[TIPS MENEMBUS MEDIA] MEMILIH TEMA SESUAI KEINGINAN KITA

mind map

Memilih tema memang gampang-gampang susah. Kadang-kadang tema yang kita kuasai tidak terlalu popular dan tidak cocok dengan berbagai media yang beredar di sekitar kita. Atau sebaliknya, begitu tema cocok, kita kuasai bahannya, tapi kok tidak dimuat-muat. Jadinya minder dan merasa nggak berisi. Eits, jangan pernah berpikir begitu. Yakin deh, setiap kita punya keahlian masing-masing, yang orang lain belum tentu punya.

Sebenarnya jumlah media cetak yang saya jajaki juga masih sangat terbatas disbanding banyaknya media yang beredar saat ini.  Hanya saja, kelihatannya saya cukup bisa membidik dalam menentukan kemana tulisan saya harus dikirim, pada saat yang tepat.  Alhamdulillah, persentase keberhasilannya cukup tinggi.

 

Coba lakukan pemetaan ini, mana yang paling sesuai dengan diri anda. Apakah anda menulis :

  1. DENGAN TEMA SESUAI KEINGINAN SENDIRI ?
  2. DENGAN TEMA SESUAI YANG DIMINTA MEDIA/LOMBA ?

Pemetaan itu semacam kerangka atau outline. Karena aku bikin artikel, biasanya simpel aja, latar belakang, kasus-kasus, penyelesaian dll. Yang perlu diingat target pembaca, jadi menulis sekaligus membayangkan jadi pembaca, apa yg pembaca perlukan.

Keduanya bisa dipelajari dan dikuasai dengan baik. Dalam tulisan ini saya akan membahas poin satu, yaitu menulis dengan tema sesuai keinginan sendiri. Apapun ide anda, tulislah! Setelah sebuah artikel selesai anda buat sesuai ide yang anda miliki, giliran memilih media mana yang akan dituju.

Pertama tentukan media dengan misi yang sesuai dengan tulisan kita. Ini tentu saja setelah anda menjelajahi karakter berbagai media baru bisa menentukan. Kedua, setelah menemukan media yang  sesuai, periksa lagi artikel anda, sudahkah gaya bahasa dan model artikelnya cocok untuk media tersebut. Jika belum cocok, lakukan sedikit perubahan dengan tidak merubah ide artikel. Perubahan ini bisa saja hanya sebatas bahasa, tapi bisa juga melebar, mengarah pada perubahan batas usia dan cakupan pembaca. Silakan lakukan perubahan seperlunya.

Ada banyak media dengan berbagai karakter. Jelajahi, pahami karakternya dan tentukan pilihan sesuai artikel yang anda tulis. Saya suka nongkrong di kios koran di kampus, beramah-tamah dengan pemiliknya agar bisa intip-intip media disitu. Sesekali beli juga, malu dong numpang baca doang, hihihi…

Saya menulis apa saja yang ingin ditulis lalu memilih media yang sesuai.  Mengirim untuk koran, kenapa tidak? Menulis untuk koran nggak harus opini yang ‘berat’ kan?  Ada rubric perjalanan, rubric kisah inspiratif, rubric kuliner, rubric parenting dan sebagainya.  Tema pun bisa tentang kisah sehari-hari, keluhan terhadap fasilitas umum, keprihatinan pada kasus tertentu dan lain-lain.  Tinggal bagaimana kita rajin mencari dan mencari informasi media sebanyak mungkin. Nggak dapat Koran edisi cetaknya, coba tanya ke google barangkali ada edisi onlinenya.

Terkadang opini yang ditulis ada curhat kekesalan. Nah supaya tidak kebablasan caranya bagaimana? Memang seemosi apapun kita menanggapi sesuatu, menulis harus tetep kalem. Boleh tajam tapi cerdas dan elegan. Karena pendapat pembaca tidak selalu sama dengan kita. Menulis dengan emosi justru menjauhkan dukungan pada opini kita.

Oh ya kayaknya selain tema, diksi juga sangat diperlukan. Diksi itu pilihan kata.  Mari memperbanyak diksi agar menulis semakin mudah. Kadang-kadang kalau kita menulis, sudah berhasil membuat kerangka dan menulis isinya, eh tiba-tiba dari satu paragraf ke paragraf lain kita bingung bagaimana mau menyambungkannya. Nah, jika kita kita kaya diksi, maka urusan membuat “jembatan” dari satu paragraf ke paragraf lainnya akan semakin lancar.


{ Leave a Reply ? }

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *