RSS Feed

Tata Krama Menulis Kisah Pribadi / Kisah Nyata

October 28, 2013 by murtiyarini

kisah inspiratif

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang menuliskan kisah pribadi dalam bentuk kisah inspiratif.  Pada umumnya, perempuan lebih suka menulis tentang kisah pribadi.  Bisa tentang keluarga, anak, suami, pekerjaan kantor dan tentunya melibatkan pihak-pihak lain selain dirinya sendiri.

Sebelum memutuskan menulis tentang kisah pribadi, sebaiknya kita renungkan kembali hal-hal berikut

  1. Ibu paling suka menulis tentang anak. Apalagi si anak sedang lucu-lucunya. Kadang-kadang karena terlalu antusias menulis, menulis dan menulis, kita terlalu detil bercerita dan menyentuh hal-hal yang memalukan/menyedihkan dengan dalih INSPIRATIF untuk orang lain. Bayangkan, jika si anak sudah mengerti (kalau tidak sekarang beberapa tahun kemudian), kira-kira apa reaksinya?
  2. Sementara kalau ibu menceritakan hal yang membanggakan, tetaplah mengontrol tulisan, ingatlah juga reaksi pembaca. Mungkin saja ada yang merasa “ihh, lebay, kayak anaknya sendiri aja yang hebat” nah lho..hehehe…
  3. Senada kasusnya dengan anak, ketika kita menceritakan suami, mertua, ibu, dan keluarga besar, harus benar-benar anda pikirkan reaksi mereka dan dampak sesudahnya ketika melihat kisah mereka beredar di masyarakat. Cerita tentang romantisme dengan suami, ijin dulu sama suami, siapa tahu suami hanya ingin berbagi romantismenya dengan anda.
  4. Untuk memenuhi target jumlah halaman yang cukup banyak, seringkali kita mengisinya dengan hal-hal yang terlalu detil. Ingat, pembaca tidak selalu ingin mengetahui detil riwayat hidup penulis. Jadi, kita menulis seperti bercerita pada orang asing yang baru kenal, ceritakan cukup poin-poin penting yang mengarah pada inti cerita. Lebih menarik jika kita memperdalam pemikiran atau filosofi dari tiap poin itu.
  5. Pikirkan sebelum menyebut merk sebuah produk atau nama sebuah instansi dalam tulisan, terlebih jika bernada negatif. Kita boleh berani menyampaikan kebenaran, tapi apakah sudah siap dengan urusan hukum yang mungkin muncul sesudahnya?
  6. Kisah inspiratif dan menyentuh bukan selalu harus melankolis dan mengharukan. Pembaca ada yang suka kisah sedih, tapi ada juga yang justru tidak tersentuh ketika sebuah tulisan terlalu mengiba, minta belas kasihan. Saya pribadi lebih suka cerita orang-orang yang kuat.

Kaidah-kaidah yang di paparkan bisa menjadi acuan saat kita menuliskan kisah pribadi. Yang terpenting sebenarnya adalah mengantarkan kepada pembaca apa kira-kira hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah itu.  Jaga privacy keluarga, kredibilitas merk/branded, kredibilitas diri sendiri.

Beda cerita jika kita menuliskan surat keluhan tentang sebuah produk melalui surat pembaca di media massa.  Surat pembaca umumnya meminta klarifikasi dari merk atau perusahaan yang disebut.  Walaupun sifatnya mengeluh atau complain, tetap gunakan bahasa yang santun.

Jika anda penulis fiksi, menulis kisah nyata nan inspiratif bisa diubah menjadi tokoh-tokoh fiksi. Cara ini lebih aman karena nama asli disamarkan.  Pembaca benar-benar hanya mengambil hikmahnya.

Namun tampakanya pasar pembaca lebih menyukai kisah nyata, sehingga hal ini mendorong merebaknya penulisan kisah nyata, memoir, profil dan sejenisnya.  Solusinya, penulis dapat menyamarkan hal buruk menjadi sebuah hikmah yang inspiratif.  Apakah hasil tulisan akan kehilangan rasa? Hm, saya pikir ini tergantung kemampuan si penulis dalam menyajikan rasa.

Jadi, nggak boleh nih menulis menceritakan kisah pribadi?

Eh, siapa yang melarang? Saya hanya menyampaikan rambu-rambunya. Tidak ada larangan, karena baik buruknya dampak yang akan dituai, sepenuhnya menjadi resiko penulis.

So, tetap tuliskan kisahmu karena mungkin akan menginspirasi orang-orang disekitarmu.



44 Comments »

  1. Tanti Amelia says:

    saya setuju , mak Arin.

    pada saat ada ide menulis dengan tema yang sekarang sedang hip, Titik Balik, saya memutuskan untuk tidak melakukannya.

    Pertimbangannya : 1. Menyangkut harga diri banyak orang
    2. Rasanya seperti membuka aib sendiri

    thanks mak, sharenya

  2. OctaNH says:

    Setuju ama artikel ini.

    Pas kemaren saya sempet nulis tentang masa muda orangtua saya dan salahnya, saya ngepost dulu di blog baru bilang ama Ibu saya. Pas udah beberapa hari dan Ibu saya udah baca, ada beberapa hal yang akhirnya saya ubah karena beliau kurang setuju kalau yang begitu tuh dibaca orang banyak. Akhirnya saya ubah deh…. 😀

  3. Edi Padmono says:

    Saya juga suka menulis kisah kisah nyata, ya…baru belajar, menyamarkan nama terkadang bisa tetapi lokasi kejadian masih sulit.

  4. susan says:

    setujuu mbak Arin !!, kadang suami gak suka untuk suatu hal di ‘lebay’kan ..kadang mereka malu berbagi kisah romantisnya dibuka..hihi, makanya tetap dibaca dulu suami dan minta persetujuan…baru dipublish…
    thx share nya..

  5. makasih mak..jadi panduan yang penting buat saya yang suka nulis tentang anak dan kisah hidup orang-orang…

  6. rahmah says:

    mencerahkan… menjadi rambubdalam menulis…

  7. Good idea mbak, setuju.. Eh tp aku msh suka blak-blakan nih kalo cerita, maksudnya supaya memberi semangat, bhw inilah apa adanya.. Atau mgkn aku terlalu narsis, xixi.. *jitak kepala sendiri

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

  8. Pengingat yang baik mbak, perlu diterapkan juga di sosial media 😉

  9. Muna Sungkar says:

    Setuju bgt.. Makasih masakannya mbak.. Noted :)

  10. nunung says:

    iya mbak…sering kebablasan..hiks

  11. Shinta says:

    kalo saya menghindari bangett nulis yang sifatnya pribadi hehehe kalo bisa yang umum aja, ngga terlalu lebay persis kata mak arin :-)

  12. inspiratif mbak, jadi ingin baca2 tulisan sendiri :)

  13. Sasono says:

    Ini yang jarang diketahui .. matur suwun ..

  14. mira_aqila says:

    Setuju mak… kadang risih juga terlalu jujur. Seperti buka aib sendiri. Hihihihi

  15. Ade Anita says:

    Setujuuuu… dan jaga perasaan pasangan kita (*ini dalam rangka gak setuju pake banget dengan ajakan antologi kisah bersama mantan)

  16. Istiadzah says:

    wah saya malah lebih suka dan nyaman menulis fiksi, mak. hehehhe. jadi kadang2 aku jadikan cerita aja itu kisahnya daripada nyata2 plek2 dibeberin. 😀

    btw, aku setuju sama poin2 yg mak arin tulis di atas! :)))

  17. anny says:

    Sebagian yang sangat privacy memang gak perl dibuka mak, setuju :)
    kalaupun ada yang harus disampaikan biar ada keterkaitan klimaks masalahnya, bisa diulas dengan bahasa samar atau diperhalus :)

  18. Lusi says:

    Sekarang memang banyak sih seperti itu di blog2. Ada yang berpendapat, masa lalu, apalagi yang tidak baik, dipendam saja. Ada yang berpendapat bagus sekali menginspirasi sekalian untuk menyembuhkan diri sendiri. Menurutku sih, kita enggak boleh egois. Yang kita kira menginspirasi bisa jadi sangat memalukan bagi keluarga. Meski itu pengalaman kita sendiri, tetap harus menanyakan perasaan keluarga. Kalau keluarga mendukung, baru jalan terus, bahkan bisa menginspirasi lebih banyak orang. Sayangnya, anak2, terutama yang masih dibawah umur tidak pernah masuk dalam daftar yang ditanyai. Siapa yang bertanggung jawab atas perasaan mereka kelak jika mereka dewasa & mengetahui bhw kehidupan pribadi keluarganya, terutama yang tidak baik, bisa diakses semua orang?

  19. Sakura21 says:

    Hal2 seperti diataslah yg membuat maju mundur menuliskan kisah… jd lebih suka menggali filosofi nya saja…
    terimakasih atas tulisannya…

  20. Susanti Dewi says:

    Oke mak, siip deh…. :) trims ya utk artikelnya,sebagai pengingat.

  21. RedCarra says:

    nice sharing Mak..

    Aku pernah kejadian juga. Dan sekarang aku mencoba lebih hati-hati. Kayak mak Isti’adzah, aku akhirnya lebih suka nulis fiktif aja. Walaupun based on true story.

    :) makasih atas pencerahannya.

  22. Emi Syofyan says:

    bener banget, mak….kadang saya juga suka agak-agak takut juga kalo kebaca, tapi saya suka samarin nama nya kalo privacy banget. sebenarnya pengen nulis banyak yg cerita tentang diri sendiri, cuma agak-agak malu-maluin rasanya. Kedepan saya ingin merubah fokus saya.

    thanks, mak sharing nya…..:)

  23. tarik nafas* tengkyu mak arin,,mengingatkan tentang ini,,

  24. E. Novia says:

    good artikel, Mak.

    Makasih untuk masukan-masukannya. ^^

  25. Betul banget mbak…..saya kira harus benar2 bisa menempatkan mana yg harus di ungkapkan ke media mana yg harus di tutup sebagai privasi…. :-)

  26. Inung says:

    thank you mbak…. (y)

  27. hana says:

    iya bener mak, anakku sekarang gitu aku tanya dulu boleh mama share atu engga 😀

  28. ima says:

    hihiii… jadi inget awal-awal nge-blog, suka curhat sana sini full of angger deh. biasa, masa-masa “kemarahan”, kadang gak sadar ada yang baca blog kita. sekarang berusaha lebih apik, fun dan berefleksi. makasih udah berbagi rambu-rambu :)

  29. rahma says:

    Setuju banget. Saya pernah baca tulisan yang seolah menguliti bangunan rumah tangganya, kita yang baca juga risih……jangankan aib kita, aib orang lain pun mestinya kita tutupi. Begitu perintah agama. he e he….kalo mak-mak galau emang lebih kacau akibatnya…:D
    Izin share ya…:)

  30. istiana says:

    bener banget nih mak, buat rambu-rambu kalo2 pengen nulis hal pribadi lagi nih. makasih banyak sharingnyaa 😀

  31. Bint@ says:

    setuju mbak.. selama ini rambu2 itu jg jd pijakan saya sih.. pilih2 teman kalau antologi kisah nyata, kalau rasanya bikin ga enak orang yg dibicarakan lbh baik ga ikut :)

  32. Agnes Bemoe says:

    Setuju! Kalau ekspose pribadinya terlalu vulgar malah sulit ditarik inspirasinya (y)

  33. grosse says:

    setuju, kadang malah g bs bdain mana yg inspiratif mana yang malu2in,,,hehe, inspiratif bgt, keren

  34. grosse says:

    setuju, kadang malah g bs bdain mana yg inspiratif mana yang malu2in,,,hehe, keren

  35. Grace says:

    Thanks Mak atas remindernya. Setuju sama poin2 yg disampaikan. Syukurlah sejauh ini suami selalu mengijinkan kalau aku nulis ttg dia dan Ubii. :)

  36. mardha says:

    setuju mba..
    senang skali jd bisa dpt rambu2 ini buat pemula sprti sy.. kdg rambu2 tsb jg sih yg msh buat sy maju mundur tuk mnuliskan pengalaman pribadi..
    ijin sy share artikelnya ya mba.. :)

  37. Gita says:

    Iya kalau menyebut nama merek memang repot.
    Bisa2 kena urusan hukum.
    Padahal kan tiap orang punya selera dan pendapatnya sendiri2 terhadap sebuah produk tertentu.

  38. Yunita Hentika Dani says:

    kadang penyesalan datangnya emang belakangan.. thanks for warning…. nice

  39. lasimin says:

    saya telah selesaikan satu buku pengetahuan populer untuk sata terbiykan secara mandiri. rencananya mau nulis kisah nyata.

  40. Divani says:

    Rambu-rambu dan tata kramanya sangat logis dan bermanfaat Bun. Memang dalam jagat online ini, walaupun peluang keterbukaan sangat lebar untuk diumbar namun kehati-hatian dalam menulis masih sangat dibutuhkan..

    Nice share bun..Salam kenal ya…

  41. Melisa says:

    Setuju banget.. Bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari saja, dalam penerapan ilmu jurnalistik juga harus menggunakan tata krama yang sopan dan baik.

  42. terimakasih buat artikelnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *