RSS Feed

Lihat Ma, Dengar Ma !

January 14, 2013 by murtiyarini

 “Lihat Ma, Asa seperti kerbau,” kata Asa (2 tahun) sambil kedua telunjuknya di atas kepala.   Tak lama kemudian dia merangkak di lantai. “Mama dengar suara Asa seperti kucing, meoow!”

Gerakan, suara dan ekspresinya menghayati peran. Saya geli sendiri melihatnya. Aduh Nak, masa meniru gaya-gaya binatang sih? Tapi, apa iya harus dilarang? Asa sedang tahap belajar, mengenali dan meniru apa yang dilihatnya. Seringkali, aktivitasnya jadi tidak fokus. Memberinya ruang gerak akan memupuk keberaniannya bereksplorasi.

 

Kecerdasan bahasa Asa tampak menonjol. Asa sudah bisa menyusun kalimat 5-6 kata dan menyambung 2-3 kalimat dalam satu kali bicara. Apa yang dipikirkan langsung dikatakan. Pendengarannya juga tajam. Saat saya berbisik pada suami, Asa dapat menangkap pembicaran kami dan ikut bicara. Saat saya mengganti kata “mainan” dengan “toys”, eh Asa ternyata sudah tahu artinya. “Asa mau dibelikan toys baru di toko”, katanya. Anak menyerap bahasa dengan cepat .

 

Asa sedang pada golden age, otak dan kecerdasannya berkembang pesat. Ada 100 milyar syaraf yang akan terhubung seiring banyaknya stimulasi. Kecerdasan didukung oleh daya konsentrasi. Padahal rentang konsentrasi anak sangat pendek.  Karena itu, anak perlu dilatih berkonsentrasi sesuai tahapan usianya. Kelak, saat golden age berlalu, anak masih dapat mengandalkan daya konsentrasi untuk bernalar dan memanggil memori.

 

Terkait kecerdasan bahasa Asa, saya melatih agar Asa tidak hanya banyak bicara tapi juga konsentrasi. Maksudnya, apa yang dikatakan adalah hal yang sedang dilihat, dilakukan atau dipikirkannya. Saat dipanggil juga mau menjawab. Berimajinasi sambil berceloteh boleh, tapi bukan bicara kosong atau bergumam.

 

Hal terpenting melatih konsentrasi bicara adalah memberi perhatian saat anak bicara dan menunjukkan ekspresi yang sesuai. Ini sekaligus mengajarkan anak berempati pada perasaan orang lain, sedih atau gembira. Saya juga berbicara dalam berbagai intonasi, kadang keras, kadang berbisik, ditambah dengan gerakan tangan saat bicara.  Dengan begitu, Asa tertarik untuk menatap wajah saya dan mau mendengarkan.  Saat berbicara dengan Asa, saya letakkan majalah atau blackberry yang sedang saya pegang. Mengajarkan konsentrasi tentu dengan konsentrasi juga kan?

 

Banyak kosakata Asa  berasal dari meniru namun tidak selalu mengerti artinya. “Asa masih kecil, kalau Mama masih besar.” Asa belum mengerti penggunaan kata “masih”. Dengan bicara sesering mungkin membuat Asa semakin memahami kata baru dan konteks kalimat yang benar. Ada juga kata-kata berkonotasi negatif.  Selain menghindari sumber negatif sebagai antisipasi, saya respon kata-kata Asa dengan dengan lembut “Tidak boleh bilang kata tersebut, mendingan menirukan suara kodok yuk”. Lantas kami lanjut bermain dan Asa lupa dengan kata “aneh”nya.

 

Saya pernah kesal, saat saya berbicara dengan orang lain, Asa ikut bersuara dengan lantang. Lagi-lagi anak ingin menarik perhatian orangtua. Di saat lain saya beri kesempatan Asa berbicara terlebih dahulu. Saya dengarkan ceritanya sampai dia puas, lalu saya katakan “Sekarang giliran mama bicara dulu ya.” Cara ini perlahan mengajarkan Asa sabar menunggu giliran bicara. Saya memujinya setiap kali Asa mau menunggu.  Ketika mendadak saya harus bicara dengan orang lain, Asa mulai terlatih untuk menunggu.

 

Tebak-tebakan adalah cara menarik untuk melatih anak konsentrasi saat bicara. Saya menanyakan hal yang sama berulang kali, kemudian tiba-tiba saya tanyakan sesuatu yang berbeda. Misalnya, bagaimana suara gajah? Kalau suara monyet? Suara kucing? Rumah beruang dimana? Pertanyaan terakhir konteksnya berbeda dengan pertanyaan sebelumnya. Asa terbiasa dengan tebakan seperti ini. Saya memujinya setiap kali Asa mau menjawab. Perhatian dan pujian akan memupuk keberanian anak. Saat anak merasa berani dan percaya diri, dia akan lebih mudah berkonsentrasi.

 

Daya konsentrasi perlu didukung dengan pemenuhan gizi seimbang. Yang penting diperhatikan adalah  asupan gula tidak boleh berlebihan karena dapat menurunkan daya konsentrasi.  Sebentar lagi saya menyapih Asa. Karena terbiasa dengan ASI yang tidak manis, kebiasaan ini akan diteruskan dengan mengkonsumsi susu tanpa gula tambahan.  Saat bergabung di Anmum Club dan situs Anmum, saya mendapatkan inspirasi dari para bunda tentang pilihan susu.  Untuk anak seumur Asa, banyak bunda yang telah memilih Anmum Essential 3.

 

Jadi, kalau pandai berbahasa begini, kira-kira kelak Asa mau jadi apa ya? Presenter ? Dosen? Penulis bestseller? Atau dokter yang ramah?

Jalan masih panjang.

Sekarang, yang pasti ketika Asa memanggil “Lihat Ma, Dengar Ma!” saya harus siap menjadi teman bicaranya.

 

Anmum Essential 3 dan Jurnal Mama

Asa suka mainan, Mama suka buku IIDN

Interaksi melatih konsentrasi

Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Competition Anmum Bunda Inspiratif bersama IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis)

http://www.facebook.com/groups/ibuibudoyannulis/

dan menjadi juara 1



35 Comments »

  1. Ety Abdoel says:

    sukaaaaa, tulisanmu selalu apik caramu menyampaikan pesan selalu kreatif. kandidat juara mba..

  2. Astri says:

    asa anak pinter……….. pasti mau jadi presenter ya :)

  3. agnes bemoe says:

    Otak anak usia emas (golden age) memang seperti busa/spons yang menyerap banyak hal di sekitarnya. Bagus banget kalau orang tua mau memapar anak dengan sebanyak mungkin rangsangan di sekitarnya :)

    Selain makanan dengan gizi yang seimbang, ‘makanan bathin’ juga penting: energi positif dari orang tua, yang terpancar melalui tindakan maupun ucapan.

    • murtiyarini says:

      Asa ini emang beda banget sama kakaknya, kalo kakaknya bakan visual, asa lebih ke auditory. Ceriwis abis deh pokoknya, mesti filter ketat kalo ngomong dekat dia :)

  4. Nunung Nurlaela says:

    oalah… disini to postingnya mba Arin, pantesan cari2 di blog kok gak nemu2. he2. btw, sellau keren dan beda tulisannya. bakal juara nih…

  5. Suka, suka, suka. Dukung mb Arin jd juara. Sy copy deh cara Cik gu Arin ngajarin cerdas bahasa ke dik Asa. Ayo, mbak, bagi tipsnya lg.

    • murtiyarini says:

      makasiiiih… tips apa lagi ya? ntar kalo ada di sharing lagi. Secara Asa ini memang butuh ekstra perhatian dibanding kakaknya. Karena cowok kali yaa..

  6. Seperti Faiq anak saya, Mbak Arin, masih rancu menggunakan kata “masih” hehe.. Trus kalau mengatakan pekerjaan yang dilakukannya sendiri masih belum pas juga. Misal, “Disuapin umi ya?” dia jawab, “Enggak, disuapin Faiq..” (maksudnya maem sendiri) 😀

    • murtiyarini says:

      Hahaha…Faiq..Faiq..
      Ada lagi nih yang masih sering ketuker, antara pergi atau berangkat. Jadi mau berangkat ke rumah, nggak mau pulang keluar. hadeeeh….

  7. LIsdha says:

    asiik mbak :). suka tips tebak2an dengan konteks yang beda itu. Bisa ditiru :)

  8. apriilia says:

    kliatan bgt senior bloggernya hihihi…apik mbak, kirain anaknya br 1 ga taunya 2 towh

  9. Wahh tulisan Mba Arin keren banget euy. Cara penyampaiannya menarik, enak dibaca, isinya pun banyak banget pengetahuan yg bermanfaat.

    Good Artikel :)

    Mba Arin… ditungguin tuh ama Galaxy Note, kapan mau diambil katanya hehehe :)

    • murtiyarini says:

      Galaxy note? mana? manaaa? butuh nih biar lebih produktif. Asal jangan minta diambil ke toko aja, gak sanggup beliiii hehehe…

  10. Yosi Suzitra says:

    Pokoknya keren deh, tulisan mba Arin. Saya tau kenapa Asa bisa bagus kosa katanya, pasti lagi hamil sering diajakin menulis. Mamanya ngetik, Asa ngintipin layar, hehe. Nitip cubit ya mba buat pipinya Asa tuh.

  11. Murti says:

    Jurnal Mamanya asyik buat dicontek :)

  12. Endang Trowulan says:

    salam kenal mbak arin..musti banyak belajar sama mama asa yg hebat ini..hebat dalam mendidik anak n tulisannya keren…

    • murtiyarini says:

      salam kenal mba Endang, makasih. Aku masih terus belajar menjadi orang tua, walaupun anak udah ada yg gede tetep aja belepotan cara ngasuhnya :)

  13. Apiik tenan mbak…

    Putri bungsuku juga mirip Asa, tingkah laku dan kemajuannya. Sekarang umurnya 18 bulan. Susah sekali dipancing berhitung, tetapi suka sekali dengan gambar hewan, misal : sapi (Mooo), Kambing ( Mbee), Ayam (yamyam), Gajah (hajah)…hahaha…lucu sekali.

    Semoga Artikel ini juara ya mbak…

    • murtiyarini says:

      Terimakasih mba Tiur, biarlah juri menentukan pilihannya :)

      eh, kenapa ya anak-anak itu lebih mudah menyukai binatang daripada tumbuhan atau lainnya? salam buat si kecil ya mba…

  14. Miss Rochma says:

    terima kasih untuk tips konsentrasinya. anak saya usia 15 bulan, mulai belajar membaca buku dengan ‘bahasa planetnya’.

    dan ‘jurnal mama’, boleh saya contek ya? :)

    • murtiyarini says:

      Asa juga masih pake bahasa planet alias aku aja yg tahu. Nah, kalo pas aku nggak ngerti suatu kata, dia cari tuh padan katanya. Dia tau kalo aku lagi bingung mendengar omongannya yg masih cadel.

  15. Yas Marina says:

    Baru ngeh kenapa nama blognya mbak Arin yang satu lagi namanya Asacinta. Ternyata gabungan nama dua buah hatinya ya :)

  16. Cinta says:

    Adikku lucu tapi bawel

  17. cputriarty says:

    selamaaat ya,mbak. Berkat anak2 tercinta, pendorong hidup, tulisan2 maupun postingan artikel mb Arin selalu berbuah manis :) Bravo

  18. […] poin demi poin apa yang menjadi kriteria juri.  Dan satu persatu, saya merasa kok mendekati tulisan saya ya? jadi GE-ER […]

  19. jadi pengen mengkonsumsi susu tersebut biar anaknya sama dengan yang ada dicerita hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *