RSS Feed

{TIPS MENEMBUS MEDIA] MENENTUKAN IDENTITAS PENULIS

November 8, 2013 by murtiyarini

Beberapa kali saya mendapat komentar “Dirimu enak mbak, tiap artikel dimuat ada identitas yang pantas dicantumin dibawah nama penulis, makanya sering dimuat. Lha aku mau nulis apa…masa’ ibu rumah tangga?”

Hm, memang untuk tulisan non fiksi di media, identitas penulis biasanya dicantumkan di bagian bawah tulisan. Hampir selalu ada, karena memang pembaca pasti mau tau siapa sih penulis? Apa kapasitasnya menulis ini?

 

Untuk koran-koran besar nasional, kita bisa lihat identitas penulis yang bikin kita langsung mengkerut, contohnya : Guru Besar, Direktur,  Aktivis, Staf Menteri, Anggota Dewan dan lain-lain.

 

Koran tentu nggak mau sebuah tulisan hanya Omdo (omong doang) atau gagasan kosong, karena itu identitas penulis sangat diperhatikan.

Jangan ciut dulu, ingat, kita bisa punya banyak peran lo !

 

Coba kita cari identitas apa yang bisa kita tempelkan pada tulisan kita. Masing-masing tulisan bisa dengan identitas berbeda. Saya gunakan identitas sebagai Ibu untuk artikel parenting, sebagai karyawan untuk artikel perempuan & dunia kerja, sebagai sarjana pertanian utk artikel pertanian & sains, terakhir kemaren saya memberanikan diri menyebut diri “penulis” untuk tulisan tentang bahasa di jawa pos. Yang penting nama tetap sama, identitasnya aja beda. Hehehe

Bagaimana dengan Blogger ? Wow, sudah jelas bisa banget dijadikan identitas dan membanggakan.

Jadi sebuah tulisan yang bagus bisa datang dari siapa saja. Kekuatan tulisan di atas ada pada sajian pengalaman hasil eksplorasi lingkungan sekitarnya oleh penulis, jadi identitas yg digunakan sudah sangat tepat. Pengalaman seseorang adalah suatu ilmu/data yang valid .

 

Identitas ini penting untuk petunjuk redaktur merunut latar belakang kita menulis tema tersebut, apakah mengalami, mempraktekkan atau hanya baca dan menulis ulang. Jadi untuk menyakinkan redaktur bahwa penulis tidak copy paste atau plagiasi.

 

Juga seperti yg kusebut diatas, menghindarkan gagasan “kosong” yang kadang nggak realistis. Buat redaksi penting, karena mereka juga bertanggung jawab memilih tulisan mana yang layak atau tidak.

Bisa jadi tema tulisan bagus banget, tapi redaktur ragu dengan kapasitas penulis, akhirnya tulisan ditolak.

Contoh:

Identitas Guru SMA , menulis tentang teknik bedah syaraf = kemungkinan besar ditolak

Identitas Dosen Unibraw, tema : mengatasi gelandangan dan pengemis di Bogor = Apa hubungannya?

Bisa saja si dosen pernah ke bogor, tapi dia domisili di Malang. Namun identitas ini kurang relevan karena bisa-bisa dibilang “sok tau” oleh pemda Bogor. Mungkin akan lebih dihargai kalo tulisan tentang “pengemis di Bogor” ditulis oleh : Ibu Rumah Tangga di Bogor.

Hanya saja, redaksi tidak bertanya langsung kepada kita kalau identitas dirasa kurang pas atau kurang lengkap, redaksi hanya punya 2 pilihan : terima atau tolak. Jadi kalau tulisan ditolak, identitas patut kita cek ulang, seperti halnya kelengkapan administrasi yang lain.



7 Comments »

  1. makasih tipsnya mak…..

  2. Ade Anita says:

    Makasih mak sharing ilmunya. Jangan segan2 untuk membagi ilmu lainnya lagi ya mak

  3. Tulisan ini sgt mengsinspirasi.. Mksh ya.. Salam kenal Mbak..

  4. Hmmm..penting bangrt ya Mak identitas penulis itu, dan harus ada relevansinya dengan tulisan. Thanks for sharing :)

  5. mira aqila says:

    waaaa ternyata pentinh ya mak.. identitas penulis…
    saya IRT aja nulis tentang anak aja hahahahha #istilahnya curhat mak :)
    nice posting

  6. kania says:

    TFS mak..betul juga ya identitas itu penting yah

  7. umroh murah says:

    Bagaimana pun Indentitas itu tetap penting..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *