RSS Feed

November, 2013

  1. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEDIA ONLINE

    November 9, 2013 by murtiyarini

    Akhir-akhir ini saya lebih banyak waktu untuk membaca media online, karena bisa dibaca dari HP sambil kelonan (dengan anak).
    Di era digital, media online kian populer karena beberapa kelebihannya :

    1. Paperless
    2. Cepat diakses
    3. Ekonomis
    4. Banyak menyediakan ruang publik (citizen jurnalism) sehingga lebih bebas bertukar informasi
    5. Mudah dibagi di jejaring sosial

    Media online ada yg membebaskan penggunanya mengunggah tulisan tanpa moderasi, dikenal denga blog bersama, misalnya kompasiana, blogdetik dll, ada juga yang dengan moderasi dan seleksi, misal media Indonesia (ruang citizen jurnalism), tribun news dll.

    Detik news biasanya menerbitkan berita dengan cepat. Kalau tidak salah di Detik news ada laman suarapembaca.detik.com, menerima opini dan foto.

    Media online bisa menjadi ajang berlatih menulis bagi penulis. Jika masih ragu, bisa dimulai dari surat pembaca, hehehe…itu tahap paling mudah.

    Menulislah dari tema apapun, jangan minder karena tema untuk media online sangat beragam.

    Cara mengirim tulisan ke media online ada dua cara. Pertama bisa melalui email dan kedua dengan posting di situsnya langsung. Kita harus mengunjungi situsnya untuk mendapatkan info detilnya.

    Cara kirim yang posting langsung di situsnya seperti pada kompasiana. Tulisan akan langsung tayang alias nggak ada seleksi. Di kompas cetak sekarang ada rubrik kompasiana, yaitu Kompas Frezz, setiap hari rabu.  Tulisan diambil dari postingan di kompasiana yang terseleksi dan menurut redaksi bagus. Dari kompasiana kita bisa belajar, kalau highlight berarti tulisan bisa mejeng agak lama, kalau headline bisa sebulan dan kesempatan dibaca orang semakin banyak. Kalau kompasiana tidak menyediakan honor. Senengnya, kalau di kompasiana tulisan kita bisa nangkring di headline, artinya tulisan kita banyak dikunjungi pembaca.

    Jikalau ditolak di media online, jangan pernah berputus asa. Ada banyak sekali situs media online. Dioper dan daur ulang saja sampai tulisan itu menemukan jodohnya.


  2. {TIPS MENEMBUS MEDIA] MENENTUKAN IDENTITAS PENULIS

    November 8, 2013 by murtiyarini

    Beberapa kali saya mendapat komentar “Dirimu enak mbak, tiap artikel dimuat ada identitas yang pantas dicantumin dibawah nama penulis, makanya sering dimuat. Lha aku mau nulis apa…masa’ ibu rumah tangga?”

    Hm, memang untuk tulisan non fiksi di media, identitas penulis biasanya dicantumkan di bagian bawah tulisan. Hampir selalu ada, karena memang pembaca pasti mau tau siapa sih penulis? Apa kapasitasnya menulis ini?

     

    Untuk koran-koran besar nasional, kita bisa lihat identitas penulis yang bikin kita langsung mengkerut, contohnya : Guru Besar, Direktur,  Aktivis, Staf Menteri, Anggota Dewan dan lain-lain.

     

    Koran tentu nggak mau sebuah tulisan hanya Omdo (omong doang) atau gagasan kosong, karena itu identitas penulis sangat diperhatikan.

    Jangan ciut dulu, ingat, kita bisa punya banyak peran lo !

     

    Coba kita cari identitas apa yang bisa kita tempelkan pada tulisan kita. Masing-masing tulisan bisa dengan identitas berbeda. Saya gunakan identitas sebagai Ibu untuk artikel parenting, sebagai karyawan untuk artikel perempuan & dunia kerja, sebagai sarjana pertanian utk artikel pertanian & sains, terakhir kemaren saya memberanikan diri menyebut diri “penulis” untuk tulisan tentang bahasa di jawa pos. Yang penting nama tetap sama, identitasnya aja beda. Hehehe

    Bagaimana dengan Blogger ? Wow, sudah jelas bisa banget dijadikan identitas dan membanggakan.

    Jadi sebuah tulisan yang bagus bisa datang dari siapa saja. Kekuatan tulisan di atas ada pada sajian pengalaman hasil eksplorasi lingkungan sekitarnya oleh penulis, jadi identitas yg digunakan sudah sangat tepat. Pengalaman seseorang adalah suatu ilmu/data yang valid .

     

    Identitas ini penting untuk petunjuk redaktur merunut latar belakang kita menulis tema tersebut, apakah mengalami, mempraktekkan atau hanya baca dan menulis ulang. Jadi untuk menyakinkan redaktur bahwa penulis tidak copy paste atau plagiasi.

     

    Juga seperti yg kusebut diatas, menghindarkan gagasan “kosong” yang kadang nggak realistis. Buat redaksi penting, karena mereka juga bertanggung jawab memilih tulisan mana yang layak atau tidak.

    Bisa jadi tema tulisan bagus banget, tapi redaktur ragu dengan kapasitas penulis, akhirnya tulisan ditolak.

    Contoh:

    Identitas Guru SMA , menulis tentang teknik bedah syaraf = kemungkinan besar ditolak

    Identitas Dosen Unibraw, tema : mengatasi gelandangan dan pengemis di Bogor = Apa hubungannya?

    Bisa saja si dosen pernah ke bogor, tapi dia domisili di Malang. Namun identitas ini kurang relevan karena bisa-bisa dibilang “sok tau” oleh pemda Bogor. Mungkin akan lebih dihargai kalo tulisan tentang “pengemis di Bogor” ditulis oleh : Ibu Rumah Tangga di Bogor.

    Hanya saja, redaksi tidak bertanya langsung kepada kita kalau identitas dirasa kurang pas atau kurang lengkap, redaksi hanya punya 2 pilihan : terima atau tolak. Jadi kalau tulisan ditolak, identitas patut kita cek ulang, seperti halnya kelengkapan administrasi yang lain.


  3. DAUR ULANG NASKAH

    November 7, 2013 by murtiyarini

    Pernahkah anda menerima “surat cinta” (penolakan naskah) dari redaksi sebuah media?

    Jika belum, ada 3 kemungkinan:
    1. Naskah akan segera dimuat dalam waktu dekat.
    2. Anda dan Redaksi sama-sama tidak saling mengkonfirmasi nasib naskah tersebut.
    3. Anda belum pernah mengirimkan naskah, hehehe
    Saya pernah menerima surat cinta tersebut.
    Tentu saja langsung patah hati. Tapi tidak lama, sekitar 30 menit saja.
    Selama itu saya mencari-cari peluang kemana sebaiknya naskah kembali ini saya kirimkan?
    Saya memperlakukan setiap tulisan saya dengan istimewa, jadi kalaupun ditolak oleh sebuah media, saya pikir itu hanya sebuah perbedaan selera. Jangan pernah membuang atau menyimpan naskah anda terlalu lama. Segera lakukan daur ulang!!

    Tips melakukan daur ulang
    1.    Baca kembali naskah lama anda, apakah informasi dan ide-ide di dalamnya masih aktual. Jika sudah basi, lakukan perbaikan dan tambahkan informasi terbaru.
    2.    Pastikan kembali apakah naskah itu perlu mengalami perubahan format penulisan atau menurut anda masih oke. Perubahan format bisa terjadi jika anda menyasar media dengan visi misi yang agak jauh berbeda dari media pertama. Dari artikel lama bisa saja anda perlu memecahnya menjadi 2 atau 3 pokok bahasan, dan ini sebenarnya kabar bagus, anda menemukan pengembangan ide baru atas naskah lama anda.
    3.    Lakukan perubahan gaya bahasa sesuai media baru yang akan anda tuju. Perubahan gaya bahasa tidak selalu harus terjadi, kadang kala gaya penulisan kita udah cukup bisa masuk ke beberapa jenis media sekaligus kok.

    Sebagai contoh, saya pernah gagal dalam sebuah antologi. Tulisan tersebut saya daur ulang sedikit, dan kemudian saya kirimkan ke sebuah majalah nasional, dan dimuat tak lama kemudian. Jadi ibu-ibu, perlakukan setiap naskah anda dengan istimewa, carikan tempat terbaik, karena mungkin saja “nasibnya” akan lebih baik setelah mengalami beberapa penolakan. :)

    Lantas bagaimana naskah yang diikutkan dalam event antologi? Antologi itu kumpulan cerita yang ditulis oleh beberapa orang. Dengan mengikuti event antologi setidaknya bisa memancing ide menulis dengan tema-tema yang dilombakan. Bagaimana kalau tidak lolos seleksi alias gagal? Yah dimodif saja. Naskah saya ada yang tidak lolos diseleksi antologi, eh ketika saya modifikasi dan ikutkan lomba lain malah dapat kompensasi yang lumayan besar, jauh dibandingkan hasil audisi antologi hehehe… alhamdulillah ya . Dan daur ulang naskah itu biasanya tidak membutuhkan waktu yang banyak, jadi bisa sambil terus memproduksi tulisan-tulisan baru.

    Jika telah mengirimkan tulisan ke media atau penerbit dalam kurun waktu yang lama, yah minimal 1 bulan lah, sebaiknya minta konfirmasi kejelasan naskah kita kepada yang bersangkutan, apakah diterima, ditolak atau kelupaan dilirik 😀

    Dan kalau mau daur ulang sebaiknya dikonfirmasi dulu, agar tidak dobel tayang. Malahan, saya belum mengirim ke media yang sama kalo tulisan saya yg lama belum jelas nasibnya (ini tidak perlu dicontoh krn mengurangi produktivitas).

    Alasannya, karena saya tidak mau naskahku tercecer atau terlupa. Juga karena saya selalu berpikir bahwa ide-ide saya spesial, sayang kalau tidak jelas nasibnya. Percaya diri saja…

    Semakin rajin menulis, maka semakin banyak file yang akan kita buat. Untuk itu dibutuhkan manajemen folder di komputer kita. Penting bagi kita membuat folder-folder yang rapi, misalnya:
    – Folder tulisan sedang dalam proses pembuatan
    – Folder tulisan yang sudah dikirim tapi belum dimuat (belum ada konfirmasi)
    – Folder tulisan yg sudah dimuat
    – Folder tulisan ditolak dan siap didaur ulang
    Atau judul-judul file lainnya sesuai dengan kebutuhanmu.

    Jadi jika ada naskah yang tertolak. Buat apa patah hati atau patah semangat. Naskah istimewa itu hanya butuh sentuhan daur ulang sedikit, jika ditolak di media A masih ada media B, C sampai Z. Semangaaatt.*


  4. IT’S NOT ALL ABOUT THE MONEY

    November 6, 2013 by murtiyarini

    Pertanyaan sering muncul tentang honor pemuatan di media.

    Ada honor nggak, berapa besaran honornya? Atau dapat apa?

    Lalu membandingkan media satu dengan yang lain. Media nasional umumnya lebih besar daripada media lokal. Media yang banyak iklannya honornya juga lumayan.Tapi ada juga media (nasional) yang tidak selalu memberikan honor, terutama untuk tulisan-tulisan pendek.
    Lantas, apakah anda merasa tidak dihargai tanpa honor?

    Atau memilih media berdasar honor?

    Ini adalah pilihan. Honor adalah hak penulis, hanya saja bentuknya bisa bermacam-macam. Setiap penulis punya kriteria berbeda. Terkait honor, saya pribadi punya urutan prioritas.
    Pertama adalah adanya kesamaan pola pikir media tersebut dengan diri saya. Jika saya suka, nggak dihonorpun nggak masalah. Yang penting ide saya tersampaikan. Kebetulan nggak sering kejadian begini, hampir semua memberi honor. Pernah ada satu media nasional yang tidak memberi honor berupa uang. Pihak media sudah menyampaikan di awal pada saya, bahwa mereka tidak ada space untuk contributor, jadi tidak ada honor. Tapi ketika tulisan yang saya kirim diminta untuk tayang, saya seneng banget dan merupakan suatu kehormatan, so its oke tanpa honor
    Kedua, skala besar kecilnya media. Untuk media nasional, bisa dimuat saja sudah senang, apalagi di honor. Namun, ada rubrik-rubrik tertentu tanpa honor, misalnya rubrik yang meminta opini pendek/testimoni. Tetep saya aktif nulis disana. Kok mau sih tanpa honor? Saya mau karena saya punya tujuan lain, yaitu branding nama, agar semakin sering nama saya dibaca.
    Ketiga, menulis untuk siapa? Jika untuk organisasi yang saya ikuti, atau untuk amal atau demi bisa sebuku dengan teman-teman dalam satu komunitas misalnya, saya rela tidak dihonor. Tapi jika menulis untuk kepentingan seseorang atau satu golongan yang hanya membesarkan nama sepihak, tentu saya menuntut honor yang pantas, hehehe….

     

    Di atas adalah pilihan saya, bagaimana dengan anda?

     

    Berikut beberapa cerita teman-teman saya:

     

    Pengalaman teman saya, Wida Warida mengirim tulisan ke media sejak tahun 2000-an, waktu itu honor biasanya dikirim via wesel dan mencairkannya ke kantor pos. Terus, lucunya lagi, Wida menyimpan struk setiap tulisan yang dimuat. Nah, setelah sekian lama, Wida menemukan kembali struk bersejarah itu dan katanya, berasa gimana gitu…

     

    Anisa Widiyarti sepakat dengan saya. Anisa  sebenarnya tak terlalu masalah dengan besarnya honor. Asalkan media tersebut menghargai karya kita. Kalau memang dimuat, ya berikan honornya. Jujur, Anisa suka dengan kompas group. Mereka langsung mentransfer honor tanpa banyak babibu.

     

    Ya, menurut saya semuanya kembali ke masing-masing pribadi.
    Kalau sejak awal tau itu acara amal, tentu harus siap jika tak dihonor.
    Tapi untuk media, saya benar-benar membuat list siapa saja yang pantas saya kirimi karya.
    Honor menurut saya bukan hanya masalah Rupiah, tapi bagaimana media tersebut menghargai karya kita.

     

    Menurut Bunda Haifa, arti manfaat dalam sebuah tulisan itu relative. Menurutnya, sesungguhnya bermanfaat itu bisa membuat orang berpindah dari titik tidak baik ke mendingan, dari titik mendingan ke titik lebih baik. Sebagaimana arti belajar. Belajar adalah proses membuat orang menjadi lebih baik.

     

    Cerita Pritha K, waktu tahun 2008 blog pribadiku dibukukan. Awalnya menurutku tulisan itu ga penting. Ya iyalah saat orang-orang nulis sesuatu yang smart kayak tips ini dan itu atau novel bergizi eh ini cerita keseharian aku diterbitkan. Tapi saat penjualannya lumayan dan banyak respon yang positif masuk ke emailku, aku baru ngeh ternyata sesuatu yang biasa aja (bahkan sempat bikin ragu) buatku ternyata berarti buat banyak orang.

     

    Menarik bukan? Uang bukan yang utama, tapi penting juga sih… :))


  5. TIPS MENGUBAH KISAH PENGALAMAN PRIBADI MENJADI ARTIKEL

    November 6, 2013 by murtiyarini

    contoh artikel

    Kebetulan, genre tulisan saya lebih mengarah pada artikel.  Saya sering mendapat keluhan tentang sulitnya membuat artikel. Definisi artikel itu apa? Jika ditanya begitu, saya merasa tidak kompeten menjawab tentang teori tulis menulis.  Yang saya tahu, di media ada jenis tulisan pengalaman pribadi dan artikel.

    Sekilas bedanya begini,

    Ciri Pengalaman pribadi :
    -sudut cerita penulis sebagai orang pertama
    -melibatkan orang-orang terdekat penulis dalam bercerita
    -detil menuliskan kronologi atau ditulis berdasar kronologi
    -tulisan panjang, biasanya tanpa sub judul
    -ending terdiri dari satu atau dua solusi yang diterapkan oleh penulis

    Ciri Artikel
    -penulis tidak menyebutkan dirinya sebagai tokoh dalam tulisan
    -tidak ada tokoh dalam tulisan, atau kalaupun ada tidak menonjol ke seseorang
    -kadang kala menyisipkan teori dari pakar
    -tulisan dibagi atas sub judul dan poin-poin tapi tidak selalu urut kronologi
    -ending terdiri atas berbagai solusi yang bisa diterapkan oleh orang banyak

    Buat saya, lebih mudah menulis jika yang ditulis berangkat dari pengalaman pribadi. Tapi karena rambu-rambu yang menurut saya perlu dijaga, saya memilih untuk mengubahnya menjadi artikel.

    Untuk mengubah pengalaman pribadi menjadi artikel saya ambil langkah berikut :

    1. Jadikan cuplikan pengalaman pribadi sebagai prolog yang mengantar pembaca pada isi
    2. Tarik kesimpulan/hikmah dari pengalaman anda, misal 3-4 poin yang kemudian bisa jadi sub judul
    3.  Uraikan kembali sub judul tersebut dengan meminimalkan kata “saya” . Generalisasi pengalaman anda seolah orang kebanyakan mengalaminya
    4. Cari data (tidak harus angka-angka lho) di internet atau wawancara teman-teman untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pendapat dari sudut pandang berbeda. Rangkum dan masukkan dalam sub judul yang sesuai
    5. Untuk mempermanis, cari teori dari tokoh/pakar yang mendukung poin-poin/sub judul anda.
    6. Pada bagian akhir, boleh sedikit beramah tamah dengan pembaca dengan kembali menampilkan kata “saya”

    Itu langkah-langkah saya menulis artikel berdasar pengalaman pribadi. Lama-kelamaan, saya lebih suka menghilangkan kata “saya” dan menulis secara lebih general.

    Berikut adalah contoh artikel dari pengalaman pribadi dan saya lengkapi datanya dengan menanyakan pengalaman teman-teman di facebook.

    http://asacinta.blogspot.com/2011/10/cinta-kedua.html

    Saya tidak terlalu menghiraukan aturan ini-itu yang kadang membatasi karakter menulis kita. Contohnya dalam menulis artikel perjalanan, disini biasanya penulis malah menceritakan pengalaman pribadi. Nah, kalo itu disebut artikel atau pengalaman pribadi? Bingung kan?…hehehe..

    Kisah perjalanan lebih sering disebut artikel, karena walaupun pengalaman pribadi tapi bukan full curhat cerita tentang pribadi penulis, melainkan cerita tentang hal-hal yang sifatnya umum dan orang lain bisa lakukan hal yang sama.

    Selamat menulis.