itu ga penting. Ya iyalah saat orang-orang nulis sesuatu yang smart kayak tips ini dan itu atau novel bergizi eh ini cerita keseharian aku diterbitkan. Tapi saat penjualannya lumayan dan banyak respon yang positif masuk ke emailku, aku baru ngeh ternyata sesuatu yang biasa aja (bahkan sempat bikin ragu) buatku ternyata berarti buat banyak orang.

     

    Menarik bukan? Uang bukan yang utama, tapi penting juga sih… :))



  5. TIPS MENGUBAH KISAH PENGALAMAN PRIBADI MENJADI ARTIKEL

    November 6, 2013 by murtiyarini

    contoh artikel

    Kebetulan, genre tulisan saya lebih mengarah pada artikel.  Saya sering mendapat keluhan tentang sulitnya membuat artikel. Definisi artikel itu apa? Jika ditanya begitu, saya merasa tidak kompeten menjawab tentang teori tulis menulis.  Yang saya tahu, di media ada jenis tulisan pengalaman pribadi dan artikel.

    Sekilas bedanya begini,

    Ciri Pengalaman pribadi :
    -sudut cerita penulis sebagai orang pertama
    -melibatkan orang-orang terdekat penulis dalam bercerita
    -detil menuliskan kronologi atau ditulis berdasar kronologi
    -tulisan panjang, biasanya tanpa sub judul
    -ending terdiri dari satu atau dua solusi yang diterapkan oleh penulis

    Ciri Artikel
    -penulis tidak menyebutkan dirinya sebagai tokoh dalam tulisan
    -tidak ada tokoh dalam tulisan, atau kalaupun ada tidak menonjol ke seseorang
    -kadang kala menyisipkan teori dari pakar
    -tulisan dibagi atas sub judul dan poin-poin tapi tidak selalu urut kronologi
    -ending terdiri atas berbagai solusi yang bisa diterapkan oleh orang banyak

    Buat saya, lebih mudah menulis jika yang ditulis berangkat dari pengalaman pribadi. Tapi karena rambu-rambu yang menurut saya perlu dijaga, saya memilih untuk mengubahnya menjadi artikel.

    Untuk mengubah pengalaman pribadi menjadi artikel saya ambil langkah berikut :

    1. Jadikan cuplikan pengalaman pribadi sebagai prolog yang mengantar pembaca pada isi
    2. Tarik kesimpulan/hikmah dari pengalaman anda, misal 3-4 poin yang kemudian bisa jadi sub judul
    3.  Uraikan kembali sub judul tersebut dengan meminimalkan kata “saya” . Generalisasi pengalaman anda seolah orang kebanyakan mengalaminya
    4. Cari data (tidak harus angka-angka lho) di internet atau wawancara teman-teman untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pendapat dari sudut pandang berbeda. Rangkum dan masukkan dalam sub judul yang sesuai
    5. Untuk mempermanis, cari teori dari tokoh/pakar yang mendukung poin-poin/sub judul anda.
    6. Pada bagian akhir, boleh sedikit beramah tamah dengan pembaca dengan kembali menampilkan kata “saya”

    Itu langkah-langkah saya menulis artikel berdasar pengalaman pribadi. Lama-kelamaan, saya lebih suka menghilangkan kata “saya” dan menulis secara lebih general.

    Berikut adalah contoh artikel dari pengalaman pribadi dan saya lengkapi datanya dengan menanyakan pengalaman teman-teman di facebook.

    http://asacinta.blogspot.com/2011/10/cinta-kedua.html

    Saya tidak terlalu menghiraukan aturan ini-itu yang kadang membatasi karakter menulis kita. Contohnya dalam menulis artikel perjalanan, disini biasanya penulis malah menceritakan pengalaman pribadi. Nah, kalo itu disebut artikel atau pengalaman pribadi? Bingung kan?…hehehe..

    Kisah perjalanan lebih sering disebut artikel, karena walaupun pengalaman pribadi tapi bukan full curhat cerita tentang pribadi penulis, melainkan cerita tentang hal-hal yang sifatnya umum dan orang lain bisa lakukan hal yang sama.

    Selamat menulis.



  6. KORAN TIDAK SERAM

    October 28, 2013 by murtiyarini

    Sebelumnya, koran dianggap “seram”, dalam arti isinya berita politik, hukum dan berita-berita berat yang menyajikan data-data rumit. Dan itu membuat banyak orang enggan memasukan tulisan ke koran.

    Di sini, saya ingin mengajak untuk menaklukkan Koran. Mari kita ubah “mind set” kita terhadap Koran. Koran bukan hanya milik politikus, praktisi hukum, dosen, pengusaha atau ilmuwan. Tapi ingat, Koran juga dibaca masyarakat menengah ke bawah, dan mereka yang putus sekolah. Koran sebagai sarana mencerdaskan bangsa, akan berusaha menjangkau pembaca dari kalangan manapun. Untuk menjangkau itu, jelas bahasa dan materi yang disajikan tentu bukan yang rumit dan berat.

    “Mutu sebuah tulisan bukan pada rumit dan beratnya materi. Namun pada kecerdasan ide solusi, kejelian mengambil kasus dan penyajian yang nyaman untuk dibaca sehingga bisa dipahami lebih banyak orang.”
    (dikutip dari Murtiyarini, 2012) :)

     

    Berkaitan dengan ide cerdas dalam menulis, sebenarnya ide cerdas itu tidak usah dipaksakan untuk dicari. Ia akan terasah kalo sering baca dan mengamati. Yang menurut kita biasa, bisa jadi hebat bagi orang lain. Sekali lagi ingat segmen pembaca koran: semua kalangan. Jadi jangan ada kata minder.

    Sekarang hampir di setiap daerah terdapat koran lokal. Walaupun koran lokal, muatannya tidak selalu lokal banget lho, artinya bisa saja menerima info tentang luar daerah tersebut.

    Konon, koran lokal lebih mudah ditembus.  Oiya, benarkah? Mungkin, asalkan penulis rela di bayar dengan honor minimal.  Hehehe.  Pengalaman saya, lebih mudah menembus koran nasional di banding koran local karena koran nasional mempunyai budget dan space untuk penulis luar.  Sementara koran local, terkait budget, hanya mengandalkan tulisan-tulisan dari wartawannya saja.

    Mengirim naskah ke koran sebaiknya melalui email saja. Koran cepat tayang, redakturnya tidak ada waktu lagi untuk mengetik ulang naskah hard copy.  Redaktur koran memang jarang membalas email. Jadi kalo sudah tempo tertentu tidak dimuat dianggap ditolak.  Misalnya, Jawa Pos secara tertulis member tempo 5 hari. Koran Jakarta 2 minggu. Yang lain nggak menyebutkan, terserah bagaimana kita menafsirkan. Kalau dirasa sudah terlalu lama dan bisa dikirimkan ke media lain ya tarik saja dari media pertama.

    Cara mengirim tulisan ke media melalui email cukup dengan mengirimkan file word (naskah) yang dilampirkan pada email. Badan email hanya berisi pengantar saja.  Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah copy email/surat wajib disimpan penulis utk jaga-jaga jika terjadi sesuatu, misal plagiasi atau double tayang.

    Tips agar tembus media:

    1. Sesuaikan moment-moment tepat yang aktual untuk dituliskan. Misalnya bulan mei ini sarat dgn pendidikan, maka menulis opini atau artikel pendidikan biasanya akan lebih menarik perhatian redaktur koran.  Banyak kok koran-koran lokal atau nasional yang memuat karya penulis pemula. Bagi mereka yang penting tulisannya bagus dan sesuai dengan koran mereka. Jadi tidak perlu kuatir kalah saingan dengan senior.
    2. Liat gaya bahasanya. Tiap koran/majalah, biasanya punya beda-beda gaya bahasa.  Koran tidak banyak variasi gaya bahasanya.  Koran lebih mengutamakan tren berita.
    3. Pelajari rubrik-rubrik yang ada di koran tersebut. Masing-masing rubrik juga ada ciri khasnya tersendiri. Rubrik sains, tentu berbeda dengan rubric jalan-jalan dan lain sebagainya.
    4. Karena koran terbit harian, kita harus cepat tanggap sama berita-berita yang lagi up to date. Jangan terlalu lama berpikir, nanti beritanya terlanjur basi.
    5. Tulis hal-hal yang disukai, dan membiasakan diri menulis dengan bahasa indonesia baku. Selebihnya, tinggal mengikuti kriteria yg ditentukan oleh media masa yg akan di kirimi tulisan.

    Nggak seram lagi kan?



  7. Miliki, Walaupun Hanya Satu dan Bekas !

    October 28, 2013 by murtiyarini

    7 tahun lalu, ketika tulisan saya mulai menyasar media cetak, informasi tentang syarat pengiriman, alamat media, jumlah kata, karakter media dan lain sebagainya belum sebanyak dan semudah saat ini.

    Sebelum menulis saya mempelajari media bersangkutan secara langsung untuk melihat gaya bahasa, menghitung jumlah kata/karakter secara manual, dan kemudian tulisan-tulisan itu saya kirim via pos.

    Sulit menyelami karakter media jika kita tidak memegang, paling tidak, satu eksemplar media tersebut. Karena itu, saya melengkapi koleksi dengan berburu ke tukang loak (biar hemat). Hasilnya lumayan, beberapa majalah bekas dengan tahun terbaru bisa didapat, Selain itu, saya intip-intip di toko buku, walaupun tidak bisa leluasa membaca setidaknya saya mengikuti trend yang sedang berlaku.

     

    Membaca langsung media, saya rasa masih menjadi cara terbaik untuk menyelami gaya penulisan dan tentu saja mempermudah kita membuat tulisan yang sesuai. Ketentuan teknis seperti jumlah kata/karakter hanyalah sebagian kecil dari bagian yang harus kita ketahui. Kadangkala, hal-hal tersebut bisa fleksible, bisa dinegosiasi selama tulisan anda bisa menarik hati redaksi.

     

    Ada bagusnya mengoleksi daftar alamat dan ketentuan pengiriman berbagai media, namun jangan hanya jadi koleksi tanpa gambaran yang jelas. Jadi, milikilah media yang ingin anda sasar, minimal satu eksemplar.

     

    Caranya?

    Nggak ada budget beli baru, ya beli bekas.

    Nggak ketemu beli bekas, ya pinjam sama teman

    Nggak ada teman yang punya, coba deh ke ruang tunggu rumah sakit, dokter atau salon, biasanya tersedia tuh majalah-majalah baru dan lama.

    Asalkan berani minta ijin untuk numpang baca hehehe…

    Usaha anda menentukan hasilnya  :)



  8. Tata Krama Menulis Kisah Pribadi / Kisah Nyata

    October 28, 2013 by murtiyarini

    kisah inspiratif

    Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang menuliskan kisah pribadi dalam bentuk kisah inspiratif.  Pada umumnya, perempuan lebih suka menulis tentang kisah pribadi.  Bisa tentang keluarga, anak, suami, pekerjaan kantor dan tentunya melibatkan pihak-pihak lain selain dirinya sendiri.

    Sebelum memutuskan menulis tentang kisah pribadi, sebaiknya kita renungkan kembali hal-hal berikut

    1. Ibu paling suka menulis tentang anak. Apalagi si anak sedang lucu-lucunya. Kadang-kadang karena terlalu antusias menulis, menulis dan menulis, kita terlalu detil bercerita dan menyentuh hal-hal yang memalukan/menyedihkan dengan dalih INSPIRATIF untuk orang lain. Bayangkan, jika si anak sudah mengerti (kalau tidak sekarang beberapa tahun kemudian), kira-kira apa reaksinya?
    2. Sementara kalau ibu menceritakan hal yang membanggakan, tetaplah mengontrol tulisan, ingatlah juga reaksi pembaca. Mungkin saja ada yang merasa “ihh, lebay, kayak anaknya sendiri aja yang hebat” nah lho..hehehe…
    3. Senada kasusnya dengan anak, ketika kita menceritakan suami, mertua, ibu, dan keluarga besar, harus benar-benar anda pikirkan reaksi mereka dan dampak sesudahnya ketika melihat kisah mereka beredar di masyarakat. Cerita tentang romantisme dengan suami, ijin dulu sama suami, siapa tahu suami hanya ingin berbagi romantismenya dengan anda.
    4. Untuk memenuhi target jumlah halaman yang cukup banyak, seringkali kita mengisinya dengan hal-hal yang terlalu detil. Ingat, pembaca tidak selalu ingin mengetahui detil riwayat hidup penulis. Jadi, kita menulis seperti bercerita pada orang asing yang baru kenal, ceritakan cukup poin-poin penting yang mengarah pada inti cerita. Lebih menarik jika kita memperdalam pemikiran atau filosofi dari tiap poin itu.
    5. Pikirkan sebelum menyebut merk sebuah produk atau nama sebuah instansi dalam tulisan, terlebih jika bernada negatif. Kita boleh berani menyampaikan kebenaran, tapi apakah sudah siap dengan urusan hukum yang mungkin muncul sesudahnya?
    6. Kisah inspiratif dan menyentuh bukan selalu harus melankolis dan mengharukan. Pembaca ada yang suka kisah sedih, tapi ada juga yang justru tidak tersentuh ketika sebuah tulisan terlalu mengiba, minta belas kasihan. Saya pribadi lebih suka cerita orang-orang yang kuat.

    Kaidah-kaidah yang di paparkan bisa menjadi acuan saat kita menuliskan kisah pribadi. Yang terpenting sebenarnya adalah mengantarkan kepada pembaca apa kira-kira hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah itu.  Jaga privacy keluarga, kredibilitas merk/branded, kredibilitas diri sendiri.

    Beda cerita jika kita menuliskan surat keluhan tentang sebuah produk melalui surat pembaca di media massa.  Surat pembaca umumnya meminta klarifikasi dari merk atau perusahaan yang disebut.  Walaupun sifatnya mengeluh atau complain, tetap gunakan bahasa yang santun.

    Jika anda penulis fiksi, menulis kisah nyata nan inspiratif bisa diubah menjadi tokoh-tokoh fiksi. Cara ini lebih aman karena nama asli disamarkan.  Pembaca benar-benar hanya mengambil hikmahnya.

    Namun tampakanya pasar pembaca lebih menyukai kisah nyata, sehingga hal ini mendorong merebaknya penulisan kisah nyata, memoir, profil dan sejenisnya.  Solusinya, penulis dapat menyamarkan hal buruk menjadi sebuah hikmah yang inspiratif.  Apakah hasil tulisan akan kehilangan rasa? Hm, saya pikir ini tergantung kemampuan si penulis dalam menyajikan rasa.

    Jadi, nggak boleh nih menulis menceritakan kisah pribadi?

    Eh, siapa yang melarang? Saya hanya menyampaikan rambu-rambunya. Tidak ada larangan, karena baik buruknya dampak yang akan dituai, sepenuhnya menjadi resiko penulis.

    So, tetap tuliskan kisahmu karena mungkin akan menginspirasi orang-orang disekitarmu.



  9. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEMILIH TEMA BERDASAR TREN MEDIA

    October 12, 2013 by murtiyarini

    Setelah sebelumnya saya  menulis tentang memilih tema sendiri, pada level yang lebih lanjut kita mencoba mengikuti apa ‘mau’nya media. Tentu saja tetap harus memahami kebutuhan media, karakter dan pemilihan waktu yang tepat. Artinya, walaupun temanya bukan kita yang tentukan, yang bukan kita pahami betul, nggak punya latar belakang pendidikan dan pengalaman, tapi kita mencoba menggali info dari berbagai sumber dan menulisnya menjadi artikel cantik. Pada level lanjut kita seperti jurnalis, menulis dengan tema berdasar jadwal yang ditentukan.

    Jika artikel sudah oke, tentukan sasaran kapan artikel sebaiknya dimuat. Kita bisa menyasar waktu pemuatan dengan mengirimkan PALING LAMBAT 2-3 edisi sebelumnya. Untuk media harian, sebaiknya 2-3 hari sebelumnya, tergantung artikelnya mudah basi nggak (kadaluarsa beritanya). Media mingguan 2-3 minggu sebelumnya, media bulanan 2-3 bulan sebelumnya. Memperkirakan waktu tayang ini penting kalau anda ingin tulisan dimuat lebih cepat dan efektif.  Dengan mengirimkan artikel sesuai tema yang akan datang, kemungkinan dimuat lebih besar dan nggak perlu menunggu terlalu lama.

     

    Setiap media punya tren tema yang hampir selalu berulang setiap tahunnya, tentu dengan perkembangan sesuai perkembangan yang ada di masyarakat. Hari-hari penting bisa anda tandai untuk menentukan tema. Misalnya bulan januari-tentang hujan, banjir, penyakit. Bulan april tentang perempuan. Bulan juni-juli seputar pendidikan dan liburan. Bulan agustus seputar nasionalisme, dan banyak lagi.

     

    Dengan menajamkan indera, membaca sekecil apapun fakta, kita akan terbiasa mencari satu celah opini yang unik. Yang kumaksud unik tidak harus nyleneh dan keluar pakem. Bisa juga tentang sesuatu yang baru yang terlewat dari pengamatan orang lain, dan pas kita sampaikan orang akan bilang “Oiya,ya, bener juga”

    Bisa juga tulisan dalam bentuk tanggapan terhadap tulisan orang sebelumnya. Jurnalis menulis berita, nah..kita bikin opini menanggapi berita itu. Cari opini yg belum pernah dimuat sebelumnya. Kategori sebuah tulisan disebut menarik itu relatif ya, namun biasanya opini yang berbeda akan menarik perhatian publik.

    TEMA

    Berikut adalah contoh-contoh  tema sesuai hari :

    8 Maret = women day
    Minggu ke 3 juni = father’s day
    Mei = hari bumi, hari buruh
    des = hari aids, hari ibu, resolusi tahun baru
    1 april – Hari bank dunia
    6 april – hari Nelayan Indonesia
    7 april – hari Kesehatan Internasional
    24 april Hari Angkutan Nasional
    24 april-hari solidaritas asia afrika
    27 april hari permasyarakatan Indonesia
    dan banyak lagi….coba deh search di google.

     



  10. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEMILIH TEMA SESUAI KEINGINAN KITA

    October 9, 2013 by murtiyarini

    mind map

    Memilih tema memang gampang-gampang susah. Kadang-kadang tema yang kita kuasai tidak terlalu popular dan tidak cocok dengan berbagai media yang beredar di sekitar kita. Atau sebaliknya, begitu tema cocok, kita kuasai bahannya, tapi kok tidak dimuat-muat. Jadinya minder dan merasa nggak berisi. Eits, jangan pernah berpikir begitu. Yakin deh, setiap kita punya keahlian masing-masing, yang orang lain belum tentu punya.

    Sebenarnya jumlah media cetak yang saya jajaki juga masih sangat terbatas disbanding banyaknya media yang beredar saat ini.  Hanya saja, kelihatannya saya cukup bisa membidik dalam menentukan kemana tulisan saya harus dikirim, pada saat yang tepat.  Alhamdulillah, persentase keberhasilannya cukup tinggi.

     

    Coba lakukan pemetaan ini, mana yang paling sesuai dengan diri anda. Apakah anda menulis :

    1. DENGAN TEMA SESUAI KEINGINAN SENDIRI ?
    2. DENGAN TEMA SESUAI YANG DIMINTA MEDIA/LOMBA ?

    Pemetaan itu semacam kerangka atau outline. Karena aku bikin artikel, biasanya simpel aja, latar belakang, kasus-kasus, penyelesaian dll. Yang perlu diingat target pembaca, jadi menulis sekaligus membayangkan jadi pembaca, apa yg pembaca perlukan.

