RSS Feed

November, 2011

  1. JAMINAN SOSIAL UNTUK GURU SWASTA DAN HONORER

    November 23, 2011 by murtiyarini

    Oleh : Murtiyarini
    Radar Bogor 23 November 2011 / Gagasan

    Terdapat 4 macam jaminan yang ditentukan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yaitu JAMSOSTEK (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), TASPEN (Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri), ASABRI (Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), dan ASKES (Asuransi Kesehatan Indonesia).

    Berbeda dengan TASPEN, ASABRI dan ASKES yang diperuntukkan kepada Pegawai Negeri Sipil, JAMSOSTEK adalah program jaminan sosial berdasarkan funded social security, didanai oleh peserta dan terbatas pada para masyarakat pekerja di sektor formal yaitu karyawan-karyawan perusahaan swasta, namun tidak termasuk di dalamnya pekerja-pekerja sektor informal seperti wiraswasta dan industri rumah tangga. Dalam meningkatkan jumlah kepesertaannya, PT. JAMSOSTEK terus melakukan sosialisasi kepada perusahaan-perusahaan tentang beberapa undang-undang terkait tenaga kerja, misalnya UU jaminan sosial dan tenaga kerja, UU kesehatan, dan UU ketenagakerjaan serta mempromosikan program-programnya yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK), Pinjaman Uang Muka Perumahan (PUMP) dan program renovasi rumah. Sosialisasi ini penting mengingat masih rendahnya kesadaran masyarakat pekerja atas haknya sebagai peserta JAMSOSTEK.

    Sebagai wujud peran serta dalam upaya pencerdasan bangsa, PT JAMSOSTEK (Persero) menyelenggarakan program Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) dalam bidang pendidikan. Konkretnya, DPKP ini berupa pemberian beasiswa prestasi bagi anak tenaga kerja peserta Jamsostek dalam jangka waktu 12 bulan, dengan rincian Tingkat SD -SLTP Rp 150.000,-/ bulan dan Tingkat SLTA – Perguruan tinggi sebesar Rp 200.000,-/ bulan. Akumulasi penyaluran dana beasiswa anak pekerja JAMSOSTEK dari tahun 2006 – 2010 telah mencapai Rp. 96,505 miliar kepada 132,825 anak di 121 Kantor Cabang JAMSOSTEK. Tahun 2011 ini PT JAMSOSTEK memecahkan rekor dunia dari Museum Rekor Indonesia dalam penyerahan beasiswa senilai Rp29,4 miliar bagi 12.250 pelajar dan mahasiswa anak dari peserta JAMSOSTEK.

    Namun perlu diingat, masih ada pilar pendidikan yang belum menikmati jaminan sosial baik dari JAMSOSTEK maupun dari ketiga jaminan sosial lainnya, yaitu tenaga pendidik honorer dan tenaga pendidik swasta. Mereka tidak mendapatkan jaminan sosial karena tidak berstatus PNS dan tidak memiliki payung hukum yang jelas. Dalam Undang Undang (UU) nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan tunjangan kemaslahatan pemerintah baru disediakan untuk guru-guru PNS.

    Saat ini pemerintah mengeluarkan tunjangan fungsional untuk guru swasta Rp.250.000/bulan, namun jumlah tersebut dirasa masih terlalu kecil. Menurut data yang ada di Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) saat ini jumlah tenaga pendidik swasta di Indonesia mencapai 700 ribu orang. Terjadinya penambahan guru ini cukup menggembirakan karena memperlancar proses belajar mengajar. Namun dikuatirkan jumlah yang besar ini ini akan berpengaruh pada program tunjangan guru swasta yang biasanya diberi pemerintah, dengan kata lain nilai tunjangan yang diterima guru berkurang dari biasanya karena jumlah pembaginya lebih besar. Oleh karena itu, apabila pemerintah belum menaikkan status mereka menjadi tenaga pendidik negara, selayaknya ada jaminan sosial bagi tenaga pendidik meliputi jaminan layanan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan hari tua.

    Kondisi lebih parah dialami oleh guru di perbatasan dan daerah karena sulitnya mendapat tunjangan. Ada 400 guru Kabupaten Nunukan (Kalimantan) yang bertugas di perbatasan RI-Malaysia dan hanya 8 orang di antaranya yang mendapatkan tunjangan. Di Pulau Marore, perbatasan RI-Filipina para guru perlu lebih dari 2 tahun menunggu tunjangan seperti yang dijanjikan pemerintah pada tahun 2009 lalu. Sementara sejumlah guru yang mengajar di Senaning, perbatasan Indonesia – Malaysia di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, sempat melakukan aksi mogok mengajar karena tertundanya pembayaran tunjangan guru perbatasan tahun 2011. Kasus-kasus tersebut di atas menjadi ironis dengan niat pemerintah untuk memperkuat pendidikan di daerah perbatasan.

    Tak jauh beda nasibnya, guru honorer di Indonesia belum berkesempatan mendapatkan tunjangan ataupun jaminan sosial. Bahkan besaran gajinya sangat variatif di tiap daerah, bahkan antara yayasan berbeda di daerah yang sama. Tidak semua guru honorer beruntung mendapatkan gaji sama atau diatas standar upah minimum. Meskipun pada tahun 2010 telah dilakukan pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS dan penghentian rekruitmen tenaga honorer, namun kenyataannya masih banyak tenaga honorer yang tersisa. Tahun 2011 jumlah tenaga honorer di Indonesia adalah 67ribu, diantara adalah guru. Menurut data Persatuan Guru Republik Indonesia pada 2011 jumlah guru honorer yang akan dinaikkan statusnya menjadi PNS mencapai 160.000 orang. Kemudian, pada 2012 jumlah guru honorer yang akan mengikuti seleksi CPNS mencapai 720.000 orang. Tampaknya gelar pahlawan tanpa tanda jasa semakin lekat pada guru-guru honorer.

    Dimana posisi JAMSOSTEK dalam hal ini ? Sebagai upaya mendukung kemajuan pendidikan nasional dan meningkatkan kecerdasan bangsa dengan memberikan dukungan langsung pada upaya peningkatan produktivitas dan peningkatan kesejahteraan bagi tenaga pendidik dan keluarganya diharapkan langkah ke depan PT JAMSOSTEK dapat meningkatkan kepesertaan dari tenaga-tenaga pendidik non PNS. Untuk itu PT JAMSOSTEK akan banyak memerlukan penyesuaian terkait status guru swasta dan honorer yang masih abu-abu dan terkait besaran gaji dan honor yang sangat variatif. PT. JAMSOSTEK harus gencar melakukan sosialisasi program-program jaminan ke yayasan-yayasan pendidikan swasta maupun sekolah negeri yang masih mempekerjakan guru honorer serta melakukan “negosiasi” dengan menggandeng Pemerintah maupun Yayasan untuk menentukan bentuk program yang sesuai untuk tenaga pendidik swasta dan honorer, khususnya guru.

    Tulisan ini telah dimuat di Radar Bogor, 23 November 2011,
    dan diikutkan dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik JAMSOSTEK 2011, serta memenangkan juara 2 kategori umum.


  2. Apa Kabar Pos Indonesia ?

    November 12, 2011 by murtiyarini

     Apa kabar Pos Indonesia ? Dalam rangka promosi dan menjaring masukan dari seluruh rakyat Indonesia, PT Pos Indonesia menggelar lomba artikel jurnalistik.  Saya tertarik mengikutinya karena memang sedari usia 10 tahun saya sudah berkenalan dengan korespondensi sahabat pena, sehingga sangat familiar dengan kantor pos dan benda-benda pos lainnya.

     Masih ingat, dulu saya sering mendapat kiriman uang saku dari kakak saya yang bekerja sebagai dosen di Universitas Sriwijaya.  Tahun 1990 an, nilai wesel 10.000 sangatlah besar artinya. Lha kalau sekarang ? hehehe…itulah perubahan jaman.

    Oke, hasilnya artikel saya yang dimuat di Radar Bogor 12 November 2011 ini tidak memenangkan peringkat apapun, tapi artikel ini sangat unik karena inilah kali pertama dimuat di koran (sebelumnya baru di majalah dan tabloid)

    (Radar Bogor, 12 Nov 2011)

    Sejak berdirinya, Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone), kemudian menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel), pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

    Dalam usianya lebih dari 2,5 abad, tepatnya 265 tahun pada 26 Agustus 2011, PT.Pos Indonesia (Persero) dihadapkan pada berbagai tantangan perubahan paradigma komunikasi dan pengiriman. Dua dekade terakhir, internet dan seluler telah mengguncang dunia telekomunikasi dan tentu saja sangat berpengaruh pada Pos Indonesia dengan model komunikasi surat menyurat.

    Untuk surat atau berkas penting yang harus dikirimkan dalam bentuk fisik, terdapat banyak jasa pengiriman yang menjanjikan ketepatan waktu, jangkauan dan keamanan barang kiriman, menjadi pesaing Pos Indonesia. Orang tidak lagi menaruh kepercayaan pada bus surat yang terdapat di tepi jalan. Kantor pos dulu juga hanya terdapat di kecamatan-kecamatan, sementara jasa kurir lain telah membuka banyak agen dan cabang, bahkan dalam satu kompleks perumahan bisa terdapat lebih dari satu agen. Satu lagi tantangan Pos Indonesia, jasa pengiriman uang wesel pos yang dulu masih sangat sederhana, membuat orang beralih ke jasa transfer bank yang juga telah memperbanyak cabang hingga daerah.

    Lantas bagaimana strategi PT. Pos Indonesia menghadapi tantangan tersebut diatas? Dalam program penyehatan, secara umum Pos Indonesia melakukan langkah strategis yaitu fokus pada 3 core bisnis (bisnis mail, bisnis logistik dan bisnis jasa keuangan), penguatan kemampuan infrastruktur dan IT sehingga mampu menciptakan sistem jaringan operasi yang akurat, cepat dan efisien, perbaikan kualitas sumber daya manusia, serta perbaikan sistem keuangan dan manajemen risiko.
    Pos Indonesia kini memanfaatkan insfrastruktur jejaring yang dimilikinya yang mencapai sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau 100 persen kota/kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan/desa, dan 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Seiring dengan perkembangan informasi, komunikasi dan teknologi, Pos Indonesia merupakan BUMN dengan jejaring terluas di Indonesia memiliki 3.792 Kantor Pos dan 1.811 Mobil Pos yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Saat ini terdapat 4.006 Kantor Pos dan Mobil Pos yang sudah dilengkapi dengan teknologi secara on-line.

    Meskipun masih banyak menggunakan gedung warisan Belanda, kantor pos besar di kota-kota telah melakukan modernisasi loket dengan pengadaan sarana dan peralatan penunjang komputer, jaringan internet, timbangan elektronik untuk paket pos, timbangan surat, mesin cap dan mesin hitung uang Begitu juga dengan kantor-kantor pos di tingkat kecamatan. Modernisasi loket ini bertujuan untuk mening¬katkan mutu dan efisiensi pelayanan serta memperluas kesempatan untuk melakukan diversifikasi jenis pelayanan.

    Armada mobil keliling yang dilengkapi dengan sistem teknologi telekomunikasi yang baik telah memudahkan masyarakat dalam melakukan berbagai pembayaran hanya dari satu lokasi. Peningkatan pelayanan Pos Indonesia, didukung dengan tarif yang termurah diantara jasa pengiriman lainnya, serta jangkauan yang luas ke pelosok negeri menjadikan Pos Indonesia sebagai ‘idola’ masyarakat. Metode ‘jemput bola’ mobil keliling PT Pos Indonesia berhasil meningkatkan kembali jumlah pelanggan. Melalui mobil Pos ini masyarakat dapat melakukan berbagai pembayaran tagihan seperti listrik, telepon, air, pajak, kredit sepeda motor, kredit rumah (BTN), TV kabel, pembelian tiket kereta api, benda pos, pengiriman wesel melalui Western Union dan transaksi lainnya sesuai kebijakan PT Pos Indonesia di cabang masing-masing.

    Gencarnya pengembangan salah satu core bisnis jasa keuangan juga semakin memposisikan Pos Indonesia sebagai agen sistem pembayaran nasional yang terunggul dibanding agen-agen lainnya dikarenakan jaminan Pos Indonesia dalam penyiapan/ ketersediaan dana di seluruh Kantor Pos. Sebagai contoh sejak tahun 2001, Pos Indonesia dan Western Union telah berhasil melayani pengiriman uang senilai US$ 3,26 milyar baik secara internasional dari dan ke Indonesia, maupun transfer domestik dalam negeri. Jenis layanan bisnis jasa keuangan pos adalah remittance, pospay, bankchanneling, fund distribution (sektor penyaluran dana pemerintah dan BUMN). Pos Indonesia juga telah dipercaya sebagai tempat pembayaran pajak, terlihat dari persentase tertinggi nilai pajak yang dibayarkan melalui Pos Indonesia yaitu mencapai 70 persen.

    Di usia lebih dari dua setengah abad, Pos Indonesia telah mendapatkan citra sebagai “one stop service” yang mampu melayani masyarakat hingga ke pelosok daerah di Indonesia.


  3. Mencari Cahaya Kunang-kunang

    November 4, 2011 by murtiyarini


    Oleh : Murtiyarini

    Sulit bagi saya untuk bercerita kepada anak-anak tentang bagaimana bunyi jangkrik atau indahnya cahaya kunang-kunang di malam hari. Anak-anak saya melihat gambaran kedua serangga itu, dan keunikan serangga-serangga lainnya hanya dari buku. Pada akhir pekan, kerap saya bawa anak-anak ke tempat terbuka untuk melakukan eksplorasi serangga, dengan alat kamera digital dan buku gambar untuk merekam keindahannya. Lumayan, setidaknya kami masih menjumpai beberapa jenis kupu-kupu, barisan semut di ranting, seekor kepik di balik daun, dan lebah yang berputar-putar di kelopak bunga.
    Jika ditanya tentang serangga, yang ada dibenak anak-anak sekarang mungkin adalah lalat, nyamuk, kecoa dan wereng. Serangga-serangga tersebut berkonotasi negatif, dikenal sebagai vektor penyakit dan hama tanaman. Padahal serangga adalah spesies paling banyak ragamnya di alam ini, dengan manfaat yang tak kalah besarnya.
    Di dunia, dikenal lebih dari 900.000 jenis spesies serangga, menduduki 80% dari total spesies makhluk hidup di bumi ini. Jumlah tersebut masih ditambah dengan jenis spesies yang belum dinamai. Serangga juga menduduki biomasa terbesar dari dunia fauna (i).
    Serangga penting untuk menyehatkan habitat tropis. Peran mereka sebagai pemecah unsur organik, membantu penyerbukan bunga sehingga tanaman dapat berbuah, dan sebagai salah satu mata dalam rantai makanan. Ketiadaan atau berkurangnya serangga di alam dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.
    Lalu kemana perginya serangga-serangga yang unik dan indah itu? Mengapa serangga kini seolah tak bersahabat dengan manusia? Benarkah mereka jahat kepada manusia? Ataukah manusia yang telah mengusik keseimbangan hidup mereka?Empat belas tahun silam, ketika saya belajar tentang Entomologi, ilmu yang mempelajari serangga, dunia belum begitu banyak membahas tentang perubahan iklim dan pemanasan global. Seiring dengan perubahan yang terjadi pada iklim dunia, makhluk kecil yang kerap diremehkan ini pun mengalami perubahan dalam pola kehidupannya.
    Pengaruh perubahan iklim pada serangga
    Banyak spesies serangga tropis, di antaranya kupu-kupu, sangat rentan pada perubahan suhu karena mereka terbiasa pada suhu yang konstan sepanjang tahun. Perubahan suhu 1-2 º C saja dapat mengganggu fungsi fisiologinya yang kemudian menyebabkan terganggunya kehidupan serangga, serta berujung pada kepunahan (ii). Serangga tropis, seperti halnya beruang kutub, bisa menjadi dua diantara spesies-spesies yang segera punah pada abad ini. Kehilangan yang lebih besar dan berkurangnya keanekaragaman serangga tercatat selama terjadinya pemasanan global (iii).Populasi musuh alami dan serangga inang mungkin merespon dengan berbeda perubahan suhu ini. Serangga yang berlaku sebagai musuh alami biasanya mempunyai sifat yang lebih rentan dan sulit beradaptasi, sedangkan serangga hama biasanya lebih tahan dan mudah beradaptasi (iv). Jumlah musuh alami akan turun, sebaliknya, peningkatan suhu bumi mendorong pertumbuhan serangga hama yang cepat dan tidak mengalami diapauses sehingga fase larva atau pupa lebih singkat sehingga menghindarkan dirinya dari predasi dari musuh alami yang umum menyerang pada kedua fase rawan tersebut. Pertumbuhan populasi serangga hama yang cepat menjadikan tingkat serangan lebih tinggi. Hal ini menjadi alasan mengapa akhir-akhir ini perubahan iklim berdampak pada ledakan hama, pada daerah tropis yang biasanya iklim cenderung konsisten (v)
    Pemanasan global yang diiringi dengan peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer. Beberapa peneliti menemukan peningkatan CO2 berpotensi berpengaruh penting pada serangga terkait dengan komposisi nutrisi tanaman inang. Pada awal musim tanam, kedelai tumbuh dengan peningkatan CO2 atmosfer 57% akan menghasilkan buah yang lebih banyak kandungan gulanya, sehingga pola makan serangga berubah menjadi semakin banyak(iv). Selain itu, peningkatan CO2 pada tanaman menyebabkan rasio N lebih rendah, sehingga serangga perlu lebih banyak memakan tumbuhan untuk mencukupi kebutuhan akan Nitrogen. Akibatnya, kerusakan tanaman menjadi lebih banyak terjadi (vi).
    Peningkatan suhu dapat menyebabkan penyebaran serangga secara horizontal dan vertikal, khususnya spesies yang mempunyai kisaran inang yang luas, misalnya serangga hama tanaman kehutanan (iii). Pemanasan global , yang biasanya diikuti dengan banjir dan kekeringan, berdampak pula pada penyebaran epidemik penyakit di area yang tidak diduga sebelumnya oleh ahli kesehatan dunia. Iklim juga mempengaruhi perubahan arah angin dan tentu saja berpengaruh pada perpindahan serangga. Jika seekor serangga adalah vektor penyakit, maka dia akan menularkan penyakit ke tempat baru. Nyamuk, lalat, dan serangga vektor penyakit lainnya bertahan selama musim dingin dan memperluas jangkauannya membawa sumber penyakit dalam tubuhnya. Malaria bergerak ke daerah tinggi untuk di Afrika and America latin. Kolera juga tumbuh di samudra yang panas. Demam berdarah dan penyakit Lyme bergerak ke arah utara. Hal ini diduga oleh para ilmuwan karena terjadinya resistensi antibiotik, kesalahan sistem kesehatan masyarakat, pergerakan populasi dan cuaca yang tidak menentu (vii).
    Semua contoh diatas menggambarkan bagaimana serangga bereaksi terhadap perubahan iklim dan berpotensial mengembangkan adaptasi fisiologi dan tingkahlaku. Hal ini juga mengarah pada perubahan genetis dalam sebuah populasi.

    Bersahabat dengan serangga

    Dahulu kala, ketika semua berjalan demikian alami, keberadaan serangga adalah penyeimbang ekosistem. Ketika hutan banyak ditebang, dan kayunya digunakan untuk pemukiman manusia, kemanakah rayap-rayap hutan itu mencari makan? Ketika populasi kodok kehilangan rumahnya, berganti dengan pemukiman, maka populasi nyamuk semakin banyak. Ketika tumpukan sampah kian menggunung tanpa tahu akan diapakan lagi, maka jumlah lalat, nyamuk dan kecoa kian merisaukan. Ketika pertanaman sudah menjadi monokultur padi, serangga musuh alami kehilangan habitatnya, dan wereng yang semula bisa ditolerir populasinya, kini menjadi kian ganas menyerang padi. Ketika taman-taman berganti dengan mal dan pertokoan, maka kunang-kunang, kupu-kupu dan kepik yang cantik hanya ada dalam bentuk duplikatnya. Anak-anak kita sudah tidak lagi bisa melihat wujud aslinya.
    Lalu bagaimana mengatasi hama-hama yang tak lagi bersahabat dengan kita? Haruskah kita keluarkan uang untuk membeli racun yang konon ampuh? Benarkah ampuh? Racun serangga tak hanya membunuh hama, melainkan juga membunuh serangga yang bermanfaat seperti lebah, kupu-kupu dan serangga yang berlaku sebagai musuh alami. Racun-racun itu hanya mengatasi masalah sementara, hanya membunuh sedikit serangga yang tampak oleh kita, namun tanpa kita sadari, serangga yang lolos dari maut akan membentuk gen kekebalan baru dan menurunkan pada generasi selannjutnya. Teknologi jalan pintas hanya akan berkejaran dengan adaptasi serangga hama. Masalah tidak akan pernah berujung.
    Mengapa manusia tidak menurunkan kesombongan dan keserakahan? Memulai bersahabat dengan alam, dengan segenap isinya, merupakan cara bijak untuk mengembalikan keseimbangan alam. Pertanian dengan cara-cara alami, dapat mempertahankan ekosistem lahan sebelumnya. Setiap tindakan yang ramah alam akan membantu ekosistem dalam menjaga rantai-rantai dalam jejaring makanan. Menjaga habitat musuh alami sehingga populasinya cukup penting untuk meredam keganasan serangga hama. Dalam lingkungan domestik, dapat dilakukan pengurangan penggunaan racun serangga. Manajemen lingkungan yang sehat dan bersih adalah cara-cara ramah alam dalam mengatasi masalah hama pemukiman.
    Ramah terhadap serangga bisa dimulai dari hal terkecil di lingkungan terdekat kita, antara lain sebagai berikut :

    1. Menjaga kebersihan rumah sehingga mengurangi populasi kecoa, lalat dan nyamuk. Kita tak perlu terburu-buru menyemprotkan racun serangga di sudut-sudut rumah kita. Racun serangga tak hanya akan mengotori udara, tetapi juga bisa membahayakan saluran pernapasan keluarga.
    2. Menghijaukan lingkungan rumah. Jika tidak ada lahan, bisa dimulai dari tanaman pot. Bayangkan, jika kita mempunyai bunga-bunga indah di pot, dan kupu-kupu berdatangan di pagi hari. Indah bukan?
    3. Memberikan pendidikan kepada anak-anak kita tentang manfaat serangga, serta menanamkan paham bahwa serangga lebih banyak mendatangkan manfaat apabila kita bersahabat dengan mereka.
    4. Segala tindakan “hijau” seperti mengurangi penggunaan aerosol, parfum, dan air conditioner, hemat bbm, hemat listrik, hemat air, mengurangi penebangan pohon, penghijauan, serta manajemen sampah dan banyak lagi, akan sangat berarti untuk pemulihan kondisi bumi, dan tentu saja akan berimbas positif pada konservasi serangga.

    Perubahan sekecil apapun di bumi ini akan mencari keseimbangan. Satu spesies bertambah jumlahnya, sementara spesies lain terancam punah, tetapi lambat laun mereka menemukan keseimbangan ekosistem. Masalahnya, tidak ada yang dapat memastikan kapan keseimbangan itu terbentuk. Jika kerusakan terus terjadi, iklim terus berubah dan bumi terus memanas, ke arah mana kehidupan ini akan bermuara?
    Tidak heran, jika saat ini malam-malam kita lebih banyak mendengar dengungan nyamuk daripada melihat cahaya kunang-kunang. Mari, kita jaga bumi ini, salah satunya, agar cahaya kunang-kunang kembali.

    Referensi:

    (i) http://www.si.edu/Encyclopedia_SI/nmnh/buginfo/bugnos.htm
    (ii) Connor, Steve. 2008. Insects ‘Will Be Climate Change’s First Victims’. http://www.independent.co.uk/news/science/insects-will-be-climate-changes-first-victims-821616.html
    (iii) Climate Change And Insect Distribution. http://www.biology-online.org/kb/article.php?p=forests-climate-change—lessons/climate-change-insect-distribution
    (iv) Climate Change Effect on Insect and Pathogens. http://www.climateandfarming.org/pdfs/FactSheets/III.2Insect.Pathogens.pdf
    (v) Hebden, Sophie . 2005. Climate Change Could Disrupt Natural Pest Control. http://www.scidev.net/en/news/climate-change-could-disrupt-natural-pest-control.html
    (vi)Climate Change And Host-Insect Interactions. http://www.biology-online.org/articles/forests-climate-change—lessons/climate-change-host-insect-interactions.html
    (vii)Climate Change Drives Disease To New Territory. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/05/04/AR2006050401931.html

    Gambar dari

     

     

     

     


  4. Keikhlasan Ibu

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Parenting edisi Hari Ibu, Desember 2010

    Sampai saat ini, satu tahun berlalu dari saya tulis, air mata masih menetes setiap kali membaca tulisan ini.

    Saya pernah menjadi seorang anak. Dan kini menjadi seorang ibu. Saya bisa memahami perasaan anak, sekaligus perasaan ibu.  Ketika saya menjadi anak, saya sangat mengagumi ibu, sangat berterimakasih atas perjuangannya dan ingin memberikan balasan budi baiknya. Di sisin lain, sebagai seorang ibu, saya selalu bertanya apakah anak saya bahagia dengan pola asuh yang kami terapkan selama ini ? Apakah saya tidak memaksakan kehendak, walaupun demi kebaikannya juga. Saya merasa, sebagai ibu tidak berkorban apa-apa, karena semua saya lakukan dengan bahagia.

    Keikhlasan ibu

    Pagi itu, kunyalakan TV untuk melihat berita. Rutinitas pagi yang kulakukan sambil sarapan bersama Cinta, putriku yang berumur 4 tahun. Sebelumnya Cinta telah puas menonton kartun pagi kesukaannya, jadi tidak terjadi perebutan chanel TV.

    Sesaat kemudian kuraih remote mengganti chanel karena sedang break untuk iklan. Sekilas tadi terlihat iklan sebuah produk minyak yang mengklaim sebening kasih ibu. Hmm..berlebihan nggak sih? Tapi namanya juga iklan. Tak apalah jika sedikit berlebihan. Memang pantas kalau sosok ibu melambangkan segala kebaikan, dari beningnya minyak goreng sampai murninya susu sapi kemasan. Bahkan salah satu partai politik dengan musik latar berupa lagu tentang kasih seorang ibu.

    Di chanel berikutnya, ada infotaiment, seorang artis sedang menceritakan dengan mata berbinar bagaimana masa kecilnya yang indah dilalui bersama sang mama. Meskipun seorang single parent, tetapi sang mama dapat membesarkan anak-anaknya hingga menjadi artis.

    Baru kusadari, hari itu adalah tanggal 22 Desember 2009. Aku hanya mengingat hari ini hari senin, harus mengantar putriku Cinta lebih pagi ke daycare nya, sekaligus agar saya bisa sampai tepat waktu di kantor. Hari senin biasanya jalanan lebih macet dari biasa. Dalam perjalanan, masih sedikit menyesali kenapa aku melupakan hari ini. Mestinya aku bangun dan siap lebih pagi agar tak buru-buru dan melupakan satu ritual tahunan yang menurutku penting. Aku lupa belum menelepon Ibuku.

    Biasanya aku berusaha menjadi orang pertama yang menelepon di pagi hari, memulai obrolan dengan menanyakan kabar atau masakan apa hari ini di rumah Ibu, baru kemudian kuucapkan selamat hari ibu pada akhir pembicaraan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibu akan mengucapkan terimakasih kembali atas ucapan selamatku itu. Padahal aku menelepon justru untuk mengucapkan terimakasih pada beliau. Tapi itulah Ibu, tak pernah lupa berterimakasih padaku sekecil apapun pemberianku, sementara apa yang telah beliau berikan padaku selama ini sangat banyak, begitu berharga dan tak berbalas.

    Segera kucatat dalam agenda ponselku, bahwa aku akan menelpon Ibu nanti malam. Terlambat tak apalah, daripada tidak sama sekali dan menyesal.

    Putriku sendiri belum mengerti betul yang dimaksud hari ibu. Tepatnya tanggal berapa juga belum tahu. Dia hanya tau ketika aku mengantarnya ke daycare tadi pagi, gurunya meminta Cinta mengucapkan selamat hari ibu padaku. “Cinta maunya mengucapkan selamat hari mama” protesnya pada sang guru karena memang dia memanggilku Mama. Kami pun tertawa mendengarnya.

    Mungkin Cinta heran mengapa hari ini menjadi istimewa? Hampir setiap hari Cinta mempersembahkan karyanya untukku. Setiap hari juga Cinta memeluk dan menciumku, setiap kesempatan kami bersama. Setiap hari juga Cinta menyanyi lagu “I Love You” yang menjadi themesong film Barney kesukaannya. Lantas kenapa juga hari ini begitu istimewa? Bagi Cinta, hari mama adalah setiap hari bisa bersama mama.

    Pagi itu juga, puluhan ucapan Hari Ibu datang dari teman-temanku melalui email, facebook maupun twitter. “Selamat hari Ibu, jeng..semoga semakin pinter merawat anak dan suami”…”Dimasakin apa hari ini sama suami? Selamat hari ibu ya..”…dan kalimat-kalimat serupa. Sebuah ucapan yang aku sendiri belum mengucapkannya pada ibuku hari ini. Ya, hari ini memang sosok ibu begitu diistimewakan.

    Hari ini juga, berbagai media cetak yang terbit hari itu membahas betapa seorang wanita mengorbankan waktu dan tenaganya dalam melakukan multiperan sebagai ibu-istri dan wanita karier. Disebutkan juga cerita beberapa artis yang bisa mengorbankan kariernya demi membesarkan anak mereka. Mendadak aku teringat salah satu pesan di wall facebook untukku hari ini dari l sahabatku yang kebetulan masih lajang “Terimakasih ya Rien.. kamu dan mama-mama lainnya adalah pahlawan pembangunan bangsa karena pengorbanannya sangat besar dalam mendidik anak-anak bangsa. Ingin sekali aku segera merasakan kebanggaan menjadi mama”

    Tapi…kok mendadak aku merasa ada yang aneh dengan kalimat –kalimat tadi. Rasanya ucapan yang kuterima kok berlebihan dari apa yang telah kulakukan. Masa sih aku sudah sedemikian berjasa dan berkorban? Sudah sebanyak itukah yang kulakukan? Satu kata yang terasa janggal adalah “berkorban” Telah berkorban apakah aku?

     

    Sambil merenungi, mencoba memahami kebenaran kalimat itu. tidak Tahukah mereka apa yang sesungguhnya kurasakan selama 4 tahun menjadi mama. Bahwa waktu yang kuhabiskan dengan anakku karena memang aku menginginkan kebersamaan itu. Bahwa tenaga yang kukeluarkan untuk bermain dengannya karena aku menyukainya. Bahwa tarikan tangannya minta dibuatkan susu malam hari saat terlelap telah membuatku terasa berharga dan dibutuhkan. Dan mengajaknya tertawa dalah niatku untuk menghilangkan semula lelah dalam hari itu. Segala pikiran yang kucurahkan untuk mendidik anakku adalah berawal dari harapanku agar kelak mereka menjadi pribadi yang bisa menjalankan kehidupan sebaik-baiknya.

    Tahukah mereka? Bahwa didalam perjalananku menjadi mama sebenarnya terdapat ketidaknyamanan yang dirasakan putriku, ketidaksabaranku menghadapi pertanyaannya yang cerdas, memaksakan kehendak untuk mengikuti pilihan-pilihanku, membebaninya dengan harapan dan cita-cita tinggi, memamerkan kemampuan anak sementara anakku malu dan tidak menyukainya…dan hampir disetiap apa yang kulakukan untuk anakku adalah cerminan keinginanku agar kelak menjadi pribadi unggul.

    Ohh Tuhan..apakah keinginan-keinginanku itu dapat membuatnya bahagia? Bukan kali pertama aku hatiku berkecamuk, berada antara niat baik dan rasa bersalah. Bila kelak Cinta mengerti, aku ingin meminta maaf untuk itu.. Mama akan mencari jalan terbaik Nak, agar dalam proses mendidik dan membesarkanmu tidak terlalu banyak menyakiti perasaanmu.

    Dan pantaskah aku disebut berkorban sementara aku tidak merasa lelah, atau rugi ? Aku memang memperjuangkan kebaikan putriku, tapi aku tidak merasa ada bagian diriku yang kukorbankan, karena aku bahagia dan ikhlas menjadi mama.

    Ini adalah perasaan pribadiku, setelah merasa jengah menerima begitu banyaknya kalimat bermakna agung itu. Tapi disudut hati yang lain, tak dapat kubendung keinginanku untuk segera mengucapakan terimakasih pada ibu.

     

    Akhirnya, menjelang makan siang kuangkat HP dan menelepon Ibu. Rupanya ibu juga lupa kalau hari itu adalah hari istimewanya, jika saja kakakku tidak mengunjunginya tadi pagi. Setelah sekitar 10 menit berbicara, kuucapkan apa yang ingin kusampaikan dari pagi tadi “Ibu, terimakasih atas perjuangan ibu…selamat hari ibu” Cuma itu yang bisa kukatakan. Hilang rangkaian kalimat panjang yang telah kurencanakan karena menahan haru di dada.

     

    Dan dengan nada bergetar dan lirih, kudengar ibu mengatakan “Terimakasih, Nduk“ Oh..ibuu…kuusap setetes air diujung mataku

    Tak sabar kumenunggu sore hari saat untuk menjemput Cinta. Aku ingin segera mengatakan padanya “Terimakasih sayang, atas kehadiranmu untukku” sambil memeluknya erat.

     


  5. Tanpa Racun (Majalah Ayahbunda, no 20/2008)

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Tulisan dimuat di Ayahbunda, Oktober 2008

     

    Idealnya, kita mengkonsumsi makanan organik karena minim residu pestisida.  Tapi karena makanan organik masih mahal dan sulit didapat, banyak cara menyiasati residu pestisida dalam buah dan sayur

    Berikut adalah cara-cara mengurangi residu pestisida pada konsumsi buah dan sayur

    • Mencuci dengan air mengalir. Mencuci dengan detil dapat mengurangi 20-70 % residu pestisida yang menempel.
    • Gunakan sabun foodgrade saat mencuci agar dapat mengurangi minyak pembawa pestisida dan lilin yang menempel.
    • Kupas kulit buah karena di kulit kandungan residu pestisida tertinggi. Kulit buah menghambat translokasi zat racun ke jaringan lainnya.
    • Buang lapisan terluar sayuran seperti kubis, daun bawang, sawi dll.
    • Rendam dengan air panas  menurunkan residu , 38-97%.
    • Rebus sayuran. Merebus dapat  menurunkan residu pada sayuran.
    • Buat menu bervariasi dan dari sumber pasar yang berbeda. Tujuannya untuk mengurangi paparan  satu jenis pestisida tertentu dan mencegahnya terakumulasi dalam tubuh. Pproduk dari sumber yang sama baisanya menggunakan teknik budidaya yang sama, termasuk jenis pestisidanya.
    • Konsumsi sayuran dan buah segar yang sedang dalam musimnya, sehingga  tidak membutuhkan penyimpanan dan distribusi yang panjang. Biasanya pestisida diaplikasikan di tempat penyimpanan .
    • Jangan memilih buah impor yang kulitnya sangat mengkilat, bisa jadi itu adalah  parafin (lilin).
    • Hindari bercak putih pada sayur dan buah, mungkin saja merupakan sisa-sisa pestisida yang telah mengering.
    • Tidak masalah memilih buah dan sayur yang sedikit berlubang atau robek. Artinya ada bekas gigitan ulat/hama sehingga ada kemungkinan tanaman tersebut dibudidayakan secara organik.
    • Sayuran hidroponik yang biasanya  ini dipelihara dalam rumah kaca tertutup sehingga jarang terserang hama mengurangi kemungkinan adanya residu pestisida.
    • Cobalah menanam sendiri sayur dan buah dalam pot untuk konsumsi keluarga.
    • Buah yang telah dijus, mengandung residu pestisida lebih rendah dibandingkan buah dalam bentuk utuh, begitu juga dengan buah kaleng.

     

     


  6. Menjadi Mama Penulis

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Menulis menjadi passion saya sejak mempunyai anak tahun 2005.  Dari menulis akhirnya berkembang komunitas saya. Dan inilah wujud apresiasi saya pada sesama Mama-mama penulis, dimuat di Parenting April 2010.

    Menjadi Mama Penulis

    Beberapa teman bertanya kepada saya, “Bagaimana sih caranya bisa menulis yang bagus dan mengalir ?”, “Sejak kapan suka menulis?”, “Belajar menulis dari siapa? Ajari aku dong..” dan pertanyaan-pertanyaan serupa setelah mereka membaca beberapa tulisan saya di note facebook dan blog pribadi.
    Momentum itu terjadi ketika saya hamil. Saya mendapati perasaan bahagia yang berbeda dari sebelumnya. Bahagia yang bertambah setiap harinya. Dan terus bertambah hingga saat ini.
    Bukan sempurna, perjalanan saya sebagai mama pernah mengalami pasang surut . Namun bahagia adalah sebuah kata yang mewakili perasaan saya secara keseluruhan. Saya merasa lebih kreatif. Kertas warna-warni bercampur dengan coretan bertuliskan Asa dan Cinta menghiasi sudut-sudut di rumah kami. Distyrofoam di dapur tak hanya tertempel resep masakan dan daftar menu, terdapat beberapa foto senyum anak-anak saya, plus hiasan di pinggirnya. Di meja komputer yang berlapis kaca, tertempel lagi foto mereka. Setiap saya membuka pintu lemari, ada senyum anak-anak di baliknya. Wajah mereka juga dapat saya pandang setiap kali bercermin, ada foto mereka di sana. Agak berlebihankah? Hehehe..boleh dong.
    Petualangan baru menjadi mama membuat saya gemar menulis (padahal dulu tidak). Saya menulis tidak lama dari setiap kejadian berlangsung. Tak heran, di agenda harian, netbook, blog pribadi, facebook,HP atau kertas memo banyak penggalan-penggalan cerita saya. Dari tulisan yang hanya berisi beberapa kata, “Hari ini dapat surprise dari Cinta” atau “Kenapa Asa paling suka lihat wajah kakak? “ sampai tulisan yang berlembar-lembar yang saya tulis selama berhari-hari . Begitu banyaknya tulisan itu, sebagian besar bercerita tentang dua orang teristimewa, yaitu Cinta dan Asa, anak-anak saya.
    Bosan? Tentu saja tidak. Kian hari, ide terus mengalir tiada habisnya. Setiap hari berganti artinya akan ada hal baru yang terjadi (setidaknya hal yang baru saya ketahui). Setiap milestone pertumbuhan membawa satu episode cerita. Setiap anak adalah unik. Saya membuktikan bahwa antara kakak-adik tidak selalu sama tahapan dan periode perkembangannya, sifat mereka pun berbeda. Kelucuan, kenakalan, gaya ingin tahu, pertemanan, persaudaraan, ide bermain dan banyak lagi yang bisa diceritakan.
    Dari sekedar jurnal pribadi, saya mulai tertarik mengirimkan cerita-cerita singkat di majalah.Beberapa kali dimuat dan saya senang sekali. Apalagi cerita itu tentang buah hati saya. Kadang kala ada fotonya pula. Dari sini muncul ide untuk mendokumentasikan tumbuh kembang anak dengan cara yang lebih menarik, yaitu mengirimkan cerita – cerita pendek tentang mereka ke media. Majalah tersebut saya simpan untuk arsip dan akan saya tunjukkan pada anak-anak kelak mereka sudah dewasa. Anak saya yang besar bahkan sudah mengerti akan hal ini dan itu membuatnya lebih percaya diri.
    Dunia saya pun meluas. Saya mulai mengikuti jejaring sosial, milis dan grup sesama orangtua. Yang menarik, diluar sana ternyata banyak yang seperti saya, mereka adalah mama-mama yang suka menulis. Mama-mama penulis, tidak selalu berarti penulis buku atau artikel di media. Mama-mama penulis, sahabat-sahabat online saya, adalah mereka yang suka menuangkan cerita tentang anak-anaknya dan berbagi pengalaman di blog atau note. Membaca tulisan mereka bagaikan membaca majalah digital yang praktis, cukup dari layar blackberry saya.
    Saya berkenalan dengan mereka. Menyenangkan sekali pertemanan kami. Kami saling bertukar blogdan notes. Ada yang memang sudah menulis sejak lama, ada juga yang mendadak menulis setelah mempunyai anak. Senioritas tersebut tidak berlaku di sini. Tulisan – tulisan mereka menarik untuk dibaca.Saling berbagi pengalaman membuat perbincangan kami terasa nyambung. Membaca pengalaman-pengalaman mereka menjadikan penguat di saat saya menghadapi masalah yang sama. Saat anak demam atau sakit, curhat sesama mama adalah pilihan pertama sebelum ke dokter. Saat saya membutuhkan referensi barang keperluan si adik, atau informasi sekolah untuk si kakak, saya berkunjung ke blog mereka. Dan saya pun mendapatkan informasi dan opini yang lebih banyak, serta menawarkan berbagai solusi yang mungkin sesuai untuk saya.
    Saya menyadari betul bahwa setiap orangtua dan anak itu unik. Interaksi keduanya juga menghadirkan situasi yang unik. Karena itu, saya menjaga betul “tata krama” dalam pertemanan ini, yaitu tidak saling menyalahkan, juga tidak merasa paling hebat dan paling benar.
    Kami juga bisa bertukar ide, seperti ide menu bekal sekolah, cara menyembunyikan sayur dalam makanan anak, atau ide bermain seru di rumah. Dari situ juga muncul ide-ide saya yang baru, cerita-cerita seru dan tentunya inspirasi baru untuk menulis lagi.
    Menulis adalah potensi yang pada sebagian mama mungkin baru disadari seiring dengan hadirnya sang buah hati. Ya, bisa dibilang hampir semua mama bisa menulis. Disadari atau tidak, menuangkan pikiran dan menulisnya ke dalam sebuah catatan pribadi akan sangat bermanfaat. Dari rasa kaget dan senang mengetahui kehamilan, memerangi rasa bosan selama hamil, semangat mempersiapkan kelahiran buah hati dan menyaksikan perkembangan buah hati yang menakjubkan dalah cerita hebat yang kelak dapat dibagi dengan si anak. Anak akan dengan bangga membaca pengalaman luarbiasa yang mereka alami sejak dalam kandungan. Anak juga akan merasa sangat dicintai oleh mamanya.
    Profesi menulis saat ini bukan suatu hal asing. Menulis adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan dan prestise. Dari hobi, menulis bisa mendatangkan penghasilan tambahan. Tulisan bisa dikirim ke media atau diikutkan dalam lomba. Yang paling disukai para Mama dari profesi penulis adalah pemilihan waktu yang fleksible dan bisa dikerjakan dari manapun, termasuk dari rumah atau sambil mengantar anak sekolah.
    Sebenarnya saya tidak terlalu paham teknik penulisan. Namun saya terus belajar dan mengasah kepekaan pada kejadian-kejadian di sekitar. Semakin terasah, semakin sering menulis, maka semakin percaya diri meningkat. Dan dari menulis saya menemukan cara eksis dan gaul ala mama yang menyenangkan.
    Kembali ke pertanyaan teman-teman di atas, biasanya saya akan menjawab “Kamu juga bisa kok, semua mama pasti bisa menulis. Mulailah dari diary dan menulislah dengan santai. Coba saja..”
    (Didedikasikan untuk para Mama, sahabat online saya, dimuat di Parenting edisi April 2011)

     

     


  7. Menggagas Keindonesiaan Modern di Ancol (Lomba Jurnalistik Ancol)

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Ide-ide kritik dan saran terkait keinginan Taman Impian Jaya Ancol sebagai tempat rekreasi yang dapat meningkatkan nasionalisme bangsa Indonesia dapat dibaca di link berikut :

    http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/974

    Intinya, bagaimana membuat pengunjung Ancol bangga sepulangnya dari sana, sama bangganya seperti baru pulang dari Disneyland.  Kebanggaan masyarakat Indonesia akan pulau Bali meningkat ketika mancanegara mengakuinya sebagai tempat wisata favorit.  Apa yang disukai Bule akan meningkatkan prestise di hati masyarakat, tidak dipungkiri, kiblat kita masih ke barat.

    Bagi bule, kecanggihan ala Ancol bukan hal baru.  Jadi kenapa tidak Ancol membuat wahana-wahana unik khas Indonesia, misalnya terinspirasi dari Danau Toba, Bendungan Sigura-gura, Ikan hiu di Laut India dan sebagainya. Tentu saja dengan penamaan-penamaan unik khas Indonesia. Selama ini beberapa wahana di Ancol telah menggunakan nama khas Indonesia yang cukup melekat di hati masyarakat.


  8. Buku 100 Kisah Inspiratif – Mari Bicara

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Memandang Dari Dua Sisi Mempermudah Komunikasi, itulah judul kisah saya dalam 100 Kisah Inspiratif menghangatkan hati  :MARI BICARA.  Buku ini ditulis oleh 100 penulis tentang bagaimana berkomunikasi efektif dan harmonis dengan pasangan.  Penulis dijaring dari ajang lomba Mari Bicara Sariwangi, dan 100 pemenangnya mendapatkan hadiah masing-masing Rp. 3.000.000,-  hmmm…cukup besar kalau dibandingkan dengan royalti penulis.


  9. Belajar Itu Indah (Juara 1 Writting Competition Parentsguide – Gain Advance)

    November 4, 2011 by murtiyarini

    Anak kecil punya daya ingat kuat, cara pandang seperti kamera, yaitu merekam dengan detil apa yang dilihatnya, serta mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat orangtua garuk-garuk kepala untuk menjawabnya.

    Itulah ciri-ciri anak cerdas.  Momen pencapaian tumbuh kembang yang sayang untuk dilewatkan.  Untung saya merekam dan menulisnya dengan baik pertanyaan-pertanyaan Cinta.  Alhamdulillah, tulisan tersebut memenangkan juara I lomba menulis yang diadakan PT Abbot Nutrition dengan Majalah Parentsguide. Selain dapat hadiah uang tunai, paket susu, saya juga diundang dalam seminar menarik di Jakarta tentang bagaimana mencatat tumbuh kembang anak.

    Belajar itu Indah

    Kaget, tercengang, diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum adalah hal yang biasa saya alami setiap hari. Bagaimana tidak, setiap hari ada saja kejutan-kejutan cerdas yang terlontar dari mulut Cinta Ing Larasati, putriku yang kini berusia 5 th. Saat-saat belajar dan bereksplorasi menjadi momen indah bagi kami.

    “Mama, nanti kalau sudah besar Cinta ingin punya anting kupu-kupu seperti punya teman mama” celetuk Cinta suatu sore
    “Teman mama yang mana?” tanya saya bingung
    “Ituuu..yang pakai baju warna pink bunga-bunga, dan celana coklat, trus bawa tas coklat juga, dan bawa buku besar. Bukunya nggak dimasukkan tas” Cinta berusaha menjelaskan
    “Yang ketemu di Halte bis Pakuan sore-sore, yang badannya agak gemuk. Mama sih nggak mengenalkan namanya, jadi Cinta juga nggak tahu” dia mulai tak sabar melihat saya tak segera mengingat.
    “Ooohh…tante Heny?? Ya ampun Cinta…itu kan sudah 2 bulan yang lalu. Kok kamu masih ingat sama baju dan antingnya sih..?“ saya terheran-heran mengagumi ingatan Cinta yang detil. Kami pun lalu membahas masalah anting kupu-kupu yang tadi diceritakan Cinta.

    Awalnya saya tidak percaya dengan keistimewaan Cinta ini. Saya sering mengujinya dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. Misalnya apa warna sepatu yang tadi pagi dipakai Nisya, salah satu temannya atau apa warna baju yang dikenakan ayah kemarin. Hampir semua pertanyaan dadakan itu dijawabnya dengan tepat. Cinta memang mempunyai ingatan yang sangat kuat yang berhubungan dengan kemampuan visual yang detil dan tajam. Cinta sangat mengingat apa saja yang pernah dilihatnya, atau informasi apa saja yang pernah didengarnya. Kecerdasan Cinta juga terlihat dari ketertarikannya pada hal-hal yang bersifat sains. Cinta mampu mengenali, mengkategori, menganalisis dan memahami pengetahuan terutama mengenai lingkungan alam. Dia begitu peka terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar seperti flora, fauna, angin, matahari, bintang, bulan, air, awan, sawah, sungai dan tubuh manusia.
    Pernah suatu ketika, sepulang dari daycare, Cinta menceritakan penemuannya hari itu,
    “Ma, ternyata…tonggeret itu bentuknya seperti jangkrik”
    Cinta memang beberapa kali mendengar suara tonggeret ketika saya ajak ke sebuah hutan percobaan. Tapi dia belum pernah melihat bentuknya.
    “Kok Cinta mengira begitu?” tanya saya.
    “Iya, soalnya tadi Cinta lihat jangkrik sama teman-teman. Terus bunyinya seperti tonggeret. Pasti bentuknya juga sama. “ jelasnya.
    “Hmm..mungkin bentuknya sama tapi mungkin juga berbeda. Nanti mama cari tau di internet tentang bentuk tonggeret ya” janji saya.
    Memang tonggeret dan jangkrik sama-sama jenis serangga. Tapi bentuknya sedikit berbeda. Tetapi saya bangga dengan kemampuan analisa Cinta membandingkan benda dari adanya petunjuk yang sama.

    Saya selalu berusaha memancing rasa ingin tahu Cinta. Jika dia bertanya tentang sesuatu, saya tidak langsung menjawabannya. Saya mencoba melontarkan pertanyaan-pertanyaan bantuan yang mengasah kemampuannya menganalisis hubungan sebab akibat hingga akhirnya dia menemukan jawaban dari penalarannya sendiri. Saya juga selalu berusaha memberikan informasi yang jujur agar konsep penalaran Cinta terstimulasi dan terhubung dengan baik.
    Sepertinya otak Cinta tak pernah berhenti bereksplorasi. Saya pun sering dihujani pertanyaan-pertanyaan “ajaib”nya.
    “Mama, kenapa awan di langit sering berubah-ubah bentuknya?”
    “Bagaimana adik bisa masuk ke perut mama? Nanti keluarnya bagaimana?”
    “Mengapa kepiting jalannya miring? Apa nggak pusing ? ”
    “Susu kalau dicampur teh jadi apa? ”

    Saya dan suami sering berandai-andai, sepertinya Cinta cocok menjadi ilmuwan karena kemampuannya itu. Tapi ketika Cinta ditanya tentang cita-citanya, dengan mantap dia menjawab :
    “Cinta ingin menjadi juru masak!” katanya dengan bangga. Kami tidak kecewa. Justru kami sangat menghargai dan mendukung cita-citanya, Yang kami lakukan saat ini adalah mengembangkan dan mengarahkan kecerdasannya dengan memberinya stimulasi, nutrisi dan mengkondisikan lingkungan yang baik bagi Cinta. Yang paling utama, adalah memupuk semangat belajar nya sepanjang masa, karena belajar itu indah.

     


  10. Selamat Lebaran

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Sejak dunia seluler lahir, sejak itu pula tradisi kirim-kirim kartu lebaran telah tergantikan oleh sms. Kemudian disusul dengan pesan-pesan di facebook, email atau tweeter. Cepat, murah dan leluasa berkreasi kata-kata. Bahkan jauh hari sebelum lebaran tiba, tepatnya sehari sebelum puasa Ramadhan, alarm blackberry saya terdengar hampir setiap saat. Puluhan pesan berisi ucapan selamat berpuasa saya terima. Kalau boleh jujur, bosen juga membacanya karena isinya senada. Tapi masa’ iya sih..niat baik diabaikan begitu saja. Setidaknya saya cukup tahu siapa pengirimnya, untuk dibalas nanti kalau niat sudah ada. He..he..

    Saya sempat tidak percaya membuka sms seorang teman yang rada gokil dan tak pernah serius ” Ketika senja sya’ban berlalu, fajar ramadhan menjelang, kami mohon dibukakan pintu maaf, atas lisan pernah menoreh luka, janji yang terabai, hati yang berprasangka, dan sikap yang menyakitkan. Selamat menunaikan ibadah puasa. ” Bener nggak ya sms itu dari dia? Maksud saya bener nggak hasil karangannya? Jika betul, berarti budaya mengarang pesan Ramadhan ini telah bermanfaat untuk mengubah sikap seseorang menjadi sedikit serius.

    Beradu kalimat indah tanpa disadari menjadi ajang perlombaan. Ada yang orisinil tapi tak jarang ada pesan yang sama isinya. Hanya sebagian kata-katanya saja diganti. Bisa ditebak, pasti dari sumber yang sama, buku kumpulan sms, atau menforward pesan yang diterimanya.
    Namun hak merangkai kata adalah milik siapa saja. Itulah manfaat kedua dari trend kirim SMS ini, semua orang jadi pandai merangkai kata. Isi SMS pun bisa mencerminkan pengirimnya.
    “Mari kita sambut Ramadhan dengan : setting niat, upgrade iman, download kesabaran, delete dosa, dan hunting pahala. ” Begitu isi SMS Santi, temanku yang kerja di bagian IT.

    Lain lagi dengan sms dari Budi, seorang teman yang setiap hari menempuh perjalanan jauh keliling kota sebagai salesman. Status FB nya menunjukkan pemakaian BBM yang tinggi menjadi pikirannya : ”Marhaban ya ramadhan, semoga bulan ini penuh BBM (Bulan barokah & Maghfiroh). Mari kita Premium (Prei makan minum), Solar (sholat lebih rajin) dan Minyak tanah (meningkatkan iman banyak tahan nafsu dan amarah) serta Pertamax (perangi tabiat maksiat)”

    Saya sendiri agak enggan ikut dalam trend saling kirim ucapan ini. Tapi berhubung kata Pak Ustad sebelum puasa afdolnya maaf-maafan, maka dengan alasan itu pesan di wall FB atau sms kubalas dengan 2 kata yang sama yaitu ”sama-sama.”

    Saling kirim ucapan semakin marak ketika memasuki minggu terakhir ramadhan alias menjelang lebaran. Tak henti-henti BB ku berbunyi. Biarpun sudah bisa menduga isinya, tapi siapa tahu ada pesan penting masuk. So, mau nggak mau harus dilihat satu-satu. Sabar.. sabar… sedang puasa, nasehat saya pada diri sendiri. Masih untung HP jaman sekarang dilengkapi memory tinggi, bayangkan beberapa tahun lalu saat HP masih berkapasitas 20 sms, setiap kali memory penuh harus rajin menghapus sms dalam inbox.

    Sering saya tertawa sendiri membaca pesan yang kuterima, ”Anak kodok makan ketupat, setelah kenyang pergi melompat. Krim kartu sudah nggak sempat, pake SMS pun no what-what. Mohon maaf lahir dan batin. Tetap semangat dan dahsyat.”

    Kadang saya perlu mengerutkan kening memahami SMS dari seorang Bulik atau Tante di Semarang yang memang Jawa banget : ”Dahar ketupat kaliyan santen, Sedaya kalepatan nyuwun pangapunten.”

    Saya sendiri tidak mau mau kalah dalam persaingan kata-kata indah apalagi dibilang klise. Maka dengan mengerahkan segala kemampuan, berhasil saya ciptakan beberapa kalimat indah. Tidak terlalu panjang, yang penting orisinal buatan sendiri. Dengan mempunyai stok sms, begitu menerima sms dari seseorang, dalam hitungan detik saya sudah membalasnya. Semoga saja si penerima tidak heran bagaimana jari saya bisa mengetik sms secepat itu.

    Niat hati ingin mengirim pesan yang unik untuk setiap orang berbeda. Sayangnya, ide saya tak sebanyak jumlah teman-teman, terpaksa beberapa teman menerima pesan dengan kalimat sama. Untuk menyiasatinya, jangan sampai teman yang berdekatan atau saling kenal mendapat kalimat yang sama.

    Dan malam takbiran tiba. Saya mulai melayangkan pesan lebaran pada semua teman di kontak blackberry, facebook, tweeter, dan milis. Kalau pesan-pesan itu kelihatan, mungkin langit gelap tertutup huruf-huruf yang beterbangan.

    Dari sekian pesan yang saya terima hari itu, ada satu pesan yang menarik perhatian. Pengirimnya dari Ratna, teman SMA yang hanya kontak setahun sekali, itupun biasanya pas lebaran. Kali ini dia mendahului mengirim sms sebelum saya sempat mengiriminya (maklum, huruf R belakangan menunggu giliran).

    Sepertinya saya sangat mengenal kalimat dari Ratna : ”Seiring kumandang takbir pagi, teraih kemenangan fitri. Dan hati pun berhias pelangi, Tergerak sanubari ulurkan jemari. Tautkan kembali silaturahmi , Mohon maaf atas kesalahan diri. Selamat Idul Fitri 1431 H.

    Saya buka lagi arsip sms lebaran ”ciptaan” saya. Astaga, ternyata sms dari Ratna persis seperti yang kalimat saya buat. Sejenak saya ingat-ingat lagi kepada siapa kalimat itu telah terkirim : Anto teman waktu kuliah, Heni penjahit langganan di kampung, Neny teman SMA atau Dina, sepupu saya yang kebetulan satu kos dengan Ratna ? Mungkin Ratna terima dari salah satu mereka.

    Tapi belum tentu juga, saya kirim sms itu ke sekian orang, mungkin mereka masing-masing mengirimkan ke sekian orang berikutnya. Entah rantai yang keberapa yang diterima Ratna. Baguslah, berarti kalimat ciptaan saya itu disukai. Kalau di dunia rekaman atau penerbitan buku pasti royaltinya sudah banyak.


  11. Bangga Ada Porsinya

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Ibu pasti bangga pada anaknya.  Semua anak cantik atau ganteng atau pinter di mata ibunya. Betul kan ? Bangga adalah hal yang wajar.  Tapi jangan lupa, terlalu membanggakan anak, apalagi membawa ke obrolan dengan teman dan tetangga belum tentu mendapat respon positif. Lingkungan bisa bosan, anak bisa malu.  Semoga tulisan ini menjadi refleksi bagi ibu-ibu yang saya yakin 100% bangga pada anaknya.

    Dimuat diParents Guide  Oktober 2009 , lengkapnya di http://www.asacinta.blogspot.com/2009/10/bangga-ada-porsinya.html


  12. Perjuangan Ibu yang Berkarier

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Pemandangan ini mungkin masih jarang terlihat, bekerja membawa buku dan tas, sambil menggendong anak.  Terimakasih pada Pak Nanang, supir bis IPB 54 yang sangat ramah menerima saya dan Cinta untuk naik bis tiap hari dari rumah ke penitipan anak Agriananda.  Banyak kehangatan saya terima dari seluruh penumpang bis 54, saya yakin terbawa oleh sikap supirnya yang juga hangat.

    5 tahun berlalu, anak saya sudah besar dan mandiri.  Ternyata banyak pengikut saya untuk menitipkan anak di Agriananda dan memilih naik bis 54 yang ramah.  Akhirnya bis ini mendapatkan julukan bis taman kanak-kanak karena ada sekitar 2-4 anak kecil di dalamnya.

    (Majalah Kartini, edisi 23 Juli 2009)


  13. Aman di Mal (Majalah Parenting , edisi April 2009)

    November 3, 2011 by murtiyarini

    Mal bukan taman bermain !!! waspadai titik-titik yang rawan kecelakaan ini, terutama pada anak-anak

    Eskalator
    Jangan gunakan sepatu bertali atau celana panjang yang bagian bawahnya bertali, karena bisa menyangkut di eskalator dan menyeret kaki kedalamnya. Tuntun anak , kalau perlu gendong agar anak tidak terlambat turun dan tergelincir atau terjepit di celah anak tangga.

    Lift
    Lakukan keluar masuk lift dengan cepat.  Waspadai pintu otomatis. Pastikan anak masuk dan keluar lebih dahulu, baru anda.  Postur anak yang kecil sering tidak terbaca sensor pintu, dan pintu otomatis bergerak menutup.

    Troly
    Anak-anak suka bermain dengan troly. Awasi agar saat bermain troly tidak terdorong ke tumpukan barang atau menabrak orang lain.

    Tangga beroda
    Petugas swalayan menata tumpukan barang dengan tangga beroda.  Jangan sampai lengah anak anda bermain atau mendorong tangga tersebut, apalagi jika diatasnya banyak terdapat tumpukan kardus.

    Kabel bersliweran
    Di bagian elektronik, banyak terlihat kabel bersliweran.  Pastikan anak mengerti bahwa kabel berbahaya jika dipegang tidak dengan benar.  Kabel juga dapat menyebabkan anak-anak tersandung.

    Tumpukan barang yang tinggi
    Anak suka memindahkan botol-botol sampo atau kardus-kardus dari rak satu ke lainya, tapi mereka belum paham kalau satu benda diambil dapat menghilangkan keseimbangan tumpukan benda diatasnya.  Waspadai juga ketika anda berada di lorong barang pecah belah dan pisau.  Jangan ijinkan anak memegangnya.

    Pengharum ruangan dan pembasmi serangga
    Tidak disarankan mencium sangat dekat dan menghirup lekat-lekat untuk mengetahui aroma parfum pengharum ruangan atau pembasmi serangga.  Bagaimanapun, zat-zat tersebut berbahaya untuk paru-paru.

    Rak Pajangan / Gantungan yang runcing & menonjol
    Kacamata, aksesoris maupun perlengkapan pertukangan biasanya dipajang di gantungan dengan tangkai runcing, menonjol dan panjang dan bisa berputar. Jaga agar anak tidak terjatuh ke depan dan mengenai benda runcing tersebut.

    Lantai licin
    Ajak anak menjauhi lokasi lantai licin yang biasanya diberi tanda oleh petugas agar terhindar dari risiko terpeleset.  Menginjak lantai yang masih basah juga membuat lantai akan lebih kotor lagi, kasihan kan petugasnya…

    Kipas angin dan AC besar
    Beri pengertian agar anak tidak memasukkan jari-jari mungilnya ke dalam lingkaran kipas angin sementara baling-balingnya sedang berputar kencang.

    Dinding kaca
    Jika anda sekeluarga makan di foodcourt yang memiliki sisi kaca untuk memandang situasi diluar yang indah, jangan lupa untuk memperingatkan anak agar tidak bersandar di kaca.   Kaca dapat pecah akibat beban berat badan, dan lebih berisiko jika berada pada ketinggian.

    Agar jalan-jalan tak merepotkan:
    -Bawa perlengkapan minimal yang paling dibutuhkan, jangan terlalu banyak karena dapat merepotkan anda sendiri.
    -Kenakan anak anda baju yang nyaman

    -Meskipun pembeli adalah raja, namun ajarkan bersikap sopan. Jjangan biarkan anak menyerak, merobek, menjatuhkan atau melempar barang.
    – Pilih waktu yang tidak terlalu ramai  jika anak anda ingin bermain di arena kidsport,karena dikuatirkan sulit untuk mengontrolnya.
    -Ajarkan anak anda menghapal nama nya dan nama anda. Ini penting  apabila anak terlepas dari sisi anda.

    Dimuat di Majalah Parenting Mei 2009

    artikel komplit ada disini http://www.asacinta.blogspot.com/2009/05/aman-di-mal.html