RSS Feed

Usia Enam (Cerita Anda di Majalah Parenting)

July 1, 2012 by murtiyarini

Angka enam dalam usia seseorang tidak sepopuler angka tiga belas tanda memasuki usia remaja atau angka tujuh belas tanda memasuki usia dewasa, serta tak mudah diingat seperti sepuluh, dua puluh lima dan lima puluh yang menjadi penanda pada ulang tahun pernikahan. Pada anak – anak, tonggak usia yang populer adalah satu, tiga, lima atau tujuh tahun, dan bukan enam tahun. Siapa menyangka ketika kemudian angka enam menjadi istimewa bagi saya dan Cinta. Pada angka enam di usia Cinta terjadi banyak hal dan peristiwa yang menuliskan titik-titik sejarah perjalanan hidupnya. Saya beberapa kali terkaget karena banyak tonggak tumbuh kembang yang semula saya kira akan terjadi beberapa tahun lagi justru terjadi tahun ini. Bagaimanapun kami harus siap, dan senangnya…ternyata momen-momen berharga itu begitu menyenangkan meskipun awalnya cukup sulit.

Tahun lalu, kelahiran sang adik terjadi saat Cinta berusia 5 tahun, adalah jarak yang ideal menurut saya. Cinta terlihat cukup dewasa untuk memahami kehadiran sang adik dengan segala konsekuensinya. Cinta tidak merasa cemburu, bahkan sangat perhatian dan protektif pada adiknya. Hmmm..kakak yang baik, begitu saya selalu menyebutnya.
Namun kesibukan saya dengan bayi baru agaknya menyita perhatian cukup banyak, sehingga saya melewatkan momen dimana Cinta mulai meninggalkan usia balitanya. Yang ada sekarang saya begitu terkagum-kagum dengan kemandirian Cinta. Dia sudah bisa mandi, memakai baju, makan, atau menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri. Dan wow….saya tidak tau kapan itu mulai terjadi, Cinta sudah bisa membersihkan diri saat pipis dan buang air besar. Sifatnya yang lembut begitu telaten menjaga adik dan mengajaknya bermain, terutama saat saya perlu ke kamar mandi. Dan ketika saya tidur kelelahan, dengan sabar Cinta menunggu saya bangun sebelum minta dibuatkan susu atau makan malam. Jadi, walaupun saya melewatkan momen “selamat tinggal usia balita”, saya mendapatkan gantinya dengan menyaksikan titik tonggak kemandirian Cinta pada usia 6 tahun.

Tahun ini juga menjadi tahun perpisahan Cinta dengan daycare, tempat dia dititipkan sejak usianya masih 3 bulan. Sesuai peraturan daycare bahwa anak yang dititipkan maksimal berusia 6 tahun. Perpisahan juga terjadi antara Cinta dengan taman kanak-kanaknya (kebetulan satu lingkungan dengan daycare) dan tahun ajaran mendatang sudah saatnya masuk SD. Saya sudah menduga Cinta akan mengalami perasaan sedih atas perpisahannya tersebut. Dan yang paling memberatkan adalah perpisahan dengan Bu Ita, gurunya sejak bayi. Bu Ita sudah menjadi mama kedua bagi Cinta.

Pada acara perpisahan, Cinta dan teman-teman kelasnya tampil ke panggung untuk penerimaan ijazah. Tak terbendung air mata Cinta tumpah saat guru kelas menyalaminya. Cinta merangkul erat seakan tak mau lepas. Hadirin terbawa suasana haru. Si bibi dan si mbak, para asisten daycare tersebut ikut berkaca-kaca. Saya yang semula mondar-mandir memotret akhirnya juga ikut menangis. Sementara itu, teman-temannya hanya tercenung memandang. Oh, sayangku…kamu begitu perasa bagai orang dewasa. Kamu baru berusia 6 tahun dan sudah sangat mengerti arti perpisahan ini.

Dibalik panggung tangisnya masih berlanjut, dan sayapun menyusul membesarkan hatinya. Saya memahami Cinta begitu sensitif perasaannya. Cinta mengerti bahwa setelah acara pentas seni pelepasan TK B, maka dia tidak akan belajar lagi dengan bu guru dan teman-teman. Dia akan sangat terpukul dengan perpisahan ini. Meski begitu, saya berusaha tenang, serta menyampaikan bahwa perpisahan ini bukan berarti tidak akan ketemu lagi, hanya saja Cinta harus pindah sekolah. Sewaktu-waktu mau menemui guru – gurunya tentu saja diperbolehkan.

Sebenarnya, beberapa bulan sebelum perpisahan yang mengharukan itu, Cinta sangat senang mengetahui dirinya akan segera menjadi anak SD. Satu jenjang untuk menjadi “orang besar” akan segera sampai padanya. Cinta terlibat dalam proses pemilihan sekolah. Saya membawanya berkeliling ke lingkungan calon-calon sekolah. Pemilihan lingkungan yang aman dan nyaman menjadi penentu utama. Berbagai pertimbangan saya sampaikan kepada Cinta hingga akhirnya kami berhasil memilih salah satu sekolah yang sesuai. Selanjutnya Cinta juga saya libatkan secara aktif dalam persiapan observasi (tes masuk) sekolah, persiapan perlengkapan sekolah, dan persiapan mental terutama mengenai peraturan-peraturan Sekolah Dasar yang berbeda dengan Taman Kanak-Kanak.
Memang tren saat ini mulai bergeser, usia masuk SD tak lagi 7 tahun, banyak anak usia 6 tahun yang telah siap masuk SD. Dan Cinta bangga sekali akan menjadi anak SD. Baginya itu pencapaian yang hebat. Juga bagi saya tentunya…tak terasa, saya sudah mempunyai putri usia sekolah. Saya sadari, dalam tahun-tahun ke depan akan ada romantika baru dalam mendampingi Cinta, si anak sekolah.
Jadi, usia enam bagi Cinta berarti menjadi kakak yang baik, menjadi anak mandiri, berpisah dengan daycare, dan menjadi anak sekolah. Saya pasti akan merindukan masa-masa mengandung, menyusui, dan mengurus balita. But the show must go on, hidup terus berlanjut. Setiap jenjang usia anak-anak saya akan menjadi periode-periode indah dalam hidup saya.

Angka-angka hanyalah penanda usia. Angka enam memang istimewa bagi saya dan Cinta, mungkin angka lain yang menjadi istimewa bagi anda. Berapapun angkanya, keistimewaannya tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya ingin menjadikan setiap tahun memiliki kesan. Kesan indah kalau bisa, dan di atas itu, ada pengalaman yang akan menjadi pelajaran untuk anak-anak saya kelak. Tentang bagaimana mensyukuri tahun demi tahun, dan menggunakan waktu dengan berharga.

“Semoga mama bisa menyaksikan sebanyak mungkin momen bersejarah dalam hidupmu, Cintaku.., semoga kamu mampu membuat pilihan-pilihan tepat dalam hidupmu”



No Comments »

No comments yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *