RSS Feed

Jelajah Gizi Minahasa 2016 [2]

December 2, 2016 by murtiyarini

20161119_073123

Dalam Jelajah Gizi Minahasa yang saya ikuti pada tanggal 18-20 November 2016 silam, peserta tidak hanya mencicipi berbagai makanan khas Minahasa, mereka juga berkesempatan mengenal lebih dekat kultur masyarakat Sulawesi Utara. Dalam perjalanan 3 hari 2 malam tersebut, 30 peserta, gabungan dari blogger, media, tim Sari Husada dan tim Detik.com setidaknya merasakan berada di 4 wilayah.

Danau Tondano

Di balik keindahan Danau Tondano yang kami resapi dari atas Restoran Tumou Tou, ternyata ada kegelisahan masyarakat sekitar Tondano akan semakin banyaknya tanaman enceng gondok dan pendangkalan danau. Hal tersebut di sampaikan oleh Bapak Camat Tondano. Saat ini masyarakat Tondano masih memanfaatkan danau untuk beternak ikan dalam keramba-keramba dan hasilnya bisa langsung dinikmati oleh pengunjung restoran-restoran di tepi Danau Tondano.

Masyarakat Tondano khususnya dan Sulawesi Utara pada umumnya tidak pernah menderita gizi buruk, karena sumber daya alam dari danau dan pegunungan yang melimpah. Di sini ikan yang banyak dikonsumsi adalah ikan mas, mujair, keong kolumbi dan ikan nike. Sedangkan hasil pertanaman yang banyak dijumpai adalah aneka jenis sayur mayur, mangga, pisang dan pepaya.

Dahulunya, Danau Tondano ini jernih sekali dan belum banyak ditumbuhi enceng gondok. Eceng gondok sebenarnya bukan tanaman pengganggu jika bisa dikendalikan, sebab tanaman tersebut sebagai tempat tinggal ikan bahkan sebagai bahan makanan ikan di danau. Saat ini Danau Tondano mengalami pendangkalan dan pengeruhan. Airnya sedikit coklat.

Kecamatan Tomohon

Rombongan peserta jelajah gizi menginap di Hotel Jhoanie di Kecamatan Tomohon pada malam pertama. Dari kamar hotel terlihat Gunung Lokon, adalah sebuah gunung yang masih aktif. Pantas saja jika tanah-tanah di Tomohon ini terlihat subur oleh tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga yang indah.

Keesokan paginya kami mengunjungi Pasar Beriman Tomohon. Pasar yang di dalamnya terdapat Pasar Ekstrem, dari luar terlihat seperti pasar biasa. Hasil bumi yang paling banyak dijual adalah pisang, pepaya dan mangga dengan kualitas prima. Aneka bumbu dan rempah-rempah juga sangat banyak macamnya. Pantas saja masakan Minahasa menjadi enak, karena kaya akan bumbu dan rempah. Hasil laut apalagi, ada satu bagian pasar yang khusus menjual ikan-ikan segar dan besar-besar.

Ada rekan-rekan blogger dan media yang memberanikan diri memasuki pasar ekstrem. Mereka di sana menemui aneka hewan yang tidak lazim dikonsumsi, namun di Tomohon ini menjadi lazim. Contohnya ular piton, tikus, kelelawar, anjing dan babi. Satu yang harus saya ingat, di sini saya sebagai masyarakat minoritas, kelaziman ada pada masyarakat mayoritas suku Minahasa. Melihat sesuatu yang ekstrem saya anggap sebagai pengalaman yang memperkaya pengetahuan saya. Berkesan sekali.


Pantai Bahowo

Setelah dari Tomohon, mejelang siang kami turun gunung menuju Pantai Bahowo, di Kecamatan Tongkaina. Masyarakat sini sadar pentingnya hutan mangrove untuk melindungi pantai dari erosi dan menjaga kelestarian hayati. Bersama LSM yang peduli kelestarian mangrove, secara rutin mereka melakukan pembibitan dan penanaman mangrove. Untuk menumbuhkan kesadaran dan kaderisasi penjaga mangrove, para anggota LSM tersebut memberikan pelatihan dan edukasi pada anak-anak sekolah dasar di Kecamatan Tongkaina.

Pada kesempatan ini juga para blogger dan media melakukan 3 hal yaitu menanam bibit mangrove, manengkel (melepaskan biota laut yang terjebak karang di saat air surut ) dan snorkling di perairan pantai Bahowo. Perlu diketahui, perairan Bahowo ini masih satu wilayah dengan Kepulauan Bunaken yang terkenal keindahan taman lautnya.

Kota Manado

Pada malam kedua kami menginap di Hotel Lion, persis di tepi pantai di Manado. Acara gala dinner digelar di Restoran City Extra di tepi Pantai Malalayang. Di sini para peserta mendapat hiburan tarian tradisional Manado, pengumuman pemenang game kelompok, lomba foto dan vlog selama 2 hari berlangsung, serta acara ramah tamah.

Pagi harinya, peserta dibawa menikmati Bubur Manado yang super sehat dengan campuran aneka sayuran, dan siangnya kami masih dibawa menikmati Nasi Kuning khas Manado dengan taburan ikan cakalang. Hanya 3 kata yang bisa menggambarkan perasaan hari itu, kenyang, kenyang dan kenyang.

Sebelum menuju Bandara Sam Ratulangi, kami mampir ke Merciful Building untuk membeli oleh-oleh seperti kue bagea, klapertart, manisan pala dll. Tak lupa kami mampir ke penjual ikan cakalang fufu dan roa untuk membeli ikan asap dan sambal roa.

What a Journey. Jelajah Gizi Minahasa, sehat terus jo!

 



1 Comment »

  1. cuwlagu says:

    Whoa, keren-keren banget, seperti di daerah saya aja tuh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *