IT’S NOT ALL ABOUT THE MONEY

Pertanyaan sering muncul tentang honor pemuatan di media.

Ada honor nggak, berapa besaran honornya? Atau dapat apa?

Lalu membandingkan media satu dengan yang lain. Media nasional umumnya lebih besar daripada media lokal. Media yang banyak iklannya honornya juga lumayan.Tapi ada juga media (nasional) yang tidak selalu memberikan honor, terutama untuk tulisan-tulisan pendek.
Lantas, apakah anda merasa tidak dihargai tanpa honor?

Atau memilih media berdasar honor?

Ini adalah pilihan. Honor adalah hak penulis, hanya saja bentuknya bisa bermacam-macam. Setiap penulis punya kriteria berbeda. Terkait honor, saya pribadi punya urutan prioritas.
Pertama adalah adanya kesamaan pola pikir media tersebut dengan diri saya. Jika saya suka, nggak dihonorpun nggak masalah. Yang penting ide saya tersampaikan. Kebetulan nggak sering kejadian begini, hampir semua memberi honor. Pernah ada satu media nasional yang tidak memberi honor berupa uang. Pihak media sudah menyampaikan di awal pada saya, bahwa mereka tidak ada space untuk contributor, jadi tidak ada honor. Tapi ketika tulisan yang saya kirim diminta untuk tayang, saya seneng banget dan merupakan suatu kehormatan, so its oke tanpa honor
Kedua, skala besar kecilnya media. Untuk media nasional, bisa dimuat saja sudah senang, apalagi di honor. Namun, ada rubrik-rubrik tertentu tanpa honor, misalnya rubrik yang meminta opini pendek/testimoni. Tetep saya aktif nulis disana. Kok mau sih tanpa honor? Saya mau karena saya punya tujuan lain, yaitu branding nama, agar semakin sering nama saya dibaca.
Ketiga, menulis untuk siapa? Jika untuk organisasi yang saya ikuti, atau untuk amal atau demi bisa sebuku dengan teman-teman dalam satu komunitas misalnya, saya rela tidak dihonor. Tapi jika menulis untuk kepentingan seseorang atau satu golongan yang hanya membesarkan nama sepihak, tentu saya menuntut honor yang pantas, hehehe….

 

Di atas adalah pilihan saya, bagaimana dengan anda?

 

Berikut beberapa cerita teman-teman saya:

 

Pengalaman teman saya, Wida Warida mengirim tulisan ke media sejak tahun 2000-an, waktu itu honor biasanya dikirim via wesel dan mencairkannya ke kantor pos. Terus, lucunya lagi, Wida menyimpan struk setiap tulisan yang dimuat. Nah, setelah sekian lama, Wida menemukan kembali struk bersejarah itu dan katanya, berasa gimana gitu…

 

Anisa Widiyarti sepakat dengan saya. Anisa  sebenarnya tak terlalu masalah dengan besarnya honor. Asalkan media tersebut menghargai karya kita. Kalau memang dimuat, ya berikan honornya. Jujur, Anisa suka dengan kompas group. Mereka langsung mentransfer honor tanpa banyak babibu.

 

Ya, menurut saya semuanya kembali ke masing-masing pribadi.
Kalau sejak awal tau itu acara amal, tentu harus siap jika tak dihonor.
Tapi untuk media, saya benar-benar membuat list siapa saja yang pantas saya kirimi karya.
Honor menurut saya bukan hanya masalah Rupiah, tapi bagaimana media tersebut menghargai karya kita.

 

Menurut Bunda Haifa, arti manfaat dalam sebuah tulisan itu relative. Menurutnya, sesungguhnya bermanfaat itu bisa membuat orang berpindah dari titik tidak baik ke mendingan, dari titik mendingan ke titik lebih baik. Sebagaimana arti belajar. Belajar adalah proses membuat orang menjadi lebih baik.

 

Cerita Pritha K, waktu tahun 2008 blog pribadiku dibukukan. Awalnya menurutku tulisan itu ga penting. Ya iyalah saat orang-orang nulis sesuatu yang smart kayak tips ini dan itu atau novel bergizi eh ini cerita keseharian aku diterbitkan. Tapi saat penjualannya lumayan dan banyak respon yang positif masuk ke emailku, aku baru ngeh ternyata sesuatu yang biasa aja (bahkan sempat bikin ragu) buatku ternyata berarti buat banyak orang.

 

Menarik bukan? Uang bukan yang utama, tapi penting juga sih… :))


{ Leave a Reply ? }

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *