RSS Feed

‘My Journey’ Category

  1. Srikandi Blogger Inspiratif 2014

    March 14, 2014 by murtiyarini


    1011575_10201620743067761_432394219_n

    9 maret 2014, Museum Nasional, Jakarta.

    Saya terkaget ketika nama saya disebut sebagai Srikandi Blogger Inspiratif 2014.

    Menjadi satu dari 10 finalis saja sudah sangat luar biasa, tak berani membayangkan mendapatkan gelar apapun lagi.

    Saya melirik ke 9 teman finalis yang lain, ada diplomat yang sebentar lagi mau bertugas di PBB, ada apoteker sekaligus konselor rumah tangga, ada pemilik bisnis online, ada relawan TIK, ada dosen sekaligus relawan kelas inspirasi, ada ibu rumah tangga yang aktif menggerakkan perempuan sekitarnya untuk menulis, ada pengurus komunitas blogger sekaligus ahli IT dan ada pekerja sosial media yang pejuang buku untuk anak.

    Apalah saya dibanding mereka? dan saya mendapatkan gelar ini. Alhamdulillah.

    Dalam event ini terpilih Srikandi Blogger 2014 adalah Pungky Febriani, Srikandi Blogger Persahabatan adalah Meti Mediya, Srikandi Blogger favorit adalah Mugniar Marakarma  dan Srikandi Blogger Life Time Achievment adalah Bunda Lily.

     

    1896993_10201610984703808_1228252490_n

     

    Perhelatan Srikandi Blogger yang diadakan oleh Kumpulan Emak Blogger telah usai. Berita tersebar di berbagai media cetak dan online. Silakan googling “Srikandi Blogger 2014.”

    Saya bangga membawa mewakili beberapa nama. Sebagai blogger dari IPB, blogger dari Bogor kota domisili saya saat ini, Blogger dari Trenggalek kota kelahiran saya.

    Berikut beberapa linknya :

    http://dariperempuan.com/inspirasi-tanpa-batas-dari-srikandi-blogger-2014/

    http://www.srikandiblogger.com/srikandi-blogger-2014/

    http://riacitinjaks.blogspot.com/2014/03/srikandi-blogger-award-2014.html

    Foto dari Maria Citinjaks



  2. Profil 10 Finalis Srikandi Blogger 2014

    February 26, 2014 by murtiyarini

    Bangga berada di antara mereka

    1010195_10200955181795609_205357456_n

     

    Perhelatan tahunan Srikandi Blogger (SB) yang telah memasuki penyelenggaraan kedua, kini memasuki babak 10 besar. Kerja keras makpan (emak panitia) dan makjur (emak juri) telah menghasilkan 10 emak yang sangat menginspirasi, yang nantinya akan dipilih satu untuk menjadi Srikandi Blogger 2014. Dalam penjurian kali ini juga mengundang Ollie (Salsabeela), ikon blogger perempuan Indonesia. Tahap-tahap seleksi secara detil bisa dibaca di website resmi Srikandi Blogger.

    Karena merupakan tahun kedua, maka penyelenggaraan tahun ini terorganisir lebih rapi. Para peserta juga tampak lebih siap dan antusias. Banyak potensi tak terduga yang berhasil diketahui emak-emak KEB pada saat para peserta diwajibkan memperkenalkan diri, baik melalui tweet bergiliran maupun ngeblog bareng. Bahkan kali ini para peserta diwajibkan mengunggah video visi dan misi masing-masing jika terpilih menjadi Srikandi Blogger 2014.

    Perasaan takjub dan haru mewarnai perjalanan blogwalking para Emak Admin dari mulai babak penyisihan, 50 besar, hingga menjadi 10 finalis. Emak Board yang bertugas sebagai juri tak habis-habisnya mengungkapkan kekaguman atas kreativitas para peserta. Mau bukti? Yuk, blogwalking ke blog 10 finalis Srikandi Blogger 2014 berikut ini.

    1. Caroline Adenanhttp://catatanoline.blogspot.com/2014/02/jika-aku-menjadi-srikandi-blogger-2014.html

    Bersamaan dengan seleksi SB2014, mak Oline tengah menunggu kelahiran putranya. Oya, biaya kelahiran putranya ini gratis loh, karena mak Oline menang lomba berbagi cerita kehamilan di suatu portal khusus. Mak Oline adalah wirausahawati yang tangguh dan telah meraih beberapa penghargaan. Dalam keadaan akan melahirkan pun, mak Oline masih bisa memenuhi tugas para juri dari kamar bersalin. Selamat atas kelahiran putranya ya, mak.

    2. Donna Imeldahttp://donnaimelda.com/2446/andai-aku-jadi-blogger/

    Mak Donna adalah seorang dosen kimia yang juga menyukai fotografi dan menulis fiksi. Mak Donna memiliki kepedulian yang sangat besar pada pendidikan anak-anak. Selain sebagai relawan sebuah gerakan yang menginspirasi anak-anak untuk memiliki cita-cita tinggi, mak Donna tak ragu untuk mengambil cuti beberapa hari dan berbagi dengan anak-anak yang jauh dari pendidikan modern hingga ke Lereng Pegunungan Tengger.

    3. Ida Nur Laelahttp://ida-nurlaila.blogspot.com/2014/02/andai-saya-menjadi-srikandi-blogger.html

    Memiliki enam anak (iya benar, enam anak) tak lantas membuat langkah mak Ida dari Jogja ini terbatas. Sadar akan kemampuannya yang bisa bermanfaat bagi banyak keluarga di Indonesia, mak Ida bersama suami menyediakan diri untuk memberikan konseling dimanapun diperlukan. Emak yang sebenarnya juga seorang apoteker ini sudah mengunjungi banyak kota di Indonesia, bahkan sampai keluar negeri. Dinamika berbagi telah menjadi bagian dari kehidupan mak Ida beserta keluarga.

    4. Indah Nuria Savitrihttp://indahnnuria.blogspot.com/2014/02/through-blogs-and-beyond-on-road-to.html

    Sampai dimanakah seorang emak bisa berkiprah? Jika didukung penuh oleh keluarga, maka jawabnya adalah sampai emak itu sendiri yang menyatakan cukup. Mak Indah masih jauh dari batas itu, masih banyak yang bisa diberikannya pada negara ini. Karena itu, dalam waktu dekat mak Indah akan mengemban tugas sebagai diplomat di markas besar PBB di New York. Dengan kapasitas yang sedemikian besar, mak Indah tetaplah pribadi yang sederhana dan mudah akrab dengan siapapun. Mak Indah sangat mencintai Indonesia sehingga mengajak emak-emak lain untuk terus menjelajah dan mempublikasikan daya tarik Indonesia.

    5. Meti Mediyahttp://www.metimediya.com/andai-aku-menjadi-srikandi-blogger-2014.html

    Sebagai komunitas yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam berinteraksi dan berbagi, para emak sangat sadar akan adanya dua sisi dari pemanfaatan teknologi tersebut. Tapi mak Meti dari Bandung ini melangkah lebih jauh. Mak Meti tidak sekedar tahu dan mengaplikasikannya pada diri sendiri dan putra-putranya tapi juga mengedukasi masyarakat sebagai guru dan relawan. Kepada anggota masyarakat yang belum paham seperti ibu-ibu, mak Meti menyediakan waktu dan tenaga untuk bergabung dengan kelompok relawan yang memberikan pelatihan tentang pemanfaatan internet. Sedangkan bagi anak-anak dan remaja, mak Meti menyebarluaskan tindakan preventif untuk melindungi mereka dari pengaruh buruk internet.

    6. Mugniar Marakarmahttp://indahnnuria.blogspot.com/2014/02/through-blogs-and-beyond-on-road-to.html

    Apa arti menjadi ibu rumah tangga bagi emak dari Makassar ini? Banyak! Sangat banyak! Tidak terbatas hanya sampai pagar rumah saja. Ibu memiliki peran strategis dalam mempersiapkan masa depan suatu bangsa, karena itu mak Mugniar tak ragu menyampaikan pemikiran-pemikirannya baik di blog maupun media cetak. Mak Mugniar mengajak para ibu rumah tangga untuk meluaskan cakrawala, memandang lebih jauh ke sekeliling untuk menyuarakan perbaikan atau perubahan menuju tatanan masyarakat yang lebih baik.

    7. Murtiyarinihttp://asacinta.blogspot.com/2014/02/mewujudkan-satu-dalam-karya-satu-dalam.html

    Dunia semakin kompetitif. Semua orang ingin menang dan pujian. Sayangnya, tak semua orang berbesar hati dengan kenyataan bahwa kalah juga bagian dari kehidupan. Jika ada yang bisa menerima keduanya dengan baik, maka mak Arin adalah salah satunya. Berbagai gelar tak resmi menulis telah disandangnya, antara lain ratu media dan ratu lomba blog, karena seringnya mak Arin menang. Tapi jika kalah, mak Arin tetap semangat, memberi selamat kepada yang menang dan menjemput kesempatan berikutnya. Mak Arin mengajak emak-emak untuk fokus pada kelebihan dan keunikan masing-masing, tak perlu minder dengan kelebihan orang lain atau menjadikan kekurangan sebagai penghambat untuk berprestasi.

    8. Pungky Febrianihttp://galaksipungky.blogspot.com/2014/02/kita-ada-untuk-berbagi.html

    Mak Pungky dari Purwokerto adalah gambaran ibu muda masa kini yang penuh semangat dan memiliki banyak ide segar. Potensinya ini menunjang pekerjaannya sebagai seorangsocial media specialist. Pemikiran-pemikiran tajam yang dilandasi dengan kelembutan hati seorang perempuan, sama sekali tak menunjukkan penderitaannya sebagai seorang post natal depression survivor. Mak Pungky justru sibuk memperhatikan orang lain dan berusaha membantu mereka yang membutuhkan, kebanyakan dari anak-anak yang kurang mampu, dengan berbagai cara. Selain turun langsung ke lokasi-lokasi yang dibantu, mak Pungky berusaha mengumpulkan dana dengan berbagai kegiatan menulis.

    9. Siti Hairul Dayah | http://catatansiemak.blogspot.com/2014/02/andai-aku-jadi-srikandi-blogger-2014.html

    Satu lagi finalis dari Jogja adalah mak Irul. Mak Irul juga ibu berputra dan putri banyak, yaitu lima orang. Mak Irul adalah seorang pengabdi pendidikan yang mandiri. Putra-putrinya dididik sendiri dengan sistem home schooling. Tak berhenti hanya memperhatikan anak-anaknya sendiri, mak Irul juga meluangkan waktu, tempat dan tenaga untuk mengajar emak-emak dikampungnya. Mak Irul sedang merintis cita-cita untuk membuka semacam sekolah bagi emak-emak di kampung-kampung agar emak-emak bisa meningkatkan kemampuannya dalam mengurus keluarga dan menyiapkan generasi masa depan bangsa yang mandiri.

    10. Siti Wakhidah Hajarhttp://idahceris.com/informasi/keep-writing-and-happy-blogging/

    KEB tidak hanya beranggotakan emak-emak, tapi juga gadis muda seperti mak Idah. Mak Idah mewakili anak muda jaman sekarang yang gemar mengotak-atik internet dari segi teknis. Jika para ibu lebih fokus ke konten karena tidak terlalu paham template, SEO dan sebagainya, mak Idah malah menawarkan diri untuk mengajari para emak melalui kelas online. Mak Idah juga anak muda yang peduli dengan kemajuan daerahnya, Banjarnegara, yang dituangkan melalui tulisan-tulisannya di blog.

    Jangan lewatkan untuk menonton video singkat yang dibuat emak-emak didalam postingan tersebut. Rasa syukur tak henti-hentinya kami ucapkan karena kami dikelilingi oleh emak-emak yang selalu berpikiran positif, kreatif dan inspiratif, baik dari peserta SB2014 maupun semua yang menyimak terus perjalanan pemilihan SB2014 ini. Terima kasih, mak. Sampai bertemu di puncak acara Srikandi Blogger 2014. Peluk sayang semua emak KEB.

     

    Diadaptasi dari http://emak2blogger.web.id/2014/02/26/10-finalis-srikandi-blogger-2014/



  3. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEDIA ONLINE

    November 9, 2013 by murtiyarini

    Akhir-akhir ini saya lebih banyak waktu untuk membaca media online, karena bisa dibaca dari HP sambil kelonan (dengan anak).
    Di era digital, media online kian populer karena beberapa kelebihannya :

    1. Paperless
    2. Cepat diakses
    3. Ekonomis
    4. Banyak menyediakan ruang publik (citizen jurnalism) sehingga lebih bebas bertukar informasi
    5. Mudah dibagi di jejaring sosial

    Media online ada yg membebaskan penggunanya mengunggah tulisan tanpa moderasi, dikenal denga blog bersama, misalnya kompasiana, blogdetik dll, ada juga yang dengan moderasi dan seleksi, misal media Indonesia (ruang citizen jurnalism), tribun news dll.

    Detik news biasanya menerbitkan berita dengan cepat. Kalau tidak salah di Detik news ada laman suarapembaca.detik.com, menerima opini dan foto.

    Media online bisa menjadi ajang berlatih menulis bagi penulis. Jika masih ragu, bisa dimulai dari surat pembaca, hehehe…itu tahap paling mudah.

    Menulislah dari tema apapun, jangan minder karena tema untuk media online sangat beragam.

    Cara mengirim tulisan ke media online ada dua cara. Pertama bisa melalui email dan kedua dengan posting di situsnya langsung. Kita harus mengunjungi situsnya untuk mendapatkan info detilnya.

    Cara kirim yang posting langsung di situsnya seperti pada kompasiana. Tulisan akan langsung tayang alias nggak ada seleksi. Di kompas cetak sekarang ada rubrik kompasiana, yaitu Kompas Frezz, setiap hari rabu.  Tulisan diambil dari postingan di kompasiana yang terseleksi dan menurut redaksi bagus. Dari kompasiana kita bisa belajar, kalau highlight berarti tulisan bisa mejeng agak lama, kalau headline bisa sebulan dan kesempatan dibaca orang semakin banyak. Kalau kompasiana tidak menyediakan honor. Senengnya, kalau di kompasiana tulisan kita bisa nangkring di headline, artinya tulisan kita banyak dikunjungi pembaca.

    Jikalau ditolak di media online, jangan pernah berputus asa. Ada banyak sekali situs media online. Dioper dan daur ulang saja sampai tulisan itu menemukan jodohnya.



  4. {TIPS MENEMBUS MEDIA] MENENTUKAN IDENTITAS PENULIS

    November 8, 2013 by murtiyarini

    Beberapa kali saya mendapat komentar “Dirimu enak mbak, tiap artikel dimuat ada identitas yang pantas dicantumin dibawah nama penulis, makanya sering dimuat. Lha aku mau nulis apa…masa’ ibu rumah tangga?”

    Hm, memang untuk tulisan non fiksi di media, identitas penulis biasanya dicantumkan di bagian bawah tulisan. Hampir selalu ada, karena memang pembaca pasti mau tau siapa sih penulis? Apa kapasitasnya menulis ini?

     

    Untuk koran-koran besar nasional, kita bisa lihat identitas penulis yang bikin kita langsung mengkerut, contohnya : Guru Besar, Direktur,  Aktivis, Staf Menteri, Anggota Dewan dan lain-lain.

     

    Koran tentu nggak mau sebuah tulisan hanya Omdo (omong doang) atau gagasan kosong, karena itu identitas penulis sangat diperhatikan.

    Jangan ciut dulu, ingat, kita bisa punya banyak peran lo !

     

    Coba kita cari identitas apa yang bisa kita tempelkan pada tulisan kita. Masing-masing tulisan bisa dengan identitas berbeda. Saya gunakan identitas sebagai Ibu untuk artikel parenting, sebagai karyawan untuk artikel perempuan & dunia kerja, sebagai sarjana pertanian utk artikel pertanian & sains, terakhir kemaren saya memberanikan diri menyebut diri “penulis” untuk tulisan tentang bahasa di jawa pos. Yang penting nama tetap sama, identitasnya aja beda. Hehehe

    Bagaimana dengan Blogger ? Wow, sudah jelas bisa banget dijadikan identitas dan membanggakan.

    Jadi sebuah tulisan yang bagus bisa datang dari siapa saja. Kekuatan tulisan di atas ada pada sajian pengalaman hasil eksplorasi lingkungan sekitarnya oleh penulis, jadi identitas yg digunakan sudah sangat tepat. Pengalaman seseorang adalah suatu ilmu/data yang valid .

     

    Identitas ini penting untuk petunjuk redaktur merunut latar belakang kita menulis tema tersebut, apakah mengalami, mempraktekkan atau hanya baca dan menulis ulang. Jadi untuk menyakinkan redaktur bahwa penulis tidak copy paste atau plagiasi.

     

    Juga seperti yg kusebut diatas, menghindarkan gagasan “kosong” yang kadang nggak realistis. Buat redaksi penting, karena mereka juga bertanggung jawab memilih tulisan mana yang layak atau tidak.

    Bisa jadi tema tulisan bagus banget, tapi redaktur ragu dengan kapasitas penulis, akhirnya tulisan ditolak.

    Contoh:

    Identitas Guru SMA , menulis tentang teknik bedah syaraf = kemungkinan besar ditolak

    Identitas Dosen Unibraw, tema : mengatasi gelandangan dan pengemis di Bogor = Apa hubungannya?

    Bisa saja si dosen pernah ke bogor, tapi dia domisili di Malang. Namun identitas ini kurang relevan karena bisa-bisa dibilang “sok tau” oleh pemda Bogor. Mungkin akan lebih dihargai kalo tulisan tentang “pengemis di Bogor” ditulis oleh : Ibu Rumah Tangga di Bogor.

    Hanya saja, redaksi tidak bertanya langsung kepada kita kalau identitas dirasa kurang pas atau kurang lengkap, redaksi hanya punya 2 pilihan : terima atau tolak. Jadi kalau tulisan ditolak, identitas patut kita cek ulang, seperti halnya kelengkapan administrasi yang lain.



  5. DAUR ULANG NASKAH

    November 7, 2013 by murtiyarini

    Pernahkah anda menerima “surat cinta” (penolakan naskah) dari redaksi sebuah media?

    Jika belum, ada 3 kemungkinan:
    1. Naskah akan segera dimuat dalam waktu dekat.
    2. Anda dan Redaksi sama-sama tidak saling mengkonfirmasi nasib naskah tersebut.
    3. Anda belum pernah mengirimkan naskah, hehehe
    Saya pernah menerima surat cinta tersebut.
    Tentu saja langsung patah hati. Tapi tidak lama, sekitar 30 menit saja.
    Selama itu saya mencari-cari peluang kemana sebaiknya naskah kembali ini saya kirimkan?
    Saya memperlakukan setiap tulisan saya dengan istimewa, jadi kalaupun ditolak oleh sebuah media, saya pikir itu hanya sebuah perbedaan selera. Jangan pernah membuang atau menyimpan naskah anda terlalu lama. Segera lakukan daur ulang!!

    Tips melakukan daur ulang
    1.    Baca kembali naskah lama anda, apakah informasi dan ide-ide di dalamnya masih aktual. Jika sudah basi, lakukan perbaikan dan tambahkan informasi terbaru.
    2.    Pastikan kembali apakah naskah itu perlu mengalami perubahan format penulisan atau menurut anda masih oke. Perubahan format bisa terjadi jika anda menyasar media dengan visi misi yang agak jauh berbeda dari media pertama. Dari artikel lama bisa saja anda perlu memecahnya menjadi 2 atau 3 pokok bahasan, dan ini sebenarnya kabar bagus, anda menemukan pengembangan ide baru atas naskah lama anda.
    3.    Lakukan perubahan gaya bahasa sesuai media baru yang akan anda tuju. Perubahan gaya bahasa tidak selalu harus terjadi, kadang kala gaya penulisan kita udah cukup bisa masuk ke beberapa jenis media sekaligus kok.

    Sebagai contoh, saya pernah gagal dalam sebuah antologi. Tulisan tersebut saya daur ulang sedikit, dan kemudian saya kirimkan ke sebuah majalah nasional, dan dimuat tak lama kemudian. Jadi ibu-ibu, perlakukan setiap naskah anda dengan istimewa, carikan tempat terbaik, karena mungkin saja “nasibnya” akan lebih baik setelah mengalami beberapa penolakan. :)

    Lantas bagaimana naskah yang diikutkan dalam event antologi? Antologi itu kumpulan cerita yang ditulis oleh beberapa orang. Dengan mengikuti event antologi setidaknya bisa memancing ide menulis dengan tema-tema yang dilombakan. Bagaimana kalau tidak lolos seleksi alias gagal? Yah dimodif saja. Naskah saya ada yang tidak lolos diseleksi antologi, eh ketika saya modifikasi dan ikutkan lomba lain malah dapat kompensasi yang lumayan besar, jauh dibandingkan hasil audisi antologi hehehe… alhamdulillah ya . Dan daur ulang naskah itu biasanya tidak membutuhkan waktu yang banyak, jadi bisa sambil terus memproduksi tulisan-tulisan baru.

    Jika telah mengirimkan tulisan ke media atau penerbit dalam kurun waktu yang lama, yah minimal 1 bulan lah, sebaiknya minta konfirmasi kejelasan naskah kita kepada yang bersangkutan, apakah diterima, ditolak atau kelupaan dilirik 😀

    Dan kalau mau daur ulang sebaiknya dikonfirmasi dulu, agar tidak dobel tayang. Malahan, saya belum mengirim ke media yang sama kalo tulisan saya yg lama belum jelas nasibnya (ini tidak perlu dicontoh krn mengurangi produktivitas).

    Alasannya, karena saya tidak mau naskahku tercecer atau terlupa. Juga karena saya selalu berpikir bahwa ide-ide saya spesial, sayang kalau tidak jelas nasibnya. Percaya diri saja…

    Semakin rajin menulis, maka semakin banyak file yang akan kita buat. Untuk itu dibutuhkan manajemen folder di komputer kita. Penting bagi kita membuat folder-folder yang rapi, misalnya:
    – Folder tulisan sedang dalam proses pembuatan
    – Folder tulisan yang sudah dikirim tapi belum dimuat (belum ada konfirmasi)
    – Folder tulisan yg sudah dimuat
    – Folder tulisan ditolak dan siap didaur ulang
    Atau judul-judul file lainnya sesuai dengan kebutuhanmu.

    Jadi jika ada naskah yang tertolak. Buat apa patah hati atau patah semangat. Naskah istimewa itu hanya butuh sentuhan daur ulang sedikit, jika ditolak di media A masih ada media B, C sampai Z. Semangaaatt.*



  6. IT’S NOT ALL ABOUT THE MONEY

    November 6, 2013 by murtiyarini

    Pertanyaan sering muncul tentang honor pemuatan di media.

    Ada honor nggak, berapa besaran honornya? Atau dapat apa?

    Lalu membandingkan media satu dengan yang lain. Media nasional umumnya lebih besar daripada media lokal. Media yang banyak iklannya honornya juga lumayan.Tapi ada juga media (nasional) yang tidak selalu memberikan honor, terutama untuk tulisan-tulisan pendek.
    Lantas, apakah anda merasa tidak dihargai tanpa honor?

    Atau memilih media berdasar honor?

    Ini adalah pilihan. Honor adalah hak penulis, hanya saja bentuknya bisa bermacam-macam. Setiap penulis punya kriteria berbeda. Terkait honor, saya pribadi punya urutan prioritas.
    Pertama adalah adanya kesamaan pola pikir media tersebut dengan diri saya. Jika saya suka, nggak dihonorpun nggak masalah. Yang penting ide saya tersampaikan. Kebetulan nggak sering kejadian begini, hampir semua memberi honor. Pernah ada satu media nasional yang tidak memberi honor berupa uang. Pihak media sudah menyampaikan di awal pada saya, bahwa mereka tidak ada space untuk contributor, jadi tidak ada honor. Tapi ketika tulisan yang saya kirim diminta untuk tayang, saya seneng banget dan merupakan suatu kehormatan, so its oke tanpa honor
    Kedua, skala besar kecilnya media. Untuk media nasional, bisa dimuat saja sudah senang, apalagi di honor. Namun, ada rubrik-rubrik tertentu tanpa honor, misalnya rubrik yang meminta opini pendek/testimoni. Tetep saya aktif nulis disana. Kok mau sih tanpa honor? Saya mau karena saya punya tujuan lain, yaitu branding nama, agar semakin sering nama saya dibaca.
    Ketiga, menulis untuk siapa? Jika untuk organisasi yang saya ikuti, atau untuk amal atau demi bisa sebuku dengan teman-teman dalam satu komunitas misalnya, saya rela tidak dihonor. Tapi jika menulis untuk kepentingan seseorang atau satu golongan yang hanya membesarkan nama sepihak, tentu saya menuntut honor yang pantas, hehehe….

     

    Di atas adalah pilihan saya, bagaimana dengan anda?

     

    Berikut beberapa cerita teman-teman saya:

     

    Pengalaman teman saya, Wida Warida mengirim tulisan ke media sejak tahun 2000-an, waktu itu honor biasanya dikirim via wesel dan mencairkannya ke kantor pos. Terus, lucunya lagi, Wida menyimpan struk setiap tulisan yang dimuat. Nah, setelah sekian lama, Wida menemukan kembali struk bersejarah itu dan katanya, berasa gimana gitu…

     

    Anisa Widiyarti sepakat dengan saya. Anisa  sebenarnya tak terlalu masalah dengan besarnya honor. Asalkan media tersebut menghargai karya kita. Kalau memang dimuat, ya berikan honornya. Jujur, Anisa suka dengan kompas group. Mereka langsung mentransfer honor tanpa banyak babibu.

     

    Ya, menurut saya semuanya kembali ke masing-masing pribadi.
    Kalau sejak awal tau itu acara amal, tentu harus siap jika tak dihonor.
    Tapi untuk media, saya benar-benar membuat list siapa saja yang pantas saya kirimi karya.
    Honor menurut saya bukan hanya masalah Rupiah, tapi bagaimana media tersebut menghargai karya kita.

     

    Menurut Bunda Haifa, arti manfaat dalam sebuah tulisan itu relative. Menurutnya, sesungguhnya bermanfaat itu bisa membuat orang berpindah dari titik tidak baik ke mendingan, dari titik mendingan ke titik lebih baik. Sebagaimana arti belajar. Belajar adalah proses membuat orang menjadi lebih baik.

     

    Cerita Pritha K, waktu tahun 2008 blog pribadiku dibukukan. Awalnya menurutku tulisan itu ga penting. Ya iyalah saat orang-orang nulis sesuatu yang smart kayak tips ini dan itu atau novel bergizi eh ini cerita keseharian aku diterbitkan. Tapi saat penjualannya lumayan dan banyak respon yang positif masuk ke emailku, aku baru ngeh ternyata sesuatu yang biasa aja (bahkan sempat bikin ragu) buatku ternyata berarti buat banyak orang.

     

    Menarik bukan? Uang bukan yang utama, tapi penting juga sih… :))



  7. TIPS MENGUBAH KISAH PENGALAMAN PRIBADI MENJADI ARTIKEL

    November 6, 2013 by murtiyarini

    contoh artikel

    Kebetulan, genre tulisan saya lebih mengarah pada artikel.  Saya sering mendapat keluhan tentang sulitnya membuat artikel. Definisi artikel itu apa? Jika ditanya begitu, saya merasa tidak kompeten menjawab tentang teori tulis menulis.  Yang saya tahu, di media ada jenis tulisan pengalaman pribadi dan artikel.

    Sekilas bedanya begini,

    Ciri Pengalaman pribadi :
    -sudut cerita penulis sebagai orang pertama
    -melibatkan orang-orang terdekat penulis dalam bercerita
    -detil menuliskan kronologi atau ditulis berdasar kronologi
    -tulisan panjang, biasanya tanpa sub judul
    -ending terdiri dari satu atau dua solusi yang diterapkan oleh penulis

    Ciri Artikel
    -penulis tidak menyebutkan dirinya sebagai tokoh dalam tulisan
    -tidak ada tokoh dalam tulisan, atau kalaupun ada tidak menonjol ke seseorang
    -kadang kala menyisipkan teori dari pakar
    -tulisan dibagi atas sub judul dan poin-poin tapi tidak selalu urut kronologi
    -ending terdiri atas berbagai solusi yang bisa diterapkan oleh orang banyak

    Buat saya, lebih mudah menulis jika yang ditulis berangkat dari pengalaman pribadi. Tapi karena rambu-rambu yang menurut saya perlu dijaga, saya memilih untuk mengubahnya menjadi artikel.

    Untuk mengubah pengalaman pribadi menjadi artikel saya ambil langkah berikut :

    1. Jadikan cuplikan pengalaman pribadi sebagai prolog yang mengantar pembaca pada isi
    2. Tarik kesimpulan/hikmah dari pengalaman anda, misal 3-4 poin yang kemudian bisa jadi sub judul
    3.  Uraikan kembali sub judul tersebut dengan meminimalkan kata “saya” . Generalisasi pengalaman anda seolah orang kebanyakan mengalaminya
    4. Cari data (tidak harus angka-angka lho) di internet atau wawancara teman-teman untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pendapat dari sudut pandang berbeda. Rangkum dan masukkan dalam sub judul yang sesuai
    5. Untuk mempermanis, cari teori dari tokoh/pakar yang mendukung poin-poin/sub judul anda.
    6. Pada bagian akhir, boleh sedikit beramah tamah dengan pembaca dengan kembali menampilkan kata “saya”

    Itu langkah-langkah saya menulis artikel berdasar pengalaman pribadi. Lama-kelamaan, saya lebih suka menghilangkan kata “saya” dan menulis secara lebih general.

    Berikut adalah contoh artikel dari pengalaman pribadi dan saya lengkapi datanya dengan menanyakan pengalaman teman-teman di facebook.

    http://asacinta.blogspot.com/2011/10/cinta-kedua.html

    Saya tidak terlalu menghiraukan aturan ini-itu yang kadang membatasi karakter menulis kita. Contohnya dalam menulis artikel perjalanan, disini biasanya penulis malah menceritakan pengalaman pribadi. Nah, kalo itu disebut artikel atau pengalaman pribadi? Bingung kan?…hehehe..

    Kisah perjalanan lebih sering disebut artikel, karena walaupun pengalaman pribadi tapi bukan full curhat cerita tentang pribadi penulis, melainkan cerita tentang hal-hal yang sifatnya umum dan orang lain bisa lakukan hal yang sama.

    Selamat menulis.



  8. KORAN TIDAK SERAM

    October 28, 2013 by murtiyarini

    Sebelumnya, koran dianggap “seram”, dalam arti isinya berita politik, hukum dan berita-berita berat yang menyajikan data-data rumit. Dan itu membuat banyak orang enggan memasukan tulisan ke koran.

    Di sini, saya ingin mengajak untuk menaklukkan Koran. Mari kita ubah “mind set” kita terhadap Koran. Koran bukan hanya milik politikus, praktisi hukum, dosen, pengusaha atau ilmuwan. Tapi ingat, Koran juga dibaca masyarakat menengah ke bawah, dan mereka yang putus sekolah. Koran sebagai sarana mencerdaskan bangsa, akan berusaha menjangkau pembaca dari kalangan manapun. Untuk menjangkau itu, jelas bahasa dan materi yang disajikan tentu bukan yang rumit dan berat.

    “Mutu sebuah tulisan bukan pada rumit dan beratnya materi. Namun pada kecerdasan ide solusi, kejelian mengambil kasus dan penyajian yang nyaman untuk dibaca sehingga bisa dipahami lebih banyak orang.”
    (dikutip dari Murtiyarini, 2012) :)

     

    Berkaitan dengan ide cerdas dalam menulis, sebenarnya ide cerdas itu tidak usah dipaksakan untuk dicari. Ia akan terasah kalo sering baca dan mengamati. Yang menurut kita biasa, bisa jadi hebat bagi orang lain. Sekali lagi ingat segmen pembaca koran: semua kalangan. Jadi jangan ada kata minder.

    Sekarang hampir di setiap daerah terdapat koran lokal. Walaupun koran lokal, muatannya tidak selalu lokal banget lho, artinya bisa saja menerima info tentang luar daerah tersebut.

    Konon, koran lokal lebih mudah ditembus.  Oiya, benarkah? Mungkin, asalkan penulis rela di bayar dengan honor minimal.  Hehehe.  Pengalaman saya, lebih mudah menembus koran nasional di banding koran local karena koran nasional mempunyai budget dan space untuk penulis luar.  Sementara koran local, terkait budget, hanya mengandalkan tulisan-tulisan dari wartawannya saja.

    Mengirim naskah ke koran sebaiknya melalui email saja. Koran cepat tayang, redakturnya tidak ada waktu lagi untuk mengetik ulang naskah hard copy.  Redaktur koran memang jarang membalas email. Jadi kalo sudah tempo tertentu tidak dimuat dianggap ditolak.  Misalnya, Jawa Pos secara tertulis member tempo 5 hari. Koran Jakarta 2 minggu. Yang lain nggak menyebutkan, terserah bagaimana kita menafsirkan. Kalau dirasa sudah terlalu lama dan bisa dikirimkan ke media lain ya tarik saja dari media pertama.

    Cara mengirim tulisan ke media melalui email cukup dengan mengirimkan file word (naskah) yang dilampirkan pada email. Badan email hanya berisi pengantar saja.  Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah copy email/surat wajib disimpan penulis utk jaga-jaga jika terjadi sesuatu, misal plagiasi atau double tayang.

    Tips agar tembus media:

    1. Sesuaikan moment-moment tepat yang aktual untuk dituliskan. Misalnya bulan mei ini sarat dgn pendidikan, maka menulis opini atau artikel pendidikan biasanya akan lebih menarik perhatian redaktur koran.  Banyak kok koran-koran lokal atau nasional yang memuat karya penulis pemula. Bagi mereka yang penting tulisannya bagus dan sesuai dengan koran mereka. Jadi tidak perlu kuatir kalah saingan dengan senior.
    2. Liat gaya bahasanya. Tiap koran/majalah, biasanya punya beda-beda gaya bahasa.  Koran tidak banyak variasi gaya bahasanya.  Koran lebih mengutamakan tren berita.
    3. Pelajari rubrik-rubrik yang ada di koran tersebut. Masing-masing rubrik juga ada ciri khasnya tersendiri. Rubrik sains, tentu berbeda dengan rubric jalan-jalan dan lain sebagainya.
    4. Karena koran terbit harian, kita harus cepat tanggap sama berita-berita yang lagi up to date. Jangan terlalu lama berpikir, nanti beritanya terlanjur basi.
    5. Tulis hal-hal yang disukai, dan membiasakan diri menulis dengan bahasa indonesia baku. Selebihnya, tinggal mengikuti kriteria yg ditentukan oleh media masa yg akan di kirimi tulisan.

    Nggak seram lagi kan?



  9. Miliki, Walaupun Hanya Satu dan Bekas !

    October 28, 2013 by murtiyarini

    7 tahun lalu, ketika tulisan saya mulai menyasar media cetak, informasi tentang syarat pengiriman, alamat media, jumlah kata, karakter media dan lain sebagainya belum sebanyak dan semudah saat ini.

    Sebelum menulis saya mempelajari media bersangkutan secara langsung untuk melihat gaya bahasa, menghitung jumlah kata/karakter secara manual, dan kemudian tulisan-tulisan itu saya kirim via pos.

    Sulit menyelami karakter media jika kita tidak memegang, paling tidak, satu eksemplar media tersebut. Karena itu, saya melengkapi koleksi dengan berburu ke tukang loak (biar hemat). Hasilnya lumayan, beberapa majalah bekas dengan tahun terbaru bisa didapat, Selain itu, saya intip-intip di toko buku, walaupun tidak bisa leluasa membaca setidaknya saya mengikuti trend yang sedang berlaku.

     

    Membaca langsung media, saya rasa masih menjadi cara terbaik untuk menyelami gaya penulisan dan tentu saja mempermudah kita membuat tulisan yang sesuai. Ketentuan teknis seperti jumlah kata/karakter hanyalah sebagian kecil dari bagian yang harus kita ketahui. Kadangkala, hal-hal tersebut bisa fleksible, bisa dinegosiasi selama tulisan anda bisa menarik hati redaksi.

     

    Ada bagusnya mengoleksi daftar alamat dan ketentuan pengiriman berbagai media, namun jangan hanya jadi koleksi tanpa gambaran yang jelas. Jadi, milikilah media yang ingin anda sasar, minimal satu eksemplar.

     

    Caranya?

    Nggak ada budget beli baru, ya beli bekas.

    Nggak ketemu beli bekas, ya pinjam sama teman

    Nggak ada teman yang punya, coba deh ke ruang tunggu rumah sakit, dokter atau salon, biasanya tersedia tuh majalah-majalah baru dan lama.

    Asalkan berani minta ijin untuk numpang baca hehehe…

    Usaha anda menentukan hasilnya  :)



  10. Tata Krama Menulis Kisah Pribadi / Kisah Nyata

    October 28, 2013 by murtiyarini

    kisah inspiratif

    Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang menuliskan kisah pribadi dalam bentuk kisah inspiratif.  Pada umumnya, perempuan lebih suka menulis tentang kisah pribadi.  Bisa tentang keluarga, anak, suami, pekerjaan kantor dan tentunya melibatkan pihak-pihak lain selain dirinya sendiri.

    Sebelum memutuskan menulis tentang kisah pribadi, sebaiknya kita renungkan kembali hal-hal berikut

    1. Ibu paling suka menulis tentang anak. Apalagi si anak sedang lucu-lucunya. Kadang-kadang karena terlalu antusias menulis, menulis dan menulis, kita terlalu detil bercerita dan menyentuh hal-hal yang memalukan/menyedihkan dengan dalih INSPIRATIF untuk orang lain. Bayangkan, jika si anak sudah mengerti (kalau tidak sekarang beberapa tahun kemudian), kira-kira apa reaksinya?
    2. Sementara kalau ibu menceritakan hal yang membanggakan, tetaplah mengontrol tulisan, ingatlah juga reaksi pembaca. Mungkin saja ada yang merasa “ihh, lebay, kayak anaknya sendiri aja yang hebat” nah lho..hehehe…
    3. Senada kasusnya dengan anak, ketika kita menceritakan suami, mertua, ibu, dan keluarga besar, harus benar-benar anda pikirkan reaksi mereka dan dampak sesudahnya ketika melihat kisah mereka beredar di masyarakat. Cerita tentang romantisme dengan suami, ijin dulu sama suami, siapa tahu suami hanya ingin berbagi romantismenya dengan anda.
    4. Untuk memenuhi target jumlah halaman yang cukup banyak, seringkali kita mengisinya dengan hal-hal yang terlalu detil. Ingat, pembaca tidak selalu ingin mengetahui detil riwayat hidup penulis. Jadi, kita menulis seperti bercerita pada orang asing yang baru kenal, ceritakan cukup poin-poin penting yang mengarah pada inti cerita. Lebih menarik jika kita memperdalam pemikiran atau filosofi dari tiap poin itu.
    5. Pikirkan sebelum menyebut merk sebuah produk atau nama sebuah instansi dalam tulisan, terlebih jika bernada negatif. Kita boleh berani menyampaikan kebenaran, tapi apakah sudah siap dengan urusan hukum yang mungkin muncul sesudahnya?
    6. Kisah inspiratif dan menyentuh bukan selalu harus melankolis dan mengharukan. Pembaca ada yang suka kisah sedih, tapi ada juga yang justru tidak tersentuh ketika sebuah tulisan terlalu mengiba, minta belas kasihan. Saya pribadi lebih suka cerita orang-orang yang kuat.

    Kaidah-kaidah yang di paparkan bisa menjadi acuan saat kita menuliskan kisah pribadi. Yang terpenting sebenarnya adalah mengantarkan kepada pembaca apa kira-kira hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah itu.  Jaga privacy keluarga, kredibilitas merk/branded, kredibilitas diri sendiri.

    Beda cerita jika kita menuliskan surat keluhan tentang sebuah produk melalui surat pembaca di media massa.  Surat pembaca umumnya meminta klarifikasi dari merk atau perusahaan yang disebut.  Walaupun sifatnya mengeluh atau complain, tetap gunakan bahasa yang santun.

    Jika anda penulis fiksi, menulis kisah nyata nan inspiratif bisa diubah menjadi tokoh-tokoh fiksi. Cara ini lebih aman karena nama asli disamarkan.  Pembaca benar-benar hanya mengambil hikmahnya.

    Namun tampakanya pasar pembaca lebih menyukai kisah nyata, sehingga hal ini mendorong merebaknya penulisan kisah nyata, memoir, profil dan sejenisnya.  Solusinya, penulis dapat menyamarkan hal buruk menjadi sebuah hikmah yang inspiratif.  Apakah hasil tulisan akan kehilangan rasa? Hm, saya pikir ini tergantung kemampuan si penulis dalam menyajikan rasa.

    Jadi, nggak boleh nih menulis menceritakan kisah pribadi?

    Eh, siapa yang melarang? Saya hanya menyampaikan rambu-rambunya. Tidak ada larangan, karena baik buruknya dampak yang akan dituai, sepenuhnya menjadi resiko penulis.

    So, tetap tuliskan kisahmu karena mungkin akan menginspirasi orang-orang disekitarmu.



  11. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEMILIH TEMA BERDASAR TREN MEDIA

    October 12, 2013 by murtiyarini

    Setelah sebelumnya saya  menulis tentang memilih tema sendiri, pada level yang lebih lanjut kita mencoba mengikuti apa ‘mau’nya media. Tentu saja tetap harus memahami kebutuhan media, karakter dan pemilihan waktu yang tepat. Artinya, walaupun temanya bukan kita yang tentukan, yang bukan kita pahami betul, nggak punya latar belakang pendidikan dan pengalaman, tapi kita mencoba menggali info dari berbagai sumber dan menulisnya menjadi artikel cantik. Pada level lanjut kita seperti jurnalis, menulis dengan tema berdasar jadwal yang ditentukan.

    Jika artikel sudah oke, tentukan sasaran kapan artikel sebaiknya dimuat. Kita bisa menyasar waktu pemuatan dengan mengirimkan PALING LAMBAT 2-3 edisi sebelumnya. Untuk media harian, sebaiknya 2-3 hari sebelumnya, tergantung artikelnya mudah basi nggak (kadaluarsa beritanya). Media mingguan 2-3 minggu sebelumnya, media bulanan 2-3 bulan sebelumnya. Memperkirakan waktu tayang ini penting kalau anda ingin tulisan dimuat lebih cepat dan efektif.  Dengan mengirimkan artikel sesuai tema yang akan datang, kemungkinan dimuat lebih besar dan nggak perlu menunggu terlalu lama.

     

    Setiap media punya tren tema yang hampir selalu berulang setiap tahunnya, tentu dengan perkembangan sesuai perkembangan yang ada di masyarakat. Hari-hari penting bisa anda tandai untuk menentukan tema. Misalnya bulan januari-tentang hujan, banjir, penyakit. Bulan april tentang perempuan. Bulan juni-juli seputar pendidikan dan liburan. Bulan agustus seputar nasionalisme, dan banyak lagi.

     

    Dengan menajamkan indera, membaca sekecil apapun fakta, kita akan terbiasa mencari satu celah opini yang unik. Yang kumaksud unik tidak harus nyleneh dan keluar pakem. Bisa juga tentang sesuatu yang baru yang terlewat dari pengamatan orang lain, dan pas kita sampaikan orang akan bilang “Oiya,ya, bener juga”

    Bisa juga tulisan dalam bentuk tanggapan terhadap tulisan orang sebelumnya. Jurnalis menulis berita, nah..kita bikin opini menanggapi berita itu. Cari opini yg belum pernah dimuat sebelumnya. Kategori sebuah tulisan disebut menarik itu relatif ya, namun biasanya opini yang berbeda akan menarik perhatian publik.

    TEMA

    Berikut adalah contoh-contoh  tema sesuai hari :

    8 Maret = women day
    Minggu ke 3 juni = father’s day
    Mei = hari bumi, hari buruh
    des = hari aids, hari ibu, resolusi tahun baru
    1 april – Hari bank dunia
    6 april – hari Nelayan Indonesia
    7 april – hari Kesehatan Internasional
    24 april Hari Angkutan Nasional
    24 april-hari solidaritas asia afrika
    27 april hari permasyarakatan Indonesia
    dan banyak lagi….coba deh search di google.

     



  12. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEMILIH TEMA SESUAI KEINGINAN KITA

    October 9, 2013 by murtiyarini

    mind map

    Memilih tema memang gampang-gampang susah. Kadang-kadang tema yang kita kuasai tidak terlalu popular dan tidak cocok dengan berbagai media yang beredar di sekitar kita. Atau sebaliknya, begitu tema cocok, kita kuasai bahannya, tapi kok tidak dimuat-muat. Jadinya minder dan merasa nggak berisi. Eits, jangan pernah berpikir begitu. Yakin deh, setiap kita punya keahlian masing-masing, yang orang lain belum tentu punya.

    Sebenarnya jumlah media cetak yang saya jajaki juga masih sangat terbatas disbanding banyaknya media yang beredar saat ini.  Hanya saja, kelihatannya saya cukup bisa membidik dalam menentukan kemana tulisan saya harus dikirim, pada saat yang tepat.  Alhamdulillah, persentase keberhasilannya cukup tinggi.

     

    Coba lakukan pemetaan ini, mana yang paling sesuai dengan diri anda. Apakah anda menulis :

    1. DENGAN TEMA SESUAI KEINGINAN SENDIRI ?
    2. DENGAN TEMA SESUAI YANG DIMINTA MEDIA/LOMBA ?

    Pemetaan itu semacam kerangka atau outline. Karena aku bikin artikel, biasanya simpel aja, latar belakang, kasus-kasus, penyelesaian dll. Yang perlu diingat target pembaca, jadi menulis sekaligus membayangkan jadi pembaca, apa yg pembaca perlukan.

    Keduanya bisa dipelajari dan dikuasai dengan baik. Dalam tulisan ini saya akan membahas poin satu, yaitu menulis dengan tema sesuai keinginan sendiri. Apapun ide anda, tulislah! Setelah sebuah artikel selesai anda buat sesuai ide yang anda miliki, giliran memilih media mana yang akan dituju.

    Pertama tentukan media dengan misi yang sesuai dengan tulisan kita. Ini tentu saja setelah anda menjelajahi karakter berbagai media baru bisa menentukan. Kedua, setelah menemukan media yang  sesuai, periksa lagi artikel anda, sudahkah gaya bahasa dan model artikelnya cocok untuk media tersebut. Jika belum cocok, lakukan sedikit perubahan dengan tidak merubah ide artikel. Perubahan ini bisa saja hanya sebatas bahasa, tapi bisa juga melebar, mengarah pada perubahan batas usia dan cakupan pembaca. Silakan lakukan perubahan seperlunya.

    Ada banyak media dengan berbagai karakter. Jelajahi, pahami karakternya dan tentukan pilihan sesuai artikel yang anda tulis. Saya suka nongkrong di kios koran di kampus, beramah-tamah dengan pemiliknya agar bisa intip-intip media disitu. Sesekali beli juga, malu dong numpang baca doang, hihihi…

    Saya menulis apa saja yang ingin ditulis lalu memilih media yang sesuai.  Mengirim untuk koran, kenapa tidak? Menulis untuk koran nggak harus opini yang ‘berat’ kan?  Ada rubric perjalanan, rubric kisah inspiratif, rubric kuliner, rubric parenting dan sebagainya.  Tema pun bisa tentang kisah sehari-hari, keluhan terhadap fasilitas umum, keprihatinan pada kasus tertentu dan lain-lain.  Tinggal bagaimana kita rajin mencari dan mencari informasi media sebanyak mungkin. Nggak dapat Koran edisi cetaknya, coba tanya ke google barangkali ada edisi onlinenya.

    Terkadang opini yang ditulis ada curhat kekesalan. Nah supaya tidak kebablasan caranya bagaimana? Memang seemosi apapun kita menanggapi sesuatu, menulis harus tetep kalem. Boleh tajam tapi cerdas dan elegan. Karena pendapat pembaca tidak selalu sama dengan kita. Menulis dengan emosi justru menjauhkan dukungan pada opini kita.

    Oh ya kayaknya selain tema, diksi juga sangat diperlukan. Diksi itu pilihan kata.  Mari memperbanyak diksi agar menulis semakin mudah. Kadang-kadang kalau kita menulis, sudah berhasil membuat kerangka dan menulis isinya, eh tiba-tiba dari satu paragraf ke paragraf lain kita bingung bagaimana mau menyambungkannya. Nah, jika kita kita kaya diksi, maka urusan membuat “jembatan” dari satu paragraf ke paragraf lainnya akan semakin lancar.



  13. [Tips Menembus Media] : Memulai dari Yang Mudah

    September 28, 2013 by murtiyarini

    Melanjutkan cerita pengalaman pertama menembus media, kali ini masih tentang pengalaman pertama, yaitu pengalaman pertama menulis artikel.

    Setelah sekitar satu tahun menjadi pelanggan majalah Ayahbunda, membaca isinya sampai “ngelotok” dan merasa memahami karakternya, saya lantas berpikir sepertinya sudah saatnya mencoba mengirimkan artikel.
    Tentu saja yang harus diperhatikan (1) tema nya belum pernah dimuat, (2) saya menguasai bahannya, dan (3) cocok dan bermanfaat untuk pembaca Ayahbunda.

     

    Kebetulan pernah belajar tentang pestisida, dan ingin mengaitkan tema pestisida dengan parenting, maka jadilah artikel “Menyiasati Residu Pestisida dalam menu keluarga”
    Sebisa mungkin saya menulis sesuai dengan karakter majalah Ayahbunda, yaitu (1) kalimat singkat-singkat tapi padat, (2) to the poin dan (3) banyak dalam bentuk poin-poin. Tapi perlu diingat, karakter setiap media berbeda-beda.
    Kalau masalah EYD dan tata bahasa saya percayakan pada ilmu bahasa Indonesia yang telah kita pelajari dari SD – SMA. Tidak harus sempurna untuk berani mengirimkannya kan ? Satu artikel saya buat cukup lama, sekitar 2 bulanan hanya untuk 3 halaman A4. Lama, karena artikel ini ilmiah-populer, jadi saya harus bisa MEMPERTANGGUNG JAWABKAN isinya. Saya mencari sumber bacaan yang TERPERCAYA, banyak dari situs-situs universitas luar negeri.

     

    Singkat kata, saya nekat mengirimkan artikel pertama, padahal Ayahbunda tidak dengan terang-terangan mengatakan menerima tulisan dari penulis lepas. Dan hasilnya, 2 minggu kemudian saya ditelpon bahwa artikel saya akan dimuat beberapa edisi ke depan. Wow, cepat sekali responnya ?

     

    Dan ini dia artikel bersejarah tersebut
    http://asacinta.blogspot.com/2008/10/menyiasati-residu-pestisida.html

    Sukses di artikel pertama tidak dengan artikel kedua. Dua hari setelah saya kirimkan, langsung dapat email balasan DITOLAK. Alasannya karena topiknya kurang sesuai untuk pembaca.

    Kegagalan itu kemudian memacu saya mencoba “lahan” lain.
    Masih suka dengan majalah bertema pengasuhan anak, saya berlangganan majalah Parenting, dan suka sekali dengan gaya selingkung majalah ini.
    Tulisan pertama saya di Parenting justru bukan di rubrik Cerita Anda, yg disediakan khusus untuk pembaca. Saya nekat kirim untuk rubrik umum, bertema “Keamanan di Mall”, dimuat kira-kira 6 bulan setelah dikirim. Dari sini saya berkesimpulan bahwa Parenting menerima artikel apa saja sesuai tagline mereka.

    Selanjutnya, beberapa majalah yang suka saya baca saya kirimi email, nanya kemungkinan apakah menerima artikel dari luar. Ini cara mendapatkan kepastian daripada hanya menebak-nebak dan tanya sana-sini. Hasilnya saya tau ada yg menerima ada yang tidak :)

    Selain kirim artikel, saya masih rajin mengirimkan quote/testimoni singkat. Menulis quote gini menurut saya penting untuk menunjukkan kita tetap eksis mengikuti perkembangan majalah tersebut.

    Oya, ketika saya mencoba-coba kirim artikel ke media sekitar tahun 2007, belum ada informasi dari internet seperti sekarang. Modalnya nekat aja, padahal nggak pake kenal “orang dalam” dan masih pemula. Jadi jangan tunggu lama-lama untuk mencoba :)

     

    Saya mencoba menulis sesuatu yang sederhana dan menempatkan diri sebagai pembaca. Anggap pembaca belum paham atau sama sekali baru dengan topik yang kita mau tulis. Jadi pilihan kata yang mudah dan to the point saja.

     

    Saya punya tenggang waktu menunggu pemuatan naskah. Jika naskah sudah lewat 3 bulan dikirim namun tidak ada jawabab, saya langsung ke redaksinya, apa mau dimuat apa enggak. Kalau tidak dimuat mendingan ditarik lagi dan dikirim ke media lain sejenis.  Angka 3 bulan, 2 bulan atau 1 bulan itu terserah masing-masing penulis tergantung kepentingan dan kesabaran :)

     

    di Parenting, kalau naskah udah 3 bulan berlalu, dan ternyata kemudian Parenting akan memuatnya (misal udah 6 bulan sejak dikirim), biasanya akan dikonfirm lagi ke penulis. Redaksi akan nanya apakah tulisan tersebut belum dimuat dimedia lain?

    Salah satu naskah saya sudah 6 bulan belum dimuat. Saat saya tanya ke redaksi X, eh ternyata email tidak mereka terima. Akhirnya saya kirim ulang dan langsung dikonfirm akan dimuat seminggu kemudian. Jadi inilah gunanya menanyakan naskah kita.

     

    Ada tips nih, jika malu bertanya ke redaksi tentang pemuatan naskah, bisa dengan cara mengirim ulang dan pura-pura email sebelumnya tidak sampai ke redaksi.  Menanyakan nasib naskah ke redaksi sebaiknya via email biartidak mengganggu dan redaktur tidak kaget, mendadak ditelpon sementara harus mencari-cari berkas.

    Mencantumkan Sumber Tulisan

    Mengambil sumber dari google boleh nggak ? Search dari google bisa, tapi biasanya tulisan merefer ke suatu situs. Sumber referensi yang paling lemah adalah blog seseorang. Sebaiknya nggak ambil dari blog. Kalo itu blog seorang pakar, lebih bagus wawancara dulu dengan pakar tersebut (bisa via online) jadi kita dapat info dari narasumber orang pertama.

    Informasi sumber /referensi kutulis disertakan di setiap artikel, tapi media nggak selalu mencantumkan semuanya, bisa-bisa setengah halaman sendiri. Media juga tidak sepenuhnya bertanggung jawab pada isi, jadi penulislah yang bertanggung jawab pada isi artikel.

    Sumber buku atau sumber yang berasal dari google search sebaiknya kita tulis di bagian bawah.

     

    Kita bisa saja menulis tentang apa saja, asalkan bisa mempertanggungjawabkan isinya. Menulis tentang sesuatu hal yang kita pahami akan membuat tulisan lebih hidup. Lebih baik daripada sekedar mengambil dan menulis ulang informasi dari internet.

     



  14. Pengalaman Pertama Menembus Media

    September 21, 2013 by murtiyarini

    Screenshot_2013-09-21-17-14-23-1

    Pengalaman pertama saya menembus media jangan dibayangkan sesuatu yang “wah”. Tahun 2006 saya jingkrak-jingkrak seneng banget saat foto saya dan Cinta (anak pertama) nampang di majalah Ayahbunda dengan cerita yang hanya terdiri dari 3 kalimat. Senengnya minta ampun bisa tampil di media.

    Sejak itu saya jadi rajin mencari rubrik yang memuat testimoni/pengalaman singkat/quote dari pembaca. Karena interestnya tentang parenting, dan sepertinya media parenting tahu keinginan pembaca untuk tampil di majalah, jadi ya klop, banyak lahan untuk mencoba. Sebagian ada honor/hadiah dari sponsor, sebagian hanya nampang saja saya sudah seneng.

    Tujuan saya yang utama sebenarnya mendokumentasikan tumbuh kembang si kecil dengan cara yang menyenangkan dan unik. Kedua, saya bisa semakin mengasah kemampuan menembus media. Walaupun ceritanya pendek, nggak mudah lho terpilih diantara puluhan atau ratusan pembaca yang juga mengirimkan cerita. Disini saya juga mengasah kepekaan, karena tiap media beda karakter, saya jadi tahu bagaimana sih maunya media tersebut. Untuk pemula, nggak ada salahnya mencoba dari sesuatu yang gampang/ringan.

    Sampai saat ini saya masih rajin kirim quote / testimoni. Kebetulan juga masih punya baby yang sayang untuk tidak didokumentasikan tumbuh kembangnya. Motherhood tema yg paling gampang buat saya karena masih mempunyai anak balita dan pra remaja. Sedangkan untuk artikel tergantung artikelnya, Femina, Intisari, majalah kesehatan, asalkan menerima tulisan dari penulis lepas.

    Setiap media mempunyai tema tertentu dalam waktu tertentu. Misalnya bulan desember untuk tema ibu, bulan mei untuk tema buru.  Untuk bisa menembus media, sebaiknya dikirim kira-kira 2 atau 3 edisi sebelumnya. Jadi kalo bulanan ya 2-3 bulan sebelumnya, dan untuk koran koran, 2-3 hari sebelumnya.

    Bagaimana mengetahui tema-tema yang diajukan pihak tabloid.  Tema parenting sepertinya umum sekali buat ibu-ibu yg sedang menikmati romantisme motherhood, kebetulan anak-anak masih kecil jadi itu jadi fokus utama saya saat ini. Saya mencatat hal-hal detil, dan prioritas mengambil yang idenya berbeda. Nah, untuk tahu cerita mana yg unik/beda ini tentu dengan banyak membaca dan membandingkan cerita yang dimuat sebelumnya.

    Yang terpenting adalah memahami karakter media. Misalnya majalah Ayahbunda karakternya lebih banyak info kesehatan ibu hamil-anak usia 5 tahun, lebih membahas hal-hal klinis, sedangkan Parenting, uuntuk mama & anak usia sampai 12 tahun, gaya bahasa seru, misi membuat mama lebih bahagia. Sebaiknya kita membaca terlebih dahulu media yang kita tuju, atau minimal mengetahui ketahui aja taglinenya, Ayahbunda = bacaan pasangan muda, Parenting = yang seru dan berguna buat mama, Parentsguide =Healthy kids, happy familly. (maaf nih, contohnya media parenting semua, kebetulan ini yang ada disekitar meja saya)

    Oh, tulisan lama bisa dimodifikasi. Tulisan yg dulu tersimpan, dimodifikasi dengan menghilangkan keterangan waktu, misalnya tidak menyebutkan umur anak dan tokoh lainnya.  Beberapa penulis parenting saya lihat anaknya sudah besar. Mereka tidak menceritakan anaknya lagi, hanya mengambil pelajaran dari cerita pas anaknya kecil dulu. Ini karena berhubungan dengan range usia pembaca.  Biasanya media mau yang fresh, penulisnya pada usia yang sama dengan pembaca.

    Mulailah menulis dari apa yang kita suka dan kita tahu.   Dan pengalaman adalah guru terbaik. Coba dan coba lagi.



  15. Give Away 2013: Aku dan Pohon

    July 22, 2013 by murtiyarini

    Teman Blogger, dalam rangka HUT saya yang tidak muda lagi, saya ingin mengadakan syukuran berupa Give Away pertama ini. Tema nya mudah, semua boleh ikut.

    Contoh Cerita :

    “Sebatang pohon bayam telah menyelamatkanku hari ini.  Ceritanya begini, pagi itu aku terburu-buru hendak mengejar bis pegawai.  Karena terburu-buru, serasa ada sesuatu terlupa. Tapi apa ya, aku benar-benar lupa.  Kulayangkan pandangan sekelilingku. Tatapku terpaku pada sebatang pohon bayam liar yang tumbuh ditepi trotoar. Kasihan pohon itu, tumbuh merana sendirian. Astagfirullah, tiba-tiba aku mengingat sesuatu.  Bayam…ya bayam….! Segera aku berlari kembali menuju rumah.  Tidak kupedulikan lagi waktu yang kian menipis.  Bis jemputan pegawai telah tampak di kejauhan.  Masa bodo ah, ada yang lebih penting dari itu.  Bayam…oh bayam. Lega juga setelah berlari bak sprinter, akhirnya aku sampai di rumah. Segera kutuju dapur. Lega, air dalam panci rebusan bayam masih tersisa 2 cm tingginya. Belum gosong. Terimakasih bayam di tepi trotoar yang mengingatkanku. “

    Sekilas tentang Bayam :

    Bayam (Amaranthus spp.) merupakan tumbuhan yang biasa ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik namun sekarang tersebar ke seluruh dunia. Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber zat besi yang penting. (http://id.wikipedia.org/wiki/Bayam)

    foto dari : http://leniblogs.blogspot.com/2012/12/taksonomi-tanaman-bayam.html

    Kamu juga punya pengalaman spesial tentang pohon? Bisa pengalaman lucu, menegangkan, pengalaman langsung maupun tidak langsung.  Apa saja, asalkan berhubungan dengan pohon. Tuliskan kisah kamu, disertai sedikit info tentang pohon dan fotonya (boleh dari sumber lain yang disebutkan sumbernya, namun lebih bagus kalau ada foto kamu bersama pohon itu).

     

    SYARAT DAN KETENTUAN :

    1. Peserta WNI bertempat di penjuru dunia manapun, asalkan punya alamat pengiriman hadiah di Indonesia

    2. Menuliskan cerita pribadi bertema Aku dan Pohon, disertai sedikit info tentang pohon dan fotonya (boleh dari sumber lain yang disebutkan sumbernya, namun lebih bagus kalau ada foto kamu bersama pohon itu). Panjang tulisan minimal 500 karakter,  maksimal 5000 karakter tanpa spasi.  Pohon dapat diartikan dalam arti luas flora, misal pohon rumput, pohon merambat dll.

    3. Pada akhir tulisan cantumkan tulisan “Give Away Aku dan Pohon” yang dihubungkan pada postingan ini

    4. Peserta wajib memasang banner di side bar blog pada periode lomba. Pasang gambat berikut dan ditautkan ke info Give Away ini.

    2013-07-29 05.14.18

    5.  Daftarkan nama, email dan link blog kamu di postingan khusus pendaftaran http://murtiyarini.staff.ipb.ac.id/2013/07/17/pendaftaran-give-away-2013-aku-dan-pohon/

    6. Kirimkan nama, alamat, no hp, dan link blog ke murtiyarini@ipb.ac.id dengan subjek : AKU DAN POHON [Nama Pengirim]

    7. Share postingan kamu karena bagi postingan dengan komentar terbanyak akan mendapatkan penghargaan khusus. Komentar terbanyak dihitung dari pengunjung blog (komentar pemilik blog tidak dihitung). Dihitung pada tanggal 19 september pukul 23.59

    8. Sembilan pengirim pertama yang tercatat di link pendaftaran akan mendapatkan buku cerita bergambar

    9. Pemenang komentar terbanyak dan 9 pengirim pertama masih berhak menjadi pemenang pilihan juri karena sistem penilaian yang berbeda.

    10. Pemenang pilihan juri dinilai berdasarkan: Keunikan ide, Kesesuaian tema, Eksplorasi flora yang dilakukan, Kenyamanan cerita dan tata penulisan. Juri adalah saya pribadi dan satu orang juri kehormatan (nama menyusul)

    11. Periode Give Away: Aku dan Pohon adalah tanggal 1 Agustus- 15 September 2013    pk. 23.59

    12. Pengumuman Pemenang 20 September 2013 di blog ini

     

    Total ada 16 paket hadiah-hadiah menarik menantimu. 

    Pemenang 1: 

    1370445880466

    Pemenang 2:

    1370444549514

    Pemenang 3 :

    1370442558831

    3 Pemenang harapan :

    1370444230921

    1 Pemenang  komentar terbanyak mendapatkan :

    ga

    9 pengirim pertama akan mendapatkan :

    1370445257553

    Saya tunggu yaaa…