    Keduanya bisa dipelajari dan dikuasai dengan baik. Dalam tulisan ini saya akan membahas poin satu, yaitu menulis dengan tema sesuai keinginan sendiri. Apapun ide anda, tulislah! Setelah sebuah artikel selesai anda buat sesuai ide yang anda miliki, giliran memilih media mana yang akan dituju.

    Pertama tentukan media dengan misi yang sesuai dengan tulisan kita. Ini tentu saja setelah anda menjelajahi karakter berbagai media baru bisa menentukan. Kedua, setelah menemukan media yang  sesuai, periksa lagi artikel anda, sudahkah gaya bahasa dan model artikelnya cocok untuk media tersebut. Jika belum cocok, lakukan sedikit perubahan dengan tidak merubah ide artikel. Perubahan ini bisa saja hanya sebatas bahasa, tapi bisa juga melebar, mengarah pada perubahan batas usia dan cakupan pembaca. Silakan lakukan perubahan seperlunya.

    Ada banyak media dengan berbagai karakter. Jelajahi, pahami karakternya dan tentukan pilihan sesuai artikel yang anda tulis. Saya suka nongkrong di kios koran di kampus, beramah-tamah dengan pemiliknya agar bisa intip-intip media disitu. Sesekali beli juga, malu dong numpang baca doang, hihihi…

    Saya menulis apa saja yang ingin ditulis lalu memilih media yang sesuai.  Mengirim untuk koran, kenapa tidak? Menulis untuk koran nggak harus opini yang ‘berat’ kan?  Ada rubric perjalanan, rubric kisah inspiratif, rubric kuliner, rubric parenting dan sebagainya.  Tema pun bisa tentang kisah sehari-hari, keluhan terhadap fasilitas umum, keprihatinan pada kasus tertentu dan lain-lain.  Tinggal bagaimana kita rajin mencari dan mencari informasi media sebanyak mungkin. Nggak dapat Koran edisi cetaknya, coba tanya ke google barangkali ada edisi onlinenya.

    Terkadang opini yang ditulis ada curhat kekesalan. Nah supaya tidak kebablasan caranya bagaimana? Memang seemosi apapun kita menanggapi sesuatu, menulis harus tetep kalem. Boleh tajam tapi cerdas dan elegan. Karena pendapat pembaca tidak selalu sama dengan kita. Menulis dengan emosi justru menjauhkan dukungan pada opini kita.

    Oh ya kayaknya selain tema, diksi juga sangat diperlukan. Diksi itu pilihan kata.  Mari memperbanyak diksi agar menulis semakin mudah. Kadang-kadang kalau kita menulis, sudah berhasil membuat kerangka dan menulis isinya, eh tiba-tiba dari satu paragraf ke paragraf lain kita bingung bagaimana mau menyambungkannya. Nah, jika kita kita kaya diksi, maka urusan membuat “jembatan” dari satu paragraf ke paragraf lainnya akan semakin lancar.



  11. [Tips Menembus Media] : Memulai dari Yang Mudah

    September 28, 2013 by murtiyarini

    Melanjutkan cerita pengalaman pertama menembus media, kali ini masih tentang pengalaman pertama, yaitu pengalaman pertama menulis artikel.

    Setelah sekitar satu tahun menjadi pelanggan majalah Ayahbunda, membaca isinya sampai “ngelotok” dan merasa memahami karakternya, saya lantas berpikir sepertinya sudah saatnya mencoba mengirimkan artikel.
    Tentu saja yang harus diperhatikan (1) tema nya belum pernah dimuat, (2) saya menguasai bahannya, dan (3) cocok dan bermanfaat untuk pembaca Ayahbunda.

     

    Kebetulan pernah belajar tentang pestisida, dan ingin mengaitkan tema pestisida dengan parenting, maka jadilah artikel “Menyiasati Residu Pestisida dalam menu keluarga”
    Sebisa mungkin saya menulis sesuai dengan karakter majalah Ayahbunda, yaitu (1) kalimat singkat-singkat tapi padat, (2) to the poin dan (3) banyak dalam bentuk poin-poin. Tapi perlu diingat, karakter setiap media berbeda-beda.
    Kalau masalah EYD dan tata bahasa saya percayakan pada ilmu bahasa Indonesia yang telah kita pelajari dari SD – SMA. Tidak harus sempurna untuk berani mengirimkannya kan ? Satu artikel saya buat cukup lama, sekitar 2 bulanan hanya untuk 3 halaman A4. Lama, karena artikel ini ilmiah-populer, jadi saya harus bisa MEMPERTANGGUNG JAWABKAN isinya. Saya mencari sumber bacaan yang TERPERCAYA, banyak dari situs-situs universitas luar negeri.

     

    Singkat kata, saya nekat mengirimkan artikel pertama, padahal Ayahbunda tidak dengan terang-terangan mengatakan menerima tulisan dari penulis lepas. Dan hasilnya, 2 minggu kemudian saya ditelpon bahwa artikel saya akan dimuat beberapa edisi ke depan. Wow, cepat sekali responnya ?

     

    Dan ini dia artikel bersejarah tersebut
    http://asacinta.blogspot.com/2008/10/menyiasati-residu-pestisida.html

    Sukses di artikel pertama tidak dengan artikel kedua. Dua hari setelah saya kirimkan, langsung dapat email balasan DITOLAK. Alasannya karena topiknya kurang sesuai untuk pembaca.

    Kegagalan itu kemudian memacu saya mencoba “lahan” lain.
    Masih suka dengan majalah bertema pengasuhan anak, saya berlangganan majalah Parenting, dan suka sekali dengan gaya selingkung majalah ini.
    Tulisan pertama saya di Parenting justru bukan di rubrik Cerita Anda, yg disediakan khusus untuk pembaca. Saya nekat kirim untuk rubrik umum, bertema “Keamanan di Mall”, dimuat kira-kira 6 bulan setelah dikirim. Dari sini saya berkesimpulan bahwa Parenting menerima artikel apa saja sesuai tagline mereka.

    Selanjutnya, beberapa majalah yang suka saya baca saya kirimi email, nanya kemungkinan apakah menerima artikel dari luar. Ini cara mendapatkan kepastian daripada hanya menebak-nebak dan tanya sana-sini. Hasilnya saya tau ada yg menerima ada yang tidak :)

    Selain kirim artikel, saya masih rajin mengirimkan quote/testimoni singkat. Menulis quote gini menurut saya penting untuk menunjukkan kita tetap eksis mengikuti perkembangan majalah tersebut.

    Oya, ketika saya mencoba-coba kirim artikel ke media sekitar tahun 2007, belum ada informasi dari internet seperti sekarang. Modalnya nekat aja, padahal nggak pake kenal “orang dalam” dan masih pemula. Jadi jangan tunggu lama-lama untuk mencoba :)

     

    Saya mencoba menulis sesuatu yang sederhana dan menempatkan diri sebagai pembaca. Anggap pembaca belum paham atau sama sekali baru dengan topik yang kita mau tulis. Jadi pilihan kata yang mudah dan to the point saja.

     

    Saya punya tenggang waktu menunggu pemuatan naskah. Jika naskah sudah lewat 3 bulan dikirim namun tidak ada jawabab, saya langsung ke redaksinya, apa mau dimuat apa enggak. Kalau tidak dimuat mendingan ditarik lagi dan dikirim ke media lain sejenis.  Angka 3 bulan, 2 bulan atau 1 bulan itu terserah masing-masing penulis tergantung kepentingan dan kesabaran :)

     

    di Parenting, kalau naskah udah 3 bulan berlalu, dan ternyata kemudian Parenting akan memuatnya (misal udah 6 bulan sejak dikirim), biasanya akan dikonfirm lagi ke penulis. Redaksi akan nanya apakah tulisan tersebut belum dimuat dimedia lain?

    Salah satu naskah saya sudah 6 bulan belum dimuat. Saat saya tanya ke redaksi X, eh ternyata email tidak mereka terima. Akhirnya saya kirim ulang dan langsung dikonfirm akan dimuat seminggu kemudian. Jadi inilah gunanya menanyakan naskah kita.

     

    Ada tips nih, jika malu bertanya ke redaksi tentang pemuatan naskah, bisa dengan cara mengirim ulang dan pura-pura email sebelumnya tidak sampai ke redaksi.  Menanyakan nasib naskah ke redaksi sebaiknya via email biartidak mengganggu dan redaktur tidak kaget, mendadak ditelpon sementara harus mencari-cari berkas.

    Mencantumkan Sumber Tulisan

    Mengambil sumber dari google boleh nggak ? Search dari google bisa, tapi biasanya tulisan merefer ke suatu situs. Sumber referensi yang paling lemah adalah blog seseorang. Sebaiknya nggak ambil dari blog. Kalo itu blog seorang pakar, lebih bagus wawancara dulu dengan pakar tersebut (bisa via online) jadi kita dapat info dari narasumber orang pertama.

    Informasi sumber /referensi kutulis disertakan di setiap artikel, tapi media nggak selalu mencantumkan semuanya, bisa-bisa setengah halaman sendiri. Media juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab pada isi, jadi penulislah yang bertanggung jawab pada isi artikel.

    Sumber buku atau sumber yang berasal dari google search sebaiknya kita tulis di bagian bawah.

     

    Kita bisa saja menulis tentang apa saja, asalkan bisa mempertanggungjawabkan isinya. Menulis tentang sesuatu hal yang kita pahami akan membuat tulisan lebih hidup. Lebih baik daripada sekedar mengambil dan menulis ulang informasi dari internet.

     



  12. Pengalaman Pertama Menembus Media

    September 21, 2013 by murtiyarini

    Screenshot_2013-09-21-17-14-23-1

    Pengalaman pertama saya menembus media jangan dibayangkan sesuatu yang “wah”. Tahun 2006 saya jingkrak-jingkrak seneng banget saat foto saya dan Cinta (anak pertama) nampang di majalah Ayahbunda dengan cerita yang hanya terdiri dari 3 kalimat. Senengnya minta ampun bisa tampil di media.

    Sejak itu saya jadi rajin mencari rubrik yang memuat testimoni/pengalaman singkat/quote dari pembaca. Karena interestnya tentang parenting, dan sepertinya media parenting tahu keinginan pembaca untuk tampil di majalah, jadi ya klop, banyak lahan untuk mencoba. Sebagian ada honor/hadiah dari sponsor, sebagian hanya nampang saja saya sudah seneng.

    Tujuan saya yang utama sebenarnya mendokumentasikan tumbuh kembang si kecil dengan cara yang menyenangkan dan unik. Kedua, saya bisa semakin mengasah kemampuan menembus media. Walaupun ceritanya pendek, nggak mudah lho terpilih diantara puluhan atau ratusan pembaca yang juga mengirimkan cerita. Disini saya juga mengasah kepekaan, karena tiap media beda karakter, saya jadi tahu bagaimana sih maunya media tersebut. Untuk pemula, nggak ada salahnya mencoba dari sesuatu yang gampang/ringan.

    Sampai saat ini saya masih rajin kirim quote / testimoni. Kebetulan juga masih punya baby yang sayang untuk tidak didokumentasikan tumbuh kembangnya. Motherhood tema yg paling gampang buat saya karena masih mempunyai anak balita dan pra remaja. Sedangkan untuk artikel tergantung artikelnya, Femina, Intisari, majalah kesehatan, asalkan menerima tulisan dari penulis lepas.

    Setiap media mempunyai tema tertentu dalam waktu tertentu. Misalnya bulan desember untuk tema ibu, bulan mei untuk tema buru.  Untuk bisa menembus media, sebaiknya dikirim kira-kira 2 atau 3 edisi sebelumnya. Jadi kalo bulanan ya 2-3 bulan sebelumnya, dan untuk koran koran, 2-3 hari sebelumnya.

    Bagaimana mengetahui tema-tema yang diajukan pihak tabloid.  Tema parenting sepertinya umum sekali buat ibu-ibu yg sedang menikmati romantisme motherhood, kebetulan anak-anak masih kecil jadi itu jadi fokus utama saya saat ini. Saya mencatat hal-hal detil, dan prioritas mengambil yang idenya berbeda. Nah, untuk tahu cerita mana yg unik/beda ini tentu dengan banyak membaca dan membandingkan cerita yang dimuat sebelumnya.

    Yang terpenting adalah memahami karakter media. Misalnya majalah Ayahbunda karakternya lebih banyak info kesehatan ibu hamil-anak usia 5 tahun, lebih membahas hal-hal klinis, sedangkan Parenting, uuntuk mama & anak usia sampai 12 tahun, gaya bahasa seru, misi membuat mama lebih bahagia. Sebaiknya kita membaca terlebih dahulu media yang kita tuju, atau minimal mengetahui ketahui aja taglinenya, Ayahbunda = bacaan pasangan muda, Parenting = yang seru dan berguna buat mama, Parentsguide =Healthy kids, happy familly. (maaf nih, contohnya media parenting semua, kebetulan ini yang ada disekitar meja saya)

    Oh, tulisan lama bisa dimodifikasi. Tulisan yg dulu tersimpan, dimodifikasi dengan menghilangkan keterangan waktu, misalnya tidak menyebutkan umur anak dan tokoh lainnya.  Beberapa penulis parenting saya lihat anaknya sudah besar. Mereka tidak menceritakan anaknya lagi, hanya mengambil pelajaran dari cerita pas anaknya kecil dulu. Ini karena berhubungan dengan range usia pembaca.  Biasanya media mau yang fresh, penulisnya pada usia yang sama dengan pembaca.

    Mulailah menulis dari apa yang kita suka dan kita tahu.   Dan pengalaman adalah guru terbaik. Coba dan coba lagi.



  13. Resensi buku : Energi dalam Perencanaan Pembangunan

    September 26, 2012 by murtiyarini

    Resensi ini dimuat di rubrik perada Koran Jakarta

    Judul Buku : Energi dalam Perencanaan Pembangunan
    Penulis : Hanan Nugroho
    Penerbit : IPB Press
    Cetakan : Pertama, Juni 2012
    Tebal : 352 halaman ISBN : 978-979-493-417-3
    Harga : Rp.69.000,-

    Pemerintah dan masyarakat harus selalu memikirkan energi yang semakin kritis. Sebagai sumber daya kehidupan dan mesin penggerak ekonomi, energi yang tersedia tidak sepadan dengan jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar, meski sesungguhnya kekayaan sumber energi melimpah. Indonesia yang luas sering menjadi kendala pemerataan energi. Di sisi lain, ekonomi yang masih terus tumbuh membutuhkan lebih banyak energi.

    Buku ini mencoba menggambarkan kompleksitas persoalan energi yang dihadapi Indonesia. Bahasan meliputi persoalan minyak bumi, gas, batu bara, energi perdesaan, konversi energi, regulasi industri energi, energi dan lingkungan, energi internasional,alternatif dan solusi.

    Upaya menginformasikan kepada masyarakat dikemukakan lewat judul “Apakah yang menjadi persoalan pada subsidi BBM?” Warga perlu memperoleh hitung-hitungan dampak bila ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) atau penurunan terutama terkait besaran subsidi.

    Saat ini, subsidi BBM telah berkembang melampaui kemampuan dan pendapatan ekspor minyak bumi. Untuk mengantisipasi gejolak harga minyak, pemerintah harus segera banting setir kediversifikasi dengan menggunakan energi nonminyak bumi. Karena pusat konsumsi energi paling banyak di pulau Jawa, sementara sumber energi berada di pulai lain, pembangunan infrastruktur energi harus segera diselesaikan. Tinjauan terhadap masalah subsidi BBM, kebergantungan pada minyak bumi, manajemen energi nasional-pembangunan infrastruktur, kritik terhadap subsidi BBM, solusi keluar dari subsidi BBM, dan manajemen energi nasional yang seharusnya dijalankan, dibahas pada bab 2 (halaman 13-60).

    Energi kedua yang digunakan Indonesia adalah gas. Pada awal 1990-an, konsumsi gas bumi di Jawa masih kecil yang terpusat di Jawa Barat. Kebutuhan gas meningkat setelah konversi minyak tanah ke gas Elpiji. Pasar gas Indonesia sekarang didominasi PT Pertamina. UU Migas 22 Tahun 2001 dan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan konsumsi gas masyarakat pada 2007 berpotensi mengubah struktur pasar dan pemain dalam industri gas.

    Upaya pemerintah ini diharapkan mendorong munculnya badan usaha baru dan menciptakan persaingan yang lebih baik. Pada Bab 3 (halaman 63-142) digambarkan mengenai pengembangan industri hilir gas bumi Indonesia. Ini meliputi rantai industri, struktur, infrastruktur, pelaku industri hilir, model pengembangan industri hilir, serta pengembangan industri hilir beberapa negara maju sebagai pembanding.

    Indonesia perlu melakukan gerakan konservasi energi agar tidak boros sebagaimana tertera dalam Instruksi Presiden No 10/2005 mengenai Penghematan Energi. Ini langkah untuk gerakan konservasi energi nasional dengan pilar utama membentuk Pusat Konservasi Energi Nasional dan menyiapkan undang-undang konservasi energi (halaman 181-208).

    Perubahan iklim melanda global. Dalam UN Framework Convention on Climate Change tahun 1977 telah dihasilkan kesepakatan internasional untuk menata perubahan iklim global lewat Protokol Kyoto. Pada Bab 8 (halaman 243-268), dibahas konsekuensi Indonesia setelah meratifikasi Protokol Kyoto, terutama terkait penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas bumi) dan implikasi sektor energi.

    Energi sering diasosiasikan dengan pemanfaatan teknologi. Tetapi, agar menarik, di sini sengaja dibahas lebih banyak sisi kebijakan dan perencanaan. Buku ini sarat materi, namun dikemas secara sistematis dan menggunakan bahasa populer sehingga mudah dicerna. Buku Energi dalam Perencanaan Pembangunan diharapkan merangsang generasi muda untuk mengeksplorasi permasalahan energi secara lebih lanjut.

    Diresensi oleh Murtiyarini, Staf Kependidikan Institut Pertanian Bogor



  14. Cara Hijau Mengatasi Hama Dapur

    September 26, 2012 by murtiyarini

    Anda mungkin akan langsung mengangkat raket elektrik atau mengambil penyemprot serangga begitu melihat seekor kecoa melintas. Tak hanya kecoa, lalat, tikus dan semut memang sedari dulu menjadi ”musuh-musuh” di dapur kita.  Apalagi jika si kecil sering ikut bermain di dapur. Dapur sebagai tempat dengan aktivitas paling tinggi dan lembab menjadi tempat paling sesuai bagi serangga, tikus dan cicak.
                Berbagai merk dan jenis pembasmi serangga dan tikus tersedia di pasaran. Tapi jika  anda ingin cara yang lebih ’hijau’ dan aman untuk anak-anak,  kata kuncinya adalah  ”pengendalian”.
    Kecoa
                Kecoa dapat hidup tanpa makanan hingga 40 hari, tapi hanya bertahan seminggu tanpa air. Karena inilah kecoa menyukai di tempat lembab yaitu di sekitar kamar mandi dan WC. Meskipun bisa terbang, tapi kecoa lebih suka berjalan di lantai atau dinding bagian bawah agar mudah menemukan air.
                Tempat tinggalnya yang kotor menjadikan serangga ini sangat menjijikan. Anda tentu jijik membayangkan kalau tungkai-tungkai penuh kuman ini berjalan-jalan di atas makanan. Kecoa lebih suka mencari makan pada malam hari (nokturnal), karena itu jarang terlihat pada siang hari.  Makanan kecoa beragam, mulai dari sampah, lem, kertas, sabun, semir dan tinta.
                Tubuh kecoa pipih,  mudah memasuki celah sempit. Cara ini cukup efektif untuk menghindari pukulan sapu lidi kita. Cara lain untuk mempertahankan diri adalah dengan mengeluarkan cairan bau dari dalam tubuhnya sehingga kadang kita memilih menjauh daripada harus mengejarnya.
                Kecoa menularkan bibit penyakit berasal  tempat-tempat kotor yang menempel pada tungkainya. Pada anak yang sensitif, kecoa dapat menjadi pencetus alergi dan asma.  Zat penyebab alergi berasal dari sekresi, eksresi, bangkai dan serpihan-serpihan tubuhnya. Di Amerika, 1 dari 4 orang sensitif pada kecoa.
    Trik sehat :
    ·     Tutup makanan dan bahan makanan di dapur.
    ·     Atur sirkulasi udara dan cahaya agar dapur dan kamar mandi tidak terlalu lembab.
    ·     Rutin membersihkan dapur dan kamar mandi
    ·     Menutup celah-celah di dinding
    Lalat
                Lalat  terbang cepat dan cekatan. Tingkahnya seperti pencuri yang mencicipi semua makanan, tapi sulit untuk ditangkap . Tubuhnya dikelilingi bulu-bulu halus yang peka terhadap desiran angin gerakan tangan kita.
                Lalat yang umum di dalam rumah adalah lalat rumah, lalat hijau dan lalat buah. Lalat rumah yang berwarna hitam. Lalat menyukai aroma makanan yang menyengat, seperti buah-buahan yang matang dan makanan yang mulai membusuk. Karena itu, lalat suka hinggap di tempat sampah. Tungkainya dapat membawa kuman penyakit.  Lalat biasanya terbang rendah dan dekat. Suka hinggap di lantai dan dinding yang rendah.
                Lalat daging berwarna hijau. Suka makan dan bertelur pada daging.  Dalam 2-3 hari, pada sampah daging atau plastik bekas pembungkus daging yang tidak dibuang akan muncul larva lalat (belatung) dan akan menjadi lalat dewasa.
                Jenis lalat yang lain adalah lalat buah.  Ukurannya lebih kecil. Lalat buah mengerumuni buah yang telah matang dan bertelur disana. Tempayak (larva) yang menetas akan memakan bagian dalam buah.  Dengan hinggap dari tempat sampah lalu berpindah ke makanan kita, lalat dapat membawa penyakit diare, typus, disentri, kolera penyakit kulit, E. coli, leprosy, dan polio
    Trik sehat :
    ·         Segera buang sampah terutama jika terdapat makanan yang membusuk. Bersihkan tempat sampah dari sisa sampah yang masih menempel
    ·         Simpan buah-buahan dalam kulkas atau lemari sehingga tidak tercium baunya. Dengan memutus daur hidup lalat berarti akan mengurangi populasi lalat di dapur.
    ·         Tutup makanan dan minuman di dapur.
    ·         Pasang tirai/ kaca pada jendela untuk menghindari masuknya lalat dari luar.
    ·         Pasang sedotan warna orange yang telah diberi lem dalam gelas dengan posisi tegak. Lalat akan tertarik dan melekat disana.
    Semut
                Semut menyukai makanan yang manis. Mereka mudah sekali menemukan makanan manis melalui penciumannya. Dalam beberapa menit, remah makanan yang berserak di lantai  akan segera dikerubuti semut. Semut tinggal dan membentuk terowongan di dalam tembok atau tanah. Seringkali terjadi migrasi besar-besaran menjelang musim hujan.
                Semut sebenarnya tidak menyebarkan penyakit, namun cukup menganggu apabila anak-anak anda bermain di lantai. Gigitan semut dapat menimbulkan rasa gatal yang cukup lama. Semut yang  mengerubuti makanan mengubah makanan menjadi serbuk dalam ukuran partikel kecil sehingga tidak layak untuk dimakan.
    Trik sehat :
    ·         Letakkan mangkuk berisi air pada kaki meja makan untuk menghalangi semut. Air sebaiknya diganti setiap 2 hari agar tidak menjadi tempat berkembangbiaknya namuk.
    ·         Sapu lantai secara rutin pagi dan sore, atau sesaat setelah si kecil menumpahkan remah-remah biskuitnya.
    ·         Pel lantai untuk membersihkan sisa makanan dan minuman yang lengket.
    Tikus
                Seperti tokoh Jerry dalam kartun “Tom and Jerry”,  tikus memiliki banyak keahlian.Tikus dapat memanjat tembok vertikal dan mengerutkan badan untuk melalui lubang yang lebih kecil dari tubuhnya. Indra penglihatan dan penciuman mereka sangat baik dan berlari cepat untuk menghindari kejaran kucing. Tikus dapat berenang hingga 72 jam, sehingga tidak efektif menjebak tikus dalam air. Tikus selalu menandai lintasannya dengan kencing dan akan selalu melewati rute yang sama.
                Kesalnya, tikus yang giginya terus tumbuh ini gemar sekali menggigit benda-benda di rumah kita seperti kabel, perabot plastik, lemari kayu bahkan kursi besi sekalipun. Bukan hanya untuk dimakan, tapi juga untuk mengasah giginya yang terus memanjang.
                Seekor  tikus dapat melahirkan anak hingga 12 ekor  tiap 3 minggu. Bayangkan dalam  setahun terlahir 150 bayi tikus!
               Tikus sangat berbahaya bagi kesehatan karena menyebarkan berbagai penyakit diantaranya pes,  salmonellosis,  leptospirosis, meningitis oleh  virus lymphocytic coriomengitis, demam lassa, rabies, trikhinosis dan hantavirus (penyebab sakit paru dan gijal). Penyakit ditularkan  melalui kontak langsung dengan urin tikus, ludah dan kotorannya.  Selain itu tikus terus menumpulkan giginya akan merusak perabot rumah dengan gigitannya. Tikus juga sangat pandai mencuri makanan terutama yang beraroma gurih seperti keju dan ikan.
    Trik sehat :
    ·     Memelihara kucing, paling tidak untuk menakuti-nakuti
    ·     Pasang perangkap tikus ditempat tidak terjangkau anak-anak.
    ·     Memasang umpan beracun dikuatirkan akan meracuni hewan peliharaan. Selain itu tikus akan mati disembarang tempat yang tidak diketahui bangkainya, namun baunya menyebar kemana-mana.
    ·     Tutup makanan atau simpan di lemari.
    ·     Gudang atau tumpukan kardus harus sering diperiksa sehingga tidak dijadikan sarang tikus
    ·     Ubah posisi interior rumah 2-3 bulan sekali agar  tikus kehilangan orientasi kawasan.
    ·     Sering mengepel lantai untuk menghapus jejak tikus
    ·     Buang sampah secara cepat agar tidak jadi makanan tikus.
    ·     Kurangi rumput dan rimbunan semak di halaman sekitar rumah agar tidak menjadi sarang tikus.
    ·     Di beberapa toko telah dijual alat penghasil suara ultrasonik dan  gelombang elektromagnetik yang dapat mengusir  tikus.
    Cicak
                Cicak tinggal dibalik lemari, di celah atap rumah. Cicak mempunyai bantalan pada kakinya yang memungkinkan mereka menempel di dinding. Kehadiran cicak sebenarnya membantu untuk mengurangi jumlah nyamuk di dalam rumah. Tetapi dalam beberapa hal cicak sangat menganggu.
                Mungkin anda pernah kejatuhan kotoran cicak dari langit-langit rumah, atau  mengenai perabot rumah atau makanan.   Cicak yang sedang gugup sering terpeleset dan terjebak dalam toples gula yang tidak ditutup, blender,  atau kecebur ke dalam gelas.  Cicak dalam keadaan terdesak memutuskan ekornya. Mungkin diantara anda pernah menemukan ekor cicak dalam masakan. Mereka juga suka menyelinap masuk ke dalam lemari baju dan lemari makan
    Trik sehat :
    ·         Tutup gelas, blender, toples, panci dan piring makanan.
    ·         Sering-sering membersihkan lemari dan perabot rumah lainnya.
    ·         Tutup celah yang mungkin terdapat di dinding atau lemari.

     



  15. Resto De Leuit

    September 4, 2012 by murtiyarini

    Buitenzorg adalah nama kuno kota Bogor, yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram”. Buitenzorg terletak 54 km dari ibu kota. Jumlah penduduknya lebih banyak di malam hari daripada di siang hari. Sebagian mereka adalah para komuter yang bekerja di Batavia dan berumah tinggal di Buitenzorg. Sesuai namanya, Buitenzorg menjadi kota beristirahat. Dikaruniai alam yang sejuk dan banyak pepohonan, Buitenzorg menjadi tujuan wisata terdekat dari Batavia.

    Etnis asli Buitenzorg adalah Sunda. Dalam perkembangan modern, kini Bogor telah dihuni berbagai etnis, diantaranya Jawa dan China. Padanan berbagai etnis ini memperkaya jenis kuliner yang ada di kota Bogor. Perpaduan rasa dari berbagai etnis kuliner dapat ditemukan di restoran “De Leuit”. Restoran ini terletak tak jauh dari pintu tol jagorawi, gerbang kota Bogor.

    De leuit berarti Lumbung padi. Leuit ada dua macam, yaitu leuit ageung (besar) dan leuit alit (kecil). Di leuit ageung disimpan padi milik masyarakat satu dusun, sedangkan di leuit alit disimpan padi milik keluarga. Konsep leuit sudah menjadi tradisi adat Sunda secara turun menurun. Dilihat dari kacamata modern, leuit lebih mendekati pada koperasi tradisional, semua incu buyut menyimpan padi di leuit.

    Menu yang tersedia resto De leuit sangat bervariasi dari masakan Sunda, China dan Eropa. Dengan rasa yang sangat memanjakan lidah dan harga yang cukup rasional menjadikan resto ini selalu ramai pengujung mulai dari tingkat menengah. Meskipun ramai, daya tampung resto sangat besar. Pengunjung dapat memilih lokasi duduk yang sesuai untuk berbagai keperluan, yaitu duduk lesehan atau duduk di kursi. Resto ini dilengkapi taman bermain dan tempat parkir yang luas.

    Menu yang khas dari lumbung padi ini adalah Nasi Jambal, berupa nasi putih yang dikukus dengan bumbu, petai dan ikan jambal. Dalam sepiring menu nasi jambal terdapat lauk-pauk seperti bakwan jagung, tahu yang lembut, krecek oncom, lalap sambel dan pilihan lauk berupa ayam, daging atau ikan balita.

    Ikan Balita adalah istilah untuk ikan mas yang dipanen saat masih berusia 30 -45 hari. Normalnya, ikan mas dewasa dipanen pada usia 90 hari atau 3 bulan . Ikan balita yang digoreng garing dan renyah dapat disantap sebagai lauk pauk atau camilan. Di resto ini, ikan balita disajikan bersama nasi, lalapan dan sambal. Sensasi segar khas menu Sunda pun muncul dengan tambahan semangkuk sayur asem .

    Resto De leuit memiliki daftar menu yang beragam. Selain nasi jambal, menu andalan lain adalah nasi timbel kasohor, dan nasi rames kahoyong. Jika anda tidak menyukai ikan asin, anda dapat mencoba menu chinese food dan seafood. Anda dapat mencoba ayam saus mentega, ayam saus padang, sapi lada hitam dengan irisan paprika yang menggoda, tumisan baby kalian yang segar dan aneka masakan sapo tahu. Menu ikan tersedia dalam masakan gurame special De leuit, gurame saus Karimata, gurame saus Thailand, atau gurame asam manis yang lezat.

    Sepiring udang mayonaise menjadi favorit terutama bagi pengunjung anak-anak karena rasanya yang renyah, empuk , gurih dan manis. Bagi anda pecinta soto, tersedia soto kikil Bogor yang khas. Bumbu soto yang pas dan daging kikil yang bersih dan lembut sangat memanjakan lidah.

    Sebagai penutup, anda dapat memilih berbagai minuman unik. Kenapa tidak mencoba es bir kocok? Minuman ini halal karena bebas alkohol, terbuat dari Jahe dan Gula Merah ditambah dengan kayu manis sebagai pewanginya. Atau mencoba es pala yang segar. Konon, minuman es pala ini sudah dinikmati sejak zaman VOC. Bahan dasarnya adalah pala, gula, garam, es batu dan air. Buah pala dipercaya mempunyai khasiat menyegarkan dan menyehatkan badan. Tersedia juga aneka milkshake, juice, dan aneka es seperti es kelapa dan es cendol. Semuanya tersaji dalam komposisi rasa yang pas.

    De leuit
    (baca : de leyit)
    Slogan : Sensasi Nasi Jambal De’Leuit
    Jl. Pakuan No.3. Bogor, Jawa Barat 16143
    Telp: 0251 – 8390011 Fax: 00251-8390022
    Email: de_leuit@yahoo.com

    Restoran ini menyajikan menu Sunda, Jawa, Chinese food dan Seafood. Buka pada hari Senin – Minggu, jam 09:30 – 21:30. Kisaran harga untuk makanan Rp 10.000 – Rp 70.000 dan minuman Rp. 2.000 – Rp. 20.000. Kapasitas pengunjung hingga 500 orang. Tersedia dalam 2 lantai dengan model lesehan dan kursi. Fasilitas umum berupa arena bermain, meeting room, mushola, parkir, reservasi, saung lesehan, taman dan Wi-Fi