RSS Feed

October, 2013

  1. KORAN TIDAK SERAM

    October 28, 2013 by murtiyarini

    Sebelumnya, koran dianggap “seram”, dalam arti isinya berita politik, hukum dan berita-berita berat yang menyajikan data-data rumit. Dan itu membuat banyak orang enggan memasukan tulisan ke koran.

    Di sini, saya ingin mengajak untuk menaklukkan Koran. Mari kita ubah “mind set” kita terhadap Koran. Koran bukan hanya milik politikus, praktisi hukum, dosen, pengusaha atau ilmuwan. Tapi ingat, Koran juga dibaca masyarakat menengah ke bawah, dan mereka yang putus sekolah. Koran sebagai sarana mencerdaskan bangsa, akan berusaha menjangkau pembaca dari kalangan manapun. Untuk menjangkau itu, jelas bahasa dan materi yang disajikan tentu bukan yang rumit dan berat.

    “Mutu sebuah tulisan bukan pada rumit dan beratnya materi. Namun pada kecerdasan ide solusi, kejelian mengambil kasus dan penyajian yang nyaman untuk dibaca sehingga bisa dipahami lebih banyak orang.”
    (dikutip dari Murtiyarini, 2012) :)

     

    Berkaitan dengan ide cerdas dalam menulis, sebenarnya ide cerdas itu tidak usah dipaksakan untuk dicari. Ia akan terasah kalo sering baca dan mengamati. Yang menurut kita biasa, bisa jadi hebat bagi orang lain. Sekali lagi ingat segmen pembaca koran: semua kalangan. Jadi jangan ada kata minder.

    Sekarang hampir di setiap daerah terdapat koran lokal. Walaupun koran lokal, muatannya tidak selalu lokal banget lho, artinya bisa saja menerima info tentang luar daerah tersebut.

    Konon, koran lokal lebih mudah ditembus.  Oiya, benarkah? Mungkin, asalkan penulis rela di bayar dengan honor minimal.  Hehehe.  Pengalaman saya, lebih mudah menembus koran nasional di banding koran local karena koran nasional mempunyai budget dan space untuk penulis luar.  Sementara koran local, terkait budget, hanya mengandalkan tulisan-tulisan dari wartawannya saja.

    Mengirim naskah ke koran sebaiknya melalui email saja. Koran cepat tayang, redakturnya tidak ada waktu lagi untuk mengetik ulang naskah hard copy.  Redaktur koran memang jarang membalas email. Jadi kalo sudah tempo tertentu tidak dimuat dianggap ditolak.  Misalnya, Jawa Pos secara tertulis member tempo 5 hari. Koran Jakarta 2 minggu. Yang lain nggak menyebutkan, terserah bagaimana kita menafsirkan. Kalau dirasa sudah terlalu lama dan bisa dikirimkan ke media lain ya tarik saja dari media pertama.

    Cara mengirim tulisan ke media melalui email cukup dengan mengirimkan file word (naskah) yang dilampirkan pada email. Badan email hanya berisi pengantar saja.  Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah copy email/surat wajib disimpan penulis utk jaga-jaga jika terjadi sesuatu, misal plagiasi atau double tayang.

    Tips agar tembus media:

    1. Sesuaikan moment-moment tepat yang aktual untuk dituliskan. Misalnya bulan mei ini sarat dgn pendidikan, maka menulis opini atau artikel pendidikan biasanya akan lebih menarik perhatian redaktur koran.  Banyak kok koran-koran lokal atau nasional yang memuat karya penulis pemula. Bagi mereka yang penting tulisannya bagus dan sesuai dengan koran mereka. Jadi tidak perlu kuatir kalah saingan dengan senior.
    2. Liat gaya bahasanya. Tiap koran/majalah, biasanya punya beda-beda gaya bahasa.  Koran tidak banyak variasi gaya bahasanya.  Koran lebih mengutamakan tren berita.
    3. Pelajari rubrik-rubrik yang ada di koran tersebut. Masing-masing rubrik juga ada ciri khasnya tersendiri. Rubrik sains, tentu berbeda dengan rubric jalan-jalan dan lain sebagainya.
    4. Karena koran terbit harian, kita harus cepat tanggap sama berita-berita yang lagi up to date. Jangan terlalu lama berpikir, nanti beritanya terlanjur basi.
    5. Tulis hal-hal yang disukai, dan membiasakan diri menulis dengan bahasa indonesia baku. Selebihnya, tinggal mengikuti kriteria yg ditentukan oleh media masa yg akan di kirimi tulisan.

    Nggak seram lagi kan?


  2. Miliki, Walaupun Hanya Satu dan Bekas !

    October 28, 2013 by murtiyarini

    7 tahun lalu, ketika tulisan saya mulai menyasar media cetak, informasi tentang syarat pengiriman, alamat media, jumlah kata, karakter media dan lain sebagainya belum sebanyak dan semudah saat ini.

    Sebelum menulis saya mempelajari media bersangkutan secara langsung untuk melihat gaya bahasa, menghitung jumlah kata/karakter secara manual, dan kemudian tulisan-tulisan itu saya kirim via pos.

    Sulit menyelami karakter media jika kita tidak memegang, paling tidak, satu eksemplar media tersebut. Karena itu, saya melengkapi koleksi dengan berburu ke tukang loak (biar hemat). Hasilnya lumayan, beberapa majalah bekas dengan tahun terbaru bisa didapat, Selain itu, saya intip-intip di toko buku, walaupun tidak bisa leluasa membaca setidaknya saya mengikuti trend yang sedang berlaku.

     

    Membaca langsung media, saya rasa masih menjadi cara terbaik untuk menyelami gaya penulisan dan tentu saja mempermudah kita membuat tulisan yang sesuai. Ketentuan teknis seperti jumlah kata/karakter hanyalah sebagian kecil dari bagian yang harus kita ketahui. Kadangkala, hal-hal tersebut bisa fleksible, bisa dinegosiasi selama tulisan anda bisa menarik hati redaksi.

     

    Ada bagusnya mengoleksi daftar alamat dan ketentuan pengiriman berbagai media, namun jangan hanya jadi koleksi tanpa gambaran yang jelas. Jadi, milikilah media yang ingin anda sasar, minimal satu eksemplar.

     

    Caranya?

    Nggak ada budget beli baru, ya beli bekas.

    Nggak ketemu beli bekas, ya pinjam sama teman

    Nggak ada teman yang punya, coba deh ke ruang tunggu rumah sakit, dokter atau salon, biasanya tersedia tuh majalah-majalah baru dan lama.

    Asalkan berani minta ijin untuk numpang baca hehehe…

    Usaha anda menentukan hasilnya  :)


  3. Tata Krama Menulis Kisah Pribadi / Kisah Nyata

    October 28, 2013 by murtiyarini

    kisah inspiratif

    Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang menuliskan kisah pribadi dalam bentuk kisah inspiratif.  Pada umumnya, perempuan lebih suka menulis tentang kisah pribadi.  Bisa tentang keluarga, anak, suami, pekerjaan kantor dan tentunya melibatkan pihak-pihak lain selain dirinya sendiri.

    Sebelum memutuskan menulis tentang kisah pribadi, sebaiknya kita renungkan kembali hal-hal berikut

    1. Ibu paling suka menulis tentang anak. Apalagi si anak sedang lucu-lucunya. Kadang-kadang karena terlalu antusias menulis, menulis dan menulis, kita terlalu detil bercerita dan menyentuh hal-hal yang memalukan/menyedihkan dengan dalih INSPIRATIF untuk orang lain. Bayangkan, jika si anak sudah mengerti (kalau tidak sekarang beberapa tahun kemudian), kira-kira apa reaksinya?
    2. Sementara kalau ibu menceritakan hal yang membanggakan, tetaplah mengontrol tulisan, ingatlah juga reaksi pembaca. Mungkin saja ada yang merasa “ihh, lebay, kayak anaknya sendiri aja yang hebat” nah lho..hehehe…
    3. Senada kasusnya dengan anak, ketika kita menceritakan suami, mertua, ibu, dan keluarga besar, harus benar-benar anda pikirkan reaksi mereka dan dampak sesudahnya ketika melihat kisah mereka beredar di masyarakat. Cerita tentang romantisme dengan suami, ijin dulu sama suami, siapa tahu suami hanya ingin berbagi romantismenya dengan anda.
    4. Untuk memenuhi target jumlah halaman yang cukup banyak, seringkali kita mengisinya dengan hal-hal yang terlalu detil. Ingat, pembaca tidak selalu ingin mengetahui detil riwayat hidup penulis. Jadi, kita menulis seperti bercerita pada orang asing yang baru kenal, ceritakan cukup poin-poin penting yang mengarah pada inti cerita. Lebih menarik jika kita memperdalam pemikiran atau filosofi dari tiap poin itu.
    5. Pikirkan sebelum menyebut merk sebuah produk atau nama sebuah instansi dalam tulisan, terlebih jika bernada negatif. Kita boleh berani menyampaikan kebenaran, tapi apakah sudah siap dengan urusan hukum yang mungkin muncul sesudahnya?
    6. Kisah inspiratif dan menyentuh bukan selalu harus melankolis dan mengharukan. Pembaca ada yang suka kisah sedih, tapi ada juga yang justru tidak tersentuh ketika sebuah tulisan terlalu mengiba, minta belas kasihan. Saya pribadi lebih suka cerita orang-orang yang kuat.

    Kaidah-kaidah yang di paparkan bisa menjadi acuan saat kita menuliskan kisah pribadi. Yang terpenting sebenarnya adalah mengantarkan kepada pembaca apa kira-kira hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah itu.  Jaga privacy keluarga, kredibilitas merk/branded, kredibilitas diri sendiri.

    Beda cerita jika kita menuliskan surat keluhan tentang sebuah produk melalui surat pembaca di media massa.  Surat pembaca umumnya meminta klarifikasi dari merk atau perusahaan yang disebut.  Walaupun sifatnya mengeluh atau complain, tetap gunakan bahasa yang santun.

    Jika anda penulis fiksi, menulis kisah nyata nan inspiratif bisa diubah menjadi tokoh-tokoh fiksi. Cara ini lebih aman karena nama asli disamarkan.  Pembaca benar-benar hanya mengambil hikmahnya.

    Namun tampakanya pasar pembaca lebih menyukai kisah nyata, sehingga hal ini mendorong merebaknya penulisan kisah nyata, memoir, profil dan sejenisnya.  Solusinya, penulis dapat menyamarkan hal buruk menjadi sebuah hikmah yang inspiratif.  Apakah hasil tulisan akan kehilangan rasa? Hm, saya pikir ini tergantung kemampuan si penulis dalam menyajikan rasa.

    Jadi, nggak boleh nih menulis menceritakan kisah pribadi?

    Eh, siapa yang melarang? Saya hanya menyampaikan rambu-rambunya. Tidak ada larangan, karena baik buruknya dampak yang akan dituai, sepenuhnya menjadi resiko penulis.

    So, tetap tuliskan kisahmu karena mungkin akan menginspirasi orang-orang disekitarmu.


  4. Melestarikan Jamu, Mencintai Budaya Indonesia (Juara 1 Lomba Blog Jamu Biofarmaka)

    October 17, 2013 by murtiyarini

     

    Jamu, Budaya Bangsa dari Masa ke Masa

     

    Sebagai orang Indonesia tulen, sejak kecil saya sudah mengenal jamu. Saya paling suka jamu beras kencur, karena rasanya yang enak. Menjelang remaja saya berkenalan dengan jamu kunyit asem, jamu sinom, jamu gopyokan dan lain sebagainya.  Jamu-jamu banyak ragamnya, dari yang seger, asem, manis sampai pahit. Saya minum jamu dalam frekuensi yang wajar saat diperlukan, tidak setiap hari. Bukan tidak mencintai jamu, tetapi lebih karena alasan medis yang saya pahami. 


    Entah sejak kapan jamu tercipta dan siapa penemunya tidak ada yang tahu. Yang pasti, jamu adalah warisan budaya bangsa, buah karya dan karsa bangsa Indonesia yang manfaatnya bagi kesehatan dan kecantikan telah dirasakan berabad-abad lamanya. 

     

    Jamu adalah budaya Indonesia sejati. Buktinya, jamu menjadi minuman berbagai kalangan.  Sudah menjadi pemandangan sehari-hari, seorang perempuan memanggul bakul berisi botol-botol berisi jamu.  Perempuan tersebut dikenal dengan nama akrab mbak jamu, sedangkan jualannya dikenal sebagai jamu gendong.  Si Mbak Jamu menggendong jamunya menyusuri jalan, menawarkan jamu ke pelanggannya. Konsumennya dari bapak-bapak, ibu-ibu sampai anak-anak.  Mbak Jamu biasanya jual pagi hingga siang hari sampai jamu dalam bakul gendong habis. Seiring waktu, mbak jamu semakin kreatif mengganti bakul gendongan dengan gerobak dorong atau sepeda. Namun begitu, nama jamu gendong masih lebih populer dibanding jamu gerobak atau jamu sepeda.

     

    Mbak Jamu gendong langgananku

     

     Jamu  juga dijual di kedai, depot dan kios jamu. Jamu yang dijual di kios jamu berbeda konsumennya dengan jamu gendong. Jamu di kios jamu konsumennya kebanyakan bapak-bapak yang memerlukan jamu untuk menjaga staminanya. Kios jamu biasanya buka dari siang hingga malam hari.

     

    Ada juga jamu yang bisa dikonsumsi kapan saja dan lebih praktis, serta higienis, yaitu jamu kemasan. Jamu kemasan diproduksi oleh produsen atau pabrik jamu dalam jumlah besar. Kemudian didistribusikan ke toko, supermarket, termasuk juga di distribusikan ke kedai jamu. Bahkan sebagian mbak jamu juga membawa jamu kemasan sesuai permintaan konsumen.


    Bentuk jamu juga tidak lagi cair. Jamu saat ini dikemas dalam bentuk pil, tablet, serbuk atau permen yang memudahkan untuk disimpan, dibawa dan dikonsumsi.

     

    Jajaran jamu kemasan di supermarket

    Dari rakyat jelata hingga para bangsawan sudah meminum jamu sejak dulu. Jamu tidak mengenal kasta. Orang yang masuk angin meminum jamu anti masuk angin, yang berbahan utama jahe, dan bahan tambahan bervariasi seperti adas, ginseng, cabe jawa atau mint, tergantung ketersediaan bahan dan selera peramunya. Orang yang diare meminum jamu daun jambu biji dicampur kunyit.

     

    Di era modern ini, jamupun mengalami modernisasi. Jamu dikemas secara menarik dan ekslusif, serta didistribusikan ke outlet-outlet di pusat perbelanjaan mewah. Dua perusahaan kosmetik raksasa di Indonesia yang berbasis ramuan tradisional untuk kesehatan dan kecantikan, yaitu Sari Ayu dan Mustika Ratu memiliki outlet di sejumlah lokasi. Selain itu, pada jamuan-jamuan mewah berbagai acara seminar atau undangan resmi, saya beberapa kali menemukan bandrek, beras kencur dan wedang jahe sebagai pilihan minuman hangat.  Ini menjadi bukti bahwa jamu mengalami perkembangan sesuai jaman.

     

    Apapun itu, jamu tetaplah jamu, ramuan berbahan dasar tumbuhan dan hewan yang berguna untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit dan sebagian bisa menyembuhkan penyakit,  hasil cipta dan karsa nenek moyang yang kini menjadi budaya bangsa Indonesia.

     

    Adalah kabar baik bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mengajukan jamu sebagai warisan budaya dunia karya bangsa Indonesia agar mendapat pengakuan dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB).  Upaya ini adalah langkah awal dan masih membutuhkan perjuangan dari segenap bangsa Indonesia.



    Mendukung jamu go international

    Terkait pengajuan jamu sebagai warisan budaya dunia, selayaknya sebagai bagian bangsa kita mendukung pelestarian jamu. 

     

    Apa yang bisa kita lakukan untuk melestarikan jamu? 

     

    (1) Bangga menyebut kata jamu

     

    Jamu adalah ramuan kesehatan khas Indonesia.  Kata jamu akhir-akhir ini menjadi rancu dengan kata Herbal, padahal ada jamu yang terbuat dari bahan hewani.  Para budayawan dan cendikia diharapkan mampu membuat deskripsi Jamu secara nasional. Untuk itu perlu inventarisasi jenis-jenis jamu yang ada di Indonesia sehingga memperkuat landasan kekayaan jamu.  Kita patut bangga memiliki keragaman jenis jamu di tiap daerah di Nusantara. Ada jamu Jawa, jamu Sunda, jamu Aceh, jamu Madura, jamu Bali, jamu Papua dan lain sebagainya.

     

    Ada baiknya kita mengetahui kedudukan jamu dalam bidang farmasi. Jamu berbeda dengan fitofarmaka dan obat herbal. Dalam hal standarisasi medis, kedudukan jamu berada dibawah fitofarmaka dan herbal karena jamu belum terukur kandungannya dan masih sedikit pembuktian ilmiah terhadap manfaat jamu. Namun begitu, jamu  memenuhi kriteria aman, khasiatnya terbukti secara empiris dan memenuhi persyaratan mutu. 


    Pendapat saya, ketika jamu telah diketahui unsur kimiawi bahan dasar, komposisi, dosis penggunaannya dan manfaat secara ilmkah, Jamu tidak serta merta berubah nama menjadi fitofarmaka atau herbal. Tetaplah menyebut ramuan kesehatan Indonesia dengan kata “Jamu”

     

    (2) Menghargai penemuan jamu baru 


    Dengan kekayaan dan keragaman sumber daya alam di Indonesia, selalu membuka peluang ditemukannya khasiat baru dari sebuah tanaman. Hal ini mengarah pada jenis ramuan baru yang kemudian diperkenalkan kepada masyarakat. Masalahnya, bagaimana ramuan baru ini diberi nama? Jamu atau herbal atau lainnya? Apakah memungkinkan ramuan baru tersebut diberi nama jamu dan disejajarkan dengan jamu-jamu yang telah ada sebelumnya?


    Akhir-akhir ini pertambahan ramuan herbal meningkat , namun tidak dinamai dengan kata Jamu.  Jika ingin jamu lestari, namanya tidak tenggelam oleh kata herbal, maka diperlukan kesadaran dan keterbukaan kita pada penemuan jamu baru dan penamaannya. Saya pikir tidak ada salahnya jika ditemukan jamu baru bernama “lempuyang millenium” atau “segerwaras 21”.  Tentu hal ini harus diatur oleh Kementerian Kesehatan dan dibantu oleh lembaga riset, sertifikasi dan hukum yang diberi kewenangan.

     

    (3) Sertifikasi mutu, sosialisasi dosis, manfaat dan efek samping jamu


    Sebagai produk konsumtif untuk keperluan kesehatan sudah selayaknya jamu melalui uji standarisasi mutu terkait kebersihan  dan keamanan pangan. Konsumen perlu tahun info sebenar-benarnya tentang manfaat jamu, tidak dilebih-lebihkan. Salah satu yang perlu ditekankan adalah informasi manfaat bahwasanya lebih banyak jamu yang berguna sebagai penjaga stamina dan pencegah penyakit, dan lebih sedikit varian jamu sebagai penyembuh penyakit. Apalagi penyakit yang membutuhkan obat bereaksi cepat seperti aspirin atau parasetamol, sudah jelas jamu tidak bekerja seperti demikian.


    Selain itu,  produsen jamu tradisional perlu mendapatkan pendidikan tentang kebersihan, komposisi dan metode penjualan. Para penjual jamu gendong harus benar-benar disiplin menjaga kebersihan dan keamanan produknya, menjaga kepercayaan konsumen dengan tidak memberikan campuran obat-obatan kimia ke dalam jamu sehingga menimbulkan efek manjur namun menipu. Para pelaku industri jamu harus dapat memberikan informasi setepat mungkin tentang jamu yang dijualnya kepada konsumen. Semua perilaku buruk yang mencemarkan citra jamu harus dieliminasi.


    Siapa yang bertanggungjawab terkait edukasi produsen dan penjual? Tentunya jajaran Kementerian Kesehatan dibantu oleh lembaga kesehatan dan lembaga riset.


    Pada jamu-jamu kemasan sebagian telah disebutkan dosis penggunaan dan komposisi bahan. Jamu kemasan diberi logo “jamu” pada bagian kiri atas kemasan. Logo ini berfungsi sebagai petunjuk konsumen dan membedakan dengan kemasan obat kimia.

    Logo jamu pada jamu kemasan

     

    (4) Mengkonsumsi jamu secara proporsional

     

    Setelah tahu manfaat dan efek samping jamu, konsumen mempunyai pilihan. Semakin banyak informasi yang didapat, semakin banyak konsumen terbantu untuk menentukan pilihan yang tepat. 


    Jamu dalam perannya sebagai penjaga stamina yang menunjang kesehatan secara keseluruhan, selayaknya dikonsumsi dalam jumlah yang tepat. Jamu membawa manfaat jika dikonsumsi sesuai aturan, namun akan membawa efek samping apabila dikonsumsi berlebih. Azas ini menyerupai landasan minum obat kimia. Bedanya, obat kimia baru akan diminum ketika seseorang sakit, sedangkan jamu bisa dikonsumsi saat seseorang sehat karena fungsinya untuk mencegah penyakit.


    Melestarikan jamu bukan berarti memperbanyak minum jamu. Munculnya efek samping akibat kelebihan minum jamu dapat memperburuk citra jamu itu sendiri. Tentunya ini menurunkan kepercayaan orang kepada khasiat jamu dan mengancam kelestariannya.


    Jadi, sebagai konsumen kita harus bijak. Cintai jamu dengan mengkonsumsi jamu secara proporsional sesuai kebutuhan. 



    (5) Kemitraan petani jamu


    Bahan baku jamu, kebanyakan tanaman akar-akaran, mudah ditanam dan bisa dikembangkan di skala rumah tangga hingga industri. Namun jangan lengah, jangan sampai nasib jamu seperti tempe. Ketersediaan bahan harus diupayakan selalu ada dan harga pasar dijaga agar stabil sehingga petani terus semangat menanam bahan jamu.


    Di sini perlu peran para ilmuwan agronomis untuk membantu petani jamu agar tanamannya bisa berproduksi maksimal dan memenuhi stadar kelayakan. Para agronomis, baik pribadi maupun dalam naungan lembaga, dapat melakukan kemitraan dengan petani melalui pendampingan dan bimbingan.

     

    (6) Dukungan dari para medis

    Diakui, bahwa jamu masih menjadi kontra bagi pengobatan medis karena tidak adanya takaran yang tepat dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam upaya pelestarian jamu, para medis tidak harus menuliskan resep jamu kepada pasiennya, namun seyogyanya juga tidak merendahkan martabat jamu.


    Bagaimanapun, jamu telah banyak berjasa pada kesehatan bangsa Indonesia sejak dahulu kala, bahkan sebelum pengobatan medis ditemukan. Jikapun ada penemuan-penemuan negatif terkait jamu, seharusnya pemberitaan dilakukan secara proporsional. Lebih bijak lagi jika para medis mau membantu dalam bentuk  penelitian-penelitian terkait jamu sehingga ditemukan aturan pakai yang tepat. 

     

    Pembuktian ilmiah bisa dimanfaatkan sebagai upaya mengurangi resiko dan dampak produk jamu dan pengobatan tradisional. Tentunya pembuktian tidak dengan sudut pandang yang memojokkan jamu. Harapannya, jamu bisa setara dengan farmasi dalam kedudukannya bidang kesehatan.  Jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan lestari. 

     

    (7) Blogger mendukung jamu


    Peran blogger sebagai perwarta warga dapat membantu kampanye pelestarian jamu. Blogger adalah gelombang kekuatan baru di dunia digital. Pesan kampanye pelestarian jamu dapat dilakukan oleh blogger dengan menulis segala sesuatu tentang jamu secara seimbang.  Kampanye positif dalam arti menuliskan kedudukan jamu dalam perannya di dunia kesehatan secara benar. Promosi berlebihan tanpa mencantumkan kelebihan dan kekurangan jamu akan membuat kepercayaan pada jamu menurun. Dan tentunya, dalam kode etik perwarta sudah termaktub etika menulis dengan sumber berita dan informasi yang jelas sehingga menghasilkan tulisan yang akurat dan terpercaya tentang jamu.

     

     

    (8) Dukungan Lembaga Penelitian


    Lembaga-lembaga penelitian sangat berperan dalam melestarikan jamu. Biofarmaka adalah salah satu lembaga penelitian dibawah naungan Institut Pertanian Bogor yang mengkhususkan bidang pada penelitian sumber daya biotik untuk keperluan farmasi.


    Peran biofarmaka sebagai lembaga penelitian ilmiah adalah untuk mengeksplorasi dan meneliti prospek sumber daya alam, termasuk diantaranya bahan baku jamu. Biofarmaka juga mengembangkan produk paten yang dibangun dari kekayaan intelektual. Salah satu peran penting Biofarmaka adalah membuat standart operational procedure dalam hal budidaya dan industri produk biofarmaka yang diakui secara nasional dan international. Kemudian Biofarmaka mengkomersialkan riset melalui sharing product dan perijinan produk serta pemetaan potensi biofarmaka di Indonesia.


    Lembaga penelitian seperti Biofarmaka bisa masuk sebagai motor, pembimbing dan pendamping pada upaya-upaya pelestarian jamu seperti dijabarkan di atas. 

     


    Kedelapan langkah di atas adalah upaya-upaya internal dalam negeri yang bisa membantu melestarikan jamu. Kedepannya, jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan meyakinkan UNESCO bahwa jamu  layak diakui sebagai warisan budaya dunia.  Akhir kata, saya sebagai blogger berharap tulisan ini dapat memberi masukan positif pada upaya pelestarian jamu. Lestari jamuku, jayalah budaya bangsaku. 

     

    Referensi :

    http://biofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2013/Flyer%20BRC.pdf

    http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/267-development-of-partnership-model-between-brc-and-farmers-of-biopharmaca-in-district-sukabumi

    http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013

     

    Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Penulisan Artikel Jamu di Blog oleh “Biofarmaka IPB”

     


  5. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEMILIH TEMA BERDASAR TREN MEDIA

    October 12, 2013 by murtiyarini

    Setelah sebelumnya saya  menulis tentang memilih tema sendiri, pada level yang lebih lanjut kita mencoba mengikuti apa ‘mau’nya media. Tentu saja tetap harus memahami kebutuhan media, karakter dan pemilihan waktu yang tepat. Artinya, walaupun temanya bukan kita yang tentukan, yang bukan kita pahami betul, nggak punya latar belakang pendidikan dan pengalaman, tapi kita mencoba menggali info dari berbagai sumber dan menulisnya menjadi artikel cantik. Pada level lanjut kita seperti jurnalis, menulis dengan tema berdasar jadwal yang ditentukan.

    Jika artikel sudah oke, tentukan sasaran kapan artikel sebaiknya dimuat. Kita bisa menyasar waktu pemuatan dengan mengirimkan PALING LAMBAT 2-3 edisi sebelumnya. Untuk media harian, sebaiknya 2-3 hari sebelumnya, tergantung artikelnya mudah basi nggak (kadaluarsa beritanya). Media mingguan 2-3 minggu sebelumnya, media bulanan 2-3 bulan sebelumnya. Memperkirakan waktu tayang ini penting kalau anda ingin tulisan dimuat lebih cepat dan efektif.  Dengan mengirimkan artikel sesuai tema yang akan datang, kemungkinan dimuat lebih besar dan nggak perlu menunggu terlalu lama.

     

    Setiap media punya tren tema yang hampir selalu berulang setiap tahunnya, tentu dengan perkembangan sesuai perkembangan yang ada di masyarakat. Hari-hari penting bisa anda tandai untuk menentukan tema. Misalnya bulan januari-tentang hujan, banjir, penyakit. Bulan april tentang perempuan. Bulan juni-juli seputar pendidikan dan liburan. Bulan agustus seputar nasionalisme, dan banyak lagi.

     

    Dengan menajamkan indera, membaca sekecil apapun fakta, kita akan terbiasa mencari satu celah opini yang unik. Yang kumaksud unik tidak harus nyleneh dan keluar pakem. Bisa juga tentang sesuatu yang baru yang terlewat dari pengamatan orang lain, dan pas kita sampaikan orang akan bilang “Oiya,ya, bener juga”

    Bisa juga tulisan dalam bentuk tanggapan terhadap tulisan orang sebelumnya. Jurnalis menulis berita, nah..kita bikin opini menanggapi berita itu. Cari opini yg belum pernah dimuat sebelumnya. Kategori sebuah tulisan disebut menarik itu relatif ya, namun biasanya opini yang berbeda akan menarik perhatian publik.

    TEMA

    Berikut adalah contoh-contoh  tema sesuai hari :

    8 Maret = women day
    Minggu ke 3 juni = father’s day
    Mei = hari bumi, hari buruh
    des = hari aids, hari ibu, resolusi tahun baru
    1 april – Hari bank dunia
    6 april – hari Nelayan Indonesia
    7 april – hari Kesehatan Internasional
    24 april Hari Angkutan Nasional
    24 april-hari solidaritas asia afrika
    27 april hari permasyarakatan Indonesia
    dan banyak lagi….coba deh search di google.

     


  6. [TIPS MENEMBUS MEDIA] MEMILIH TEMA SESUAI KEINGINAN KITA

    October 9, 2013 by murtiyarini

    mind map

    Memilih tema memang gampang-gampang susah. Kadang-kadang tema yang kita kuasai tidak terlalu popular dan tidak cocok dengan berbagai media yang beredar di sekitar kita. Atau sebaliknya, begitu tema cocok, kita kuasai bahannya, tapi kok tidak dimuat-muat. Jadinya minder dan merasa nggak berisi. Eits, jangan pernah berpikir begitu. Yakin deh, setiap kita punya keahlian masing-masing, yang orang lain belum tentu punya.

    Sebenarnya jumlah media cetak yang saya jajaki juga masih sangat terbatas disbanding banyaknya media yang beredar saat ini.  Hanya saja, kelihatannya saya cukup bisa membidik dalam menentukan kemana tulisan saya harus dikirim, pada saat yang tepat.  Alhamdulillah, persentase keberhasilannya cukup tinggi.

     

    Coba lakukan pemetaan ini, mana yang paling sesuai dengan diri anda. Apakah anda menulis :

    1. DENGAN TEMA SESUAI KEINGINAN SENDIRI ?
    2. DENGAN TEMA SESUAI YANG DIMINTA MEDIA/LOMBA ?

    Pemetaan itu semacam kerangka atau outline. Karena aku bikin artikel, biasanya simpel aja, latar belakang, kasus-kasus, penyelesaian dll. Yang perlu diingat target pembaca, jadi menulis sekaligus membayangkan jadi pembaca, apa yg pembaca perlukan.

    Keduanya bisa dipelajari dan dikuasai dengan baik. Dalam tulisan ini saya akan membahas poin satu, yaitu menulis dengan tema sesuai keinginan sendiri. Apapun ide anda, tulislah! Setelah sebuah artikel selesai anda buat sesuai ide yang anda miliki, giliran memilih media mana yang akan dituju.

    Pertama tentukan media dengan misi yang sesuai dengan tulisan kita. Ini tentu saja setelah anda menjelajahi karakter berbagai media baru bisa menentukan. Kedua, setelah menemukan media yang  sesuai, periksa lagi artikel anda, sudahkah gaya bahasa dan model artikelnya cocok untuk media tersebut. Jika belum cocok, lakukan sedikit perubahan dengan tidak merubah ide artikel. Perubahan ini bisa saja hanya sebatas bahasa, tapi bisa juga melebar, mengarah pada perubahan batas usia dan cakupan pembaca. Silakan lakukan perubahan seperlunya.

    Ada banyak media dengan berbagai karakter. Jelajahi, pahami karakternya dan tentukan pilihan sesuai artikel yang anda tulis. Saya suka nongkrong di kios koran di kampus, beramah-tamah dengan pemiliknya agar bisa intip-intip media disitu. Sesekali beli juga, malu dong numpang baca doang, hihihi…

    Saya menulis apa saja yang ingin ditulis lalu memilih media yang sesuai.  Mengirim untuk koran, kenapa tidak? Menulis untuk koran nggak harus opini yang ‘berat’ kan?  Ada rubric perjalanan, rubric kisah inspiratif, rubric kuliner, rubric parenting dan sebagainya.  Tema pun bisa tentang kisah sehari-hari, keluhan terhadap fasilitas umum, keprihatinan pada kasus tertentu dan lain-lain.  Tinggal bagaimana kita rajin mencari dan mencari informasi media sebanyak mungkin. Nggak dapat Koran edisi cetaknya, coba tanya ke google barangkali ada edisi onlinenya.

    Terkadang opini yang ditulis ada curhat kekesalan. Nah supaya tidak kebablasan caranya bagaimana? Memang seemosi apapun kita menanggapi sesuatu, menulis harus tetep kalem. Boleh tajam tapi cerdas dan elegan. Karena pendapat pembaca tidak selalu sama dengan kita. Menulis dengan emosi justru menjauhkan dukungan pada opini kita.

    Oh ya kayaknya selain tema, diksi juga sangat diperlukan. Diksi itu pilihan kata.  Mari memperbanyak diksi agar menulis semakin mudah. Kadang-kadang kalau kita menulis, sudah berhasil membuat kerangka dan menulis isinya, eh tiba-tiba dari satu paragraf ke paragraf lain kita bingung bagaimana mau menyambungkannya. Nah, jika kita kita kaya diksi, maka urusan membuat “jembatan” dari satu paragraf ke paragraf lainnya akan semakin lancar.