RSS Feed

April, 2013

  1. Gempita Wisuda Institut Pertanian Bogor

    April 24, 2013 by murtiyarini

    Sejak radius 6 km menuju kampus IPB Dramaga, terasa keramaian lalu lintas yang lebih padat dari biasanya. Keanehan lain, di terminal Bubulak tampak mahasiswa-mahasiswi berbusana rapi dan dandan cantik (lebih dari biasanya juga). Ada apa gerangan?

     

    Pantas saja, ternyata hari ini diselenggarakan Wisuda Sarjana tahap 4  di Kampus IPB Dramaga.  Disebut tahap 4, mengikuti urutan september, desember, februari,  april, dan juni.  Dalam satu tahun ada 5 kali tahapan wisuda, menyesuaikan dengan jumlah lulusan dan kapasitas Gedung Graha Wisuda IPB.

     

    Terlihat keramaian orang. Mereka adalah wisudawan, keluarganya, teman-temannya yang belum lulus, dan yang tak kalah banyak adalah pedagang bunga dan aneka barang di halaman kampus.

     

    Pada saat jam istirahat siang tadi, saya berkesempatan untuk cuci mata dan melihat suasana wisuda.  Berikut yang tertangkap oleh kamera tablet-phone saya:

    20130424_121153

    Keramaian tampak di halaman Gedung Graha Wisuda. Dikejauhan tampak ada yang jualan balon loh. Balon efektif untuk menghibur anak-anak pendamping wisudawan, mengingat situasi panas dan lama menunggu.

    20130424_115712

     

    20130424_121049-1

     

    Momen sejarah ini tak boleh dilewatkan.  Para wisudawan dan pendampingnya berfoto dengan latar ilustrasi rak buku.  Bisnis fotografi sangat laris pada saat itu.

    20130424_120804-1

    Wisuda identik dengan pemberian bunga.  Biasanya wisudawan mendapatkan bunga-bunga cantik dari temannya. Tapi kok wisudawan satu ini membeli bunga? Oh, mungkin buat temannya sesama wisudawan.

     

    20130424_120813

    Bunga mawar biru itu bukan hasil pemuliaan tanaman, melainkan hasil pengecatan :)

     
    20130424_120931

    Para keluarga besar para wisudawan sedang rehat di bawah pohon. Hanya orangtua (2 orang) yang bisa masuk ke dalam gedung GWW, sementara biasanya satu wisudawan diantar oleh beberapa orang keluarga. Mereka tetap antusias karena diliputi rasa bangga bisa mengantar wisudawan.

    20130424_114523

    Tak hanya bunga, berbagai barang seperti aksesoris, mainan, tas, makanan dan lain sebagainya dijual di halaman GWW. Gempita wisuda tidak hanya dirasakan para wisudawan, namun juga pelaku ekonomi kecil di sekitar kampus.

    Jika melihat tren ini, alangkah baiknya jika pedagang pedagang tersebut dialokasikan tempat untuk pameran sehingga tampak lebih rapi.

    Sampai jumpa pada wisuda tahap berikutnya !

     

     


  2. Cara Membuat Kode Banner

    April 19, 2013 by murtiyarini

    Kali ini saya akan berbagi catatan tentang cara membuat banner sendiri. Saya baru mencobanya dan berhasil.
    Begini caranya lihat kode html dibawah ini!!

    1. Buatlah gambar Banner anda menggunakan software pembuat gambar, misalnya Paint, Adobe Photoshop, Power Point atau yang lainnya terserah anda.
    2. Untuk mendapat URL gambar atau banner anda, bagi pengguna blogger bisa menggunakan fasilitas picasaweb.google.com anda atau mau yang lain. Tapi khusus picasaweb.google.com Caranya setelah anda mengupload sebuah gambar, maka anda klik kanan pada gambar tersebut. Kemudian klik copy image location, itulah url gambar anda.  Saya menempelnya dalam blog pribadi.
    3. Copy kode di atas dua – duanya yang atas dan yang bawah ke kode HTML/JavaScript, beri judul sesuka hati.Pasang Banner di Blog Anda, Buat Koleksi.

    <center><a target=”_blank” href=”URL Anda” title=”Nama Blog Anda”><img src=”URL Gambar Banner Anda” alt=”Nama Blog Anda” /></a></center>

    <div><form name=”copy”><div align=”center”><input onclick=”javascript:this.form.txt.focus();this.form.txt.select();” type=”button” value=”Tandai Semua Lalu Copy+Paste” /> </div><div align=”center”></div><p align=”center”><textarea style=”WIDTH: 250px; HEIGHT: 50px” name=”txt” rows=”100″ wrap=”VIRTUAL” cols=”55″><center><a target=”_blank” href=”URL Anda” title=”Nama Blog Anda”><img src=”URL Gambar Banner Anda” alt=”Nama Blog Anda” /></a></center></textarea></p></form></div>

    1. Untuk Kata Tandai Semua Lalu Copy+Paste bisa anda ganti sesuai keingingan anda.
    2. Lalu anda dapat mengatur lebar text area dengan mengubah angka di kodeWIDHT, dan HEIGHT untuk ukuran kebawah atau panjangnya.
    3. Tambahan bila anda tidak menginginkan banner berada di tengah bisa anda hapus tulisan center dan ganti dengan keinginan anda.

    Contoh banner buatan saya :

     Hope and Love For Future

     Memandang Dari Kampus

     Memandang Dari Kampus


  3. Srikandi Blogger 2013

    April 17, 2013 by murtiyarini

    Pada tahun 2013, ini KEB menyelenggarakan ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013.  Yang langsung terbayang dibenak saya sosok Srikandi, seorang perempuan tokoh pewayangan yang dikenal sebagai pejuang tangguh, cerdas, dan cermat membidikkan anak panah.   Jadi, Srikandi Blogger menurut saya adalah seorang blogger perempuan yang mempunyai semangat juang, berkarakter kuat,  cerdas dan berpengetahuan luas.  Srikandi blogger juga harus mampu menjadikan blognya sebagai anak panah yang dilepaskan dari kejauhan dan tepat mengenai sasaran.  Inilah yang membedakan Srikandi Blogger dengan blogger lainnya. Pemilihan Srikandi sebagai penggambaran sosok blogger perempuan menurut saya sangat tepat.

     

    Di era digital ini, blog menjadi sarana perempuan mencatat ide, pikiran, dan kisah inspiratif hidupnya.  Di ulang tahunnya yang pertama Kumpulan Emak Blogger (KEB) mengangkat tema, Aktualitas Perempuan di Era Digital. KEB adalah komunitas yang salah satu tujuan pendiriannya adalah menularkan semangat menulis untuk menghasilkan inspirasi dan karya melalui blog, akan memberikan apresiasi kepada para blogger Perempuan Indonesia dalam ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013.  Di ajang  Srikandi Blogger 2013, para juri akan memilih blogger perempuan yang bisa menyampaikan dan mengaktualisasikan kegiatan atau aktivitasnya secara online maupun offline.

     

    Persyaratannya adalah sebagai berikut : Perempuan, usia minimal 20 tahun, terverifikasi di grup KEB, like fan page KEB, dan follow twitter KEB, membuat resume singkat tentang diri pribadi, blog, dan kegiatannya dalam bentuk attachment dan sudah mempunyai blog minimal 2 tahun.

     

    Merasa bisa memenuhi persyaratan itu, saya akhirnya mendaftar. Alhamdulillah lolos tahap pertama dan masuk 50 nominator Srikandi Blogger 2013.  Saat ini sedang berjuang untuk bisa masuk dalam 10 Finalis Srikandi Blogger 2013.

     

    Untuk itu saya membuat tulisan pada link berikut :

    http://asacinta.blogspot.com/2013/04/srikandi-blogger-2013-blogging-as.html

     

    Peserta berhasil terpilih sebagai 10 Finalis akan menjalani tahapan wawancara, review, dan tanya jawab dengan juri untuk memperebutkan predikat Srikandi Award 2013, Srikandi Terfavorit 2013, dan Srikandi Persahabatan 2013

    Tentunya saya berharap mendapat dukungan dari berbagai pihak dan terpilih.


  4. [Aku dan Buku] CERITA DI BALIK NODA

    April 10, 2013 by murtiyarini

    Banyak buku telah menginspirasi saya, tapi buku Cerita Di Balik Noda ini meninggalkan kesan sangat  mendalam terkait persoalan ibu dan anak.

    20130405_071943

     Judul : Cerita Di Balik Noda

    Penulis     : Fira Basuki

    Penerbit    : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) kerjasama dengan Rinso, PT. Unilever Indonesia

    ISBN        : 978-979-91-0525-7

    Cetakan    : Pertama, Januari 2013

    Tebal       : 234 Halaman

    Harga       : Rp. 40.000,-

     

    Saya tertarik membeli buku ini karena penulisnya adalah Fira Basuki. Saya tahu Fira banyak melahirkan buku-buku best seller.  Selain juga karena judul buku ini  yang  membuat penasaran. Noda apa sih yang diceritakan? Kalau melihat covernya yang putih seperti kain dengan noda cipratan lumpur, ditambah di cover belakang ada logo Rinso sebagai sponsor, saya kira buku ini tak jauh dari noda kotor pada baju yang biasanya banyak dialami oleh anak-anak. Kenyataannya, buku ini memberikan lebih dari yang saya harapkan.

     

    Cerita Di Balik Noda merupakan antologi (kumpulan kisah) yang terdiri dari 4 tulisan Fira Basuki dan 38 tulisan seleksi dari lomba menulis yang diselenggarakan oleh ditergen Rinso.  Sebagian besar cerita ditulis oleh para ibu, menceritakan tentang pengalaman bersama anak terkait dengan noda.  Dari noda ini, ternyata banyak pembelajaran seputar hubungan ibu-anak yang bisa dipetik.  Fira sebagai ibu dari 2 anaknya terlihat sangat menikmati saat menuliskan ulang kisah-kisah tersebut dalam buku ini.  Terlihat dari olah kata yang menjadikan tulisan-tulisan itu nyaman untuk dibaca, Fira juga mempunyai satu cerita tentang kisah pribadi keluarganya dalam judul Sarung Ayah.

     

    Walaupun ini bukan buku parenting, namun setelah membaca buku ini saya merasa banyak mendapatkan masukan pada pola asuh anak-anak saya. Judul Sarung Ayah (halaman 54) menceritakan tentang seorang anak yang menyimpan sarung ayahnya yang sudah meninggal. Si anak tidak mau mencuci sarung tersebut demi meningat kenangan akan aroma tubuh ayahnya.

     

    Cerita ini menyentuh sekali. Mengingatkan kita bahwa peran ayah dalam pengasuhan anak sangat besar. Ayah adalah sosok yang tidak bisa lepas dari sebuah keluarga. Kehadiran ayah dalam tumbuh kembang anak menjadikan jiwa anak tumbuh secara utuh.  Membaca kisah ini mengingatkan kembali keluarga kecilku, betapa suami sangat dekat dengan anak-anak dengan caranya sendiri.  Tentu saja cara yang berbeda dari saya.  Perbedaan ini menjadikan kekayaan dalam jiwa anak.  Mereka mengenal saya, ibunya dan ayahnya dengan karakter yang berbeda dan menemukan kedekatan yang berbeda.  Tidak ada alasan saya untuk tidak berterimakasih pada suami tercinta.

     

    Sebagian besar cerita dalam buku ini tentang manfaat berani kotor itu baik.  Anak yang dibebaskan untuk berkotor-kotor dapat meningkatkan kreatifitas, keberanian, daya eksplorasi serta memberinya keleluasaan untuk memilih sikap.  Seperti dalam cerita Rayhan’s Pet Society (halaman 101) yang menceritakan tentang anak yang ingin memelihara hewan dan dia rela bersentuhan langsung dengan noda dan lumpur.  Atau pada cerita Koki Cilik (halaman 106) yang menceritakan tentang Nisa, gadis cilik yang ingin sekali bisa membantu memasak di dapur.  Dia ingin membuat kue seperti halnya orang dewasa tanpa risih terkena noda dari bahan-bahan pembuat kue.

     

    Anak-anak memang tidak pernah jijik atau segan bersentuhan dengan noda.  Anak-anak mempunyai sifat eksplorasi yang tinggi secara natural.  Yang menjadi masalah biasanya adalah orang tua yang terlalu banyak memberikan perlindungan pada anak-anaknya sehingga justru membatasi ruang geraknya.  Ya Tuhan, saya teringat pada sikap sendiri, betapa saya sering kali melarang anak-anak saya, Cinta dan Asa untuk tidak bermain lumpur, hujan-hujanan atau  main di luar yang sudah hampir bisa dipastikan bakal kotor.  Saya menyadari, tampaknya saya terlalu protektif pada mereka berdua.  Mudah-mudahan berikutnya saya bisa lebih  tenang saat melihat anak-anak bermain kotor dan membiarkan mereka bereksplorasi.  Yang penting setelah berkotor-kotor badan dibersihkan dan baju di cuci dengan baik.  Noda bisa hilang kan? Tapi masa anak-anak tidak mungkin kembali.  Karenanya, harus dimanfaatkan sebanyak mungkin untuk memupuk kreativitasnya.

     

    Bahkan, ada sikap anak-anak yang keluar spontan dan membuat kita tertegun, yaitu keinginannya untuk menolong sesama. Sikap ini akan terpupuk jika orangtua memberikan contoh, anak akan terkondisikan mengikuti sikap orangtua. Ada banyak kisah yang menggambarkan sikap spontan anak-anak dalam menolong sesama. Mereka mau berkotor-kotor karenanya. Seperti dalam judul Seribu Cinta (halaman 44), Untuk Bu Guru (halaman 72) dan banyak lagi.

     

    Dalam menuliskan ulang kisah para orangtua dan anak tersebut, Fira Basuki tidak mengubah gaya penulisan masing-masing cerita sehingga menghadirkan kekuatan dan kekayaan karakter. Bagi saya, buku bersampul putih dengan gambar percikan noda ini secara keseluruhan sangat menarik, mampu memberikan ide-ide dan masukan baru dalam hal mendidik anak-anak. “Berani Kotor Itu Baik” asalkan hati tetap bersih.

     

     

     


  5. Positif Hadapi Kritik, Let’s Move on!

    April 4, 2013 by murtiyarini

     

    Yakin, berani menerima kritik ?  

    Yakin, bisa kuat dan berlapang dada ?

    Jujur saja, rasanya hampir setiap hal dalam diri saya menginginkan kesempurnaan termasuk dalam hal karier. Ketika sebuah kritik terlempar pada saya, artinya ada yang tidak puas dengan kerja saya. Tentu saja hal ini melukai kesempurnaan karier saya.

     

    Kritik hadir dalam dua rasa yang berbeda. Ada kritik yang tersampaikan dengan kalimat yang enak didengar,  namun tidak sedikit  kritik yang lebih mirip sebagai ungkapan kekesalan.

     

    Kritik banyak berkonotasi negatif karena  mengingatkan sesuatu yang destruktif dan seringkali terkait tentang perasaan negatif antar personal. Kritik mampu membuat seseorang sakit hati karena harga dirinya terusik, juga menyakitkan secara psikologis sehingga fungsi kritik yang sebenarnya tidak efektif.

    (gambar dipinjam dari sini)

    (gambar dipinjam dari sini)

     

    Menerima kritik bukan hal baru bagi pegawai seperti saya. Seperti sudah menjadi kewajaran bahwa pegawai adalah objek dan atasan adalah subyek dari sebuah kritik.

     

    Sebuah contoh kritik destruktif adalah jika atasan  berbicara tentang keburukan kita tanpa memberikan solusi dan saran yang jelas.

    “Bagaimana anda bisa membuat kesalahan?”

    “Apa yang anda pikirkan hingga terjadi sesuatu yang salah?” atau

    “Saya sangat menyesal telah mempekerjakan anda.”

    “Tolong diingat, kantor tidak mau tahu urusan pribadi yang menyebebkan ketidakhadiran anda!”

     

    Mungkin sang atasan  berpikir bahwa kata-kata tersebut akan memotivasi pegawai untuk bekerja lebih keras.  Benarkah tujuan itu tercapai? Bisa jadi, yang terjadi justru adalah kekesalan dan kebencian yang timbul sesudahnya dan kemudian memperburuk kinerja pegawai.

     

    Bersyukur, atasan saya tidak begitu.  Saya pernah mendapatkan kritik beberapa bulan yang lalu dari atasan tentang kinerja saya.  Untungnya, kritik yang disampaikan jauh lebih lembut daripada contoh-contoh kalimat diatas.

     

    Tetapi tidak bisa saya pungkiri, sehalus apapun bentuk kritik di tempat kerja tetap terasa menyakitkan dan dapat mempengaruhi kehidupan saya dimanapun hingga waktu tertentu.  Langit terasa gelap dan ruangan kian menyempit.  Sebenarnya, itu adalah gambaran yang terjadi pada ruang hati saya.

     

    Ditambah lagi omongan rekan-rekan kerja yang ikut menguping mendengar ketika saya mendapatkan kritikan.  Hampir bisa dipastikan, lebih banyak rekan kerja yang bergunjing daripada memberikan dukungan saat saya terpuruk. Ehm, ini situasi yang lazim, bukan?

     

    Berita buruknya, saya jadi mewaspadai semua orang. Saya jadi tidak mempercayai siapapun di lingkungan kantor.  Siapa saja bisa menjadi penguping dan pelapor.  Dan tidak bisa dipastikan bahwa setiap laporan akan sesuai dengan kenyataan.  Bumbu-bumbu akan lebih banyak mempengaruhi rasa.  Saya pun menjadi lebih defensive pada setiap pembicaraan. Saya sulit membedakan yang mana teman dan mana yang benar-benar teman.

     

    Waktu demi waktu kekecewaan akan berubah menjadi perasaaan tidak sempurna, merasa gagal menjadi pegawai yang baik dan kesal pada si pemberi kritik.  Lantas saya menyadari, penyakit hati ini tidak boleh saya biarkan.

     

    Baiklah, saya telah melakukan kesalahan. Selanjutnya apa?

    Memilih terpuruk atau bangkit?

    Memilih mundur atau melangkah maju?

     

    Tenangkan Hati dan Berpikir.

    Sesaat setelah kritik mampu mempersempit ruang gerak, saya memilih untuk menarik napas. Melepaskan sedikit beban. Memang hanya sedikit, karena beban sesungguhnya masih ada pada diri ini.  Kritik, bahkan ketika saya mencoba untuk mengabaikannya, hati ini tetap terluka. Tetapi saya memilih melanjutkan hidup dan berpegang pada apa yang saya yakini benar.  Saya harus bisa mengelola kritik menjadi pelecut kesuksesan karir.  Saya harus bisa memberikan umpan balik yang positif.  Jangan biarkan kritik menggagalkan karir dan merenggut kebahagiaan hidup.

     

    Saya mencoba mengingat, ada banyak persoalan orang lain yang lebih buruk dari yang saya alami.  Semua orang pernah bersalah, dan banyak diantaranya yang mampu untuk bangkit.  Dengan perbaikan ataupun tetap pada dirinya semula, yang penting hidup terus berjalan sesuai kemampuan.  Setidaknya, inilah yang membuat jiwa saya bertahan pada titik sehat.

     

    Ketika saya telah berhasil menenangkan hati, saya kembali ke kantor dengan perasaan yang nyaris tanpa rasa.  Saya biarkan semua berjalan ke arah mana angin akan membawa.  Saya memilih untuk lebih banyak diam dan menunggu.    Saya lebih banyak bekerja dan mengurangi kata-kata.

     

    Di sisi lain relung hati, saya hilangkan prasangka-prasangka dan melupakan segala pergunjingan tentang saya.  Toh saya tidak mendengarnya secara utuh dan langsung.  Anggap saja mereka tidak berbicara untuk saya.  Saya meyakinkan diri, mereka akan baik jika mengenal saya lebih baik.

     

    Benar saja, tidak semua orang menjadi monster.  Ketika beban dan prasangka berhasil saya atasi, saya mulai bertegur sapa kembali. Kami terlibat perbincangan lebih panjang.  Namun satu rambu-rambu yang saya pegang erat : tidak membicarakan keburukan seseorang ataupun menyebutkan sebuah nama yang mengarah pada pergunjingan yang akan menjadi boomerang bagi saya sendiri.

     

    (Gambar dipinjam dari sini)

     

     Dendam Positif = Menjadi Produktif

    Entah apakah ini baik atau buruk, yang tersisa dari sebuah kritik adalah dendam untuk membuktikan.  Mudah-mudahan ini dendam yang positif. Saya ingin membuktikan bahwa kritik itu tidak sepenuhnya benar, artinya saya bisa lebih baik.  Setidaknya ada 2 hal positif yang bisa saya ambil, pertama saya menjadi lebih kreatif, produktif dan disiplin. Tentu ini dalam rangka pembuktian bahwa saya bisa lebih baik. Kedua, saya belajar memahami bahwa dunia tidak selalu dipenuhi oleh pujian yang indah, namun juga kritik pedas. Situasi ini kemudian mengajarkan pada saya untuk bisa mengelola hati dan berlapang dada.

     

    Membangun kepercayaan memang tidak mudah.  Namun jika saya terus konsisten dengan niat baik dalam 3 bulan usaha ini akan terlihat.  Dan selanjutnya tergantung bagaimana saya konsisten menjaganya.  Sekarang saya merasa sangat baik saat bekerja dan senang pada lingkungan kantor.  Apapun kata mereka, apapun pikiran mereka, saya tidak perlu terlalu ambil pusing.

     

    It’s better to move on, right ?

    Saya meyakini,  bahwa kunci kesuksesan seseorang adalah dengan berani menerima kenyataan bahwa usaha mereka pernah gagal. Banyak cerita tentang kesuksesan yang diawali oleh kegagalan berulang. Calon orang sukses tahu bahwa dirinya mendapatkan manfaat dari kritik yang mereka terima dalam lingkup kerja.

    (gambar dipinjam dari sini)

     

    Tulisan ini diikutkan dalam Chic Magazine Blog Competition 2013