RSS Feed

Memikat Juri Kompasiana

March 21, 2013 by murtiyarini

Baru saja berlalu, Lomba Menulis Anmum Bunda Inspiratif yang diselenggarakan sebuah produk susu Anmum Essential, bekerja sama dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis.  Naluri kompetisi saya langsung terpanggil, apalagi melihat hadiah untuk juara 1 adalah sebuah benda yang saya impikan dalam beberapa bulan terakhir : Samsung Galaxy Note II !!!

 

Sebenarnya, apakah yang membuat tulisan kita bisa menjadi juara? Apakah karena tulisan yang bagus? Lantas ada pertanyaan, tulisan sudah bagus, tapi kok nggak menang? Masalahnya banyak peserta yang tulisannya bagus-bagus, jadi juri bingung memilihnya. Jadi, kata kunci kemenangan adalah bagaimana memikat hati juri agar menjatuhkan pilihan pada tulisan kita.  

 

Karena itu, setiap membaca sebuah pengumuman press release sebuah even lomba, yang menjadi target utama saya adalah bagaimana memikat hati juri.  Kelengkapan persyaratan jelas menjadi syarat administratif yang tidak bisa diganggu gugat.  Setelah itu, saya melihat tema, siapa penyelenggara, dan siapa jurinya. 

19 Maret 2013, saya mendapat undangan dari Fonterra (produsen Anmum) untuk hadir di kantornya di jl. Casablanca Jakarta.  Saya diundang bersama belasan ibu-ibu peserta lomba yang ada di wilayah Jabodetabek.  Agenda utama adalah pengumuman pemenang.  Sebelum pengumuman, Fonterra memberikan presentasi sekilas tentang perusahaan dan produk susu tanpa tambahan gula, Anmum Essential. Sesaat sebelum pengumuman, seluruh undangan diberitahu mekanisme penjurian oleh seorang juri tamu dari Kompasiana, yaitu mas Iskandar Zulkarnaen.

Mata saya langsung melek, telinga kembali mendengarkan, karena memang inilah yang saya cari : apa sih kriteria juri? Mas Iskandar Zulkarnaen memaparkannya poin demi poin apa yang menjadi kriteria juri.  Dan satu persatu, saya merasa kok mendekati tulisan saya ya? jadi GE-ER deh..

 

1. Kesesuaian dengan tema

Penting banget bagi kita untuk bisa membaca maksud dari sebuah tema yang ditentukan oleh penyelenggara.  Dari tema kita membaca arah tujuan penyelenggara.

Anmum menawarkan 3 tema, mengajarkan anak untuk konsentrasi, mengoptimalkan anak untuk konsentrasi dan asupan sehat tanpa gula tambahan. Saya pribadi mempermudahnya dalam 2 kata : konsentrasi dan asupan tanpa gula tambahan. Saat membaca tema yang cukup luas, saya pikir saya tidak perlu tidak perlu mengulas produk terlalu dalam, saya memilih lebih banyak porsi cerita tentang anak sendiri, toh masih dalam cakupan tema. Memilih cerita tidak berarti seluas-luasnya tema kita capai, cukup mengambil satu atau dua poin cerita dan itu yang akan diulas mendalam.

 

2. Orisinalitas dan keunikan ide

Poin ini tampaknya menjadi paling utama di setiap lomba.  Orisinalitas biasanya terlihat dari cara penuturan dan isi.  Karya orisinil lebih banyak memuat pengalaman pribadi, bukan sekedar copy paste atau mengutip dari berbagai sumber.  Jadi kita harus percaya diri dengan ide kita.  Satu kalimat yang saya suka dari mas Iskandar, “Harus berani cari ide yang berbeda. Pilihannya ada dua, kalah sama sekali, atau menjadi juara”

Saat peserta lain kebanyakan memilih cara melatih konsentrasi visual (penglihatan), saya memilih melatih konsentrasi auditori (pendengaran).

Dan apakah ibu-ibu peserta membaca detil kriteria di pengumuman lomba berikut : Orisinalitas, kreativitas, eksplorasi ide dalam membuat artikel sesuai dengan ruang lingkup yang ada

Seberapa detil? Saya menyoroti bagian akhir kalimat, “sesuai dengan ruang lingkup yang ada.”  Dari situ saya ketahui bahwa juri tidak menginginkan tulisan ilmiah atau materi berat diluar kapasitas kita sebagai ibu.  Jadi, saya merasa tidak perlu mencari sumber data atau literatur terlalu banyak. Di samping memang panjang tulisan sangat dibatasi.

 

3. Keutuhan Tulisan dan Kedalaman Pesan

Saat memberi penilaian, juri tidak menilai pada awal, tengah atau akhir tulisan.  Juri menilai pada keseluruhan tulisan, membaca dari awal sampai akhir baru memberi penilaian.  Kira-kira, pesan apa yang ingin disampaikan harus jelas, harus ada benang merahnya.  

Tema utama yang ingin saya sampaikan adalah melatih konsentrasi pendengaran.  Namun satu pesan lain yang saya sampaikan dalam judul, kalimat tengah dan kalimat penutup adalah : Perhatian orangtua adalah faktor utama melatih konsentrasi !

 

4. Sembunyikan Promosi

Tulisan yang diharapkan Juri ternyata adalah promosi yang tidak kelihatan ! Caranya, buat tulisan yang natural sesuai pengalaman. Jangan terlalu sering menyebut merk atau terkesan mempromosikan merk tersebut.  Fokus pada cerita anda, jangan fokus pada produk.

Saya hanya satu kali menyebutkan merk produk, itupun tidak mengulasnya, dan tidak mengajak pembaca untuk mengkonsumsinya :

… Sebentar lagi saya menyapih Asa. Karena terbiasa dengan ASI yang tidak manis, kebiasaan ini akan diteruskan dengan mengkonsumsi susu tanpa gula tambahan.  Saat bergabung di Anmum Club dan situs Anmum, saya mendapatkan inspirasi dari para bunda tentang pilihan susu.  Untuk anak seumur Asa, banyak bunda yang telah memilih Anmum Essential 3.

Adakah kalimat anak saya meminum susu? Atau saya membeli susunya?

 

5. Perhatikan Psikologi Pembaca Online

Pembaca online, apalagi yang awam pada topik tersebut, biasanya mudah bosan jika membaca tulisan yang terlalu panjang.  Karena itu, untuk lomba menulis blog, biasanya panjang tulisan dibatasi.  Tulisan yang baik tidak selalu menyisipkan kata-kata sulit, kata-kata dalam bahasa Inggris diusahakan mencari padan katanya sehingga membuat pembaca nyaman.

 

6. Deskripsikan dengan Detil

Buat pembaca merasakan apa yang anda tulis dengan menceritakan kejadian secara detil. Visualkan dalam tulisan anda sehingga pembaca mengerti.  Dengan panjang tulisan yang dibatasi, membuat tulisan dengan detil menjadi tantangan.  Akhirnya, kita dituntut mengutamakan kalimat penting dan membuang kalimat tidak penting.

Saya membagi beberapa poin cerita dalam paragrap-paragrap yang masing-masing menceritakan cara melatih konsentrasi.  Konon, juri lebih menyukai bentuk paragrap karena lebih mengalir daripada poin-poin atau penomoran.

 

7. Beri sentuhan akhir  Akhir tulisan menentukan bagaimana pembaca menangkap pesan anda.   Jika penutup menggantung pembaca mungkin akan bingung. Penutup dapat berupa kalimat ajakan, kalimat positif, atau kalimat bertanya yang memancing rasa pembaca.  Misalnya, “ini pendapat saya, bagaimana dengan anda?”

Biasanya saya mengakhiri tulisan dengan harapan atau perenungan.  Seperti dalam kalimat ini :

Jadi, kalau pandai berbahasa begini, kira-kira kelak Asa mau jadi apa ya? Presenter ? Dosen? Penulis bestseller? Atau dokter yang ramah? Jalan masih panjang. Sekarang, yang pasti ketika Asa memanggil “Lihat Ma, Dengar Ma!” saya harus siap menjadi teman bicaranya.

 

8. Kurangi Foto Narsis

Foto adalah penunjang tulisan dalam blog yang sangat penting, tapi jangan narsis ! Misalnya ingin menceritkan tentang tempat wisata, tidak harus selalu ada foto penulis menghadap kamera.  Foto kegiatan anak juga tidak harus tampak wajah anak. Ambil foto senatural mungkin.

Kebetulan sekali, saya jarang foto sendiri atau memotret anak tampak depan.  Untuk foto produk yang menjadi persyaratan lomba, kali ini saya kreasikan dengan sebuah agenda yang tidak kalah menarik perhatian yang melihatnya. Saya berharap pembaca lebih fokus pada foto agenda.

 

Demikian sebagian yang saya tangkap dari penuturan mas Iskandar. Pada akhir penjelasan beliau saya tanyakan, apakah kriteria tersebut berlaku untuk kompetisi blog di Kompasiana ? 

“Tergantung siapa juri dan penyelenggaranya” katanya sambil tertawa.

 

dan ternyata, feeling saya benar…horeeee…



44 Comments »

  1. Nah, ini yang ditunggu… Nuwun, mbak

  2. sri rahayu says:

    like this

  3. Nunung Nurlaela says:

    Masha Allah…luar biasa…cermat banget mbak…pantesan jadi juara…jempol deh. nuwun mbak ilmunya, jangan pernah bosan jika ditanya2 sama saya ya mbak…hihi

  4. Astutiana Sugiastuti says:

    Keren mba..bermanfaat banget tulisannya bisa jadi panduan nich.tq ya

  5. lialathifa says:

    bagaimana sih kiat, supaya menulis itu dapat selancar dgn isi kepala? kendala banget nih, hehe di otak banyak ide, di tulisan mampet

  6. Dhianisa says:

    woaaaaaaaaaaa…. aku terjaring…. aku terjaring… qiqiqiqiqi

    kereeeen baaah kakakku ini ^_*

  7. Yosi Suzitra says:

    Terimakasih bagi-bagi tips dan trik nya mba. Keren deh mba Arin. Akhirnya si galnot dalam pangkuan, hehe.

  8. apriilia says:

    siapppppppppp thx ilmunya mbak terus terang dunia blogging masih agak meraba-raba nih walaupun doyan nulis tp tetep msh perlu byk belajar biar tulisannya lbh orisinil dan hidup yah :)

    • murtiyarini says:

      tips diatas sebenarnya berlaku untuk lomba menulis secara umum. blog adalah media, kalo penilaian tetap dr konten tulisan. jadi new blogger pun bisa.

  9. Bunda Najmabayu says:

    baguuus tipsnya … selamat ya mba :)

  10. liza says:

    ulasan yang mantap mbak arin. saya jadi termotivasi untuk ngontes lagi setelah membaca tulisan ini. internet lemot larena tinggal di kampung ngga bisa lagi saya jadikan alasan untuk ngga ngontes, kan waktu turun ke kota bisa singgah ke warnet untuk posting tulisan. makasih banyak ya mbak

  11. Makasih banyak ilmunya, Mbak Arin. Ternyata harus sangat cermat ya dalam menerka “keinginan” juri. Bermanfaat sekali nih kiat-kitanya, saya masih terus berusaha dan belajar menulis dengan baik dan memikat juri 😀
    Sukses selalu mbak :)

    • murtiyarini says:

      Semakin sering latihan ntar terbiasa kok baca ketentuan lomba yg panjang sekalipun. Kadang maunya juri gampang-gampang susàh ditebak

  12. Sri Widiyastuti says:

    Mantabbb! Pantas menang! traktir ya nanti di Bogor ^_^

  13. hana sugiharti says:

    kerenn selalu

    ini blog baru ya mba? belom pernah kesini 😀

  14. Gimana ya, kiat2 nya supaya tiap event berhasil memikat jur?hehe *blogger mendadak kaya

  15. Mayya says:

    Makasih banyak atas sharingnya ya mbak. Semangatku mulai memudar karena jarang bisa memenangkan perlombaan, mudah-mudahan ini memacuku untuk menulis lebih baik lagi *kecup*

    • murtiyarini says:

      memang sih, kalo belum pernah menang jadi surut. tapi niatnya aja diganti, buat latihan atau seru-seruan ajah…cari lomba yg gak butuh modal dulu

  16. Sofi says:

    Saya sukaaa dengan ulasan ini.
    Btw, salam kenal mbak Arin :)

  17. Maftuhah says:

    Cerdas! Selamat, Mbak. Enak baca tulisan Mbak Arin :)
    Salam kenal dari anggota IIDN yang “silent reader” heheheh

  18. sulis says:

    Keren mbak,smngat berkompetisi mbak bikin saya tergugah

    • murtiyarini says:

      Kompetisi buat saya jadi selingan bermanfaat diantara kerja dan mengurus keluarga. Saat menulis saya berusaha maksimal, namun juga bersiap menerima apapun keputusan juri. Ambisi saat belum pengumuman, namun legowo sesudahnya :)

  19. Ini baru mantap, saya baru tahu siapa yang juara. Selamat aja deh!

  20. desi says:

    hmm.. idenya mantap mak, trimakasih sudah berbagi :)

  21. Mahfuzh tnt says:

    Wahh.. Semangat banget ikutin kompetisinya. Terimakasih sudah sharing Mak, gak ikutan hadir tapi tetep dapat dehh ilmunya.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *