Blog Archives

Inspirasi Memasak dari Modena Cooking Clinic

Pernah frustasi karena urusan masak-memasak?

Saya pernah, malah sering. Setiap hari wajib memasak 2x untuk sarapan dan makan malam, kalau dalam seminggu nggak mau berulang menu sama, berarti minimal ada 14 menu untuk dimasak. Belum lagi selera anak-anak, saya dan suami yang berbeda. Otomatis perlu variasi menu lebih banyak.

Makin bingung menentukan menu karena hanya mengandalkan si abang sayur yang delivery ke rumah setiap pagi, pilihan bahannya itu-itu aja. Di tambah lagi, kalau misalnya ada bumbu atau bahan yang lupa belum di beli sementara si abang sayur sudah berlalu, huwaaaa….bisa nangis bombay, hilang mood dan ujung-ujungnya menelepon 140xx untuk makan darurat. Kalau terus-terusan bisa bangkrut dan nggak sehat.

Dengan berbagai alasan di atas, saya langsung mendaftar begitu tahu di fanpage Modena Indonesia membuka kesempatan untuk Modena community mengikuti Cooking Clinic. Sssst, plus tujuan lain, ingin ketemu chef cantik Vania Wibisono sekaligus kopi darat dengan teman-teman komunitas Modena.

(Note: komunitas Modena bukan hanya untuk mereka yang telah memiliki produk Modena, tapi terbuka untuk siapa saja yang ingin sharing tentang urusan masak memasak dan dapur. Kalau mau gabung di sini dan di sini)

Saya datang di showroom Modena, Jl. Satrio Kav c4 Jakarta, kira-kira pukul 13.00. Saya datang bersama mbak Eka Candra Lina, dan di sana saya bertemu dengan mbak Nunung Yuni Anggraini. Seperti biasa, begitu kumpul langsung ngobrol seru dan kamera pun beraksi. Kami berfoto di “dapur” Modena, berharap setelah berfoto bisa ajukan proposal ke suami untuk membelikan aneka home aplliance Modena yang cantik dan kualitasnya oke banget.

Sambil menunggu Chef Vania, kami dijamu kopi dan aneka kue. Me time banget yak? Hehehe..

 Sekitar pukul 14.00 Chef Vania Wibisono datang dan acara masak-masak dimulai. Dari 8 orang yang hadir, kami dibagi 2 kelompok. Saya dan kelompok kebagian memasak masakan Ayam panggang ala Malaysia.  Kelompok berikutnya memasak Mie Rebus Malaysia.

 Namanya juga Cooking Clinic,  jadi saya manfaatkan untuk bertanya beberapa hal terkait masak memasak yang selama ini menjadi kendala. Chef Vania yang ramah menjawab setiap pertanyaan secara jelas, terstrukstur dan komunikatif. Pantas aja beliau naik daun sebagai chef di beberapa TV. Dan terlihat banget Chef Vania sangat memahami teknik memasak yang sehat dan enak.
Chef Vania memberi solusi, jika ada bahan yang tidak lengkap, bisa disubstisusi atau bahkan ditiadakan. Misalnya santan diganti susu kedelai, pasta diganti mie, tidak ada lengkuas jahe pun jadi. Harus berani bereksperimen, yang penting memasak lanjut terus.

Chef Vania sangat healthy cooking minded. Beliau menyarankan untuk menghindari proses penggorengan agar tidak menambah kolesterol dari minyak goreng dalam menu masakan. Makanan bisa dimasak dengan memanggang, merebus atau mengukus. Chef Vania juga menghindari MSG. Untuk anda penggemar mie instant, sebaiknya ambil mienya saja dan dimasak dengan bumbu buatan sendiri yaitu bawang putih, garam dan merica.

Dalam memasak daging sapi atau ayam, disarankan daging segar (bukan dari kulkas) agar rasa daging masih gurih saat dimasak. Kepepetnya, jika kita menggunakan daging kulkasan, sebelum diolah daging dibiarkan dalam suhu kamar hingga es hilang. Memasak daging langsung saat beku dapat mengurangi rasa gurih daging tersebut.


Saya bertanya, kenapa sih kalau memasak ayam kecap tidak bisa hitam meresap sampai ke dalam? Ternyata menurut Chef Vania, sebelum dimasak ayam dilumuri dulu dengan garam, merica dan kecap lalu di kulkas 3-4 jam sehingga terjadi proses marinated (perendaman/penggaraman), yaitu dimana bumbu meresap ke dalam pori-pori ayam. Prinsipnya sama seperi kalau kita luluran, agar nutrisi meresap dan bermanfaat maksimal, harus diiamkan dulu beberapa saat pada kulit sebelum disiram.

Begitu juga saat memanggang daging sapi atau ayam dalam oven. Untuk hasil optimal, oven dipanaskan terlebih dahulu sehingga suhu oven panas merata. Baru kemudian daging yang telah dibumbui dimasukkan ke oven. Tujuannya agar daging matang merata dan bumbu meresap dengan sempurna.

Nah, kalau kita mau membuat ayam goreng crispy ala resto cepat saji, paling sulit membuat tepungnya terasa renyah. Rahasianya, ayam yang telah dilumuri tepung dikulkas dulu selama 3-4 jam. Kemudian langsung digoreng saat beku dalam minyak yang telah panas. Ini demi mendapatkan lapisan tepung yang renyah dan tetap menempel pada ayam.

Hm, sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan. Tapi waktu tidak memungkinkan.  Chef Vania berjanji akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk melalui Modena Indonesia.  Sebagai saran untuk acara Cooking Clinic selanjutnya, peserta mengusulkan tema menu sarapan 15 menit. Cocok untuk ibu-ibu yang super sibuk dan punya sedikit waktu untuk menyiapkan sarapan. Aduh, jadi penasaran ingin datang lagi. Ketagihan deh ikut Cooking Clinic Modena. Semoga lain waktu ada kesempatan.

Menjelang pukul 16.00, acara usai. Masing-masing peserta pulang membawa godiebag berisi tempat makan kedap udara, kaos dan voucer diskon 20% untuk pembelian Modena.

Cooking clinic Modena secara keseluruhan seru, menambah wawasan dan inspiratif. Begitu sampai rumah, langsung semangat memasak dan praktek resep yang tadi dicoba.
Yummy..


BLOGGING AS WOMEN’S POWER

“Laksana Srikandi, kan kulepaskan anak panah ke angkasa. 

Anak panah yang mengobarkan semangat, 

pertanda saatnya pergerakan dimulai. 

Srikandi itu bernama blogger, dan anak panahnya berupa blog “

 

 

 

Sinergisme Perempuan dan Blog

Siapalah saya, seorang perempuan biasa, terbawa rutinitas sebagai ibu, istri dan karyawan. Orang dekat mengenal saya sebagai sosok pendiam. Namun dalam diam saya berpikir, berangan dan bercerita. Ada banyak ide, opini dan kisah yang tertuliskan.

 

 September 2008 saya mulai mengenal blog. Saya membangun sebuah rumah maya www.asacinta.blogspot.com secara autodidak. Sejak itu pula, telah terjadi perubahan besar bagi kegiatan online saya. Blogging membuat aktivitas online lebih dari sekedar kirim-kiriman email. Perlahan namun pasti, blog membangun eksistensi saya di dunia digital. Saya bergerak di dunia maya, namun karya saya aktual.  Blog juga membangun pertemanan dengan teman-teman di dunia maya, namun interaksi yang kita bangun adalah nyata.

 

 Ada metamorfosa karakter  kiriman (post) dalam blog saya. Awalnya blog menjadi sarana berbagi pengalaman seputar pengasuhan anak. Kini  fungsi blog menjadi ganda. Selain untuk berbagi tulisan, saya juga mencatatkan portofolio karya-karya yang telah dimuat di media cetak, media online maupun lomba.

 

Kian kesini kian banyak pengunjung blog. Saya pun terpacu untuk menyajikan tulisan dan tampilan terbaik. Dari kata kunci pencarian saya tahu tema apa yang dicari pembaca dari blog saya.  Dari semua tulisan yang saya buat, rasanya hampir tidak ada yang tanpa tujuan berbagi informasi, semangat dan inspirasi. Pada akhirnya saya merasa, blogging memberikan kekuatan baru. Blogging membuat saya menjadi lebih percaya diri, lebih kreatif, lebih produktif, dan lebih berdaya.

 

 Saya tidak sendiri. Jutaan perempuan di Indonesia,  siapapun dia, baik ibu rumah tangga, anak sekolah, mahasiswa, karyawan, pebisnis, politikus, seniman, penulis ataupun aktivis, juga telah memilih blog sebagai media aktualisasi diri.

 

 Saya melihat sinergisme antara manfaat blog dengan potensi perempuan. Blog mempunyai manfaat sangat besar bagi peradaban manusia era sekarang dan akan datang. Telah banyak diketahui blog bermanfaat untuk berbagi pengalaman, berbagi informasi, promosi produk, personal branding, sebagai catatan portofolio, sumber penghasilan, media berkreasi, media bersosialisasi, dan menyampaikan opini. Di sisi lain, potensi perempuan sangat besar. Daya pikir, ide dan kreatifitasnya tidak kalah dari pria. Perempuan punya kekuatan dalam kelembutannya, manajemen waktu, ketekunan dan kesabaran yang lebih baik dari pria, serta mempunyai kepekaan tinggi akan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Maka sudah sangat tepat apabila perempuan memilih blog sebagai sarana juangnya di era digital ini.

 

Trend akhir-akhir ini blogger menjadi perpanjangan tangan kampanye dan promosi. Di sinilah peran blogger sebagai mass influencer memiliki kekuatan besar untuk menyampaikan suatu pesan.  Bayangkan, jika jutaan perempuan bisa menyampaikan suatu pesan yang baik, memperjuangkan haknya, menyuarakan idenya, membangun pendidikan non formal dari tulisannya , memerangi narkoba, memerangi korupsi dan banyak hal lain melalui blog. Ini akan menjadi kekuatan besar yang dilakukan oleh kaum perempuan.

 

 Blogging Itu Mudah, Siapa Saja Bisa.


Terhitung pada tahun 2011, jumlah blogger Indonesia sebanyak 5.270.658 (i) 

dan dari jumlah itu hanya sepertiganya blogger perempuan (ii).

 

Beberapa kendala penyebab perempuan lebih sedikit melakukan blogging daripada pria antara lain karena merasa gagap teknologi, menganggap konten blog harus sesuatu yang bernilai ‘berat’, merasa bukan penulis sehingga tidak pantas menulis blog, koneksi internet yang buruk dan kesibukannya dalam berbagai multiperan perempuan.  Banyak ibu-ibu yang baru bisa membuka laptop pada tengah malam, saat buah hatinya nyenyak.

 

 Berita baiknya, sebanyak 33% dari total blogger perempuan telah dikaruniai anak (iii).  Ini artinya, walaupun repot dengan urusan keluarga, perempuan tetap menyempatkan diri untuk blogging, dengan kata lain, mereka merasakan manfaat blog sehingga masih berusaha blogging.

 

Seorang kawan pernah datang kepada saya minta diajari membuat blog. Dia mengakui geraknya untuk mengikuti berbagi lomba menulis terhambat karena menulis di blog sebagai persyaratannya. Padahal saya tahu kualitas tulisannya bagus. Menurut pengakuan kawan saya tersebut, dia enggan berurusan dengan template, gadget, link, banner, html dan perangkat blog lainnya.


Lain lagi cerita kawan saya yang mempunyai blog, namun vakum mengisinya. Permasalahannya adalah krisis percaya diri. Menurutnya, tulisannya tidak bagus. Dia juga merasa untuk apa berbagi pengalamannya yang biasa-biasa saja. 


Dari pandangan dua kawan saya tersebut mengenai blog, saya menuliskan status di facebook seperti yang terlihat pada print screen berikut:

 

Saya ingin meyakinkan bahwa tidak perlu menjadi penulis atau fotografer untuk bisa menjadi blogger.  Seperti yang kita temui dalam dunia maya, ada banyak genre blog, sesuai bidang keahlian masing-masing blogger.  Ada blog fashion, kerajinan tangan, cooking, menjahit, toko online, pertanian, pendidikan, fotografi, motivasi, teknik dan lain sebagainya.  Seorang blogger tidak perlu terhambat oleh ejaan yang disempurnakan, kalimat bahasa baku atau desain yang cantik, juga tidak diwajibkan menayangkan foto dari kamera DSLR.  Blogging adalah bentuk aktualisasi dunia digital yang paling merakyat. Pengalaman biasa kita, bisa jadi menjadi berharga bagi orang lain yang membacanya. 


Terlepas dari desain blog saya yang pas-pasan, juga kemampuan teknis yang bisa dibilang masih jauh dari sebutan ‘jagoan ngeblog’ saya beranikan diri untuk menyemangati teman-teman disekitar saya (teman kantor) untuk membuat blog.  Apalagi institusi telah menyediakan blog untuk staff yang berinduk pada blog institusi. Kenapa tidak fasilitas ini digunakan? 


“Blogging itu mudah, blogging itu boleh untuk siapa saja. Nggak percaya? Sini deh kuajari. Sebentar saja pasti bisa.” kata saya pada mereka yang datang “berguru”



KEB dan Srikandi  Blogger


Awal tahun 2012 saya menemukan komunitas blogger dimana saya merasa sangat nyaman tergabung di dalamnya, yaitu  Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Pertemanan dalam grup tidak hanya masalah blogging, namun menjadi pertemanan nyata yang menyenangkan. Dalam grup ini saya merasa leluasa untuk berbagi blog, karena cakupan perempuan sangat sesuai dengan ranah tulisan saya.   Di sini saya menulis dari pemikiran perempuan, untuk dibaca oleh para perempuan.  Walaupun tidak menutup kemungkinan tulisan bisa dibaca oleh kalangan manapun, namun setidaknya pembaca tahu kapasitas saya .


Pada tahun 2013 ini KEB menyelenggarakan ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013.  Yang langsung terbayang dibenak saya sosok Srikandi, seorang perempuan tokoh pewayangan yang dikenal sebagai pejuang tangguh, cerdas, dan cermat membidikkan anak panah.   Jadi, Srikandi Blogger menurut saya adalah seorang blogger perempuan yang mempunyai semangat juang, berkarakter kuat,  cerdas dan berpengetahuan luas.  Srikandi blogger juga harus mampu menjadikan blognya sebagai anak panah yang dilepaskan dari kejauhan dan tepat mengenai sasaran.  Inilah yang membedakan Srikandi Blogger dengan blogger lainnya. Pemilihan Srikandi sebagai penggambaran sosok blogger perempuan menurut saya sangat tepat.

 

Saya, sebagai Srikandi Blogger 2013

 

Blogging, bagi saya berarti menyimpan jejak karya dan berbagi inspirasi.  Blogging adalah bentuk aktualisasi saya di era digital ini.  Keberhasilan saya terukur oleh seberapa luas dan banyak menjangkau pembaca, seberapa kuat bisa menularkan semangat menulis dan blogging, serta seberapa kuat bisa mengajak pembaca dalam pesan yang saya sampaikan.

 

Melihat apa yang saya lakukan dalam 5 tahun terakhir di dunia blogging, melihat kemajuan yang pesat baik frekuensi maupun konten tulisan terutama dalam 2 tahun terakhir ini, serta melihat respon pembaca yang antusias, maka saya memberanikan diri untuk mengikuti ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013. 

 

Saya terpilih termasuk dalam 50 besar Srikandi Blogger 2013. Ini merupakan lonjakan pesat dalam ‘karir’ blogging yang saya tekuni.  Awalnya tujuan saya tidak muluk-muluk, pertama karena terpanggil semangat kompetisi, kedua ingin mengenal lebih dekat kegiatan KEB baik online maupun offline.  Dalam perjalanan waktu, saya semakin menyadari bahwa peran Srikandi Blogger haruslah lebih bermanfaat dan berdampak luas. 

 

Dalam lingkup kecil, saya telah dan akan terus menyampaikan pesan Blogging as Women’s Power.  Saya jadikan blog sebagai contoh wujud kekayaan pemikiran perempuan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ada dua pesan utama yang akan saya usung. Pertama, mengkampanyekan bahwa blogging itu mudah.  Kedua, mengkampanyekan siapa saja boleh ‘ngeblog’.  Harapannya, akan semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk berekspresi melalui blogging. Ini adalah langkah pembuka untuk tahun-tahun selanjutnya guna menggerakkan kekuatan perjuangan yang lebih besar dalam berbagai bidang terkait perempuan. Kolaborasi Srikandi Blogger 2013 bersama Kumpulan Emak-emak Blogger akan membantu terwujudnya blogging as women’s power.

 


Sumber data :

 

 

*)     salingsilang.com Juli 2011 dalam http://giewahyudi.com/media-sosial-indonesia-dalam-statistik/ 

 

 

” target=”_blank”>


Tulisan ini diikutkan dalam seleksi tahap 2 Srikandi Blogger 2013. 

Tulisan tahap 1 bisa dilihat di sini.

 


Gempita Wisuda Institut Pertanian Bogor

Sejak radius 6 km menuju kampus IPB Dramaga, terasa keramaian lalu lintas yang lebih padat dari biasanya. Keanehan lain, di terminal Bubulak tampak mahasiswa-mahasiswi berbusana rapi dan dandan cantik (lebih dari biasanya juga). Ada apa gerangan?

 

Pantas saja, ternyata hari ini diselenggarakan Wisuda Sarjana tahap 4  di Kampus IPB Dramaga.  Disebut tahap 4, mengikuti urutan september, desember, februari,  april, dan juni.  Dalam satu tahun ada 5 kali tahapan wisuda, menyesuaikan dengan jumlah lulusan dan kapasitas Gedung Graha Wisuda IPB.

 

Terlihat keramaian orang. Mereka adalah wisudawan, keluarganya, teman-temannya yang belum lulus, dan yang tak kalah banyak adalah pedagang bunga dan aneka barang di halaman kampus.

 

Pada saat jam istirahat siang tadi, saya berkesempatan untuk cuci mata dan melihat suasana wisuda.  Berikut yang tertangkap oleh kamera tablet-phone saya:

20130424_121153

Keramaian tampak di halaman Gedung Graha Wisuda. Dikejauhan tampak ada yang jualan balon loh. Balon efektif untuk menghibur anak-anak pendamping wisudawan, mengingat situasi panas dan lama menunggu.

20130424_115712

 

20130424_121049-1

 

Momen sejarah ini tak boleh dilewatkan.  Para wisudawan dan pendampingnya berfoto dengan latar ilustrasi rak buku.  Bisnis fotografi sangat laris pada saat itu.

20130424_120804-1

Wisuda identik dengan pemberian bunga.  Biasanya wisudawan mendapatkan bunga-bunga cantik dari temannya. Tapi kok wisudawan satu ini membeli bunga? Oh, mungkin buat temannya sesama wisudawan.

 

20130424_120813

Bunga mawar biru itu bukan hasil pemuliaan tanaman, melainkan hasil pengecatan :)

 
20130424_120931

Para keluarga besar para wisudawan sedang rehat di bawah pohon. Hanya orangtua (2 orang) yang bisa masuk ke dalam gedung GWW, sementara biasanya satu wisudawan diantar oleh beberapa orang keluarga. Mereka tetap antusias karena diliputi rasa bangga bisa mengantar wisudawan.

20130424_114523

Tak hanya bunga, berbagai barang seperti aksesoris, mainan, tas, makanan dan lain sebagainya dijual di halaman GWW. Gempita wisuda tidak hanya dirasakan para wisudawan, namun juga pelaku ekonomi kecil di sekitar kampus.

Jika melihat tren ini, alangkah baiknya jika pedagang pedagang tersebut dialokasikan tempat untuk pameran sehingga tampak lebih rapi.

Sampai jumpa pada wisuda tahap berikutnya !

 

 


Cara Membuat Kode Banner

Kali ini saya akan berbagi catatan tentang cara membuat banner sendiri. Saya baru mencobanya dan berhasil.
Begini caranya lihat kode html dibawah ini!!

  1. Buatlah gambar Banner anda menggunakan software pembuat gambar, misalnya Paint, Adobe Photoshop, Power Point atau yang lainnya terserah anda.
  2. Untuk mendapat URL gambar atau banner anda, bagi pengguna blogger bisa menggunakan fasilitas picasaweb.google.com anda atau mau yang lain. Tapi khusus picasaweb.google.com Caranya setelah anda mengupload sebuah gambar, maka anda klik kanan pada gambar tersebut. Kemudian klik copy image location, itulah url gambar anda.  Saya menempelnya dalam blog pribadi.
  3. Copy kode di atas dua – duanya yang atas dan yang bawah ke kode HTML/JavaScript, beri judul sesuka hati.Pasang Banner di Blog Anda, Buat Koleksi.

<center><a target=”_blank” href=”URL Anda” title=”Nama Blog Anda”><img src=”URL Gambar Banner Anda” alt=”Nama Blog Anda” /></a></center>

<div><form name=”copy”><div align=”center”><input onclick=”javascript:this.form.txt.focus();this.form.txt.select();” type=”button” value=”Tandai Semua Lalu Copy+Paste” /> </div><div align=”center”></div><p align=”center”><textarea style=”WIDTH: 250px; HEIGHT: 50px” name=”txt” rows=”100″ wrap=”VIRTUAL” cols=”55″><center><a target=”_blank” href=”URL Anda” title=”Nama Blog Anda”><img src=”URL Gambar Banner Anda” alt=”Nama Blog Anda” /></a></center></textarea></p></form></div>

  1. Untuk Kata Tandai Semua Lalu Copy+Paste bisa anda ganti sesuai keingingan anda.
  2. Lalu anda dapat mengatur lebar text area dengan mengubah angka di kodeWIDHT, dan HEIGHT untuk ukuran kebawah atau panjangnya.
  3. Tambahan bila anda tidak menginginkan banner berada di tengah bisa anda hapus tulisan center dan ganti dengan keinginan anda.

Contoh banner buatan saya :

 Hope and Love For Future

 Memandang Dari Kampus

 Memandang Dari Kampus


Srikandi Blogger 2013

Pada tahun 2013, ini KEB menyelenggarakan ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013.  Yang langsung terbayang dibenak saya sosok Srikandi, seorang perempuan tokoh pewayangan yang dikenal sebagai pejuang tangguh, cerdas, dan cermat membidikkan anak panah.   Jadi, Srikandi Blogger menurut saya adalah seorang blogger perempuan yang mempunyai semangat juang, berkarakter kuat,  cerdas dan berpengetahuan luas.  Srikandi blogger juga harus mampu menjadikan blognya sebagai anak panah yang dilepaskan dari kejauhan dan tepat mengenai sasaran.  Inilah yang membedakan Srikandi Blogger dengan blogger lainnya. Pemilihan Srikandi sebagai penggambaran sosok blogger perempuan menurut saya sangat tepat.

 

Di era digital ini, blog menjadi sarana perempuan mencatat ide, pikiran, dan kisah inspiratif hidupnya.  Di ulang tahunnya yang pertama Kumpulan Emak Blogger (KEB) mengangkat tema, Aktualitas Perempuan di Era Digital. KEB adalah komunitas yang salah satu tujuan pendiriannya adalah menularkan semangat menulis untuk menghasilkan inspirasi dan karya melalui blog, akan memberikan apresiasi kepada para blogger Perempuan Indonesia dalam ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013.  Di ajang  Srikandi Blogger 2013, para juri akan memilih blogger perempuan yang bisa menyampaikan dan mengaktualisasikan kegiatan atau aktivitasnya secara online maupun offline.

 

Persyaratannya adalah sebagai berikut : Perempuan, usia minimal 20 tahun, terverifikasi di grup KEB, like fan page KEB, dan follow twitter KEB, membuat resume singkat tentang diri pribadi, blog, dan kegiatannya dalam bentuk attachment dan sudah mempunyai blog minimal 2 tahun.

 

Merasa bisa memenuhi persyaratan itu, saya akhirnya mendaftar. Alhamdulillah lolos tahap pertama dan masuk 50 nominator Srikandi Blogger 2013.  Saat ini sedang berjuang untuk bisa masuk dalam 10 Finalis Srikandi Blogger 2013.

 

Untuk itu saya membuat tulisan pada link berikut :

http://asacinta.blogspot.com/2013/04/srikandi-blogger-2013-blogging-as.html

 

Peserta berhasil terpilih sebagai 10 Finalis akan menjalani tahapan wawancara, review, dan tanya jawab dengan juri untuk memperebutkan predikat Srikandi Award 2013, Srikandi Terfavorit 2013, dan Srikandi Persahabatan 2013

Tentunya saya berharap mendapat dukungan dari berbagai pihak dan terpilih.


Positif Hadapi Kritik, Let’s Move on!

 

Yakin, berani menerima kritik ?  

Yakin, bisa kuat dan berlapang dada ?

Jujur saja, rasanya hampir setiap hal dalam diri saya menginginkan kesempurnaan termasuk dalam hal karier. Ketika sebuah kritik terlempar pada saya, artinya ada yang tidak puas dengan kerja saya. Tentu saja hal ini melukai kesempurnaan karier saya.

 

Kritik hadir dalam dua rasa yang berbeda. Ada kritik yang tersampaikan dengan kalimat yang enak didengar,  namun tidak sedikit  kritik yang lebih mirip sebagai ungkapan kekesalan.

 

Kritik banyak berkonotasi negatif karena  mengingatkan sesuatu yang destruktif dan seringkali terkait tentang perasaan negatif antar personal. Kritik mampu membuat seseorang sakit hati karena harga dirinya terusik, juga menyakitkan secara psikologis sehingga fungsi kritik yang sebenarnya tidak efektif.

(gambar dipinjam dari sini)

(gambar dipinjam dari sini)

 

Menerima kritik bukan hal baru bagi pegawai seperti saya. Seperti sudah menjadi kewajaran bahwa pegawai adalah objek dan atasan adalah subyek dari sebuah kritik.

 

Sebuah contoh kritik destruktif adalah jika atasan  berbicara tentang keburukan kita tanpa memberikan solusi dan saran yang jelas.

“Bagaimana anda bisa membuat kesalahan?”

“Apa yang anda pikirkan hingga terjadi sesuatu yang salah?” atau

“Saya sangat menyesal telah mempekerjakan anda.”

“Tolong diingat, kantor tidak mau tahu urusan pribadi yang menyebebkan ketidakhadiran anda!”

 

Mungkin sang atasan  berpikir bahwa kata-kata tersebut akan memotivasi pegawai untuk bekerja lebih keras.  Benarkah tujuan itu tercapai? Bisa jadi, yang terjadi justru adalah kekesalan dan kebencian yang timbul sesudahnya dan kemudian memperburuk kinerja pegawai.

 

Bersyukur, atasan saya tidak begitu.  Saya pernah mendapatkan kritik beberapa bulan yang lalu dari atasan tentang kinerja saya.  Untungnya, kritik yang disampaikan jauh lebih lembut daripada contoh-contoh kalimat diatas.

 

Tetapi tidak bisa saya pungkiri, sehalus apapun bentuk kritik di tempat kerja tetap terasa menyakitkan dan dapat mempengaruhi kehidupan saya dimanapun hingga waktu tertentu.  Langit terasa gelap dan ruangan kian menyempit.  Sebenarnya, itu adalah gambaran yang terjadi pada ruang hati saya.

 

Ditambah lagi omongan rekan-rekan kerja yang ikut menguping mendengar ketika saya mendapatkan kritikan.  Hampir bisa dipastikan, lebih banyak rekan kerja yang bergunjing daripada memberikan dukungan saat saya terpuruk. Ehm, ini situasi yang lazim, bukan?

 

Berita buruknya, saya jadi mewaspadai semua orang. Saya jadi tidak mempercayai siapapun di lingkungan kantor.  Siapa saja bisa menjadi penguping dan pelapor.  Dan tidak bisa dipastikan bahwa setiap laporan akan sesuai dengan kenyataan.  Bumbu-bumbu akan lebih banyak mempengaruhi rasa.  Saya pun menjadi lebih defensive pada setiap pembicaraan. Saya sulit membedakan yang mana teman dan mana yang benar-benar teman.

 

Waktu demi waktu kekecewaan akan berubah menjadi perasaaan tidak sempurna, merasa gagal menjadi pegawai yang baik dan kesal pada si pemberi kritik.  Lantas saya menyadari, penyakit hati ini tidak boleh saya biarkan.

 

Baiklah, saya telah melakukan kesalahan. Selanjutnya apa?

Memilih terpuruk atau bangkit?

Memilih mundur atau melangkah maju?

 

Tenangkan Hati dan Berpikir.

Sesaat setelah kritik mampu mempersempit ruang gerak, saya memilih untuk menarik napas. Melepaskan sedikit beban. Memang hanya sedikit, karena beban sesungguhnya masih ada pada diri ini.  Kritik, bahkan ketika saya mencoba untuk mengabaikannya, hati ini tetap terluka. Tetapi saya memilih melanjutkan hidup dan berpegang pada apa yang saya yakini benar.  Saya harus bisa mengelola kritik menjadi pelecut kesuksesan karir.  Saya harus bisa memberikan umpan balik yang positif.  Jangan biarkan kritik menggagalkan karir dan merenggut kebahagiaan hidup.

 

Saya mencoba mengingat, ada banyak persoalan orang lain yang lebih buruk dari yang saya alami.  Semua orang pernah bersalah, dan banyak diantaranya yang mampu untuk bangkit.  Dengan perbaikan ataupun tetap pada dirinya semula, yang penting hidup terus berjalan sesuai kemampuan.  Setidaknya, inilah yang membuat jiwa saya bertahan pada titik sehat.

 

Ketika saya telah berhasil menenangkan hati, saya kembali ke kantor dengan perasaan yang nyaris tanpa rasa.  Saya biarkan semua berjalan ke arah mana angin akan membawa.  Saya memilih untuk lebih banyak diam dan menunggu.    Saya lebih banyak bekerja dan mengurangi kata-kata.

 

Di sisi lain relung hati, saya hilangkan prasangka-prasangka dan melupakan segala pergunjingan tentang saya.  Toh saya tidak mendengarnya secara utuh dan langsung.  Anggap saja mereka tidak berbicara untuk saya.  Saya meyakinkan diri, mereka akan baik jika mengenal saya lebih baik.

 

Benar saja, tidak semua orang menjadi monster.  Ketika beban dan prasangka berhasil saya atasi, saya mulai bertegur sapa kembali. Kami terlibat perbincangan lebih panjang.  Namun satu rambu-rambu yang saya pegang erat : tidak membicarakan keburukan seseorang ataupun menyebutkan sebuah nama yang mengarah pada pergunjingan yang akan menjadi boomerang bagi saya sendiri.

 

(Gambar dipinjam dari sini)

 

 Dendam Positif = Menjadi Produktif

Entah apakah ini baik atau buruk, yang tersisa dari sebuah kritik adalah dendam untuk membuktikan.  Mudah-mudahan ini dendam yang positif. Saya ingin membuktikan bahwa kritik itu tidak sepenuhnya benar, artinya saya bisa lebih baik.  Setidaknya ada 2 hal positif yang bisa saya ambil, pertama saya menjadi lebih kreatif, produktif dan disiplin. Tentu ini dalam rangka pembuktian bahwa saya bisa lebih baik. Kedua, saya belajar memahami bahwa dunia tidak selalu dipenuhi oleh pujian yang indah, namun juga kritik pedas. Situasi ini kemudian mengajarkan pada saya untuk bisa mengelola hati dan berlapang dada.

 

Membangun kepercayaan memang tidak mudah.  Namun jika saya terus konsisten dengan niat baik dalam 3 bulan usaha ini akan terlihat.  Dan selanjutnya tergantung bagaimana saya konsisten menjaganya.  Sekarang saya merasa sangat baik saat bekerja dan senang pada lingkungan kantor.  Apapun kata mereka, apapun pikiran mereka, saya tidak perlu terlalu ambil pusing.

 

It’s better to move on, right ?

Saya meyakini,  bahwa kunci kesuksesan seseorang adalah dengan berani menerima kenyataan bahwa usaha mereka pernah gagal. Banyak cerita tentang kesuksesan yang diawali oleh kegagalan berulang. Calon orang sukses tahu bahwa dirinya mendapatkan manfaat dari kritik yang mereka terima dalam lingkup kerja.

(gambar dipinjam dari sini)

 

Tulisan ini diikutkan dalam Chic Magazine Blog Competition 2013


Memikat Juri Kompasiana

Baru saja berlalu, Lomba Menulis Anmum Bunda Inspiratif yang diselenggarakan sebuah produk susu Anmum Essential, bekerja sama dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis.  Naluri kompetisi saya langsung terpanggil, apalagi melihat hadiah untuk juara 1 adalah sebuah benda yang saya impikan dalam beberapa bulan terakhir : Samsung Galaxy Note II !!!

 

Sebenarnya, apakah yang membuat tulisan kita bisa menjadi juara? Apakah karena tulisan yang bagus? Lantas ada pertanyaan, tulisan sudah bagus, tapi kok nggak menang? Masalahnya banyak peserta yang tulisannya bagus-bagus, jadi juri bingung memilihnya. Jadi, kata kunci kemenangan adalah bagaimana memikat hati juri agar menjatuhkan pilihan pada tulisan kita.  

 

Karena itu, setiap membaca sebuah pengumuman press release sebuah even lomba, yang menjadi target utama saya adalah bagaimana memikat hati juri.  Kelengkapan persyaratan jelas menjadi syarat administratif yang tidak bisa diganggu gugat.  Setelah itu, saya melihat tema, siapa penyelenggara, dan siapa jurinya. 

19 Maret 2013, saya mendapat undangan dari Fonterra (produsen Anmum) untuk hadir di kantornya di jl. Casablanca Jakarta.  Saya diundang bersama belasan ibu-ibu peserta lomba yang ada di wilayah Jabodetabek.  Agenda utama adalah pengumuman pemenang.  Sebelum pengumuman, Fonterra memberikan presentasi sekilas tentang perusahaan dan produk susu tanpa tambahan gula, Anmum Essential. Sesaat sebelum pengumuman, seluruh undangan diberitahu mekanisme penjurian oleh seorang juri tamu dari Kompasiana, yaitu mas Iskandar Zulkarnaen.

Mata saya langsung melek, telinga kembali mendengarkan, karena memang inilah yang saya cari : apa sih kriteria juri? Mas Iskandar Zulkarnaen memaparkannya poin demi poin apa yang menjadi kriteria juri.  Dan satu persatu, saya merasa kok mendekati tulisan saya ya? jadi GE-ER deh..

 

1. Kesesuaian dengan tema

Penting banget bagi kita untuk bisa membaca maksud dari sebuah tema yang ditentukan oleh penyelenggara.  Dari tema kita membaca arah tujuan penyelenggara.

Anmum menawarkan 3 tema, mengajarkan anak untuk konsentrasi, mengoptimalkan anak untuk konsentrasi dan asupan sehat tanpa gula tambahan. Saya pribadi mempermudahnya dalam 2 kata : konsentrasi dan asupan tanpa gula tambahan. Saat membaca tema yang cukup luas, saya pikir saya tidak perlu tidak perlu mengulas produk terlalu dalam, saya memilih lebih banyak porsi cerita tentang anak sendiri, toh masih dalam cakupan tema. Memilih cerita tidak berarti seluas-luasnya tema kita capai, cukup mengambil satu atau dua poin cerita dan itu yang akan diulas mendalam.

 

2. Orisinalitas dan keunikan ide

Poin ini tampaknya menjadi paling utama di setiap lomba.  Orisinalitas biasanya terlihat dari cara penuturan dan isi.  Karya orisinil lebih banyak memuat pengalaman pribadi, bukan sekedar copy paste atau mengutip dari berbagai sumber.  Jadi kita harus percaya diri dengan ide kita.  Satu kalimat yang saya suka dari mas Iskandar, “Harus berani cari ide yang berbeda. Pilihannya ada dua, kalah sama sekali, atau menjadi juara”

Saat peserta lain kebanyakan memilih cara melatih konsentrasi visual (penglihatan), saya memilih melatih konsentrasi auditori (pendengaran).

Dan apakah ibu-ibu peserta membaca detil kriteria di pengumuman lomba berikut : Orisinalitas, kreativitas, eksplorasi ide dalam membuat artikel sesuai dengan ruang lingkup yang ada

Seberapa detil? Saya menyoroti bagian akhir kalimat, “sesuai dengan ruang lingkup yang ada.”  Dari situ saya ketahui bahwa juri tidak menginginkan tulisan ilmiah atau materi berat diluar kapasitas kita sebagai ibu.  Jadi, saya merasa tidak perlu mencari sumber data atau literatur terlalu banyak. Di samping memang panjang tulisan sangat dibatasi.

 

3. Keutuhan Tulisan dan Kedalaman Pesan

Saat memberi penilaian, juri tidak menilai pada awal, tengah atau akhir tulisan.  Juri menilai pada keseluruhan tulisan, membaca dari awal sampai akhir baru memberi penilaian.  Kira-kira, pesan apa yang ingin disampaikan harus jelas, harus ada benang merahnya.  

Tema utama yang ingin saya sampaikan adalah melatih konsentrasi pendengaran.  Namun satu pesan lain yang saya sampaikan dalam judul, kalimat tengah dan kalimat penutup adalah : Perhatian orangtua adalah faktor utama melatih konsentrasi !

 

4. Sembunyikan Promosi

Tulisan yang diharapkan Juri ternyata adalah promosi yang tidak kelihatan ! Caranya, buat tulisan yang natural sesuai pengalaman. Jangan terlalu sering menyebut merk atau terkesan mempromosikan merk tersebut.  Fokus pada cerita anda, jangan fokus pada produk.

Saya hanya satu kali menyebutkan merk produk, itupun tidak mengulasnya, dan tidak mengajak pembaca untuk mengkonsumsinya :

… Sebentar lagi saya menyapih Asa. Karena terbiasa dengan ASI yang tidak manis, kebiasaan ini akan diteruskan dengan mengkonsumsi susu tanpa gula tambahan.  Saat bergabung di Anmum Club dan situs Anmum, saya mendapatkan inspirasi dari para bunda tentang pilihan susu.  Untuk anak seumur Asa, banyak bunda yang telah memilih Anmum Essential 3.

Adakah kalimat anak saya meminum susu? Atau saya membeli susunya?

 

5. Perhatikan Psikologi Pembaca Online

Pembaca online, apalagi yang awam pada topik tersebut, biasanya mudah bosan jika membaca tulisan yang terlalu panjang.  Karena itu, untuk lomba menulis blog, biasanya panjang tulisan dibatasi.  Tulisan yang baik tidak selalu menyisipkan kata-kata sulit, kata-kata dalam bahasa Inggris diusahakan mencari padan katanya sehingga membuat pembaca nyaman.

 

6. Deskripsikan dengan Detil

Buat pembaca merasakan apa yang anda tulis dengan menceritakan kejadian secara detil. Visualkan dalam tulisan anda sehingga pembaca mengerti.  Dengan panjang tulisan yang dibatasi, membuat tulisan dengan detil menjadi tantangan.  Akhirnya, kita dituntut mengutamakan kalimat penting dan membuang kalimat tidak penting.

Saya membagi beberapa poin cerita dalam paragrap-paragrap yang masing-masing menceritakan cara melatih konsentrasi.  Konon, juri lebih menyukai bentuk paragrap karena lebih mengalir daripada poin-poin atau penomoran.

 

7. Beri sentuhan akhir  Akhir tulisan menentukan bagaimana pembaca menangkap pesan anda.   Jika penutup menggantung pembaca mungkin akan bingung. Penutup dapat berupa kalimat ajakan, kalimat positif, atau kalimat bertanya yang memancing rasa pembaca.  Misalnya, “ini pendapat saya, bagaimana dengan anda?”

Biasanya saya mengakhiri tulisan dengan harapan atau perenungan.  Seperti dalam kalimat ini :

Jadi, kalau pandai berbahasa begini, kira-kira kelak Asa mau jadi apa ya? Presenter ? Dosen? Penulis bestseller? Atau dokter yang ramah? Jalan masih panjang. Sekarang, yang pasti ketika Asa memanggil “Lihat Ma, Dengar Ma!” saya harus siap menjadi teman bicaranya.

 

8. Kurangi Foto Narsis

Foto adalah penunjang tulisan dalam blog yang sangat penting, tapi jangan narsis ! Misalnya ingin menceritkan tentang tempat wisata, tidak harus selalu ada foto penulis menghadap kamera.  Foto kegiatan anak juga tidak harus tampak wajah anak. Ambil foto senatural mungkin.

Kebetulan sekali, saya jarang foto sendiri atau memotret anak tampak depan.  Untuk foto produk yang menjadi persyaratan lomba, kali ini saya kreasikan dengan sebuah agenda yang tidak kalah menarik perhatian yang melihatnya. Saya berharap pembaca lebih fokus pada foto agenda.

 

Demikian sebagian yang saya tangkap dari penuturan mas Iskandar. Pada akhir penjelasan beliau saya tanyakan, apakah kriteria tersebut berlaku untuk kompetisi blog di Kompasiana ? 

“Tergantung siapa juri dan penyelenggaranya” katanya sambil tertawa.

 

dan ternyata, feeling saya benar…horeeee…


IIDN dan Bukuku

Saya lupa kapan tepatnya masuk dalam sebuah grup facebook yang semua anggotanya adalah ibu-ibu yang suka menulis. Grup itu bernama Ibu-ibu Doyan Nulis, kemudian populer dengan sebutan IIDN. Saat saya masuk kira-kira akhir tahun 2011, anggotanya masih kurang dari 1000 orang. Hingga tulisan ini saya tulis, anggota telah mencapai 6000 orang. Perkembangan yang pesat ini tentunya karena IIDN mampu menjawab kebutuhan ibu-ibu yang ternyata mempunyai potensi untuk menulis.

Ini dia visi dan misi IIDN :

Visi: Mencerdaskan Perempuan Indonesia

Misi:
Menerbitkan minimal 1 buku untuk setiap anggota IIDN
Meningkatkan produktifitas anggota di berbagai media di Indonesia
Meningkatkan kemampuan anggota dalam bidang penulisan
Mempererat kolaborasi positif antar anggota di berbagai bidang

Untuk wilayah Bogor, saya bergabung di IIDN Jabodetabek.

 

Singkat cerita, jumlah request teman facebook saya meningkat pesat sejak gabung grup ini. Mungkin karena saya sering kirim-kirim postingan iseng dan ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu sesama member. Dari obrolan di grup lanjut ke chat dan inbox pribadi. Tak jarang saya sering dapat sapaan tengah malam “Online terus nih, lagi nulis apa?” Padahal saya sedang tidur dan facebook di ponsel saya selalu online. Lain waktu, siang hari ada chatingan lagi “Mba Arin, sibuk ngejar deadline ya? Lagi nulis apa?” Padahal saya lagi belanja di pasar. Jadi, sapaan demi sapaan selalu mengira saya selalu menulis, menulis dan menulis. Syukurlah kalau dikira begitu, hehehe..

Oiya, kalau yang suka chatting tuh, linknya di sini, di sini, di sini dan di sini. Add deh, asyik buat ngobrol.

 

Yang lucu lagi pernah ada yang nanya ke saya cara bikin outine dan proses mengajukan proposal buku ke penerbit. Waduh, wong saya sendiri belum pernah nerbitin buku, ya belum tahu caranya. Tapi iya, memang pengen banget saya menulis buku, sesuaai dengan salah satu misi grup IIDN yaitu setiap anggota bisa menerbitkan satu buku. Sejak menulis tahun 2007, sampai sekarang saya belum menerbitkan satu bukupun. Sedih deh! Kalah melaju dibanding teman-teman yang telah punya buku sendiri.

(Mau tahu siapa yang saya maksud? Nih link facebook nya ada di sini, di sini, di sini dan di sini. Ssst, jangan bilang-bilang yang bersangkutan ya. Langsung add aja. )

 

Setiap hari melihat foto teman-teman yang narsis dengan buku-bukunya. Kapan giliran saya?
Semoga ya, setelah ter”kompori” oleh teman-teman yang sudah menenteng buku kesana-kemari sambil promosi, saya bisa segera duduk manis dan fokus menulis buku. Amiiiin…

Insya Allah deh, nanti kalo sudah punya buku sendiri saya tidak akan kalah narsis dari teman-teman. Dan cita-cita saya sejak lama, bikin kuis buku yang hadiahnya bukan buku saja, tapi plus..plus..(Mohon saran hadiah tambahannya apa dengan komen dibawah ini ya).

Semoga ya…

 

 

 

 

Nb.
Buat yang linknya saya cantumkan : “jangan lupa kirim pulsa yaaa” hehehe…


Lihat Ma, Dengar Ma !

 “Lihat Ma, Asa seperti kerbau,” kata Asa (2 tahun) sambil kedua telunjuknya di atas kepala.   Tak lama kemudian dia merangkak di lantai. “Mama dengar suara Asa seperti kucing, meoow!”

Gerakan, suara dan ekspresinya menghayati peran. Saya geli sendiri melihatnya. Aduh Nak, masa meniru gaya-gaya binatang sih? Tapi, apa iya harus dilarang? Asa sedang tahap belajar, mengenali dan meniru apa yang dilihatnya. Seringkali, aktivitasnya jadi tidak fokus. Memberinya ruang gerak akan memupuk keberaniannya bereksplorasi.

 

Kecerdasan bahasa Asa tampak menonjol. Asa sudah bisa menyusun kalimat 5-6 kata dan menyambung 2-3 kalimat dalam satu kali bicara. Apa yang dipikirkan langsung dikatakan. Pendengarannya juga tajam. Saat saya berbisik pada suami, Asa dapat menangkap pembicaran kami dan ikut bicara. Saat saya mengganti kata “mainan” dengan “toys”, eh Asa ternyata sudah tahu artinya. “Asa mau dibelikan toys baru di toko”, katanya. Anak menyerap bahasa dengan cepat .

 

Asa sedang pada golden age, otak dan kecerdasannya berkembang pesat. Ada 100 milyar syaraf yang akan terhubung seiring banyaknya stimulasi. Kecerdasan didukung oleh daya konsentrasi. Padahal rentang konsentrasi anak sangat pendek.  Karena itu, anak perlu dilatih berkonsentrasi sesuai tahapan usianya. Kelak, saat golden age berlalu, anak masih dapat mengandalkan daya konsentrasi untuk bernalar dan memanggil memori.

 

Terkait kecerdasan bahasa Asa, saya melatih agar Asa tidak hanya banyak bicara tapi juga konsentrasi. Maksudnya, apa yang dikatakan adalah hal yang sedang dilihat, dilakukan atau dipikirkannya. Saat dipanggil juga mau menjawab. Berimajinasi sambil berceloteh boleh, tapi bukan bicara kosong atau bergumam.

 

Hal terpenting melatih konsentrasi bicara adalah memberi perhatian saat anak bicara dan menunjukkan ekspresi yang sesuai. Ini sekaligus mengajarkan anak berempati pada perasaan orang lain, sedih atau gembira. Saya juga berbicara dalam berbagai intonasi, kadang keras, kadang berbisik, ditambah dengan gerakan tangan saat bicara.  Dengan begitu, Asa tertarik untuk menatap wajah saya dan mau mendengarkan.  Saat berbicara dengan Asa, saya letakkan majalah atau blackberry yang sedang saya pegang. Mengajarkan konsentrasi tentu dengan konsentrasi juga kan?

 

Banyak kosakata Asa  berasal dari meniru namun tidak selalu mengerti artinya. “Asa masih kecil, kalau Mama masih besar.” Asa belum mengerti penggunaan kata “masih”. Dengan bicara sesering mungkin membuat Asa semakin memahami kata baru dan konteks kalimat yang benar. Ada juga kata-kata berkonotasi negatif.  Selain menghindari sumber negatif sebagai antisipasi, saya respon kata-kata Asa dengan dengan lembut “Tidak boleh bilang kata tersebut, mendingan menirukan suara kodok yuk”. Lantas kami lanjut bermain dan Asa lupa dengan kata “aneh”nya.

 

Saya pernah kesal, saat saya berbicara dengan orang lain, Asa ikut bersuara dengan lantang. Lagi-lagi anak ingin menarik perhatian orangtua. Di saat lain saya beri kesempatan Asa berbicara terlebih dahulu. Saya dengarkan ceritanya sampai dia puas, lalu saya katakan “Sekarang giliran mama bicara dulu ya.” Cara ini perlahan mengajarkan Asa sabar menunggu giliran bicara. Saya memujinya setiap kali Asa mau menunggu.  Ketika mendadak saya harus bicara dengan orang lain, Asa mulai terlatih untuk menunggu.

 

Tebak-tebakan adalah cara menarik untuk melatih anak konsentrasi saat bicara. Saya menanyakan hal yang sama berulang kali, kemudian tiba-tiba saya tanyakan sesuatu yang berbeda. Misalnya, bagaimana suara gajah? Kalau suara monyet? Suara kucing? Rumah beruang dimana? Pertanyaan terakhir konteksnya berbeda dengan pertanyaan sebelumnya. Asa terbiasa dengan tebakan seperti ini. Saya memujinya setiap kali Asa mau menjawab. Perhatian dan pujian akan memupuk keberanian anak. Saat anak merasa berani dan percaya diri, dia akan lebih mudah berkonsentrasi.

 

Daya konsentrasi perlu didukung dengan pemenuhan gizi seimbang. Yang penting diperhatikan adalah  asupan gula tidak boleh berlebihan karena dapat menurunkan daya konsentrasi.  Sebentar lagi saya menyapih Asa. Karena terbiasa dengan ASI yang tidak manis, kebiasaan ini akan diteruskan dengan mengkonsumsi susu tanpa gula tambahan.  Saat bergabung di Anmum Club dan situs Anmum, saya mendapatkan inspirasi dari para bunda tentang pilihan susu.  Untuk anak seumur Asa, banyak bunda yang telah memilih Anmum Essential 3.

 

Jadi, kalau pandai berbahasa begini, kira-kira kelak Asa mau jadi apa ya? Presenter ? Dosen? Penulis bestseller? Atau dokter yang ramah?

Jalan masih panjang.

Sekarang, yang pasti ketika Asa memanggil “Lihat Ma, Dengar Ma!” saya harus siap menjadi teman bicaranya.

 

Anmum Essential 3 dan Jurnal Mama

Asa suka mainan, Mama suka buku IIDN

Interaksi melatih konsentrasi

Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Competition Anmum Bunda Inspiratif bersama IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis)

http://www.facebook.com/groups/ibuibudoyannulis/

dan menjadi juara 1