RSS Feed

Melestarikan Jamu, Mencintai Budaya Indonesia (Juara 1 Lomba Blog Jamu Biofarmaka)

October 17, 2013 by murtiyarini

 

Jamu, Budaya Bangsa dari Masa ke Masa

 

Sebagai orang Indonesia tulen, sejak kecil saya sudah mengenal jamu. Saya paling suka jamu beras kencur, karena rasanya yang enak. Menjelang remaja saya berkenalan dengan jamu kunyit asem, jamu sinom, jamu gopyokan dan lain sebagainya.  Jamu-jamu banyak ragamnya, dari yang seger, asem, manis sampai pahit. Saya minum jamu dalam frekuensi yang wajar saat diperlukan, tidak setiap hari. Bukan tidak mencintai jamu, tetapi lebih karena alasan medis yang saya pahami. 


Entah sejak kapan jamu tercipta dan siapa penemunya tidak ada yang tahu. Yang pasti, jamu adalah warisan budaya bangsa, buah karya dan karsa bangsa Indonesia yang manfaatnya bagi kesehatan dan kecantikan telah dirasakan berabad-abad lamanya. 

 

Jamu adalah budaya Indonesia sejati. Buktinya, jamu menjadi minuman berbagai kalangan.  Sudah menjadi pemandangan sehari-hari, seorang perempuan memanggul bakul berisi botol-botol berisi jamu.  Perempuan tersebut dikenal dengan nama akrab mbak jamu, sedangkan jualannya dikenal sebagai jamu gendong.  Si Mbak Jamu menggendong jamunya menyusuri jalan, menawarkan jamu ke pelanggannya. Konsumennya dari bapak-bapak, ibu-ibu sampai anak-anak.  Mbak Jamu biasanya jual pagi hingga siang hari sampai jamu dalam bakul gendong habis. Seiring waktu, mbak jamu semakin kreatif mengganti bakul gendongan dengan gerobak dorong atau sepeda. Namun begitu, nama jamu gendong masih lebih populer dibanding jamu gerobak atau jamu sepeda.

 

Mbak Jamu gendong langgananku

 

 Jamu  juga dijual di kedai, depot dan kios jamu. Jamu yang dijual di kios jamu berbeda konsumennya dengan jamu gendong. Jamu di kios jamu konsumennya kebanyakan bapak-bapak yang memerlukan jamu untuk menjaga staminanya. Kios jamu biasanya buka dari siang hingga malam hari.

 

Ada juga jamu yang bisa dikonsumsi kapan saja dan lebih praktis, serta higienis, yaitu jamu kemasan. Jamu kemasan diproduksi oleh produsen atau pabrik jamu dalam jumlah besar. Kemudian didistribusikan ke toko, supermarket, termasuk juga di distribusikan ke kedai jamu. Bahkan sebagian mbak jamu juga membawa jamu kemasan sesuai permintaan konsumen.


Bentuk jamu juga tidak lagi cair. Jamu saat ini dikemas dalam bentuk pil, tablet, serbuk atau permen yang memudahkan untuk disimpan, dibawa dan dikonsumsi.

 

Jajaran jamu kemasan di supermarket

Dari rakyat jelata hingga para bangsawan sudah meminum jamu sejak dulu. Jamu tidak mengenal kasta. Orang yang masuk angin meminum jamu anti masuk angin, yang berbahan utama jahe, dan bahan tambahan bervariasi seperti adas, ginseng, cabe jawa atau mint, tergantung ketersediaan bahan dan selera peramunya. Orang yang diare meminum jamu daun jambu biji dicampur kunyit.

 

Di era modern ini, jamupun mengalami modernisasi. Jamu dikemas secara menarik dan ekslusif, serta didistribusikan ke outlet-outlet di pusat perbelanjaan mewah. Dua perusahaan kosmetik raksasa di Indonesia yang berbasis ramuan tradisional untuk kesehatan dan kecantikan, yaitu Sari Ayu dan Mustika Ratu memiliki outlet di sejumlah lokasi. Selain itu, pada jamuan-jamuan mewah berbagai acara seminar atau undangan resmi, saya beberapa kali menemukan bandrek, beras kencur dan wedang jahe sebagai pilihan minuman hangat.  Ini menjadi bukti bahwa jamu mengalami perkembangan sesuai jaman.

 

Apapun itu, jamu tetaplah jamu, ramuan berbahan dasar tumbuhan dan hewan yang berguna untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit dan sebagian bisa menyembuhkan penyakit,  hasil cipta dan karsa nenek moyang yang kini menjadi budaya bangsa Indonesia.

 

Adalah kabar baik bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mengajukan jamu sebagai warisan budaya dunia karya bangsa Indonesia agar mendapat pengakuan dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB).  Upaya ini adalah langkah awal dan masih membutuhkan perjuangan dari segenap bangsa Indonesia.



Mendukung jamu go international

Terkait pengajuan jamu sebagai warisan budaya dunia, selayaknya sebagai bagian bangsa kita mendukung pelestarian jamu. 

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk melestarikan jamu? 

 

(1) Bangga menyebut kata jamu

 

Jamu adalah ramuan kesehatan khas Indonesia.  Kata jamu akhir-akhir ini menjadi rancu dengan kata Herbal, padahal ada jamu yang terbuat dari bahan hewani.  Para budayawan dan cendikia diharapkan mampu membuat deskripsi Jamu secara nasional. Untuk itu perlu inventarisasi jenis-jenis jamu yang ada di Indonesia sehingga memperkuat landasan kekayaan jamu.  Kita patut bangga memiliki keragaman jenis jamu di tiap daerah di Nusantara. Ada jamu Jawa, jamu Sunda, jamu Aceh, jamu Madura, jamu Bali, jamu Papua dan lain sebagainya.

 

Ada baiknya kita mengetahui kedudukan jamu dalam bidang farmasi. Jamu berbeda dengan fitofarmaka dan obat herbal. Dalam hal standarisasi medis, kedudukan jamu berada dibawah fitofarmaka dan herbal karena jamu belum terukur kandungannya dan masih sedikit pembuktian ilmiah terhadap manfaat jamu. Namun begitu, jamu  memenuhi kriteria aman, khasiatnya terbukti secara empiris dan memenuhi persyaratan mutu. 


Pendapat saya, ketika jamu telah diketahui unsur kimiawi bahan dasar, komposisi, dosis penggunaannya dan manfaat secara ilmkah, Jamu tidak serta merta berubah nama menjadi fitofarmaka atau herbal. Tetaplah menyebut ramuan kesehatan Indonesia dengan kata “Jamu”

 

(2) Menghargai penemuan jamu baru 


Dengan kekayaan dan keragaman sumber daya alam di Indonesia, selalu membuka peluang ditemukannya khasiat baru dari sebuah tanaman. Hal ini mengarah pada jenis ramuan baru yang kemudian diperkenalkan kepada masyarakat. Masalahnya, bagaimana ramuan baru ini diberi nama? Jamu atau herbal atau lainnya? Apakah memungkinkan ramuan baru tersebut diberi nama jamu dan disejajarkan dengan jamu-jamu yang telah ada sebelumnya?


Akhir-akhir ini pertambahan ramuan herbal meningkat , namun tidak dinamai dengan kata Jamu.  Jika ingin jamu lestari, namanya tidak tenggelam oleh kata herbal, maka diperlukan kesadaran dan keterbukaan kita pada penemuan jamu baru dan penamaannya. Saya pikir tidak ada salahnya jika ditemukan jamu baru bernama “lempuyang millenium” atau “segerwaras 21”.  Tentu hal ini harus diatur oleh Kementerian Kesehatan dan dibantu oleh lembaga riset, sertifikasi dan hukum yang diberi kewenangan.

 

(3) Sertifikasi mutu, sosialisasi dosis, manfaat dan efek samping jamu


Sebagai produk konsumtif untuk keperluan kesehatan sudah selayaknya jamu melalui uji standarisasi mutu terkait kebersihan  dan keamanan pangan. Konsumen perlu tahun info sebenar-benarnya tentang manfaat jamu, tidak dilebih-lebihkan. Salah satu yang perlu ditekankan adalah informasi manfaat bahwasanya lebih banyak jamu yang berguna sebagai penjaga stamina dan pencegah penyakit, dan lebih sedikit varian jamu sebagai penyembuh penyakit. Apalagi penyakit yang membutuhkan obat bereaksi cepat seperti aspirin atau parasetamol, sudah jelas jamu tidak bekerja seperti demikian.


Selain itu,  produsen jamu tradisional perlu mendapatkan pendidikan tentang kebersihan, komposisi dan metode penjualan. Para penjual jamu gendong harus benar-benar disiplin menjaga kebersihan dan keamanan produknya, menjaga kepercayaan konsumen dengan tidak memberikan campuran obat-obatan kimia ke dalam jamu sehingga menimbulkan efek manjur namun menipu. Para pelaku industri jamu harus dapat memberikan informasi setepat mungkin tentang jamu yang dijualnya kepada konsumen. Semua perilaku buruk yang mencemarkan citra jamu harus dieliminasi.


Siapa yang bertanggungjawab terkait edukasi produsen dan penjual? Tentunya jajaran Kementerian Kesehatan dibantu oleh lembaga kesehatan dan lembaga riset.


Pada jamu-jamu kemasan sebagian telah disebutkan dosis penggunaan dan komposisi bahan. Jamu kemasan diberi logo “jamu” pada bagian kiri atas kemasan. Logo ini berfungsi sebagai petunjuk konsumen dan membedakan dengan kemasan obat kimia.

Logo jamu pada jamu kemasan

 

(4) Mengkonsumsi jamu secara proporsional

 

Setelah tahu manfaat dan efek samping jamu, konsumen mempunyai pilihan. Semakin banyak informasi yang didapat, semakin banyak konsumen terbantu untuk menentukan pilihan yang tepat. 


Jamu dalam perannya sebagai penjaga stamina yang menunjang kesehatan secara keseluruhan, selayaknya dikonsumsi dalam jumlah yang tepat. Jamu membawa manfaat jika dikonsumsi sesuai aturan, namun akan membawa efek samping apabila dikonsumsi berlebih. Azas ini menyerupai landasan minum obat kimia. Bedanya, obat kimia baru akan diminum ketika seseorang sakit, sedangkan jamu bisa dikonsumsi saat seseorang sehat karena fungsinya untuk mencegah penyakit.


Melestarikan jamu bukan berarti memperbanyak minum jamu. Munculnya efek samping akibat kelebihan minum jamu dapat memperburuk citra jamu itu sendiri. Tentunya ini menurunkan kepercayaan orang kepada khasiat jamu dan mengancam kelestariannya.


Jadi, sebagai konsumen kita harus bijak. Cintai jamu dengan mengkonsumsi jamu secara proporsional sesuai kebutuhan. 



(5) Kemitraan petani jamu


Bahan baku jamu, kebanyakan tanaman akar-akaran, mudah ditanam dan bisa dikembangkan di skala rumah tangga hingga industri. Namun jangan lengah, jangan sampai nasib jamu seperti tempe. Ketersediaan bahan harus diupayakan selalu ada dan harga pasar dijaga agar stabil sehingga petani terus semangat menanam bahan jamu.


Di sini perlu peran para ilmuwan agronomis untuk membantu petani jamu agar tanamannya bisa berproduksi maksimal dan memenuhi stadar kelayakan. Para agronomis, baik pribadi maupun dalam naungan lembaga, dapat melakukan kemitraan dengan petani melalui pendampingan dan bimbingan.

 

(6) Dukungan dari para medis

Diakui, bahwa jamu masih menjadi kontra bagi pengobatan medis karena tidak adanya takaran yang tepat dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam upaya pelestarian jamu, para medis tidak harus menuliskan resep jamu kepada pasiennya, namun seyogyanya juga tidak merendahkan martabat jamu.


Bagaimanapun, jamu telah banyak berjasa pada kesehatan bangsa Indonesia sejak dahulu kala, bahkan sebelum pengobatan medis ditemukan. Jikapun ada penemuan-penemuan negatif terkait jamu, seharusnya pemberitaan dilakukan secara proporsional. Lebih bijak lagi jika para medis mau membantu dalam bentuk  penelitian-penelitian terkait jamu sehingga ditemukan aturan pakai yang tepat. 

 

Pembuktian ilmiah bisa dimanfaatkan sebagai upaya mengurangi resiko dan dampak produk jamu dan pengobatan tradisional. Tentunya pembuktian tidak dengan sudut pandang yang memojokkan jamu. Harapannya, jamu bisa setara dengan farmasi dalam kedudukannya bidang kesehatan.  Jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan lestari. 

 

(7) Blogger mendukung jamu


Peran blogger sebagai perwarta warga dapat membantu kampanye pelestarian jamu. Blogger adalah gelombang kekuatan baru di dunia digital. Pesan kampanye pelestarian jamu dapat dilakukan oleh blogger dengan menulis segala sesuatu tentang jamu secara seimbang.  Kampanye positif dalam arti menuliskan kedudukan jamu dalam perannya di dunia kesehatan secara benar. Promosi berlebihan tanpa mencantumkan kelebihan dan kekurangan jamu akan membuat kepercayaan pada jamu menurun. Dan tentunya, dalam kode etik perwarta sudah termaktub etika menulis dengan sumber berita dan informasi yang jelas sehingga menghasilkan tulisan yang akurat dan terpercaya tentang jamu.

 

 

(8) Dukungan Lembaga Penelitian


Lembaga-lembaga penelitian sangat berperan dalam melestarikan jamu. Biofarmaka adalah salah satu lembaga penelitian dibawah naungan Institut Pertanian Bogor yang mengkhususkan bidang pada penelitian sumber daya biotik untuk keperluan farmasi.


Peran biofarmaka sebagai lembaga penelitian ilmiah adalah untuk mengeksplorasi dan meneliti prospek sumber daya alam, termasuk diantaranya bahan baku jamu. Biofarmaka juga mengembangkan produk paten yang dibangun dari kekayaan intelektual. Salah satu peran penting Biofarmaka adalah membuat standart operational procedure dalam hal budidaya dan industri produk biofarmaka yang diakui secara nasional dan international. Kemudian Biofarmaka mengkomersialkan riset melalui sharing product dan perijinan produk serta pemetaan potensi biofarmaka di Indonesia.


Lembaga penelitian seperti Biofarmaka bisa masuk sebagai motor, pembimbing dan pendamping pada upaya-upaya pelestarian jamu seperti dijabarkan di atas. 

 


Kedelapan langkah di atas adalah upaya-upaya internal dalam negeri yang bisa membantu melestarikan jamu. Kedepannya, jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan meyakinkan UNESCO bahwa jamu  layak diakui sebagai warisan budaya dunia.  Akhir kata, saya sebagai blogger berharap tulisan ini dapat memberi masukan positif pada upaya pelestarian jamu. Lestari jamuku, jayalah budaya bangsaku. 

 

Referensi :

http://biofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2013/Flyer%20BRC.pdf

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/267-development-of-partnership-model-between-brc-and-farmers-of-biopharmaca-in-district-sukabumi

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013

 

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Penulisan Artikel Jamu di Blog oleh “Biofarmaka IPB”

 



1 Comment »

  1. Lidya says:

    Selamat ya mbak, aku kurang suka jamu :) kecuali jamu yang di bungkus pakai telor plus madu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *