Tata Krama Menulis Kisah Pribadi / Kisah Nyata

kisah inspiratif

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang menuliskan kisah pribadi dalam bentuk kisah inspiratif.  Pada umumnya, perempuan lebih suka menulis tentang kisah pribadi.  Bisa tentang keluarga, anak, suami, pekerjaan kantor dan tentunya melibatkan pihak-pihak lain selain dirinya sendiri.

Sebelum memutuskan menulis tentang kisah pribadi, sebaiknya kita renungkan kembali hal-hal berikut

  1. Ibu paling suka menulis tentang anak. Apalagi si anak sedang lucu-lucunya. Kadang-kadang karena terlalu antusias menulis, menulis dan menulis, kita terlalu detil bercerita dan menyentuh hal-hal yang memalukan/menyedihkan dengan dalih INSPIRATIF untuk orang lain. Bayangkan, jika si anak sudah mengerti (kalau tidak sekarang beberapa tahun kemudian), kira-kira apa reaksinya?
  2. Sementara kalau ibu menceritakan hal yang membanggakan, tetaplah mengontrol tulisan, ingatlah juga reaksi pembaca. Mungkin saja ada yang merasa “ihh, lebay, kayak anaknya sendiri aja yang hebat” nah lho..hehehe…
  3. Senada kasusnya dengan anak, ketika kita menceritakan suami, mertua, ibu, dan keluarga besar, harus benar-benar anda pikirkan reaksi mereka dan dampak sesudahnya ketika melihat kisah mereka beredar di masyarakat. Cerita tentang romantisme dengan suami, ijin dulu sama suami, siapa tahu suami hanya ingin berbagi romantismenya dengan anda.
  4. Untuk memenuhi target jumlah halaman yang cukup banyak, seringkali kita mengisinya dengan hal-hal yang terlalu detil. Ingat, pembaca tidak selalu ingin mengetahui detil riwayat hidup penulis. Jadi, kita menulis seperti bercerita pada orang asing yang baru kenal, ceritakan cukup poin-poin penting yang mengarah pada inti cerita. Lebih menarik jika kita memperdalam pemikiran atau filosofi dari tiap poin itu.
  5. Pikirkan sebelum menyebut merk sebuah produk atau nama sebuah instansi dalam tulisan, terlebih jika bernada negatif. Kita boleh berani menyampaikan kebenaran, tapi apakah sudah siap dengan urusan hukum yang mungkin muncul sesudahnya?
  6. Kisah inspiratif dan menyentuh bukan selalu harus melankolis dan mengharukan. Pembaca ada yang suka kisah sedih, tapi ada juga yang justru tidak tersentuh ketika sebuah tulisan terlalu mengiba, minta belas kasihan. Saya pribadi lebih suka cerita orang-orang yang kuat.

Kaidah-kaidah yang di paparkan bisa menjadi acuan saat kita menuliskan kisah pribadi. Yang terpenting sebenarnya adalah mengantarkan kepada pembaca apa kira-kira hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah itu.  Jaga privacy keluarga, kredibilitas merk/branded, kredibilitas diri sendiri.

Beda cerita jika kita menuliskan surat keluhan tentang sebuah produk melalui surat pembaca di media massa.  Surat pembaca umumnya meminta klarifikasi dari merk atau perusahaan yang disebut.  Walaupun sifatnya mengeluh atau complain, tetap gunakan bahasa yang santun.

Jika anda penulis fiksi, menulis kisah nyata nan inspiratif bisa diubah menjadi tokoh-tokoh fiksi. Cara ini lebih aman karena nama asli disamarkan.  Pembaca benar-benar hanya mengambil hikmahnya.

Namun tampakanya pasar pembaca lebih menyukai kisah nyata, sehingga hal ini mendorong merebaknya penulisan kisah nyata, memoir, profil dan sejenisnya.  Solusinya, penulis dapat menyamarkan hal buruk menjadi sebuah hikmah yang inspiratif.  Apakah hasil tulisan akan kehilangan rasa? Hm, saya pikir ini tergantung kemampuan si penulis dalam menyajikan rasa.

Jadi, nggak boleh nih menulis menceritakan kisah pribadi?

Eh, siapa yang melarang? Saya hanya menyampaikan rambu-rambunya. Tidak ada larangan, karena baik buruknya dampak yang akan dituai, sepenuhnya menjadi resiko penulis.

So, tetap tuliskan kisahmu karena mungkin akan menginspirasi orang-orang disekitarmu.


{ Leave a Reply ? }

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *