RSS Feed

DAUR ULANG NASKAH

November 7, 2013 by murtiyarini

Pernahkah anda menerima “surat cinta” (penolakan naskah) dari redaksi sebuah media?

Jika belum, ada 3 kemungkinan:
1. Naskah akan segera dimuat dalam waktu dekat.
2. Anda dan Redaksi sama-sama tidak saling mengkonfirmasi nasib naskah tersebut.
3. Anda belum pernah mengirimkan naskah, hehehe
Saya pernah menerima surat cinta tersebut.
Tentu saja langsung patah hati. Tapi tidak lama, sekitar 30 menit saja.
Selama itu saya mencari-cari peluang kemana sebaiknya naskah kembali ini saya kirimkan?
Saya memperlakukan setiap tulisan saya dengan istimewa, jadi kalaupun ditolak oleh sebuah media, saya pikir itu hanya sebuah perbedaan selera. Jangan pernah membuang atau menyimpan naskah anda terlalu lama. Segera lakukan daur ulang!!

Tips melakukan daur ulang
1.    Baca kembali naskah lama anda, apakah informasi dan ide-ide di dalamnya masih aktual. Jika sudah basi, lakukan perbaikan dan tambahkan informasi terbaru.
2.    Pastikan kembali apakah naskah itu perlu mengalami perubahan format penulisan atau menurut anda masih oke. Perubahan format bisa terjadi jika anda menyasar media dengan visi misi yang agak jauh berbeda dari media pertama. Dari artikel lama bisa saja anda perlu memecahnya menjadi 2 atau 3 pokok bahasan, dan ini sebenarnya kabar bagus, anda menemukan pengembangan ide baru atas naskah lama anda.
3.    Lakukan perubahan gaya bahasa sesuai media baru yang akan anda tuju. Perubahan gaya bahasa tidak selalu harus terjadi, kadang kala gaya penulisan kita udah cukup bisa masuk ke beberapa jenis media sekaligus kok.

Sebagai contoh, saya pernah gagal dalam sebuah antologi. Tulisan tersebut saya daur ulang sedikit, dan kemudian saya kirimkan ke sebuah majalah nasional, dan dimuat tak lama kemudian. Jadi ibu-ibu, perlakukan setiap naskah anda dengan istimewa, carikan tempat terbaik, karena mungkin saja “nasibnya” akan lebih baik setelah mengalami beberapa penolakan. :)

Lantas bagaimana naskah yang diikutkan dalam event antologi? Antologi itu kumpulan cerita yang ditulis oleh beberapa orang. Dengan mengikuti event antologi setidaknya bisa memancing ide menulis dengan tema-tema yang dilombakan. Bagaimana kalau tidak lolos seleksi alias gagal? Yah dimodif saja. Naskah saya ada yang tidak lolos diseleksi antologi, eh ketika saya modifikasi dan ikutkan lomba lain malah dapat kompensasi yang lumayan besar, jauh dibandingkan hasil audisi antologi hehehe… alhamdulillah ya . Dan daur ulang naskah itu biasanya tidak membutuhkan waktu yang banyak, jadi bisa sambil terus memproduksi tulisan-tulisan baru.

Jika telah mengirimkan tulisan ke media atau penerbit dalam kurun waktu yang lama, yah minimal 1 bulan lah, sebaiknya minta konfirmasi kejelasan naskah kita kepada yang bersangkutan, apakah diterima, ditolak atau kelupaan dilirik 😀

Dan kalau mau daur ulang sebaiknya dikonfirmasi dulu, agar tidak dobel tayang. Malahan, saya belum mengirim ke media yang sama kalo tulisan saya yg lama belum jelas nasibnya (ini tidak perlu dicontoh krn mengurangi produktivitas).

Alasannya, karena saya tidak mau naskahku tercecer atau terlupa. Juga karena saya selalu berpikir bahwa ide-ide saya spesial, sayang kalau tidak jelas nasibnya. Percaya diri saja…

Semakin rajin menulis, maka semakin banyak file yang akan kita buat. Untuk itu dibutuhkan manajemen folder di komputer kita. Penting bagi kita membuat folder-folder yang rapi, misalnya:
– Folder tulisan sedang dalam proses pembuatan
– Folder tulisan yang sudah dikirim tapi belum dimuat (belum ada konfirmasi)
– Folder tulisan yg sudah dimuat
– Folder tulisan ditolak dan siap didaur ulang
Atau judul-judul file lainnya sesuai dengan kebutuhanmu.

Jadi jika ada naskah yang tertolak. Buat apa patah hati atau patah semangat. Naskah istimewa itu hanya butuh sentuhan daur ulang sedikit, jika ditolak di media A masih ada media B, C sampai Z. Semangaaatt.*



8 Comments »

  1. Lidya says:

    setelah di daur ulang jadi makin fresh ya mbak, siapa tau bakal di approve

  2. dini nuris says:

    Saya juga kadang begitu Mak. Yang lumayan ribet juga adalah mengatur ulang margin, font, jenis huruf, spasi dll. Kalau daur ulang tidak selalu tapi yang hampir pasti adalah mengatur margin dan kawan-kawannya itu.

  3. Ide bagus, tapi apa nanti yang baca gak berfikir “sepertinya pernah baca mirip”?

  4. Hanna says:

    Siip… betul juga. Makasih Mak 😀

  5. Muna Sungkar says:

    Normalnya brp lama smp kita hrs mulai move on ke media lain mbak?

    • murtiyarini says:

      tidak ada ukuran baku, kalau koran 1 minggu – 1 bulan, majalah 3 bulan – 1 tahun juga bisa kalau sabar menunggu hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *