Blog Archives

Saya dalam NET TV Live Talkshow (Indonesia Morning Show)

Surprise ketika Senin siang, 7 April 2014, saya mendapatkan telepon dari Mira Sahid, Founder Kumpulan Emak Blogger. Intinya saya diminta hadir esok hari dalam acara live Indonesian Morning Show, sebuah acara talkshow di NET TV.  Wow, mendadak sekali.

Tanpa bersiapan berarti, Selasa (8 April 2014) saya berangkat subuh-subuh ke NET TV di kawasan Lingkar Mega Kuningan Jakarta.  Semula saya kira hanya akan menjadi “penggembira” menemani Mira Sahid.  Ternyata, dari KEB hanya ada bertiga, Mira Sahid, Indah Juli dan saya selaku Srikandi Blogger. Waduh, serius nih ? Saya tampil dong…???

Bismillah, setelah briefing sesaat dengan kru NET TV, mas Cahyo, kemudian kami di- touch up rias wajah sedikit biar secantik dan sekeren presenternya, dan kami diminta menuju studio. Saat itu acara Indonesia Morning Show tengah berlangsung. Acara ini mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Sesi talkshow ada di pertengahan acara. Sekitar pukul 08.00

Mau tau rasanya? grogiiiiii.

Saya pikir saya sendiri yang grogi karena memang minim pengalaman berbicara di depan umum. Mak Mira Sahid dan Indah Juli saya yakin sudah lebih pengalaman. Ternyata, mereka berdua mengaku juga deg-degan. Baru kali ini menghadapi kamera dan live. Sekali lagi, live !

Tibalah giliran kami. Kru NET TV menghitung mundur,  10, 9, 8 , …..1 !

IMG-20140410-WA000

Adrian Maulana dan Shahnaz menyapa kami. Lalu mengobrol seperti biasa. Tanya jawab spontan seputar blog, KEB dan Srikandi Blogger.  Saya pun pasrah, menyerahkan diri untuk berani. Meniatkan tampil apa adanya saya. Toh saya bukan artis, hehehe…

Dan Alhamdulillah, semua berjalan lancara. Obrolan hanya berlangsung selama 14 menit.

Di luar studio kami disambut kembali dengan mas Cahyo “Wah, bagus bu, nggak kelihatan groginya seperti waktu briefing tadi. Semua mengalir lancar dan obrolan seru. Menarik sekali. Terimakasih untuk tampilan yang menarik tadi” demikian kata mas Cahyo pada kami.

Hggh…legaaa sekali. Serasa ringan kaki ini melangkah.  Saya pulang sambil senyum-senyum sendiri.

Sesaat saya buka facebook, twitter dan bbm, ramai ucapan selamat dan konfirmasi dari para sahabat dan keluarga.

Sampai sehari sesudahnya saya tidak berani melihat rekam ulang tayangan tersebut di Youtube. Sekarang sudah punya keberanian. Terlihat saya sedikit grogi, tapi not bad, lah..hahaha..harap maklum, bukan artis.

Untuk tahu siaran ulangnya silakan search You Tube : IMS Kumpulan Emak Blogger.

Terimakasih KEB dan NET TV atas pengalaman seru luar biasa ini.

IMG-20140410-WA001

 Foto dari Mira Sahid

 

Srikandi Blogger Inspiratif 2014


1011575_10201620743067761_432394219_n

9 maret 2014, Museum Nasional, Jakarta.

Saya terkaget ketika nama saya disebut sebagai Srikandi Blogger Inspiratif 2014.

Menjadi satu dari 10 finalis saja sudah sangat luar biasa, tak berani membayangkan mendapatkan gelar apapun lagi.

Saya melirik ke 9 teman finalis yang lain, ada diplomat yang sebentar lagi mau bertugas di PBB, ada apoteker sekaligus konselor rumah tangga, ada pemilik bisnis online, ada relawan TIK, ada dosen sekaligus relawan kelas inspirasi, ada ibu rumah tangga yang aktif menggerakkan perempuan sekitarnya untuk menulis, ada pengurus komunitas blogger sekaligus ahli IT dan ada pekerja sosial media yang pejuang buku untuk anak.

Apalah saya dibanding mereka? dan saya mendapatkan gelar ini. Alhamdulillah.

Dalam event ini terpilih Srikandi Blogger 2014 adalah Pungky Febriani, Srikandi Blogger Persahabatan adalah Meti Mediya, Srikandi Blogger favorit adalah Mugniar Marakarma  dan Srikandi Blogger Life Time Achievment adalah Bunda Lily.

 

1896993_10201610984703808_1228252490_n

 

Perhelatan Srikandi Blogger yang diadakan oleh Kumpulan Emak Blogger telah usai. Berita tersebar di berbagai media cetak dan online. Silakan googling “Srikandi Blogger 2014.”

Saya bangga membawa mewakili beberapa nama. Sebagai blogger dari IPB, blogger dari Bogor kota domisili saya saat ini, Blogger dari Trenggalek kota kelahiran saya.

Berikut beberapa linknya :

http://dariperempuan.com/inspirasi-tanpa-batas-dari-srikandi-blogger-2014/

http://www.srikandiblogger.com/srikandi-blogger-2014/

http://riacitinjaks.blogspot.com/2014/03/srikandi-blogger-award-2014.html

Foto dari Maria Citinjaks

Undangan Acara Puncak Srikandi Blogger

1656242_10202201746778545_1641125376_n

Profil 10 Finalis Srikandi Blogger 2014

Bangga berada di antara mereka

1010195_10200955181795609_205357456_n

 

Perhelatan tahunan Srikandi Blogger (SB) yang telah memasuki penyelenggaraan kedua, kini memasuki babak 10 besar. Kerja keras makpan (emak panitia) dan makjur (emak juri) telah menghasilkan 10 emak yang sangat menginspirasi, yang nantinya akan dipilih satu untuk menjadi Srikandi Blogger 2014. Dalam penjurian kali ini juga mengundang Ollie (Salsabeela), ikon blogger perempuan Indonesia. Tahap-tahap seleksi secara detil bisa dibaca di website resmi Srikandi Blogger.

Karena merupakan tahun kedua, maka penyelenggaraan tahun ini terorganisir lebih rapi. Para peserta juga tampak lebih siap dan antusias. Banyak potensi tak terduga yang berhasil diketahui emak-emak KEB pada saat para peserta diwajibkan memperkenalkan diri, baik melalui tweet bergiliran maupun ngeblog bareng. Bahkan kali ini para peserta diwajibkan mengunggah video visi dan misi masing-masing jika terpilih menjadi Srikandi Blogger 2014.

Perasaan takjub dan haru mewarnai perjalanan blogwalking para Emak Admin dari mulai babak penyisihan, 50 besar, hingga menjadi 10 finalis. Emak Board yang bertugas sebagai juri tak habis-habisnya mengungkapkan kekaguman atas kreativitas para peserta. Mau bukti? Yuk, blogwalking ke blog 10 finalis Srikandi Blogger 2014 berikut ini.

1. Caroline Adenanhttp://catatanoline.blogspot.com/2014/02/jika-aku-menjadi-srikandi-blogger-2014.html

Bersamaan dengan seleksi SB2014, mak Oline tengah menunggu kelahiran putranya. Oya, biaya kelahiran putranya ini gratis loh, karena mak Oline menang lomba berbagi cerita kehamilan di suatu portal khusus. Mak Oline adalah wirausahawati yang tangguh dan telah meraih beberapa penghargaan. Dalam keadaan akan melahirkan pun, mak Oline masih bisa memenuhi tugas para juri dari kamar bersalin. Selamat atas kelahiran putranya ya, mak.

2. Donna Imeldahttp://donnaimelda.com/2446/andai-aku-jadi-blogger/

Mak Donna adalah seorang dosen kimia yang juga menyukai fotografi dan menulis fiksi. Mak Donna memiliki kepedulian yang sangat besar pada pendidikan anak-anak. Selain sebagai relawan sebuah gerakan yang menginspirasi anak-anak untuk memiliki cita-cita tinggi, mak Donna tak ragu untuk mengambil cuti beberapa hari dan berbagi dengan anak-anak yang jauh dari pendidikan modern hingga ke Lereng Pegunungan Tengger.

3. Ida Nur Laelahttp://ida-nurlaila.blogspot.com/2014/02/andai-saya-menjadi-srikandi-blogger.html

Memiliki enam anak (iya benar, enam anak) tak lantas membuat langkah mak Ida dari Jogja ini terbatas. Sadar akan kemampuannya yang bisa bermanfaat bagi banyak keluarga di Indonesia, mak Ida bersama suami menyediakan diri untuk memberikan konseling dimanapun diperlukan. Emak yang sebenarnya juga seorang apoteker ini sudah mengunjungi banyak kota di Indonesia, bahkan sampai keluar negeri. Dinamika berbagi telah menjadi bagian dari kehidupan mak Ida beserta keluarga.

4. Indah Nuria Savitrihttp://indahnnuria.blogspot.com/2014/02/through-blogs-and-beyond-on-road-to.html

Sampai dimanakah seorang emak bisa berkiprah? Jika didukung penuh oleh keluarga, maka jawabnya adalah sampai emak itu sendiri yang menyatakan cukup. Mak Indah masih jauh dari batas itu, masih banyak yang bisa diberikannya pada negara ini. Karena itu, dalam waktu dekat mak Indah akan mengemban tugas sebagai diplomat di markas besar PBB di New York. Dengan kapasitas yang sedemikian besar, mak Indah tetaplah pribadi yang sederhana dan mudah akrab dengan siapapun. Mak Indah sangat mencintai Indonesia sehingga mengajak emak-emak lain untuk terus menjelajah dan mempublikasikan daya tarik Indonesia.

5. Meti Mediyahttp://www.metimediya.com/andai-aku-menjadi-srikandi-blogger-2014.html

Sebagai komunitas yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam berinteraksi dan berbagi, para emak sangat sadar akan adanya dua sisi dari pemanfaatan teknologi tersebut. Tapi mak Meti dari Bandung ini melangkah lebih jauh. Mak Meti tidak sekedar tahu dan mengaplikasikannya pada diri sendiri dan putra-putranya tapi juga mengedukasi masyarakat sebagai guru dan relawan. Kepada anggota masyarakat yang belum paham seperti ibu-ibu, mak Meti menyediakan waktu dan tenaga untuk bergabung dengan kelompok relawan yang memberikan pelatihan tentang pemanfaatan internet. Sedangkan bagi anak-anak dan remaja, mak Meti menyebarluaskan tindakan preventif untuk melindungi mereka dari pengaruh buruk internet.

6. Mugniar Marakarmahttp://indahnnuria.blogspot.com/2014/02/through-blogs-and-beyond-on-road-to.html

Apa arti menjadi ibu rumah tangga bagi emak dari Makassar ini? Banyak! Sangat banyak! Tidak terbatas hanya sampai pagar rumah saja. Ibu memiliki peran strategis dalam mempersiapkan masa depan suatu bangsa, karena itu mak Mugniar tak ragu menyampaikan pemikiran-pemikirannya baik di blog maupun media cetak. Mak Mugniar mengajak para ibu rumah tangga untuk meluaskan cakrawala, memandang lebih jauh ke sekeliling untuk menyuarakan perbaikan atau perubahan menuju tatanan masyarakat yang lebih baik.

7. Murtiyarinihttp://asacinta.blogspot.com/2014/02/mewujudkan-satu-dalam-karya-satu-dalam.html

Dunia semakin kompetitif. Semua orang ingin menang dan pujian. Sayangnya, tak semua orang berbesar hati dengan kenyataan bahwa kalah juga bagian dari kehidupan. Jika ada yang bisa menerima keduanya dengan baik, maka mak Arin adalah salah satunya. Berbagai gelar tak resmi menulis telah disandangnya, antara lain ratu media dan ratu lomba blog, karena seringnya mak Arin menang. Tapi jika kalah, mak Arin tetap semangat, memberi selamat kepada yang menang dan menjemput kesempatan berikutnya. Mak Arin mengajak emak-emak untuk fokus pada kelebihan dan keunikan masing-masing, tak perlu minder dengan kelebihan orang lain atau menjadikan kekurangan sebagai penghambat untuk berprestasi.

8. Pungky Febrianihttp://galaksipungky.blogspot.com/2014/02/kita-ada-untuk-berbagi.html

Mak Pungky dari Purwokerto adalah gambaran ibu muda masa kini yang penuh semangat dan memiliki banyak ide segar. Potensinya ini menunjang pekerjaannya sebagai seorangsocial media specialist. Pemikiran-pemikiran tajam yang dilandasi dengan kelembutan hati seorang perempuan, sama sekali tak menunjukkan penderitaannya sebagai seorang post natal depression survivor. Mak Pungky justru sibuk memperhatikan orang lain dan berusaha membantu mereka yang membutuhkan, kebanyakan dari anak-anak yang kurang mampu, dengan berbagai cara. Selain turun langsung ke lokasi-lokasi yang dibantu, mak Pungky berusaha mengumpulkan dana dengan berbagai kegiatan menulis.

9. Siti Hairul Dayah | http://catatansiemak.blogspot.com/2014/02/andai-aku-jadi-srikandi-blogger-2014.html

Satu lagi finalis dari Jogja adalah mak Irul. Mak Irul juga ibu berputra dan putri banyak, yaitu lima orang. Mak Irul adalah seorang pengabdi pendidikan yang mandiri. Putra-putrinya dididik sendiri dengan sistem home schooling. Tak berhenti hanya memperhatikan anak-anaknya sendiri, mak Irul juga meluangkan waktu, tempat dan tenaga untuk mengajar emak-emak dikampungnya. Mak Irul sedang merintis cita-cita untuk membuka semacam sekolah bagi emak-emak di kampung-kampung agar emak-emak bisa meningkatkan kemampuannya dalam mengurus keluarga dan menyiapkan generasi masa depan bangsa yang mandiri.

10. Siti Wakhidah Hajarhttp://idahceris.com/informasi/keep-writing-and-happy-blogging/

KEB tidak hanya beranggotakan emak-emak, tapi juga gadis muda seperti mak Idah. Mak Idah mewakili anak muda jaman sekarang yang gemar mengotak-atik internet dari segi teknis. Jika para ibu lebih fokus ke konten karena tidak terlalu paham template, SEO dan sebagainya, mak Idah malah menawarkan diri untuk mengajari para emak melalui kelas online. Mak Idah juga anak muda yang peduli dengan kemajuan daerahnya, Banjarnegara, yang dituangkan melalui tulisan-tulisannya di blog.

Jangan lewatkan untuk menonton video singkat yang dibuat emak-emak didalam postingan tersebut. Rasa syukur tak henti-hentinya kami ucapkan karena kami dikelilingi oleh emak-emak yang selalu berpikiran positif, kreatif dan inspiratif, baik dari peserta SB2014 maupun semua yang menyimak terus perjalanan pemilihan SB2014 ini. Terima kasih, mak. Sampai bertemu di puncak acara Srikandi Blogger 2014. Peluk sayang semua emak KEB.

 

Diadaptasi dari http://emak2blogger.web.id/2014/02/26/10-finalis-srikandi-blogger-2014/

Menjadi Finalis Srikandi Blogger 2014

Srikandi Blogger

 

Sujud syukur.  Alhamdulillah.

Bahagia tiada terkira, saya bisa sampai pada tahap ini : menjadi Finalis Srikandi Blogger 2014.

Setelah berbagai tahap perjuangan saya lalui, mulai bulan desember 2013.

 

Tahap pertama mengirimkan resume diri sebagai blogger.

Link tulisan di sini : http://asacinta.blogspot.com/2014/01/my-blog-membangun-budaya-berprestasi.html

Dan saya pun bisa lolos menjadi  50 Besar Calon Srikandi Blogger 2014.

 

Kemudian kami ber 50  harus melewati tantangan kedua, yaitu berupa promo diri (berupa tulisan, foto, gambar dan video) di twitter dan facebook dengan waktu yang telah ditentukan secara bergiliran.  Periode ini berjalan sangat meriah dan seru dimana respon para supporter terasa sangat antusias.

Selain promosi diri, kami juga diwajibkan membuat tulisan dengan tema “Perempuan dan Internet”.

Tulisan saya bisa dilihat di sini :  http://asacinta.blogspot.com/2014/01/internet-dalam-pendewasaanku.html

Saya mencoba melihat internet dari sisi sosial, lebih dari manfaatnya dalam hal teknologi.  Rupanya tulisa ini mendapat respon sangat baik dari pembaca. Alhamdulillah, senang sekali.

 

Dan akhirnya terpilihlah saya sebagai 10 Finalis Srikandi Blogger 2014.

Kami sedang dalam proses seleksi tahap 3. Pada tahap 3 ini finalis diminta membuat tulisan dengan tema “Andai Aku menjadi Srikandi Blogger”, tema yang memang sudah saya duga sebelumnya. Insya Allah sudah siap.

Dan bukan hanya tulisan, finalis diwajibkan membuat video durasi 1 menit dengan tema yang sama.  Hm, terus terang, saya harus banyak belajar dalam membuat video :)

Ke   10 Finalis ini akan tampil dalam panggung perhelatan akbar Srikandi Blogger 2014. pada tanggal 9 Maret 2014 di Jakarta. (waktu dan tempat akan diinformasikan kemudian di situs www.srikandiblogger.com)

Saya akan berjuang mewakili kota Bogor tempat saya tinggal, kota kelahiran saya Trenggalek,  dan IPB sebagai tempat saya bekerja saat ini. Saya mohon doa restu, mohon dukungan, berharap saya bisa meraih gelar Srikandi Blogger 2014.

 

Road to Srikandi Blogger 2014 [Registrasi]

Untuk kedua kalinya, Srikandi Blogger akan dilaksanakan tahun ini.  Sebuah event bergengsi dari Kumpulan Emak-emak Blogger.

Anda blogger perempuan? tidak ada salahnya mencoba event ini.

Registrasi : 3 – 16 Desember 2013 (2 minggu)

PERSYARATAN PESERTA:

1. Perempuan (sudah berumah tangga maupun belum)

2. Umur minimal 20 tahun

3. Tinggal di Indonesia atau di luar negeri

4. Blogger dan memiliki blog aktif (Blogspot, WordPress, Tumblr, domain sendiri, dll, asalkan milik pribadi).

Maaf, untuk yang hanya memiliki akun Kompasiana, belum diperkenankan ikut

5. Usia blog lebih kurang 1 tahun

6. WAJIB terverifikasi di grup Facebook KEB, like fanpage KEB, dan follow Twitter KEB

7. Peserta yang sudah pernah terpilih sebagai salah satu dari 10 finalis Srikandi Blogger 2013 tidak diperkenankan ikut lagi

Catatan: untuk 10 finalis Srikandi Blogger yang terpilih nanti, diharapkan bisa membuat video singkat (1/2-1 menit) yg menceritakan tentang dirinya.

Cara registrasi:

1. Tulis tentang diri emak-emak (aktivitas di dunia blogging, dunia sehari-hari, dll) maksimal 2 halaman A4 spasi 1,5 font TNR 12

2. Data diri emak di atas dikirim dalam bentuk lampiran (attachment) e-mail

3. Jangan lupa, di badan e-mail tulis nama lengkap emak, alamat blog, nama di Facebook, dan Twitter

4. Kirim ke e-mail: keb[dot]event[at]gmail[dot]com Subjek: Registrasi SB2014 – [nama emak]

5. Registrasi ditunggu paling lambat 16 Desember 2013

 

 

[TIPS MENEMBUS MEDIA] MEDIA ONLINE

Akhir-akhir ini saya lebih banyak waktu untuk membaca media online, karena bisa dibaca dari HP sambil kelonan (dengan anak).
Di era digital, media online kian populer karena beberapa kelebihannya :

  1. Paperless
  2. Cepat diakses
  3. Ekonomis
  4. Banyak menyediakan ruang publik (citizen jurnalism) sehingga lebih bebas bertukar informasi
  5. Mudah dibagi di jejaring sosial

Media online ada yg membebaskan penggunanya mengunggah tulisan tanpa moderasi, dikenal denga blog bersama, misalnya kompasiana, blogdetik dll, ada juga yang dengan moderasi dan seleksi, misal media Indonesia (ruang citizen jurnalism), tribun news dll.

Detik news biasanya menerbitkan berita dengan cepat. Kalau tidak salah di Detik news ada laman suarapembaca.detik.com, menerima opini dan foto.

Media online bisa menjadi ajang berlatih menulis bagi penulis. Jika masih ragu, bisa dimulai dari surat pembaca, hehehe…itu tahap paling mudah.

Menulislah dari tema apapun, jangan minder karena tema untuk media online sangat beragam.

Cara mengirim tulisan ke media online ada dua cara. Pertama bisa melalui email dan kedua dengan posting di situsnya langsung. Kita harus mengunjungi situsnya untuk mendapatkan info detilnya.

Cara kirim yang posting langsung di situsnya seperti pada kompasiana. Tulisan akan langsung tayang alias nggak ada seleksi. Di kompas cetak sekarang ada rubrik kompasiana, yaitu Kompas Frezz, setiap hari rabu.  Tulisan diambil dari postingan di kompasiana yang terseleksi dan menurut redaksi bagus. Dari kompasiana kita bisa belajar, kalau highlight berarti tulisan bisa mejeng agak lama, kalau headline bisa sebulan dan kesempatan dibaca orang semakin banyak. Kalau kompasiana tidak menyediakan honor. Senengnya, kalau di kompasiana tulisan kita bisa nangkring di headline, artinya tulisan kita banyak dikunjungi pembaca.

Jikalau ditolak di media online, jangan pernah berputus asa. Ada banyak sekali situs media online. Dioper dan daur ulang saja sampai tulisan itu menemukan jodohnya.

{TIPS MENEMBUS MEDIA] MENENTUKAN IDENTITAS PENULIS

Beberapa kali saya mendapat komentar “Dirimu enak mbak, tiap artikel dimuat ada identitas yang pantas dicantumin dibawah nama penulis, makanya sering dimuat. Lha aku mau nulis apa…masa’ ibu rumah tangga?”

Hm, memang untuk tulisan non fiksi di media, identitas penulis biasanya dicantumkan di bagian bawah tulisan. Hampir selalu ada, karena memang pembaca pasti mau tau siapa sih penulis? Apa kapasitasnya menulis ini?

 

Untuk koran-koran besar nasional, kita bisa lihat identitas penulis yang bikin kita langsung mengkerut, contohnya : Guru Besar, Direktur,  Aktivis, Staf Menteri, Anggota Dewan dan lain-lain.

 

Koran tentu nggak mau sebuah tulisan hanya Omdo (omong doang) atau gagasan kosong, karena itu identitas penulis sangat diperhatikan.

Jangan ciut dulu, ingat, kita bisa punya banyak peran lo !

 

Coba kita cari identitas apa yang bisa kita tempelkan pada tulisan kita. Masing-masing tulisan bisa dengan identitas berbeda. Saya gunakan identitas sebagai Ibu untuk artikel parenting, sebagai karyawan untuk artikel perempuan & dunia kerja, sebagai sarjana pertanian utk artikel pertanian & sains, terakhir kemaren saya memberanikan diri menyebut diri “penulis” untuk tulisan tentang bahasa di jawa pos. Yang penting nama tetap sama, identitasnya aja beda. Hehehe

Bagaimana dengan Blogger ? Wow, sudah jelas bisa banget dijadikan identitas dan membanggakan.

Jadi sebuah tulisan yang bagus bisa datang dari siapa saja. Kekuatan tulisan di atas ada pada sajian pengalaman hasil eksplorasi lingkungan sekitarnya oleh penulis, jadi identitas yg digunakan sudah sangat tepat. Pengalaman seseorang adalah suatu ilmu/data yang valid .

 

Identitas ini penting untuk petunjuk redaktur merunut latar belakang kita menulis tema tersebut, apakah mengalami, mempraktekkan atau hanya baca dan menulis ulang. Jadi untuk menyakinkan redaktur bahwa penulis tidak copy paste atau plagiasi.

 

Juga seperti yg kusebut diatas, menghindarkan gagasan “kosong” yang kadang nggak realistis. Buat redaksi penting, karena mereka juga bertanggung jawab memilih tulisan mana yang layak atau tidak.

Bisa jadi tema tulisan bagus banget, tapi redaktur ragu dengan kapasitas penulis, akhirnya tulisan ditolak.

Contoh:

Identitas Guru SMA , menulis tentang teknik bedah syaraf = kemungkinan besar ditolak

Identitas Dosen Unibraw, tema : mengatasi gelandangan dan pengemis di Bogor = Apa hubungannya?

Bisa saja si dosen pernah ke bogor, tapi dia domisili di Malang. Namun identitas ini kurang relevan karena bisa-bisa dibilang “sok tau” oleh pemda Bogor. Mungkin akan lebih dihargai kalo tulisan tentang “pengemis di Bogor” ditulis oleh : Ibu Rumah Tangga di Bogor.

Hanya saja, redaksi tidak bertanya langsung kepada kita kalau identitas dirasa kurang pas atau kurang lengkap, redaksi hanya punya 2 pilihan : terima atau tolak. Jadi kalau tulisan ditolak, identitas patut kita cek ulang, seperti halnya kelengkapan administrasi yang lain.

DAUR ULANG NASKAH

Pernahkah anda menerima “surat cinta” (penolakan naskah) dari redaksi sebuah media?

Jika belum, ada 3 kemungkinan:
1. Naskah akan segera dimuat dalam waktu dekat.
2. Anda dan Redaksi sama-sama tidak saling mengkonfirmasi nasib naskah tersebut.
3. Anda belum pernah mengirimkan naskah, hehehe
Saya pernah menerima surat cinta tersebut.
Tentu saja langsung patah hati. Tapi tidak lama, sekitar 30 menit saja.
Selama itu saya mencari-cari peluang kemana sebaiknya naskah kembali ini saya kirimkan?
Saya memperlakukan setiap tulisan saya dengan istimewa, jadi kalaupun ditolak oleh sebuah media, saya pikir itu hanya sebuah perbedaan selera. Jangan pernah membuang atau menyimpan naskah anda terlalu lama. Segera lakukan daur ulang!!

Tips melakukan daur ulang
1.    Baca kembali naskah lama anda, apakah informasi dan ide-ide di dalamnya masih aktual. Jika sudah basi, lakukan perbaikan dan tambahkan informasi terbaru.
2.    Pastikan kembali apakah naskah itu perlu mengalami perubahan format penulisan atau menurut anda masih oke. Perubahan format bisa terjadi jika anda menyasar media dengan visi misi yang agak jauh berbeda dari media pertama. Dari artikel lama bisa saja anda perlu memecahnya menjadi 2 atau 3 pokok bahasan, dan ini sebenarnya kabar bagus, anda menemukan pengembangan ide baru atas naskah lama anda.
3.    Lakukan perubahan gaya bahasa sesuai media baru yang akan anda tuju. Perubahan gaya bahasa tidak selalu harus terjadi, kadang kala gaya penulisan kita udah cukup bisa masuk ke beberapa jenis media sekaligus kok.

Sebagai contoh, saya pernah gagal dalam sebuah antologi. Tulisan tersebut saya daur ulang sedikit, dan kemudian saya kirimkan ke sebuah majalah nasional, dan dimuat tak lama kemudian. Jadi ibu-ibu, perlakukan setiap naskah anda dengan istimewa, carikan tempat terbaik, karena mungkin saja “nasibnya” akan lebih baik setelah mengalami beberapa penolakan. :)

Lantas bagaimana naskah yang diikutkan dalam event antologi? Antologi itu kumpulan cerita yang ditulis oleh beberapa orang. Dengan mengikuti event antologi setidaknya bisa memancing ide menulis dengan tema-tema yang dilombakan. Bagaimana kalau tidak lolos seleksi alias gagal? Yah dimodif saja. Naskah saya ada yang tidak lolos diseleksi antologi, eh ketika saya modifikasi dan ikutkan lomba lain malah dapat kompensasi yang lumayan besar, jauh dibandingkan hasil audisi antologi hehehe… alhamdulillah ya . Dan daur ulang naskah itu biasanya tidak membutuhkan waktu yang banyak, jadi bisa sambil terus memproduksi tulisan-tulisan baru.

Jika telah mengirimkan tulisan ke media atau penerbit dalam kurun waktu yang lama, yah minimal 1 bulan lah, sebaiknya minta konfirmasi kejelasan naskah kita kepada yang bersangkutan, apakah diterima, ditolak atau kelupaan dilirik 😀

Dan kalau mau daur ulang sebaiknya dikonfirmasi dulu, agar tidak dobel tayang. Malahan, saya belum mengirim ke media yang sama kalo tulisan saya yg lama belum jelas nasibnya (ini tidak perlu dicontoh krn mengurangi produktivitas).

Alasannya, karena saya tidak mau naskahku tercecer atau terlupa. Juga karena saya selalu berpikir bahwa ide-ide saya spesial, sayang kalau tidak jelas nasibnya. Percaya diri saja…

Semakin rajin menulis, maka semakin banyak file yang akan kita buat. Untuk itu dibutuhkan manajemen folder di komputer kita. Penting bagi kita membuat folder-folder yang rapi, misalnya:
– Folder tulisan sedang dalam proses pembuatan
– Folder tulisan yang sudah dikirim tapi belum dimuat (belum ada konfirmasi)
– Folder tulisan yg sudah dimuat
– Folder tulisan ditolak dan siap didaur ulang
Atau judul-judul file lainnya sesuai dengan kebutuhanmu.

Jadi jika ada naskah yang tertolak. Buat apa patah hati atau patah semangat. Naskah istimewa itu hanya butuh sentuhan daur ulang sedikit, jika ditolak di media A masih ada media B, C sampai Z. Semangaaatt.*

IT’S NOT ALL ABOUT THE MONEY

Pertanyaan sering muncul tentang honor pemuatan di media.

Ada honor nggak, berapa besaran honornya? Atau dapat apa?

Lalu membandingkan media satu dengan yang lain. Media nasional umumnya lebih besar daripada media lokal. Media yang banyak iklannya honornya juga lumayan.Tapi ada juga media (nasional) yang tidak selalu memberikan honor, terutama untuk tulisan-tulisan pendek.
Lantas, apakah anda merasa tidak dihargai tanpa honor?

Atau memilih media berdasar honor?

Ini adalah pilihan. Honor adalah hak penulis, hanya saja bentuknya bisa bermacam-macam. Setiap penulis punya kriteria berbeda. Terkait honor, saya pribadi punya urutan prioritas.
Pertama adalah adanya kesamaan pola pikir media tersebut dengan diri saya. Jika saya suka, nggak dihonorpun nggak masalah. Yang penting ide saya tersampaikan. Kebetulan nggak sering kejadian begini, hampir semua memberi honor. Pernah ada satu media nasional yang tidak memberi honor berupa uang. Pihak media sudah menyampaikan di awal pada saya, bahwa mereka tidak ada space untuk contributor, jadi tidak ada honor. Tapi ketika tulisan yang saya kirim diminta untuk tayang, saya seneng banget dan merupakan suatu kehormatan, so its oke tanpa honor
Kedua, skala besar kecilnya media. Untuk media nasional, bisa dimuat saja sudah senang, apalagi di honor. Namun, ada rubrik-rubrik tertentu tanpa honor, misalnya rubrik yang meminta opini pendek/testimoni. Tetep saya aktif nulis disana. Kok mau sih tanpa honor? Saya mau karena saya punya tujuan lain, yaitu branding nama, agar semakin sering nama saya dibaca.
Ketiga, menulis untuk siapa? Jika untuk organisasi yang saya ikuti, atau untuk amal atau demi bisa sebuku dengan teman-teman dalam satu komunitas misalnya, saya rela tidak dihonor. Tapi jika menulis untuk kepentingan seseorang atau satu golongan yang hanya membesarkan nama sepihak, tentu saya menuntut honor yang pantas, hehehe….

 

Di atas adalah pilihan saya, bagaimana dengan anda?

 

Berikut beberapa cerita teman-teman saya:

 

Pengalaman teman saya, Wida Warida mengirim tulisan ke media sejak tahun 2000-an, waktu itu honor biasanya dikirim via wesel dan mencairkannya ke kantor pos. Terus, lucunya lagi, Wida menyimpan struk setiap tulisan yang dimuat. Nah, setelah sekian lama, Wida menemukan kembali struk bersejarah itu dan katanya, berasa gimana gitu…

 

Anisa Widiyarti sepakat dengan saya. Anisa  sebenarnya tak terlalu masalah dengan besarnya honor. Asalkan media tersebut menghargai karya kita. Kalau memang dimuat, ya berikan honornya. Jujur, Anisa suka dengan kompas group. Mereka langsung mentransfer honor tanpa banyak babibu.

 

Ya, menurut saya semuanya kembali ke masing-masing pribadi.
Kalau sejak awal tau itu acara amal, tentu harus siap jika tak dihonor.
Tapi untuk media, saya benar-benar membuat list siapa saja yang pantas saya kirimi karya.
Honor menurut saya bukan hanya masalah Rupiah, tapi bagaimana media tersebut menghargai karya kita.

 

Menurut Bunda Haifa, arti manfaat dalam sebuah tulisan itu relative. Menurutnya, sesungguhnya bermanfaat itu bisa membuat orang berpindah dari titik tidak baik ke mendingan, dari titik mendingan ke titik lebih baik. Sebagaimana arti belajar. Belajar adalah proses membuat orang menjadi lebih baik.

 

Cerita Pritha K, waktu tahun 2008 blog pribadiku dibukukan. Awalnya menurutku tulisan itu ga penting. Ya iyalah saat orang-orang nulis sesuatu yang smart kayak tips ini dan itu atau novel bergizi eh ini cerita keseharian aku diterbitkan. Tapi saat penjualannya lumayan dan banyak respon yang positif masuk ke emailku, aku baru ngeh ternyata sesuatu yang biasa aja (bahkan sempat bikin ragu) buatku ternyata berarti buat banyak orang.

 

Menarik bukan? Uang bukan yang utama, tapi penting juga sih… :))

TIPS MENGUBAH KISAH PENGALAMAN PRIBADI MENJADI ARTIKEL

contoh artikel

Kebetulan, genre tulisan saya lebih mengarah pada artikel.  Saya sering mendapat keluhan tentang sulitnya membuat artikel. Definisi artikel itu apa? Jika ditanya begitu, saya merasa tidak kompeten menjawab tentang teori tulis menulis.  Yang saya tahu, di media ada jenis tulisan pengalaman pribadi dan artikel.

Sekilas bedanya begini,

Ciri Pengalaman pribadi :
-sudut cerita penulis sebagai orang pertama
-melibatkan orang-orang terdekat penulis dalam bercerita
-detil menuliskan kronologi atau ditulis berdasar kronologi
-tulisan panjang, biasanya tanpa sub judul
-ending terdiri dari satu atau dua solusi yang diterapkan oleh penulis

Ciri Artikel
-penulis tidak menyebutkan dirinya sebagai tokoh dalam tulisan
-tidak ada tokoh dalam tulisan, atau kalaupun ada tidak menonjol ke seseorang
-kadang kala menyisipkan teori dari pakar
-tulisan dibagi atas sub judul dan poin-poin tapi tidak selalu urut kronologi
-ending terdiri atas berbagai solusi yang bisa diterapkan oleh orang banyak

Buat saya, lebih mudah menulis jika yang ditulis berangkat dari pengalaman pribadi. Tapi karena rambu-rambu yang menurut saya perlu dijaga, saya memilih untuk mengubahnya menjadi artikel.

Untuk mengubah pengalaman pribadi menjadi artikel saya ambil langkah berikut :

  1. Jadikan cuplikan pengalaman pribadi sebagai prolog yang mengantar pembaca pada isi
  2. Tarik kesimpulan/hikmah dari pengalaman anda, misal 3-4 poin yang kemudian bisa jadi sub judul
  3.  Uraikan kembali sub judul tersebut dengan meminimalkan kata “saya” . Generalisasi pengalaman anda seolah orang kebanyakan mengalaminya
  4. Cari data (tidak harus angka-angka lho) di internet atau wawancara teman-teman untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pendapat dari sudut pandang berbeda. Rangkum dan masukkan dalam sub judul yang sesuai
  5. Untuk mempermanis, cari teori dari tokoh/pakar yang mendukung poin-poin/sub judul anda.
  6. Pada bagian akhir, boleh sedikit beramah tamah dengan pembaca dengan kembali menampilkan kata “saya”

Itu langkah-langkah saya menulis artikel berdasar pengalaman pribadi. Lama-kelamaan, saya lebih suka menghilangkan kata “saya” dan menulis secara lebih general.

Berikut adalah contoh artikel dari pengalaman pribadi dan saya lengkapi datanya dengan menanyakan pengalaman teman-teman di facebook.

http://asacinta.blogspot.com/2011/10/cinta-kedua.html

Saya tidak terlalu menghiraukan aturan ini-itu yang kadang membatasi karakter menulis kita. Contohnya dalam menulis artikel perjalanan, disini biasanya penulis malah menceritakan pengalaman pribadi. Nah, kalo itu disebut artikel atau pengalaman pribadi? Bingung kan?…hehehe..

Kisah perjalanan lebih sering disebut artikel, karena walaupun pengalaman pribadi tapi bukan full curhat cerita tentang pribadi penulis, melainkan cerita tentang hal-hal yang sifatnya umum dan orang lain bisa lakukan hal yang sama.

Selamat menulis.

KORAN TIDAK SERAM

Sebelumnya, koran dianggap “seram”, dalam arti isinya berita politik, hukum dan berita-berita berat yang menyajikan data-data rumit. Dan itu membuat banyak orang enggan memasukan tulisan ke koran.

Di sini, saya ingin mengajak untuk menaklukkan Koran. Mari kita ubah “mind set” kita terhadap Koran. Koran bukan hanya milik politikus, praktisi hukum, dosen, pengusaha atau ilmuwan. Tapi ingat, Koran juga dibaca masyarakat menengah ke bawah, dan mereka yang putus sekolah. Koran sebagai sarana mencerdaskan bangsa, akan berusaha menjangkau pembaca dari kalangan manapun. Untuk menjangkau itu, jelas bahasa dan materi yang disajikan tentu bukan yang rumit dan berat.

“Mutu sebuah tulisan bukan pada rumit dan beratnya materi. Namun pada kecerdasan ide solusi, kejelian mengambil kasus dan penyajian yang nyaman untuk dibaca sehingga bisa dipahami lebih banyak orang.”
(dikutip dari Murtiyarini, 2012) :)

 

Berkaitan dengan ide cerdas dalam menulis, sebenarnya ide cerdas itu tidak usah dipaksakan untuk dicari. Ia akan terasah kalo sering baca dan mengamati. Yang menurut kita biasa, bisa jadi hebat bagi orang lain. Sekali lagi ingat segmen pembaca koran: semua kalangan. Jadi jangan ada kata minder.

Sekarang hampir di setiap daerah terdapat koran lokal. Walaupun koran lokal, muatannya tidak selalu lokal banget lho, artinya bisa saja menerima info tentang luar daerah tersebut.

Konon, koran lokal lebih mudah ditembus.  Oiya, benarkah? Mungkin, asalkan penulis rela di bayar dengan honor minimal.  Hehehe.  Pengalaman saya, lebih mudah menembus koran nasional di banding koran local karena koran nasional mempunyai budget dan space untuk penulis luar.  Sementara koran local, terkait budget, hanya mengandalkan tulisan-tulisan dari wartawannya saja.

Mengirim naskah ke koran sebaiknya melalui email saja. Koran cepat tayang, redakturnya tidak ada waktu lagi untuk mengetik ulang naskah hard copy.  Redaktur koran memang jarang membalas email. Jadi kalo sudah tempo tertentu tidak dimuat dianggap ditolak.  Misalnya, Jawa Pos secara tertulis member tempo 5 hari. Koran Jakarta 2 minggu. Yang lain nggak menyebutkan, terserah bagaimana kita menafsirkan. Kalau dirasa sudah terlalu lama dan bisa dikirimkan ke media lain ya tarik saja dari media pertama.

Cara mengirim tulisan ke media melalui email cukup dengan mengirimkan file word (naskah) yang dilampirkan pada email. Badan email hanya berisi pengantar saja.  Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah copy email/surat wajib disimpan penulis utk jaga-jaga jika terjadi sesuatu, misal plagiasi atau double tayang.

Tips agar tembus media:

  1. Sesuaikan moment-moment tepat yang aktual untuk dituliskan. Misalnya bulan mei ini sarat dgn pendidikan, maka menulis opini atau artikel pendidikan biasanya akan lebih menarik perhatian redaktur koran.  Banyak kok koran-koran lokal atau nasional yang memuat karya penulis pemula. Bagi mereka yang penting tulisannya bagus dan sesuai dengan koran mereka. Jadi tidak perlu kuatir kalah saingan dengan senior.
  2. Liat gaya bahasanya. Tiap koran/majalah, biasanya punya beda-beda gaya bahasa.  Koran tidak banyak variasi gaya bahasanya.  Koran lebih mengutamakan tren berita.
  3. Pelajari rubrik-rubrik yang ada di koran tersebut. Masing-masing rubrik juga ada ciri khasnya tersendiri. Rubrik sains, tentu berbeda dengan rubric jalan-jalan dan lain sebagainya.
  4. Karena koran terbit harian, kita harus cepat tanggap sama berita-berita yang lagi up to date. Jangan terlalu lama berpikir, nanti beritanya terlanjur basi.
  5. Tulis hal-hal yang disukai, dan membiasakan diri menulis dengan bahasa indonesia baku. Selebihnya, tinggal mengikuti kriteria yg ditentukan oleh media masa yg akan di kirimi tulisan.

Nggak seram lagi kan?

Miliki, Walaupun Hanya Satu dan Bekas !

7 tahun lalu, ketika tulisan saya mulai menyasar media cetak, informasi tentang syarat pengiriman, alamat media, jumlah kata, karakter media dan lain sebagainya belum sebanyak dan semudah saat ini.

Sebelum menulis saya mempelajari media bersangkutan secara langsung untuk melihat gaya bahasa, menghitung jumlah kata/karakter secara manual, dan kemudian tulisan-tulisan itu saya kirim via pos.

Sulit menyelami karakter media jika kita tidak memegang, paling tidak, satu eksemplar media tersebut. Karena itu, saya melengkapi koleksi dengan berburu ke tukang loak (biar hemat). Hasilnya lumayan, beberapa majalah bekas dengan tahun terbaru bisa didapat, Selain itu, saya intip-intip di toko buku, walaupun tidak bisa leluasa membaca setidaknya saya mengikuti trend yang sedang berlaku.

 

Membaca langsung media, saya rasa masih menjadi cara terbaik untuk menyelami gaya penulisan dan tentu saja mempermudah kita membuat tulisan yang sesuai. Ketentuan teknis seperti jumlah kata/karakter hanyalah sebagian kecil dari bagian yang harus kita ketahui. Kadangkala, hal-hal tersebut bisa fleksible, bisa dinegosiasi selama tulisan anda bisa menarik hati redaksi.

 

Ada bagusnya mengoleksi daftar alamat dan ketentuan pengiriman berbagai media, namun jangan hanya jadi koleksi tanpa gambaran yang jelas. Jadi, milikilah media yang ingin anda sasar, minimal satu eksemplar.

 

Caranya?

Nggak ada budget beli baru, ya beli bekas.

Nggak ketemu beli bekas, ya pinjam sama teman

Nggak ada teman yang punya, coba deh ke ruang tunggu rumah sakit, dokter atau salon, biasanya tersedia tuh majalah-majalah baru dan lama.

Asalkan berani minta ijin untuk numpang baca hehehe…

Usaha anda menentukan hasilnya  :)

Tata Krama Menulis Kisah Pribadi / Kisah Nyata

kisah inspiratif

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang menuliskan kisah pribadi dalam bentuk kisah inspiratif.  Pada umumnya, perempuan lebih suka menulis tentang kisah pribadi.  Bisa tentang keluarga, anak, suami, pekerjaan kantor dan tentunya melibatkan pihak-pihak lain selain dirinya sendiri.

Sebelum memutuskan menulis tentang kisah pribadi, sebaiknya kita renungkan kembali hal-hal berikut

  1. Ibu paling suka menulis tentang anak. Apalagi si anak sedang lucu-lucunya. Kadang-kadang karena terlalu antusias menulis, menulis dan menulis, kita terlalu detil bercerita dan menyentuh hal-hal yang memalukan/menyedihkan dengan dalih INSPIRATIF untuk orang lain. Bayangkan, jika si anak sudah mengerti (kalau tidak sekarang beberapa tahun kemudian), kira-kira apa reaksinya?
  2. Sementara kalau ibu menceritakan hal yang membanggakan, tetaplah mengontrol tulisan, ingatlah juga reaksi pembaca. Mungkin saja ada yang merasa “ihh, lebay, kayak anaknya sendiri aja yang hebat” nah lho..hehehe…
  3. Senada kasusnya dengan anak, ketika kita menceritakan suami, mertua, ibu, dan keluarga besar, harus benar-benar anda pikirkan reaksi mereka dan dampak sesudahnya ketika melihat kisah mereka beredar di masyarakat. Cerita tentang romantisme dengan suami, ijin dulu sama suami, siapa tahu suami hanya ingin berbagi romantismenya dengan anda.
  4. Untuk memenuhi target jumlah halaman yang cukup banyak, seringkali kita mengisinya dengan hal-hal yang terlalu detil. Ingat, pembaca tidak selalu ingin mengetahui detil riwayat hidup penulis. Jadi, kita menulis seperti bercerita pada orang asing yang baru kenal, ceritakan cukup poin-poin penting yang mengarah pada inti cerita. Lebih menarik jika kita memperdalam pemikiran atau filosofi dari tiap poin itu.
  5. Pikirkan sebelum menyebut merk sebuah produk atau nama sebuah instansi dalam tulisan, terlebih jika bernada negatif. Kita boleh berani menyampaikan kebenaran, tapi apakah sudah siap dengan urusan hukum yang mungkin muncul sesudahnya?
  6. Kisah inspiratif dan menyentuh bukan selalu harus melankolis dan mengharukan. Pembaca ada yang suka kisah sedih, tapi ada juga yang justru tidak tersentuh ketika sebuah tulisan terlalu mengiba, minta belas kasihan. Saya pribadi lebih suka cerita orang-orang yang kuat.

Kaidah-kaidah yang di paparkan bisa menjadi acuan saat kita menuliskan kisah pribadi. Yang terpenting sebenarnya adalah mengantarkan kepada pembaca apa kira-kira hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah itu.  Jaga privacy keluarga, kredibilitas merk/branded, kredibilitas diri sendiri.

Beda cerita jika kita menuliskan surat keluhan tentang sebuah produk melalui surat pembaca di media massa.  Surat pembaca umumnya meminta klarifikasi dari merk atau perusahaan yang disebut.  Walaupun sifatnya mengeluh atau complain, tetap gunakan bahasa yang santun.

Jika anda penulis fiksi, menulis kisah nyata nan inspiratif bisa diubah menjadi tokoh-tokoh fiksi. Cara ini lebih aman karena nama asli disamarkan.  Pembaca benar-benar hanya mengambil hikmahnya.

Namun tampakanya pasar pembaca lebih menyukai kisah nyata, sehingga hal ini mendorong merebaknya penulisan kisah nyata, memoir, profil dan sejenisnya.  Solusinya, penulis dapat menyamarkan hal buruk menjadi sebuah hikmah yang inspiratif.  Apakah hasil tulisan akan kehilangan rasa? Hm, saya pikir ini tergantung kemampuan si penulis dalam menyajikan rasa.

Jadi, nggak boleh nih menulis menceritakan kisah pribadi?

Eh, siapa yang melarang? Saya hanya menyampaikan rambu-rambunya. Tidak ada larangan, karena baik buruknya dampak yang akan dituai, sepenuhnya menjadi resiko penulis.

So, tetap tuliskan kisahmu karena mungkin akan menginspirasi orang-orang disekitarmu.

Melestarikan Jamu, Mencintai Budaya Indonesia (Juara 1 Lomba Blog Jamu Biofarmaka)

 

Jamu, Budaya Bangsa dari Masa ke Masa

 

Sebagai orang Indonesia tulen, sejak kecil saya sudah mengenal jamu. Saya paling suka jamu beras kencur, karena rasanya yang enak. Menjelang remaja saya berkenalan dengan jamu kunyit asem, jamu sinom, jamu gopyokan dan lain sebagainya.  Jamu-jamu banyak ragamnya, dari yang seger, asem, manis sampai pahit. Saya minum jamu dalam frekuensi yang wajar saat diperlukan, tidak setiap hari. Bukan tidak mencintai jamu, tetapi lebih karena alasan medis yang saya pahami. 


Entah sejak kapan jamu tercipta dan siapa penemunya tidak ada yang tahu. Yang pasti, jamu adalah warisan budaya bangsa, buah karya dan karsa bangsa Indonesia yang manfaatnya bagi kesehatan dan kecantikan telah dirasakan berabad-abad lamanya. 

 

Jamu adalah budaya Indonesia sejati. Buktinya, jamu menjadi minuman berbagai kalangan.  Sudah menjadi pemandangan sehari-hari, seorang perempuan memanggul bakul berisi botol-botol berisi jamu.  Perempuan tersebut dikenal dengan nama akrab mbak jamu, sedangkan jualannya dikenal sebagai jamu gendong.  Si Mbak Jamu menggendong jamunya menyusuri jalan, menawarkan jamu ke pelanggannya. Konsumennya dari bapak-bapak, ibu-ibu sampai anak-anak.  Mbak Jamu biasanya jual pagi hingga siang hari sampai jamu dalam bakul gendong habis. Seiring waktu, mbak jamu semakin kreatif mengganti bakul gendongan dengan gerobak dorong atau sepeda. Namun begitu, nama jamu gendong masih lebih populer dibanding jamu gerobak atau jamu sepeda.

 

Mbak Jamu gendong langgananku

 

 Jamu  juga dijual di kedai, depot dan kios jamu. Jamu yang dijual di kios jamu berbeda konsumennya dengan jamu gendong. Jamu di kios jamu konsumennya kebanyakan bapak-bapak yang memerlukan jamu untuk menjaga staminanya. Kios jamu biasanya buka dari siang hingga malam hari.

 

Ada juga jamu yang bisa dikonsumsi kapan saja dan lebih praktis, serta higienis, yaitu jamu kemasan. Jamu kemasan diproduksi oleh produsen atau pabrik jamu dalam jumlah besar. Kemudian didistribusikan ke toko, supermarket, termasuk juga di distribusikan ke kedai jamu. Bahkan sebagian mbak jamu juga membawa jamu kemasan sesuai permintaan konsumen.


Bentuk jamu juga tidak lagi cair. Jamu saat ini dikemas dalam bentuk pil, tablet, serbuk atau permen yang memudahkan untuk disimpan, dibawa dan dikonsumsi.

 

Jajaran jamu kemasan di supermarket

Dari rakyat jelata hingga para bangsawan sudah meminum jamu sejak dulu. Jamu tidak mengenal kasta. Orang yang masuk angin meminum jamu anti masuk angin, yang berbahan utama jahe, dan bahan tambahan bervariasi seperti adas, ginseng, cabe jawa atau mint, tergantung ketersediaan bahan dan selera peramunya. Orang yang diare meminum jamu daun jambu biji dicampur kunyit.

 

Di era modern ini, jamupun mengalami modernisasi. Jamu dikemas secara menarik dan ekslusif, serta didistribusikan ke outlet-outlet di pusat perbelanjaan mewah. Dua perusahaan kosmetik raksasa di Indonesia yang berbasis ramuan tradisional untuk kesehatan dan kecantikan, yaitu Sari Ayu dan Mustika Ratu memiliki outlet di sejumlah lokasi. Selain itu, pada jamuan-jamuan mewah berbagai acara seminar atau undangan resmi, saya beberapa kali menemukan bandrek, beras kencur dan wedang jahe sebagai pilihan minuman hangat.  Ini menjadi bukti bahwa jamu mengalami perkembangan sesuai jaman.

 

Apapun itu, jamu tetaplah jamu, ramuan berbahan dasar tumbuhan dan hewan yang berguna untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit dan sebagian bisa menyembuhkan penyakit,  hasil cipta dan karsa nenek moyang yang kini menjadi budaya bangsa Indonesia.

 

Adalah kabar baik bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mengajukan jamu sebagai warisan budaya dunia karya bangsa Indonesia agar mendapat pengakuan dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB).  Upaya ini adalah langkah awal dan masih membutuhkan perjuangan dari segenap bangsa Indonesia.



Mendukung jamu go international

Terkait pengajuan jamu sebagai warisan budaya dunia, selayaknya sebagai bagian bangsa kita mendukung pelestarian jamu. 

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk melestarikan jamu? 

 

(1) Bangga menyebut kata jamu

 

Jamu adalah ramuan kesehatan khas Indonesia.  Kata jamu akhir-akhir ini menjadi rancu dengan kata Herbal, padahal ada jamu yang terbuat dari bahan hewani.  Para budayawan dan cendikia diharapkan mampu membuat deskripsi Jamu secara nasional. Untuk itu perlu inventarisasi jenis-jenis jamu yang ada di Indonesia sehingga memperkuat landasan kekayaan jamu.  Kita patut bangga memiliki keragaman jenis jamu di tiap daerah di Nusantara. Ada jamu Jawa, jamu Sunda, jamu Aceh, jamu Madura, jamu Bali, jamu Papua dan lain sebagainya.

 

Ada baiknya kita mengetahui kedudukan jamu dalam bidang farmasi. Jamu berbeda dengan fitofarmaka dan obat herbal. Dalam hal standarisasi medis, kedudukan jamu berada dibawah fitofarmaka dan herbal karena jamu belum terukur kandungannya dan masih sedikit pembuktian ilmiah terhadap manfaat jamu. Namun begitu, jamu  memenuhi kriteria aman, khasiatnya terbukti secara empiris dan memenuhi persyaratan mutu. 


Pendapat saya, ketika jamu telah diketahui unsur kimiawi bahan dasar, komposisi, dosis penggunaannya dan manfaat secara ilmkah, Jamu tidak serta merta berubah nama menjadi fitofarmaka atau herbal. Tetaplah menyebut ramuan kesehatan Indonesia dengan kata “Jamu”

 

(2) Menghargai penemuan jamu baru 


Dengan kekayaan dan keragaman sumber daya alam di Indonesia, selalu membuka peluang ditemukannya khasiat baru dari sebuah tanaman. Hal ini mengarah pada jenis ramuan baru yang kemudian diperkenalkan kepada masyarakat. Masalahnya, bagaimana ramuan baru ini diberi nama? Jamu atau herbal atau lainnya? Apakah memungkinkan ramuan baru tersebut diberi nama jamu dan disejajarkan dengan jamu-jamu yang telah ada sebelumnya?


Akhir-akhir ini pertambahan ramuan herbal meningkat , namun tidak dinamai dengan kata Jamu.  Jika ingin jamu lestari, namanya tidak tenggelam oleh kata herbal, maka diperlukan kesadaran dan keterbukaan kita pada penemuan jamu baru dan penamaannya. Saya pikir tidak ada salahnya jika ditemukan jamu baru bernama “lempuyang millenium” atau “segerwaras 21”.  Tentu hal ini harus diatur oleh Kementerian Kesehatan dan dibantu oleh lembaga riset, sertifikasi dan hukum yang diberi kewenangan.

 

(3) Sertifikasi mutu, sosialisasi dosis, manfaat dan efek samping jamu


Sebagai produk konsumtif untuk keperluan kesehatan sudah selayaknya jamu melalui uji standarisasi mutu terkait kebersihan  dan keamanan pangan. Konsumen perlu tahun info sebenar-benarnya tentang manfaat jamu, tidak dilebih-lebihkan. Salah satu yang perlu ditekankan adalah informasi manfaat bahwasanya lebih banyak jamu yang berguna sebagai penjaga stamina dan pencegah penyakit, dan lebih sedikit varian jamu sebagai penyembuh penyakit. Apalagi penyakit yang membutuhkan obat bereaksi cepat seperti aspirin atau parasetamol, sudah jelas jamu tidak bekerja seperti demikian.


Selain itu,  produsen jamu tradisional perlu mendapatkan pendidikan tentang kebersihan, komposisi dan metode penjualan. Para penjual jamu gendong harus benar-benar disiplin menjaga kebersihan dan keamanan produknya, menjaga kepercayaan konsumen dengan tidak memberikan campuran obat-obatan kimia ke dalam jamu sehingga menimbulkan efek manjur namun menipu. Para pelaku industri jamu harus dapat memberikan informasi setepat mungkin tentang jamu yang dijualnya kepada konsumen. Semua perilaku buruk yang mencemarkan citra jamu harus dieliminasi.


Siapa yang bertanggungjawab terkait edukasi produsen dan penjual? Tentunya jajaran Kementerian Kesehatan dibantu oleh lembaga kesehatan dan lembaga riset.


Pada jamu-jamu kemasan sebagian telah disebutkan dosis penggunaan dan komposisi bahan. Jamu kemasan diberi logo “jamu” pada bagian kiri atas kemasan. Logo ini berfungsi sebagai petunjuk konsumen dan membedakan dengan kemasan obat kimia.

Logo jamu pada jamu kemasan

 

(4) Mengkonsumsi jamu secara proporsional

 

Setelah tahu manfaat dan efek samping jamu, konsumen mempunyai pilihan. Semakin banyak informasi yang didapat, semakin banyak konsumen terbantu untuk menentukan pilihan yang tepat. 


Jamu dalam perannya sebagai penjaga stamina yang menunjang kesehatan secara keseluruhan, selayaknya dikonsumsi dalam jumlah yang tepat. Jamu membawa manfaat jika dikonsumsi sesuai aturan, namun akan membawa efek samping apabila dikonsumsi berlebih. Azas ini menyerupai landasan minum obat kimia. Bedanya, obat kimia baru akan diminum ketika seseorang sakit, sedangkan jamu bisa dikonsumsi saat seseorang sehat karena fungsinya untuk mencegah penyakit.


Melestarikan jamu bukan berarti memperbanyak minum jamu. Munculnya efek samping akibat kelebihan minum jamu dapat memperburuk citra jamu itu sendiri. Tentunya ini menurunkan kepercayaan orang kepada khasiat jamu dan mengancam kelestariannya.


Jadi, sebagai konsumen kita harus bijak. Cintai jamu dengan mengkonsumsi jamu secara proporsional sesuai kebutuhan. 



(5) Kemitraan petani jamu


Bahan baku jamu, kebanyakan tanaman akar-akaran, mudah ditanam dan bisa dikembangkan di skala rumah tangga hingga industri. Namun jangan lengah, jangan sampai nasib jamu seperti tempe. Ketersediaan bahan harus diupayakan selalu ada dan harga pasar dijaga agar stabil sehingga petani terus semangat menanam bahan jamu.


Di sini perlu peran para ilmuwan agronomis untuk membantu petani jamu agar tanamannya bisa berproduksi maksimal dan memenuhi stadar kelayakan. Para agronomis, baik pribadi maupun dalam naungan lembaga, dapat melakukan kemitraan dengan petani melalui pendampingan dan bimbingan.

 

(6) Dukungan dari para medis

Diakui, bahwa jamu masih menjadi kontra bagi pengobatan medis karena tidak adanya takaran yang tepat dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam upaya pelestarian jamu, para medis tidak harus menuliskan resep jamu kepada pasiennya, namun seyogyanya juga tidak merendahkan martabat jamu.


Bagaimanapun, jamu telah banyak berjasa pada kesehatan bangsa Indonesia sejak dahulu kala, bahkan sebelum pengobatan medis ditemukan. Jikapun ada penemuan-penemuan negatif terkait jamu, seharusnya pemberitaan dilakukan secara proporsional. Lebih bijak lagi jika para medis mau membantu dalam bentuk  penelitian-penelitian terkait jamu sehingga ditemukan aturan pakai yang tepat. 

 

Pembuktian ilmiah bisa dimanfaatkan sebagai upaya mengurangi resiko dan dampak produk jamu dan pengobatan tradisional. Tentunya pembuktian tidak dengan sudut pandang yang memojokkan jamu. Harapannya, jamu bisa setara dengan farmasi dalam kedudukannya bidang kesehatan.  Jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan lestari. 

 

(7) Blogger mendukung jamu


Peran blogger sebagai perwarta warga dapat membantu kampanye pelestarian jamu. Blogger adalah gelombang kekuatan baru di dunia digital. Pesan kampanye pelestarian jamu dapat dilakukan oleh blogger dengan menulis segala sesuatu tentang jamu secara seimbang.  Kampanye positif dalam arti menuliskan kedudukan jamu dalam perannya di dunia kesehatan secara benar. Promosi berlebihan tanpa mencantumkan kelebihan dan kekurangan jamu akan membuat kepercayaan pada jamu menurun. Dan tentunya, dalam kode etik perwarta sudah termaktub etika menulis dengan sumber berita dan informasi yang jelas sehingga menghasilkan tulisan yang akurat dan terpercaya tentang jamu.

 

 

(8) Dukungan Lembaga Penelitian


Lembaga-lembaga penelitian sangat berperan dalam melestarikan jamu. Biofarmaka adalah salah satu lembaga penelitian dibawah naungan Institut Pertanian Bogor yang mengkhususkan bidang pada penelitian sumber daya biotik untuk keperluan farmasi.


Peran biofarmaka sebagai lembaga penelitian ilmiah adalah untuk mengeksplorasi dan meneliti prospek sumber daya alam, termasuk diantaranya bahan baku jamu. Biofarmaka juga mengembangkan produk paten yang dibangun dari kekayaan intelektual. Salah satu peran penting Biofarmaka adalah membuat standart operational procedure dalam hal budidaya dan industri produk biofarmaka yang diakui secara nasional dan international. Kemudian Biofarmaka mengkomersialkan riset melalui sharing product dan perijinan produk serta pemetaan potensi biofarmaka di Indonesia.


Lembaga penelitian seperti Biofarmaka bisa masuk sebagai motor, pembimbing dan pendamping pada upaya-upaya pelestarian jamu seperti dijabarkan di atas. 

 


Kedelapan langkah di atas adalah upaya-upaya internal dalam negeri yang bisa membantu melestarikan jamu. Kedepannya, jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan meyakinkan UNESCO bahwa jamu  layak diakui sebagai warisan budaya dunia.  Akhir kata, saya sebagai blogger berharap tulisan ini dapat memberi masukan positif pada upaya pelestarian jamu. Lestari jamuku, jayalah budaya bangsaku. 

 

Referensi :

http://biofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2013/Flyer%20BRC.pdf

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/267-development-of-partnership-model-between-brc-and-farmers-of-biopharmaca-in-district-sukabumi

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013

 

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Penulisan Artikel Jamu di Blog oleh “Biofarmaka IPB”